Hanna

Hanna
Adik Angkat Yesi



Di panti asuhan Kasih,kami bermain dengan anak-anak panti.Aku menggendong adik kecilku yang cantik.


Maria sangat anteng saat bersamaku,dia tidak rewel.Ku bawah jalan-jalan mengelilingi panti asuhan.


Yesi dan Sity sedang bersama anak-anak lain.Mereka berdua menjadi guru dadakan.


Rio bermain basket bersama anak-anak laki-laki di halaman belakang panti asuhan.


Rio mengajarkan anak-anak bermain basket.Anak-anak begitu antusias bermain basket bersama Rio.


Aku berkeliling panti sambil mengendong Maria.Ku melihat Rio yang sedang mengajarkan anak-anak main basket sambil tertawa.


Rio sangat sabar melatih anak-anak,kadang Rio tertawa melihat anak-anak yang tidak bisa memegang bola basket karena bolanya besar dan berat.


Mereka bermain basket memakai bola yang di bawah Rio.Di dalam mobil Rio ada berapa buah bola basket maklumlah Rio kan atlet basket di sekolah kami.


Tiba-tiba Maria menangis,aku yang kaget tak tau harus berbuat apa,ku langsung bawah masuk ke dalam ruangan.


Suster Bernadeth mendengar Maria menangis langsung mendekatiku.


"Nak! Maria kayaknya haus"kata suster Bernadeth.


Aku memberikan Maria pada Suster Bernadeth.Suster mengambil Maria dan mengendongnya.


"Bunda,Maria minum susu yang mana? biar Hanna buatkan "tanyaku.


"Itu nak yang di kaleng biru,takarannya 2 sendok sayang,pake air hangat"jawab suster Bernadeth.


Ku menuju meja dan mengambil gelas lalu membuatkan susu untuk Maria.


Saat aku akan mengisi air , aku kebinggungan karena tidak ada air hangatnya.


"Bunda air hangatnya mana?"tanyaku .


"Itu nak ,di termos air "jawab suster Bernadeth.


Mana termosnya,aku mencari di meja tapi ku tak menemukannya.


Ku lihat suster Bernadeth.


"Bunda mana termosnya"tanyaku lagi.


Suster Bernadeth tersenyum mendengar pertanyaanku.Suster berjalan dan mendekatiku.


"Nak,ini termosnya "kata Suster Bernadeth sambil menujuk letak termosnya.


Aku melihatnya ,ku tertawa karena termosnya dekat dengan kaleng susu.


Ha ! malunya , batinku.


Maklumlah di rumah tidak ada termos air panas,begitu juga di camp tidak ada.


"Maaf bunda,Hanna tidak tau"ucapku dengan menahan malu.


Malu,,,malunya aku, batinku.


"Ngak apa-apa sayang "jawab Suster Bernadeth.


Maria masih menangis karena sudah sangat haus.


"Sabar sayang,dikit lagi susumu sudah siap" kataku .


Ku buat susu Maria memakai gelas kecil.


Belum juga ku isi botol susu Maria.


"Nak botol susunya di cuci dulu dengan air hangat" ucap suster Bernadeth.


"Ia bunda "jawabku.


Ku mencuci botol susu Maria sesuai dengan kata suster Bernadeth.


Setelah bersih,ku salin air susu di gelas ke dalam botol susu.


Suster Bernadeth mengoyang-goyangkan tubuh Maria seperti sedang di ayunan,supaya Maria berhenti menangis.


"Ini sayang susunya,ini pasti susu yang paling enak karena yang membuatnya kakakmu yang cantik "ucapku dan memberikan botol susu pada suster Bernadet.


"Terima kasih kakak yang cantik"ucap suster Bernadeth menirukam suara bayi.


"Bunda ada-ada ajah"kataku dengan tersenyum.


Suster Bernadeth memberikan ujung botol susu .


Maria langsung menerimanya,menyedot susunya dengan sangat rakus,sampai-sampai pipinya kelihatan seperti orang sedang meniup balon.


