
Merasa ada yang menggetuk pintu kamar,aku terbangun,ku lihat jam ternyata sudah 18.30 .Ku lihat Teo juga masih tertidur dengan tangan nya memeluk perutku.Ku bangukan Teo karena ada yang menggetuk pintu kamar,rupaya asisten rumah nenek yang mengetuk pintu kamar kami,mengajak untuk makan malam.
Kami bangun dan beranjak dari tempat tidur, aku dan Teo masuk ke kamar mandi,menggosok gigi dan mencuci muka, lalu segera keluar kamar.
Kami langsung ke ruang makan karena asisten rumah menggatakan nenek sudah menunggu di meja makan.
Makan bersama dalam diam, selesai makan,nenek langsung ke ruang keluarga.
Aku dan Teo pun beranjak dari meja makan dan duduk bersama nenek di temani dengan cemilan ringan.
"Natalie tadi nenek mendengar semua apa yang dikatakan dokter padamu,lebih baik ikuti petunjuk dokter,itu juga kan untuk kebaikanmu,nenek juga tidak menginginkan cucu perempuan yang nenek mau cucuku laki-laki, biar boleh menjadi pewaris dan bisa melanjutkan usaha keluarga apabila Teo sudah tua nanti."kata nenek.
Aku hanya diam mendengar apa yang di katakan nenek,air mataku keluar tanpa ijin,sedih bercampur kecewa atas kata-kata nenek.
"Ta,,pi nek! "sudah Natalie nenek kan bilang,nenek tidak mau cucu perempuan yang nenek mau laki-laki, apa kamu juga belum mengerti?" nenek memotong perkataanku, dengan membentakku .
"Katanya pintar segitu ajah tidak mengerti",kata nenek lagi.
"Pokoknya nenek tidak mau tau,ku minta cucuku laki-laki".Nenek berkata sambil menatap Teo yang duduk di samping aku.
"Dengarkan nenek,nenek bukan benci anak perempuan tapi dalam keluarga nenek perempuan itu dianggap anak pembawah sial,jangan jauh-jauh, lihat mama Teo,dengan susah payah ku lahirkan,sekolah di sekolah yang terbaik,malah dia bergaul dengan orang-orang yang tidak tau asal usul mereka, akhirnya dia hamil,untung saja ada yang mau menikahinya!,kalau tidak apa jadinya punya anak tidak ada suami,apa itu bukan bikin malu?"kata nenek lagi
"Jadi nenek mau itu tidak akan terjadi lagi pada keluarga kita, karena mamanya Teo telah membawah semua sial itu di alam baka".Nenek berkata sambil menatapku.
"Segera ke rumah sakit dan kuret kandunganmu itu Natalie!,keluarkan anak dalam rahimmu,juga penyakitmu!,agar kamu cepat mengandung lagi",perintah nenek padaku.
"Nenek tidak mau ada bantahan"kata nenek lagi.
Aku yang hanya menangis dan mengelengkan kepala ku,lihat Teo hanya diam saja,ku sangat berharap Teo mau membela aku saat ini.Tapi harapan ku sia-sia Teo sama sekali tidak membuka mulutnya.
Karena aku dan Teo hanya diam,nenek berdiri dan berkata"kalau tidak mau mengikuti apa yang ku minta segera keluar dari rumah ini,aku tidak mau melihat ada anak perempuan di dalam rumahku,aku tidak mau mendapat sial itu lagi!"Lalu langsung pergi dan masuk ke kamar dengan menutup pintu dengan sangat kuat .
Teo langsung berdiri dan mengandeng tanganku pergi ke kamar,di dalam kamar aku duduk disisi tempat tidur, "pa!,,, bagai mana ini nenek tidak mau anak kita,tapi aku tidak mau melakukan apa yang nenek inginkan,aku tidak mau,pa!"kataku sambil menangis."Sudah lah jangan di pikirkan, nanti papa akan bicara sama nenek besok pagi,kalau malam ini yang ada akan lebih ribet",kata Teo.
