Hanna

Hanna
Episode 6



Matanya kosong menatap kaca. Dia sedang berguyat dengan hatinya. Cermin tidak menyapanya, tidak peduli terhadap hatinya yang sedang terluka. Bukan rasa bahagia yang sedang bernuansa di ulu hatinya, benci. Marah. Menyesal. Rasainilah berperang disana, Membuat ia lelah dan gundah. Seandainya saja dunia berhenti saat ini. Betapa beruntungnya Ia. Tapi itu mustahil terjadi.


Tekadnya telah bulat, tidak bisa ditawar, pernikahan ini tidak boleh terjadi. Bukan karena ia kasihan dengan gadis malang itu. Tepatnya Hanna tidak ingin menikahi seorang penzina. Tidak pula seorang **** yang tidak bisa memegang janjinya. Sungguh ia benci mengingat itu.


"Akan kau rasakan apa itu sakit hati!" Sumpah Hanna dalam batinnya, tidak pernah sudi batinnya bersuami bekas orang lain.


"Tok.. tok..."


Hanna langsung menoleh ke depan pintu, disana telah berdiri seorang wanita yang sangat ia cinta.


"Ibu... " Hanna langsung menghamburkan badannya kepelukan wanita itu. Sekali lagi ia menangis, inginrasanya ia bercerita seperti biasa, saat ini waktu tidak tepat. Ibunya akan terluka dengan ini. semoga ia bisa mengatasi ini dengan baik.


"Maafkak Hanna Bu."


"Pengantin kok malah nangis, senyum dong." jawab Ibu Hanna mengabaikan permintaan maaf Hanna


.


"Hanna tidak ingin jadi pengantin Bu."


"Tidak boleh mengambil kesimpulan sebelum kita tau seberapa benar ia." Kalimat itu menusuk pikiran Hanna. Apakah ibunya tau. Itu tidak mungkin. Mungkin filing seorang Ibu, tapi Hanna heran, harusnya Ibunya bertanya.


"Keluarlah bersama Ibu, ini sudah waktunya." Hanna melepaskan pelukannya dan keluar bersama ibunya menuju ruang tamu yang sebentar lagi mereka akan menuju mesjid Ar-Rohman. Mesjid kecil yang ada di kampung itu.


*******


Semua orang yang di anggap penting sudah disana. lafaz syahadat terdengar di seluruh ruangan yang di iringi dengan lafaz istighfar. pertanda meminta ampun kepada sang pencipta, dan semoga Tuhan dapat memberikan izinNya dan rahmatNya terhadap pernikahan ini.


Jantung Hanna seakan telah berada di luar, ia bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Hatinya sungguh tidak ingin pernikahan ini terjadi. Dipandanginya wajah-wajah yang akan dia kecewakan. Sekali ia menatap kearah Rifa'i seakan ingin menemukan jawaban pertanyaan hatinya. jelas saja itu tidak merubah apapun walau Ai tersenyum hangat terhadapnya.


Hanna tidak lagi menginginkan pernikahan ini. Ingin rasanya ia memakan Ai seperti zombi. Mungkin ini pembalasan setimpal atas rasa sakitnya. Penghianatan yang diterimanya. Tapi sayang semua itu tidak nyata.


"Bagaimana nak Ai, Sudah siap? " tanya ayah Hanna


Ai menganggukkan kepala tanda ia setuju. kini lelaki di samping nya sedang berjabat tangan dengan Ayahnya. Kalimat ijab dan Qobul sedang di lafazkan, tanda pertanggung jawaban dipindah tangankan. Tanda status harus bertambah. Tapi Hanna tidak menginginkan ini.


"Saya terima ni-"


"Tunggu." Potong Hanna di sela ucapan Ijab Qobul. Semua mata menatapnya menunggu dan saling bertanya. keadaan hening membuat tubuh Hanna jadi bergetar hebat. Ia harus mengatakan ini. Ia harus mengahiri ini. Ini salah, ini tidak boleh terjadi. Hanna tidak ingin menghabiskan hidupnya dengan pria seperti Ai.


Air matanya mengalir sambil ia berkata "Bolehkah aku memeluk ibu sekali lagi". pintanya.


Bukan ini yang ia inginkan, harusnya ia katakan saja, tapi melihat senyum ibu dan ayahnya hilng. bagaimana mungkin Hanna tega melakukan itu. semua orang terharu melihat kelakuan Hanna. Tapi hanya Hanna saja yang tau apa yang dideritanya


lafaz Ijab dan Qobul kini telah selesai di ucapkan. Hanna seakan kalah dengan dirinya sendiri. Pernikahan berjalan dengan semestinya, semua keluarga, teman dan warga kampung di undang. Pesta pernikahan ini berjalan sesuai rencana. Yang di iringi tari Tor-Tor dan Silat, semua adat di adakan maka dari hari ini resmilah Hanna sebagai seorang istri dari Ahmad Rifa'i Lubis.


Telah dimulai roda putar cerita keluarga Hanna, kebencian dan cinta yang dibawanya. hatinya sendiri yang paham akan lukanya, semoga saja waktu memberikan jawaban untuk kepahitan dan pedihnya.