Aku tersenyum melihat Maria yang sedang meminum susunya.


"Enak ya ,sayang "kataku pada Maria sambil tanganku membantu memengang botol susunya.


Suster Bernadeth berkata "begini lah nak kalau Maria lagi minum ,dia juga akan memegang botol susunya,seakan takut ada orang akan mengambilnya ".


Ku coba menjaili Maria.Ku tarik botol susunya dengan pelan-pelan.Dan Maria memegang botol susunya dengan sangat kuat.


"Kakak minta dong sedikit ajah"ucapku sambil menarik botol susunya.


"Bolehkan kakak cicipi "ucapku lagi.


Maria menangis sangat kuat karena botol susunya terlepas dari tangannya.


Aku tertawa karena berhasil menjailinya.


Ohhh ! cup,,,cup,,,cup ,,, aku membujuk Maria yang menangis karena tangan jailku.


"Maafkan kakakmu ini sayang"kataku lalu memberikan kembali ujung botol susunya di mulut Maria.


Maria langsung terdiam dan meminum susunya kembali,tangan mungilnya memegang kembali botol susunya lebih erat.


"Ternyata kakakmu ini jail juga ya nak"kata suster Bernadeth lalu melihatku.


Aku hanya tersenyum pada suster Bernadeth.


Tidak lama ku lihat Maria sudah tidak meminum susunya,rupanya Maria sudah tertidur karena kekenyangan.


"Pantesan lu gendut,habis minum langsung tidur"ucapku sambil mengambil botol susunya.


"Bunda emang Maria belum makan ?"tanyaku sambil membawah botol susu Maria di meja.


"Belum sayang,Maria makan MP saat usianya sudah enam bulan"jawab suster Bernadeth.


"Nak itu botol nya langsung di cuci sayang"ucap Suster Bernadeth.


"Ia bun " jawabku.


Suster Bernadeth membawah Maria ke tempat tidurnya.


Setelah mencuci botol susu Maria,ku akan bergabung dengan Sity dan Yesi.


Tapi aku mampir dulu di tempat tidur Maria,ku lihat Maria tertidur sangat lelap karena kekenyangan.


Tidurlah sayang,mimpi yang indah ya !.


Ku beranjak dari tempat tidur Maria ke ruang belajar anak-anak karena disana ada Yesi dan Sity sedang menjadi guru sementara.


Ku bergabung dengan Yesi dan Sity.


"Kemana ajah lu ?"tanya Sity.tanpa menatapku,karena Sity sedang mengajarkan salah satu anak panti belajar menulis.


"Aku tadi bersama dengan Maria,tapi ini Maria sudah tidur"jawabku.


Yesi,Sity,Rio,dan Marsel tau tentang Maria tapi aku belum sempat menceritakan fisik Maria pada mereka.


"Ku perhatikan , lu begitu sayang sama Maria " ucap Sity lagi.


Ya ! "entah kenapa hatiku seakan tidak mau jauh dari nya,aku sangat menyanyanginya, Maria masih sangat kecil Jubaidah, tapi Maria sudah tidak bisa melihat indahnya ciptaan Tuhan kelak dia besar " kataku dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Apa ? " tanya Sity yang terkejut mendengar ucapanku.


Sity menatapku .


"Maria tuna netra Jubaidah " ucapku.


Asstafiurlah ! "ya Allah "ucap Sity lalu mengelus dadanya.


"Makanya aku sangat perhatian pada Maria,sejak aku melihat pertama kali hatiku seakan tersentuh apalagi mengetahui Maria punya kekurangan" ucapku lagi.


"Kasihan banget ya " kata Sity lagi.


Aku kok penasaran, ingin melihat Maria.


Aku dan Sity kembali fokus mengajarkan anak-anak belajar.


"Kakak cantik "ucap salah satu anak laki-laki yang sangat gendut .


Hai ! "Siapa namamu ganteng ?" tanyaku pada anak laki-laki yang sudah duduk di sampingku.