Aku diam,dan langsung naik ke tempat tidur,biasanya sebelum tidur aku menyikat gigi dulu,dan mengganti pakaianku dengan babydoll,tapi ini aku langsung naik ke ranjang,dan tidur membelakangi Teo.Menangis,menangis,dan menangis dalam diam,hingga aku tertidur.
Karena cahaya matahari telah masuk lewat ventilasi kamar,ku bangun dan entah kenapa aku merasa badanku capek baget,ingin tidur lagi seakan tidurku tidak cukup dan malam yang baru lewat begitu pendek.Tapi aku paksakan untuk bangun,ku lihat Teo sudah tidak ada di tempar tidur mungkin sudah bangun lebih dulu tanpa membangunkan aku.
Beranjak dari tempat tidur,ku langsung masuk kamar mandi,mandi dengan air hangat.Selesai mandi ku memakai baju rumahan(daster),agar lebih leluasa bergerak,karena perutku sudah membuncit.
Selesai ganti baju,ku keluar kamar.Di saat aku sudah berada di ruang keluarga ku lihat Teo sedang ngobrol dengan nenek di teras rumah yang berada di samping ku.Kulangkahkan kaki ku untuk bergabung,tapi ku melihat nenek marah-marah dan Teo juga kelihatan sudah begitu emosi,ingin sekali aku mendengar apa yang mereka bicarakan tapi karena jarak ruang keluarga dan teras begitu jauh,jadi tidak bisa ku dengar.Aku hanya melihat nenek sudah bertolak pinggang dan mengangkat satu tangan lalu menampar Teo.Dengan langkah yang cepat aku menghampiri mereka,saat tiba di depan pintu nenek melihatku dan berkata"Hey Natalie hanya karena kamu! Teo sudah berani melawan nenek,kamu kasih apa dia,ha?" teriak nenek padaku."Apa nenek salah menyuruh kamu menggugurkan kandunganmu,itu juga demi kebaikanmu,kan! dan ingat dokter juga sudah merekom kamu jadi salah nenek dimana,,,ha?"tanya nenek sambil berteriak.Ku belum menjawab, Teo lebih dulu yang menjawab,"nek,Natalie tidak salah nek,!". "Belah terus istrimu Teo,ternyata nenek salah memilih kamu Natalie menjadi istri Teo, dulunya Teo tidak pernah melawan dan membantah nenek tapi hanya karena kamu,Teo sudah melawan nenek,nenek kecewa sama kalian berdua,segera angkat kaki kalian berdua dari rumah ku".Kata nenek .
Nenek langsung pergi meninggalkan kami berdua.
"Pergi! kalian berdua dari rumahku"
teriak nenek lagi.
Aku tidak tau apa saja yang di katakan nenek pada Teo tadi,tapi biarlah itu menjadi urusan nenek dan Teo.Ku lihat Teo ,ku merasa kasihan karena aku,nenek menampar Teo sehingga pipinya jadi merah.Ku dekati Teo,tapi Teo langsung mengajakku dan berkata"ayo cepat kita bereskan barang-barang kita,dan pergi dari sini.
Aku dan Teo langsung ke kamar.
Membereskan barang-barang kami tidak lama karena kami datang di rumah nenek hanya membawah pakaian ajah.Selesai berberes,kami keluar kamar,Teo langsung memasukan koper-koper kami di dalam mobil,sebelum aku ke luar dari rumah nenek,aku pergi ke depan pintu kamar nenek dan berkata"nek kami permisi, maafkan semua kesalahanku dan Teo,kami pamit nek !" lalu langsung pergi menuju mobil karena Teo sudah menungguku di mobil.Aku pamit pada nenek setidaknya aku masih menghargai nenek.Aku tau nenek pasti mendengarnya.
Dalam perjalan menuju rumahku,Teo hanya diam saja,aku juga diam,aku takut aku salah ngomong.Sampai di rumah ku, Teo mengeluarkan koper-koper kami dari mobil dan langsung di masukan di dalam kamar ,kamar yang kami tempati saat kami baru menikah.
"Diana,tolong buatkan teh ya!"kataku pada Diana.Diana sudah menjadi asisten rumahku sejak aku masih sekolah,umur kami sebenarnya tidak jauh hanya selisi 5 tahun."ya Natalie",jawabnya.
