
Al masih belum mengingat siapa laki laki yang sedang duduk dihadapannya itu. Al berpikir keras mencoba mengingat kembali siapa laki laki ini. Al terdiam sejenak dan terus memandangi Vano,setelah berpikir keras akhirnya Al mengingat siapa laki laki yang berada dihadapannya itu. Al mengerutkan dahi saat mengingat siapa laki laki ini.
"Axcel", ucap ragu Al.
" hmm,kau sepertinya lupa denganku. aku adalah Axcel Elvano,yang bukan lain adalah kembaran dari mantan pacar istrimu. Kau mengenalnya,Axcel maksutku.? ". saut Vano.
"Oh benarkah,apa kita pernah bertemu sebelumnya.? ah soal Axcel,
aku tidak mengenalnya,hanya saja aku pernah melihatnya sekali saat terakhir kali dirinya berada didunia ini,aku dulu juga yang mengurus semua penghormatan terakhir untuk saudara kembarmu,karena saat itu Alexa tidak memungkinkan untuk mengurusnya,sedangkan dari anggota keluarga kalian sendiri,sama sekali tidak ada yang bisa kami hubungi. Maafkan saya,telah lancang menggantikan peran keluarga anda disaat penghormatan terakhir saudara kembarmu." Ucap Al
"Ahh, ternyata mereka adalah orang orang yang baik,tidak sepantasnya aku dulu membenci mereka dan malah termakan oleh kabar burung,"gumam vano dalam hati. "ohh tidak masalah sama sekali,seharusnya kami yang harus berterimakasih kepada anda,karena anda yang orang asing,mau mengurus penghormatan terakhir untuk kakakku Axcel,Al." mendekat dan menepuk bahu pelan Al. " Maafkan aku juga yang dulu awal kedatanganku kesini ingin melenyapkan kalian,yang aku pikir kalian adalah penyebab kematian dari kakakku,Axcel." menunduk merasa bersalah.
"Tenanglah,.." menepuk bahu vano "yang lalu lupakanlah,yang terpenting kau sudah mengetahui yang sebenarnya,aku tidak pernah manaruh dendam kepada siapapun yang pernah ataupun mau menyakitiku. semenjak aku mengenal cinta,hmm rasanya yang ada hanya kasih sayang yang ada dalam diriku,terkecuali jika ada yang menganggu istriku,haha." ucap Al mencairkan suasana
"Terimakasih,sungguh rasanya sangat malu aku pernah berniat jahat kepada orang orang baik seperti kalian. Sekali lagi maaf." ucap Vano penuh dengan ketulusan
"Tidak masalah,lupakanlah,oke.
oh ya,kau kesini dengan siapa,apa istrimu?"
"Hmm,yang benar saja,aku belum menikah,tetapi segera." jawab Vano
"Ahhh,begitu rupanya. Apa calonmu orang sini juga.?" tanya Al lagi
"Hmm,ya. dan kau juga mengenalnya."
"Benarkah,siapa.?"
"Karina," Jawab singkat Vano
Al membulatkan matanya dengan sempurna,"Karina.! adiknya Carrol.?" Tanya Al sedikit tidak percaya.
Vano mengangguk dan membenarkan ucapan Al. " Yaa benar,Karina adik dari Carrol."
Sementara Al dan Vano sedang berbincang, Alexa kini memilah milah baju yang diinginkannya,saat Alexa ingin mengambil dress,dengan bersamaan Karina pun juga ingin mengambilnya,hingga kini tangan mereka saling beradu dibaju yang sama.
"maaf". ucap Karina dengan lembut,
"tidak masalah," melihat orang yang ada disampingnya. "Karin.?" ucap Alexa lagi
"kak Aexa,kakak disini juga.?" jawab Karina
"Karin. Iya,kau juga disini,?"
"Haha sungguh kebetulan. Oh ya,kakak sendirian.?" tanya Karina yang kini bergelayutan dilengan Alexa
"Tidak Karin,aku bersama Al,dia sedang menunggu didepan.kau sendiri.?"
"Tidak,aku bersama calon suamiku," melepaskan tangannya dari lengan Alexa. "dia juga ada didepan."
"ohh.. kau mau menikah,kenapa tidak memberi tau ku.?"
"Haha,belum kak,bukan tidak. Rencananya habis ini aku mau kerumah kakak,eh malah gak taunya bertemu disini,"
"Ohh.. seperti itu. oh ya siapa calon suamimu.?"
"Kemarilah kak," menggantungkan kembali pakaian yang diambilnya. " aku akan memperkenalkan mu."menarik Aexa kedepan menemui Vano.
"Baiklah,"menggantungkan kembali juga pakaian yang diambilnya.
Karina menggandeng tangan Alexa keluar dari boutique menuju ruang tunggu. Dari kejauhan Alexa menangkap suaminya dan seseorang yang sangat tidak asing baginya. Langkah kaki kedua wanita itu semakin mendekat dengan Al dan Vano,tinggal beberapa langkah dari tempat dudul Al dan Vano,tiba tiba Alexa melepaskan tangannya dari gandengan Karina dan langsung menghentikan langkahnya mematung seketika.
"Kak,kak Alexa kenapa.?"
Alexa hanya diam dan melirik kilas kearah Karina.
"Ayo kak," menarik kembali tangan Alexa.