"Marsel "jawabnya.


Haa ! aku dan Sity kaget mendengar jawabannya.


"Marsel ?" tanyaku lagi sambil memegang tangannya.


Marsel hanya menganggukan kepalanya.


"Kamu tau sayang teman kakak ada namanya Marsel,tapi dia itu bule,papanya orang luar negri "kataku .


Ohhh "Marsel tau kak,bule yang datang sama kakak kemarin kan "kata Marsel lagi.


"Ia sayang ,tapi hari ini dia ngak ikut karena ada urusan lain "jawabku.


"Kak, tolongin dong ! buatkan Marsel gambar itik dan ayam ,itu tugas sekolah kami, ibu guru menyuruh mengambar unggas " kata Marsel.


Ku menatap Sity,Sity juga melihatku,aku menggeleng karena aku tidak bisa menggambar.


Sity juga menggeleng.


Aku tidak mau membuat Marsel kecewa.Ku lihat Marsel dan mengelus kepalanya.


"Tunggu kakak ngak lama ya,kakak akan memanggil teman kakak yang bisa menggambar,dia pintar menggambar,nanti hasilnya sangat bagus"ucapku lalu berdiri .


Marsel menganggukkan kepalanya.


Aku berjalan menuju halaman belakang,tujuanku ingin menemui Rio.


Rio pandai menggambar,gambar yang terpajang di kafenya hasil dari tangan Rio sendiri.


***


Ku lihat Rio sedang duduk bersama anak-anak lain,yang lainya masih asik bermain sepak bola.


"Kapten "sapa ku sambil menepuk pundak Rio karena Rio membelakangiku.


Eh ! "kenapa mi ?" tanya Rio dengan membalikkan wajahnya untuk melihatku.


"Ayo gabung sama yang lain"ajak ku lalu menarik tangan Rio.


Rio berdiri dan berkata " adik-adikku ,kakak ke depan dulu ya ".


"Ya kak "jawab mereka serempak.


Aku dan Rio berjalan menuju ruang belajar.


"Mi ,ada apa sih ?"tanya Rio.


"Ngak ada apa-apa hanya saja ada anak yang ingin belajar mengambar"kataku.


"Lu tau kan kami tidak bisa mengambar"kataku lagi.


"Makanya kalau belajar jangan duduk di depan,coba deh ! skali-skali duduk di belakang "jawab Rio.


"Apa hubungannya mengambar dan tempat duduk ?" tanyaku pada Rio.


"Adalah,kalau duduk di belakang kita bisa mencoret-coret buku,kalau di depan pasti tegang mendengar penjelasan guru" he,,, he,,, jawab Rio sambil terkekeh.


Yee ! "dasar lu "kataku lalu memukul tangannya.


Sampai di ruang belajar aku memangil Marsel.


"Marsel kemari "panggilku sambil melambaikan tanganku pada Marsel.


Rio menatapku dan berkata "sudah sadar lu,si ayam lu panggil dengan namanya ".


"Emang si ayam nyusul kita,kok aku ngak lihat ekornya "ucap Rio lagi.


Aku tidak menanggapai ucapan Rio.


Marsel datang mendekati aku dan Rio.


"Ini tu Marselnya " jawabku .


Rio menatap Marsel lalu tersenyum.


"Lu tuh ya ! kebiasaan di tanya diam ajah" ucap Rio lalu mendorongku dengan sedikit kuat hingga aku terdorong dari tempatku.


Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Tu layani dengan baik,jadi lah guru yang sabar dan baik ,ya !" kataku lalu meninggalkan Rio dan Marsel.


Ku berjalan mendekati Yesi.


Yesi sibuk memberi aba-aba pada gadis-gadis cilik layaknya sedang berlaga di catwolk.


Aku bangga melihat Yesi yang dengan sabarnya mengatur adik-adikku yang cantik cara berjalan yang baik sebagi model.


