
*Ah,,, boring banget ya! pengen cari suasana yang enak,untuk menghilangkan rasa jenuh dan sedih*, batinku.
Ku berdiri dari ranjang,ku ambil ponselku dan menghubungi gank ku, dengan hati yang berbunga-bunga.
* Lima Sahabat *
Aku : "Gays ".
Jubaidah : "Ia ,kenapa lu ".
Aku : "Kangen " ku mengetik kata-kata sambil tersenyum.
Chi : " Aku juga !, jalan yuk ".
Cap Ayam : " Siap-siap ku jemput mi ".
Aku : " Asyik , ternyata kamu baik sekali my driver ! ".
Cap ayam : " Kanjeng mami,,,! lu tu ya,aku bukan drivermu ".
Aku : he,,,he,,,he,,, " Ayam lu makin ganteng tau jadi driverku" ku sisipkan emoji gemes dalam akhir kataku.
Jubaidah : "kumpul di mana ?".
Aku : " Kafe kapten ajah "
Chi : "Setuju banget !"
Aku : "Ok,siap-siap,sampai ketemu di kafe Rio "
Kafe Rio nama kafenya Rio.
Kapten : "Ku udah di kafe "
Cap ayam : "Mi ,aku otw "
Aku : " Ia ku siap-siap dulu ".
Cap ayam : " Jangan terlalu cantik mi, tar aku kilaf ".
Aku : "Aku sudah cantik dari sononya", wee.
Cap ayam : "salah gomong aku ".
Aku : " lanjut sebentar ayam,ku mau siap-siap dulu ".
Cap ayam : "ia ,,, ia,,, ia,,, ".
Kututup ponselku dan beranjak dari tempat tidur,masuk kamar mandi,ku mandi,selesai dengan rutinitas di kamar mandi,ku keluar dan langsung menganti baju.
Ku memakai atasan kaos tanpa lengan berwarna salem,bawahan celpen jeans berwarna navi ku padukan dengan sepatu sneakers warna salem.
Berdiri menghadap cermin, "ternyata aku begitu cantik tidak kalah cantiknya dengan mama "batinku dan seketika kristal bening keluar tanpa ijinku.
*Semangat Hanna ! semangat *,aku menghibur diriku sendiri.
Ku perbaiki riasan di wajahku dan langsung keluar kamar menuju ke bawah.
"Wah cantiknya , anak ibu !kata ibu.
Ibu menemuiku saat ku sudah di ruang tengah.
"Mau kemana nak ?"ibu bertanya padaku.
"Bu Hanna mau ketemuan sama temen-temen ya!, ku bareng dengan Marsel,biar hemat bensin "he,,,he,,,kataku dengan senyuman manisku.
Ibu berkata "Ia,tapi tetap hati-hati dan jangan pulang malam ya!" lalu berjalan di sampingku menuju pintu.
"Ia ibuku cantik !, yang makin hari makin bawel"jawabku dan langsung berjalan mendahului ibu.
Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karena mobil Marsel sudah tiba,aku berbalik ke belakang karena ibu ada di belakangku.
Ku pamit dan berkata "Hanna jalan dulu ya !,jangan cemburu melihatku sama bule,dia bukan tipe Hanna" lalu mengambil tangan kanan ibu memberi salim, dan ku berlari menuju mobil Marsel.
"Dasar anak sableng" jawab ibu karena tingkahku yang bikin ibu jengkel .
"Daaa ! bu ,,, "aku melambaikan tangan saat ku sudah di dalam mobil.
"Ia hati-hati" ucap ibu dengan berteriak.
*Bersenang -senang lah sayang,muda-mudahan sedih mu bisa hilang dengan adanya teman-teman yang begitu tulus bersahabat denganmu*.
***
Marsel langsung menjalankan mobilnya.
Dalam mobil aku melihat ke belakang,ku tau ada yang mengikutiku.
"Yam "kataku pada Marsel.
"hmmmm" jawab Marsel.
Aku diam tak lagi melanjutkan kata-kataku.Marsel melihat ku dan berkata "ada apa? " tanya Marsel .
"Nanti ajah "jawabku singkat.