"Iya kak,calon suamiku adalah saudara kembar almarhum calon suamimu kak,Axcel."
Saat asik mengobrol dengan Vano,Al tidak sengaja menoleh kearah Alexa dan Karina yang tengah berbicara serius sepertinya. Al berpamit kepada Vano dan beranjak menghampiri istrinya. Mata Vano mengikuti langkah Al pergi,hingga ia menemukan 2 sosok wanita yang berada tidak jauh dari tempat duduknya,Vano pun beranjak dan menghampiri Al,Alexa serta calon istrinya,Karina.
"Sayang,kamu sudah selesai memilih.?" tanya Al sembari mengusap pucuk kepala Alexa.
"Belum." jawab singkat Alexa
"Hallo Karina.?" sapa Al
"Hallo kak,apa kabar.?"
"Kabar baik. Oh ya sayang ini Vano," menepuk Vano yang sudah ada disampingnya.
"Ya,aku sudah tau dari Karin. Vano."
"Hallo Alexa,aku Vano. "mengulurkan tangannya
"Hai,Vano maafkan aku,maafkan. aku tidak pernah menyakiti Axcel. Maafkan aku," teringat kembali dengan Axcel yang telah pergi meninggalkannya selama lamanya.
Vano melirik Al,meminta izin untuk menenangkannya,Al pun mengangguk dan mempersilahkannya. "Alexa.." ucap Vano mendekati Alexa, "aku sudah mengetahui semuanya dari Karina,aku yang harus meminta maaf,minta maaf karena aku pernah berniat menyakiti kalian." menepuk bahu alexa dengan lembut.
"Terimakasih Vano,maaf aku tidak bisa menjaga saudara kembarmu,maafkan aku yang tidak berguna disaat saudara kembarmu terbaring sakit," meneteskan air mata dengan derasnya,teringat akan masa sulitnya melihat Axcel yang sedang terbaring koma.
"Sudah,sudahlah Alexa. Mari kita lupakan masa lalu,aku sudah tidak pernah mempermasalahkan itu semua lagi." jawab Vano
"Terimakasih vano,"
Vano menyeka air mata Alexa. ''Sudah jangan menangis,bukankah kau juga sudah mendapatkan yang lebih baik dari kakakku,aku yakin kakakku juga pasti akan merasa bahagia jika kau juga bahagia.." jawab Vano dengan mengembangkan senyum tampannya,yaa..senyum tampan yang sangat mirip dengan mendiang Axcel.
Alexa tersenyum tipis dan menyeka air matanya. "Kau ini..Vano kau sangat mirip sekali dengan Axcel,aku jadi sangat merindukkannya,bolehkah aku memelukmu sebentar saja,? aku sangat merindukan kakakmu.?". Tanya Alexa penuh harap,karena saat ini ia benar benar merindukan Axcel.
Vano melirik kearah Al dan Karina, mereka pun mengangguk mengiyakannya. Vano tersenyum tampan dan mengiyakan permintaan Alexa. "Tentu saja, kemarilah." jawab Vano sambil merentangkan tangannya.
Alexa memeluk kilas Vano,Al dan Karina pun memperbolehkannya,karena bagaimanapun juga wajah Vano memang mirip dengan Axcel,dan Axcel pun adalah masa lalu Alexa yang mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah terlupakan.
Al tidak mempermasalahkan Alexa memeluk Vano,karena Al pun tidak pernah menuntut Alexa untuk melupakan masa lalunya bersama Axcel. Mungkin rasanya tidak akan adil jika Al menyuruh melupakan masa lalu istrinya itu,karena bagaimanapun Axcel terlebih dulu memiliki Alexa sebelum dirinya,dan Axcel pun juga pernah membahagiakan dan menjaga Alexa.
Semenjak Alexa menikah dengan Al,Al juga selalu mengantarkan istrinya itu jika ingin berkunjung kemakam Axcel.
Setelah Alexa memeluk kilas Vano,Al pun mengajak Alexa,Vano dan Karina menuju cofffe shop yang tidak jauh dari boutique. Vano dan Karina pun menuju coffe shop menggunakan mobilnya sendiri,begitu juga dengan Al dan Alexa. Didalam mobil,Alexa memeluk lengan suaminya yang sedang mengemudi. Alexa berterimakasih kepada Al,karena selama ini Al tidak pernah membatasi kebahagiaannya.
"Sayang." ucap Alexa dengan lembut.
"Hmm,apa.?"
"Terimakasih,"memeluk erat lengan Al.
"Untuk.?"
"untuk tadi,kamu memperbolehkan ku memeluk Vano."
"Ohh.. tidak masalah sayang,aku tidak mau mengambil hakmu dengan masalalumu. walaupun Vano hanya saudara kembar Axcel. tapi setidaknya rasa rindumu dengan Axcel terobati. Aku tidak mau kamu merasa tertekan karenaku.." mencium pucuk kepala Alexa yang bergelendotan dilengannya.
"Terimaksih sayang, aku sangat mencintaimu,sangat sangat dan sangat." melepaskan lengan Al dan mencium kilas pipi Al.
"Aku juga sangat mencintaimu,Alexa Cervia Aurora. Tapi jangan sering sering meluk Vano,nanti Vano naksir lagi.!" imbuh Al sembari mengerucutkan bibirnya.
"Haha,apa kau cemburu.?"
.
.
.