Yesi memberikan sebuah buku diatas kepala mereka lalu menyuruh mereka berjalan dengan perlahan-lahan mengikuti cara berjalannya Yesi.


Aku coba bergabung dan berjalan dengan mereka,ku ambil buku dan ku letakkan di atas kepalaku,lalu ku berjalan tapi buku yang ada di atas kepalaku jatuh,ku coba lagi tapi bukunya selalu jatuh.Hingga anak-anak didik Yesi tertawa melihatku.


Ha,,,ha,,,ha,,, tawa anak-anak.


Yesi datang mendekatiku dan berkata , "kalau ngak bisa jangan sok bisa ".


"Nama juga belajar chi "jawabku.


"Tapi lu bikin kacau tau "kata Yesi lalu memukulku dengan buku yang di pegangnya.


"Jahat baget lu,belum juga jadi Luna Maya lu udah jahat "kataku dengan memoyongkan bibirku..


"Ia,,, ia ,,, ia" ucapku lalu ku beranjak dari tempat Yesi.


Aku duduk bersama anak-anak yang lagi membaca.


Tapi ternyata mereka hanya melihat-lihat gambar yang ada di buku karena anak-anak ini kira-kira masih tiga tahun belum masuk sekolah,makanya belum bisa membaca.


"Kakak cantik bacaiin donggeng dong"ucap salah satu anak panti padaku.


Belum juga ku jawab , masuk salah satu pegawai panti asuhan.


"Anak-anak sudah waktunya makan siang"ucap pegawai panti itu.


Anak-anak yang berada dalam ruang belajar langsung berdiri,mereka merapikan kembali buku-buku yang mereka pakai dan meletakkan kembali pada tempatnya.


Aku juga ikut membantu mereka,ku lihat Yesi,Sity dan Rio juga membantu mereka.


Betapa disiplinya anak-anak ini,muda-mudahan kelak mereka akan menjadi orang-orang yang sukses.


Setelah rapi dan bersih kami semua keluar dari ruang belajar.


Anak - anak menuju ke wastavel untuk mencuci tangan mereka.


Suster Bernadeth mendekati kami.


"Ayo makan bersama dengan anak-anak"ajak suster Bernadeth.


Kami saling pandang-pandangan.


"Ayolah, gabung anak-anak pasti senang makan bersama kakak mereka "ajak suster lagi.


Akhirnya kami bergabung dengan anak-anak panti.Kami menuju ke wastavel dan mencuci tangan kami.


Saat kami akan duduk penjaga panti masuk dan mendekati suster Bernadeth.


"Suster di luar ada paket makanan"kata penjaga panti.


"Tapi Suster tidak memesan makanan tambahan " kata suster Bernadeth.


Rio yang belum duduk berkata "itu pesanan saya bunda ".


"Maaf ya Bun !" ucap Rio sambil menatap suster Bernadeth.


Oh ! " yah sudah terima ajah itu pesanan dari nak Rio" kata suster Bernadeth pada penjaga panti.


Sebelum penjaga panti pergi Rio berkata "biarkan mereka yang membawah kemari makanannya ".


Penjaga panti menganggukan kepalanya.


"Nak Rio , apa ngak terlalu banyak makanannya,dan pasti harganya mahal nak "kata Suster Bernadeth pada Rio.


"Bun Rio ngak akan rugi hanya karena makanan buat adik-adik kami "ucapku.


"Bunda aku hanya ingin berbagi rejeki yang ku dapat bun " jawab Rio.


Para pelayan kafe Rio masuk dan meletakkan semua makanan di meja,mereka juga menata dengan baik makanannya di atas meja.


"Terima kasih ya ! " ucap Rio pada pegawai kafenya.


"Sama-sama pak "jawab pegawai Rio.


"Kami permisi pak "kata pegawai Rio dan mereka langsung keluar dari ruangan.


Rio hanya menganggukan kepala tanpa menjawab.


Ku lihat Suster Bernadeth masih binggung,ku dekati dan memeluk tangannya.