Marsel langsung menggerem mobilnya dengan mendadak, untungnya jalanan lagi sepi.
"Eh ayam! lu udah mau mati ?" tanya ku yang kaget karena badanku ikut ke depan saat mobil Marsel tiba-tiba berhenti.
"Makanya kalau ngomong yang jelas kanjeng mami "jawab Marsel.
"Udah jalan ajah! ngak liat ,tu mobil di belakang udah kaya mau demo" kataku.
"Nanti aku jelaskan tapi kalau udah sama dengan yang lain" kataku lagi dan Marsel langsung menjalankan mobilnya.
Haa !aku membuang nafasku,karna nafasku seakan berhenti sejenak.Dadaku terasa penuh duri, rasanya sakit banget.
Marsel melirikku dan berkata "mi !. Kamu tau kadang dengan kita menangis sekuat-kuatnya atau perlu berteriak biar semua orang mendengar,itu akan membuat sedih dan sakit yang kita rasa hilang ".
Marsel mengambil nafas dan berkata lagi.
"Aku tau sekarang kamu sedang tersiksa menahan sakit di dadamu,aku tau itu,kanjeng mami ! mungkin orang lain kamu bisa kelabui dengan sikap ceriamu dengan candaanmu,tapi aku tidak, kenapa ? karena aku bisa membaca lewat tingkahmu dan pandangan matamu yang kadang terlihat kosong", kata Marsel tanpa melihatku , dia tetap fokus dengan jalan yang memang sudah mulai sepi.
Aku tidak menjawab perkataan Marsel mataku ku alihkan untuk melihat di samping seakan melihat kendaraan yang ada di samping ku.
Marsel memegang tanganku dengan tangan kirinya seakan memberikan kuatan padaku.Ku melirik Marsel,tapi Marsel tidak melihatku.
"Terima kasih" ucapku.
Aku melihat Marsel dengan mata ku sudah berkaca-kaca.
"Kamu sudah menjadi seperti kakakku yang selalu ada untukku,kamu dan yang lain seakan membuatku lupa dengan masalah-masalahku,kalian semua adalah sahabat terbaikku "kata ku dengan air mata yang sudah keluar .
Marsel hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihatku dengan tangan kirinya masih memegang tanganku
"Itulah kegunaan sahabat " kata Marsel lagi.
Karena kafe Rio sudah dekat,ku hapus air mataku.Tangan Marsel sudah pindah di stir mobil.Ku menata lagi riasan wajahku dengan bedak bayi agar terlihat lebih segar.
Aku sibuk memakai bedak ,tiba -tiba Marsel berkata" udah cantik,sedikit lagi cerminya retak sangking kagetnya melihatmu yang sangat cantik "kata Marsel sambil melihatku.
"Rese "jawabku singkat.
Marsel hanya tersenyum mendengar jawaban ku.
Karena sudah di kafe Rio,Marsel langsung ke parkiran khusus.Kami lima sahabat sudah di sediakan parkiran khusus oleh pemiliknya.Parkiran itu hanya untuk pemilik kafe, keluarganya Rio dan kami .
*Istimewa banget kan !*
Di parkiran ku lihat mobil Yesi dan motor Sity sudah terparkir dengan rapih.
Masuk ke kafe tidak dari pintu masuk kafe, kami masuk dari parkiran naik life menuju lantai tiga.
"Lama amat ,mi,ngapain ajah di jalan ?perasaan jalanan sepi dan arah rumah lu berdua lebih dekat ".Tanya Yesi.
Yeee ,,, " cemburu Chi " jawab Marsel
Aku hanya tersenyum sambil berjalan menuju meja.Aku duduk di samping Sity.
Belum juga ku menjawab, Rio keluar dari ruangannya.Kantor Rio berada di lantai tiga jadi tempat kami nongkrong, ruangannya pas di depan ruangan Rio.
"Pesan apa?"tanya Rio
" Ku minum ajah" jawabku
"Kanjeng mami segitu miskinnya lu sampe minum ajah harus ke kafe,emang air di rumah lu kemana?" tanya Rio padaku.
"Maafkan aku ya kapten! air di rumahku lagi liburan " jawabku dengan wajah yang seakan -akan sangat haus.