Diana sudah tau apa yang terjadi pada kami,aku menelponnya dan mengatakan bahwa akan tinggal lagi di rumahku sebelum Teo mendapatkan rumah lain,sebenarnya kami boleh saja tinggal di rumahku,tapi Teo mengatakan akan membeli rumah dari hasil kerjanya untuk kami tempati.
Masa-masa kehamilanku,ku lewati dengan suka cita,setiap bulan ku rutin ke dokter. Sikap Teo padaku sudah berubah sejak kami pindah dari rumah nenek.Teo kadang tidak pulang kerumah,dengan alasan ada kerjaan di luar kota.Aku hanya diam saja untung ada Diana yang menjadi teman curhatku,dan selalu menemani saat aku kedokter untuk cek up kandunganku.
Hamil di usia 4 bulan, saat aku mau bangun tidur karena sudah pagi,tiba-tiba aku merasa ada yang akan keluar lewat mulut rahimku dan perutku sangat sakit,untung saja Teo ada di rumah dan Teo langsung melarikan ku ke rumah sakit,tiba di rumah sakit aku langsung masuk ke ruangan dokter kandunganku.Dokter langsung memeriksa aku. Masih di ranjang di dalam ruangan dokter,dokter berkata "bu,lebih baik di angkat ajah ya! ini masih bisa kok bu,dan belum membahayakan rahim ibu.
Kalau masih menunggu sampai hari ibu melahirkan takutnya akan beresiko besar".Aku hanya mengeleng.Tapi aku terkejut Teo yang menjawab"iya dokter angkat ajah",percuma juga itu kan anak perempuan belum juga lahir sudah bikin susah orang tuanya".Aku dan dokter terkejut dengan apa yang di katakan Teo,aku langsung bertanya,"pa! apa papa sadar dengan apa yang papa katakan tadi?". "iya aku sadar!sangat, sangat sadar ma,benarkan kata nenek,anak ini hanya akan bikin kita susah",jawabnya.
"Pa! aku tidak mau pa!" kataku lagi.
Kami tidak sadar,kami masih berada dalam ruangan dokter.Hingga dokter berkata "bapak,ibu masalah ini masih boleh di bicarakan dengan baik,pulang lah dulu berembuklah dengan hati yang tenang ya!ini aku kasih resep obat dan vitaminnya".
"Ia dok,maaf ya! kataku lagi.Kami pun pulang kerumah.Mulai dari saat itu kehidupan rumah tanggaku selalu di warnai dengan pertengkaran.Akhirnya Teo berkata"baiklah lahirkan anak itu tapi jangan menyuruh aku untuk menganggap dia darah dagingku,aku tidak mempunyai anak perempuan dan aku tidak akan menafkahinya biarlah dia menjadi anak gelandangan,gembel sekalian".Aku hanya diam,aku sudah tidak mau berfikir lagi,tidak mau stres,karena dokter selalu mengingatkan aku jangan stres agar tidak akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janinku.
Waktu usia kandunganku sudah memasuki 7 bulan,aku sudah kesusahan untuk bernafas,perutku juga sudah besar,aku sering mendapat bercak merah dalam CDku.Hari senin pagi ku jalan-jalan di halaman belakang tiba-tiba aku merasa ingin buang air seni,ku ke kamar mandi saat ku buka CDku, ku lihat ada darah yang ke luar,hampir sama saat aku menstruasi hari pertama,ku langsung ke luar kamar mandi ,mengganti CD.yang baru dan ku telpon dokter mengatakan semua yang aku alami ,dokter langsung menyuruhku segera ke rumah sakit.Ku ajak Diana dan kami pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit aku langsung di masukkan di UGD karena fisikku sudah sangat lemah,dokter langsung mengambil tindakan dan berkata aku akan langsung di operasi,untungnya Diana langsung menelpon Teo yang ada di kantor,Teo langsung ke rumah sakit saat mendapat telpon dari Diana.Tiba di rumah sakit Teo bertemu dengan dokter yang menangganiku dan langsung menanda tangani semua berkas-berkasnya.
