Hanna

Hanna
Episode 1



Hanna menyunggingkan dua sudut bibirnya bersamaan. ia mengingat kembali kejadian tadi, meski telah dua jam, tetap saja hal itu berhasil menggetarkan hatinya.


"Ahirnya......" lirih hanna dalam hati


"Semoga saja berjalan lancar nantinya " ucap hanna sambil mengambil gulingnya dan merubah posisi tidurnya jadi miring.


Malam ini ia sangat bahagia cinta yang di jalinnya dengan sang kekasih selama 4 tahun berujung juga. senyumnya selalu mengembang, entah bagai manapun ia berusaha menahan senyum itu tetap saja tidak bisa.


Kejadian itu berputar manis di otak Hanna seakan ia sedang melihat banyak gambar saat ini, suara salam itu masih terdengar jelas di telinganya.


"Assalamu'alaikum" suara itu berasal dari pintu depan.


"Wa'alaikumsalam "sahut ibu


"Dag Dig Dug" suara itu berasal dari hati Hanna. ia mengamati dengan telinga langkah-langkah yang masuk kerumah, hatinya bergetar makin kencang, seakan ia sedang berlari, ah bahkan melebihi lagi.


"Duduklah" ucap ayah sambil menggerakkan tangannya isyarat mempersilahkan tamu itu.


Hatinya makin tak karuan saja, seakan sedang berusaha melompat keluar. Namun, Hanna tetap diam di kamar menunggu panggilan dari ayah.


"Hanna.... " suara ibu dari balik pintu "dipanggil ayah mu" sambung ibu.


"Ya bu" ucap Hanna sambil meninggalkan tempat duduk nya.


Hanna berjalan di belakang ibunya sambil menunduk, baru kali ini ia merasakan sensasi aneh berjalan di rumah sendiri.


ia menyadari jelas 6 pasang mata menatap ke arah nya, entah ini hanya insting. Tiba-tiba saja ia mendongkakkan kepala.


"Dag Dig Dug.... " kembali hatinya bertingkah disaat dua pasang mata yang sangat dicintainya beradu pandang dengannya.


"Ahhhh kenapa kau tersenyum, apa kau tau aku serasa seperti mayat hidup sekarang." teriaknya dalam hati.


"Ok, baiklah. karena sudah duduk disini anak kita Hanna, maka kami akan menyampaikan hajat kami datang bertamu." suara laki-laki yang sudah berumur itu membuka kata.


"Saya sebagai tetua dari kampung kami, ingin mengatakan bahwa, kedatangan kami ingin meminang anak bapak untuk mendampingi anak kami Rifa'i dalam menempuh kehidupan yang lebih serius nantinya." mungkin hal ini juga sudah di sampaikan oleh nak Hanna kepada bapak." ucap bapak yang paling tua di antara para tamu yang datang.


"oh bapak ini rupanya tetua dari kampungnya" bisik Hanna dalam hati.


Ya.... tetua memang sangat berpengaruh dalam pernikahan, biasanya acara pernikahan diatur sesuai adat, jika ada masalah dalam acara orang yang pertama di tanyai pasti tetua kampung.


"Anak saya memang sudah menyampaikan hajat orang bapak " ucap ayah " Namun, sebelum kita membahas pernikahan ini lebih lanjut alangakah baiknya kita pastikan kembali apa Hanna anak saya setuju dengan pernikahan ini jika Anak saya setuju maka kami orang tua tentunya akan mengikut saja. " sambung ayah menimpali ucapannya


"Bagaimana nak Hanna"


apakah nak Hanna setuju dengan pernikahan ini" sambung tetua memastikan.


"Iya" jawab Hanna sambil menganggukkan kepala dan tetap menunduk, kali ini ia tidak punya nyali mengangkatkan kepala, entah apa sebabnya, jangan pernah tanya karena ia sendiri tidak tau apa jawabannya.


Hanna sangat bahagia malam ini, wajahnya berubah memerah, pompaan jantungnya meningkat lima kali lipat, seiring diucapkannya kata "Iya ", ia rasakan keringat mengguyur badannya hingga punggungnya jadi sangat basah, padahal malam, dan ini di kampung, suasana sangat dingin, tapi malam ini kenapa begitu sangat panas, sampai-sampai wajahnyapun dibanjiri keringat.


Malam ini berahir dengan perbincangan soal mahar yang di ajukan oleh keluarga Hanna, Sedikit ada perdebatan, Ibu mertua Hanna nampaknya tidak terlalu suka dengan mahar yang di ajukan. Namun, semua berahir dengan baik malam ini, Ai dengan keluarganya pulang tepat jam 10 malam setelah mencicipi hidangan yang di suguhkan tuan rumah.


****


Maaf ya kalo banyak salahnya, dimaklumi aja.


masih tahap pemula wkwkwkw


semoga kalian suka


makasih udah mampir.. . .