"Udah ah,bercanda terus yang ada sampe pulang ngak akan ada ujungnya "Sity berkata dengan menatap ku.Tatapan Sity sama seperti sedang menyelidiki aku.
"Kalau ngak ada ujungnya,di potong dong Jubaidah !" jawabku .
Aku melihat Sity dengan tersenyum.
Rio memesan makanan dan minuman buat kami.Tak berselang lama pesanan Rio tiba.Pelayannya hanya meletakkan di meja yang ada di samping pintu masuk.Kami yang mengambilnya sendiri.Bukannya kami tidak mau di layani tapi kami maunya menata makanan kami sendiri biar tidak merepotkan para pelayan kafe.
Sity berdiri mengambil minuman kami dan meletakan di meja.Kami duduk bukan saling berhadapan, kami duduk menghadap ke jalan dengan berjejer karena tempat duduknya berbentuk setengah lingkaran .
Aku duduk paling sudut kiri ,di sampingku ada Sity,Yesi,Marsel dan Rio yang duduknya paling sudut kanan.
"Gays bagaimana kalau weekend kita ke pantai?" aku bertanya tapi mataku melihat keluar.
Sity tidak menjawab pertanyaanku tapi malah bertanya balik "Kanjeng mami apa lu baik-baik saja ?"
"Ia aku ngak kenapa napa,tapi aku ingin ajah kepantai "jawabku dan langsung menatap wajah mereka.Ternyata mereka semua sedang melihatku.
"Kenapa sih ? emang segitu banget pesonaku ya ! ahhh ternyata aku cantik banget ".Kataku dengan kedua tanganku sudah di pipi membuat wajah sangat imut.
Rio melemparku dengan sedotan dan berkata " bangunnnn , kebiasaan! sungguh sial ya kita punya ketua osis PDnya selangit "
Wee ,,, ! ejekku sambil menjulurkan lidah.
Marsel berdiri lalu berjalan mendekatiku dan langsung duduk lesehan di lantai.Kamipun ikut berdiri dan duduk lesehan.
"Mi boleh ngak jangan bercanda dulu! bagi lah dengan kami lukamu itu, setidakya kami bisa merasakan bagaimana perihnya kalau luka itu berdarah "kata Marsel.
Marsel duduk di sampingku.
Aku menarik nafasku sangat dalam,aku merasa dadaku seakan penuh hingga aku sulit bernafas.Aku menunduk meremas jari-jariku.
"Aku binggung gays ! apakah ku harus bahagia atau sedih? Orang tuaku sudah resmi bercerai dengan begitu mama tinggal bersama denganku dan ibu,di rumah .Tapi itu seakan hanya simbolis saja,aku yang tidak pernah lagi melihatnya dari aku bagun pagi sampai aku tidur malam" hiks ,,, hiks,,, kataku dengan air mata sudah keluar.
"Aku hanya ingin punya orang tua yang utuh walau aku tidak di anggap "kataku ditengah-tengah tangisku.
Aku langsung memegang tangan Marsel sangat kuat tapi Marsel tidak merasa sakit,atau mungkin Marsel sengaja agar aku punya peganggan.
Sity yang duduk di sampingku langsung memeluku.Sity juga menangis seakan merasakan sakit yang ku rasa.
"Sabar, dan doakan saja yang terbaik untuk mama dan papamu , ya ! kami semua tau mami kuat,ingat masih ada kami"jawab Sity sambil memeluku.
Rio berdiri dan berkata " hari weekend kita ke pantai".Memotong perkataan kami.
"Tapi bolehkah?"Tanya Rio
Rio menatapku,aku tau Rio juga sedih melihatku.
"Mi ! kami minta saat pulang dari pantai segala airmata kesedihan sudah tidak ada.Hanya airmata kebahagiaan yang akan kita bawah pulang.Kami ingin melihat lu bahagia.Kami ingin lu kembali sama seperti saat pertama kali kita bertemu,Hanna yang kuat,Hanna yang selalu ceria ".Kata Rio lagi.
Yesi langsung menyelah perkataan Rio.
"Aku akan membawah bikiniku"kata Yesi dengan tersenyum.Aku tau Yesi hanya mengalihkan pembicaraan kami.