Aku di masukkan ke ruang operasi,para dokter melakukan perkerjaan mereka dengan sangat baik sehingga anakku boleh lahir. 1 jam kemudian aku sadar,aku sudah di pindahkan di ruang rawat,ku lihat ada Teo dan Diana.Saat Teo melihatku sudah sadar,Teo mendekati ranjangku dan berkata "kamu sudah melahirkanya,kata dokter,kamu sehat dan besok sudah bisa pulang, dan kita akan pulang di Apartemenku,aku sudah membeli apartemen untuk tempat tinggal kita,biarlah anak itu Diana yang merawatnya,kamu tidak perlu melihat rupa wajahnya dan kamu Diana! jangan pernah melihatkan wajah anak itu pada kami,ingat itu Diana!"ku lihat Diana hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab perkataan Teo.
Esoknya aku sudah di perbolehkan pulang,tapi tidak dengan anakku,anakku masih di inkubator karena berat badan nya hanya 2,30 kg,jadi belum bisa pulang.
Teo ke ruang administrasi menggurus berkas dan surat keterangan agar aku bisa pulang,ku lihat Diana yang sedang membereskan barang-barangku,ku berkata"Diana tolong jaga dan rawat anakku dengan penuh kasih sayang ya!,kamu jangan kuatir masalah kebutuhan anakku dan hidup kalian berdua semuanya aku akan tanggung tapi ku mohon usahakan Teo tidak mengetahuinya".Diana menjawab, "ia Natalie aku akan memberikan semua kasih sayangku pada malaikat kecilku itu,dia sudah seperti anak kandungku walau tidak keluar dari rahimku,akulah yang pertama memeluknya,aku pula yang pertama mendengar tangisannya,kamu tau,Natalie dia begitu cantik dan sangat imut juga lucu".
Air mataku langsung keluar mendengar apa yang di katakan Diana.
Pulang ke apartemen yang di beli Teo,ku lihat semua barang-barangku sudah ada,rupanya Teo sudah mengambilnya dari rumahku saat aku ada di rumah sakit.
"Natalie ingat apa yang terjadi padamu saat ini, nenek tidak mengetahuinya,jadi ku mohon diamlah,karena kamu sudah tidak mempunyai rahim yang otomatis kamu sudah tidak bisa hamil lagi",kata Teo.
Aku hanya mendengarnya tanpa menjawab karena aku masih capek dan jahitan di perutku masih terasa perih, jadi aku langsung masuk kamar dan istirahat.
Dua tahun sudah aku tinggal di apartemen tanpa pergi kerumah untuk menenggok anakku,jujur aku sangat merindukanya,ingin sekali melihatnya.Karena rasa rinduku,ku putuskan untuk berkunjung ke rumah.Dari kantorku ku langsung berangkat menuju rumahku,tapi aku naik mobil Online supaya tidak di ketahui oleh Teo.Sebelum berangkat aku memberi kabar pada Diana,tapi Diana menjawab dia akan ke membawah anakku ke posyandu dan mungkin akan lama.Tiba di rumah ku buka pintu belum juga masuk kedalam aku sudah mencium aroma parfum dan bedak bayi.Dengan begitu semangat ku masuk rumah,langsung menuju kamar Diana tapi aku hanya mendapati baju-baju lucu milik anakku,karena Diana membawahnya ke posyandu.Memeluk bajunya dengan airmataku yang sudah keluar.Ku keluar kamar Diana,ku duduk di ruang tamu entah kenapa aku langsung berfikir untuk memasang CCTV dalam ruangan rumah ini agar aku bisa melihat segala aktifitas anakku.Itu akan membuat rasa rindu ku akan berkurang.Ku telpon temanku yang biasa memasang CCTV,tidak menunggu lama temanku datang dan memasang apa yang aku minta.Setelah selesai aku langsung pulang dengan hati yang gembira karena sebentar lagi aku akan dapat melihat anakku walaupun tidak secara langsung, setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku.
Nantikan kelanjutannya
Tinggalkan jejak sayang๐๐๐