Yesi memang pandai sekali menyembunyikan kesediahan,Yesi kadang sekali kami lihat mengeluarkan airmata.Kecuali kalau kami tertawa Yesi akan tertawa dan airmatanya akan keluar.
Sity melepaskan pelukkannya padaku dan memukul tangan Yesi.Yesi menanggapinya dengan tertawa.
Aku masih memegang tangan Marsel.
Yesi berteriak " woiii ,gandengan truss kaya truk gandeng ajah " dengan wajah yang dibuat imut banget.
Marsel berkata " cempuru tandanya sayang !"sambil tersenyum melihat Yesi.
"Cemburu dengkulmu"jawab Yesi.
"Jangan lah Chi ! kasihan ibu ku,sudah tua belum ada jodohnya " sela ku
Sity dan Rio langsung tertawa mendengar kata-kataku.
Aku melepaskan tanganku dari tangan Marsel.Aku berdiri mengambil minumanku,Entah kenapa aku seakan ada yang menyuruhku untuk melihat ke bawah.Mataku melihat kebawah,aku melihat dua orang yang sedang melihatku juga.Jantungku seakan sedang berlari dan rasa takut muncul.
Aku di kagetkan oleh Marsel yang sudah berada di sampingku.Marsel seakan tau apa yang aku lihat.
"Ada apa? kok benggong", tanya Marsel.
Aku hanya diam.
"Kanjeng mami !"Marsel berteriak.
Ha,,, "A,,,pa ? "jawabku dengan terbata-bata karena kaget mendengar Marsel berteriak tepat si sampingku.
"Kenapa sih? " tanya Marsel.
"Itu minuman lu kalau gelasnya plastik pasti sudah hancur tu gelas, untung gelasnya terbuat dari kaca "kata Marsel lagi dan mata Marsel sudah mengikuti arah mataku.
Aku tidak menjawab Marsel tapi langsung berbalik dan duduk lesehan bereng dengan yang lain di lantai.
Marsel memberikan minumanku.Karena aku tidak mengambilnya.
"Ini di minum dulu"kata Marsel padaku dan tangannya menepuk pundakku dan berkata lagi "jangan takut mereka tidak akan melukaimu ".
Aku tidak menjawab tapi langsung mengambil minumanku dan meminumnya hingga habis.
"Haus bu !"tanya Yesi lalu tersenyum.
Kulihat Rio sudah tidak ada bersama dengan kami, dan Marsel pamit ke toilet.
"Para bidadariku,aku ke toilet dulu,jangan kemana-mana "lalu berjalan mendekati Yesi dan mencubit pipi Yesi.
"Isss ,ayamm ! sakit tau "teriak Yesi.
"Manja " kata Marsel yang sudah berlari ke toilet.
'Mi "tanya Sity
"Ya "jawab ku lalu melihat Sity dan Yesi yang sedang melihatku seakan minta penjelasan apa yang terjadi.
"Aku melihat orang yang mencurigakan di bawah "kataku .
Yesi dan Sity langsung memelukku memberi kekuatan padaku
"Kami akan selalu bersamamu "kata mereka berdua.
"Terima kasih ! " kataku dan melihat Yesi dan Sity.
"Kalian sahabatku yang terbaik " ku berkata lagi dan kami berpelukan.
Itulah gunanya sahabat walaupun kita beda agama,suku tapi kita tetep saling mendukung dan saling menyayangi.
***
Marsel masuk dan bergabung dengan kami.
"Itu makanan kenapa ngak di makan?"tanya Marsel
"Kapten gario-rio sudah rugi karena makanan dan minuman buat kita gratis ,makanya mari kita makan selagi gratis " kata Marsel dan mengajak kami makan.
"Kapten ngak akan gulung tikar,hanya karena makanan ini " jawab Yesi sambil tersenyum.
Menu-menu yang ada di kafe Rio memang sangat enak dan harganya sangat terjangkau . Makanya Kafe Rio tidak pernah sepi penggunjung.
Kami makan bersama tanpa ada Rio.
***
😍😍😍
😍 Tinggalkan jejak sayang 😍😍😍