"Bunda Rio itu seorang pengusaha,walaupun status Rio masih seorang siswa tapi usaha kafenya sudah ada berapa cabang di kota ini bun"kataku.


Bunda melihatku dan menganggukan kepalanya.


"Ternyata anak-anak bunda sudah sukses ya!,bunda sangat senang mendengarnya,tapi bunda mohon jangan sombong dengan apa yang kalian punya,bersyukurlah selalu atas semua rejeki itu,dan lihat lah orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita "kata suster Bernadeth.


"Beres bunda "jawabku mewakili sahabat-sahabatku.


"Ayo makan sebelum makanan nya dingin" ajak Rio.


"Ayo "ajak bunda juga.


Aku dan yang lain membantu anak-anak balita mengambilkan makanan mereka dan membawah ke meja makan di mana anak-anak duduk dengan sopan.


Anak-anak balita punya meja makan sendiri.


Setelah semuanya sudah mendapatkan makanan,kami mengambil makanan kami dan duduk bersama dengan anak-anak panti.


Suster juga beserta pegawai panti ikut makan bersama.Ternyata peraturan di panti asuhan kasih.Mereka semua harus makan bersama , tidak memandang jabatan mereka.


Aku begitu bangga melihat semua penghuni panti asuhan Kasih.


Suster Bernadeth begitu bijak,dia tidak mau ada yang di beda-bedakan .


Aku dan Sity duduk bersama anak-anak yang masih balita.Kadang aku tertawa mendengar celotehan mereka yang belum jelas.


Yesi duduk bersama anak-anak di meja besar bersama Suster Bernadeth dan pegawai panti lainnya.


Rio bergabung dengan anak didiknya tadi, semua yang duduk dengan Rio laki-laki.


Selesai makan anak-anak yang sudah besar mengangkat piring-piring kotor dan membawah ke tempat cuci piring.


Para pegawai panti mengatur kembali makanan sisa dan membawanya ke tempat penyimpanan makan untuk persiapan makan malam nanti.


Sity dan Yesi membantu anak-anak yang sudah besar mencuci piring.


Aku membantu pegawai panti lain membersihkkan mulut anak-anak yang masih balita.


Rio membantu Sity dan yang lain meletakan piring yang sudah bersih ke tempatnya.


Karena sudah bersih dan rapih anak-anak panti menuju ke halaman untuk bersantai sejenak.Karena setelah makan siang mereka semua akan tidur siang.


Saat anak-anak berada di halaman.Sity mendekatiku.


"Mi ,aku ingin melihat Maria,ayo kita ke tempatnya "ajak Sity.


"Ayo, chi ikut yuk ! " ajakku.


"Kemana ?" tanya Yesi.


"Liat Maria" sela Sity.


Yesi pun mengikuti aku dan Sity.


Tiba di tempat Maria ku lihat,Maria sudah bangun.


"Hai cantik "sapaku.


"Anak pinter bangun ngak rewel "ucapku sambil memegang tangan mungilnya.


Yesi dan Sity mendekat ke tempat tidur Maria.


Mi ! "kok matanya ngak berkedip ?" tanya Yesi.


Yesi belum mengetahui keadaan Maria.


"Maria tuna netra chi "jawab Sity lalu menyenggol badan Yesi.


Haa! Yesi kaget mendengar jawaban Sity.


"Ya Allah ,kasihan banget kamu sayang"kata Sity sambil membelai pipi gembulnya Maria.


Maria tersenyum karena merasakan tangan Sity.


Yesi mendekat lalu mencium pipi Maria,ku lihat air mata nya jatuh.


Kami lima sahabat aku,Yesi dan Marsel anak tunggal.


Aku melihat Yesi yang menangis,airmataku pun ikut turun tanpa injinku.


"Adikku mau kah jadi adik angkatku ?"tanya Yesi pada Maria.


Maria tertawa begitu nyaring,aku jadi heran,aku yang dari tadi mengendongnya memberinya susu tidak mendengar Maria tertawa dengan sangat nyaring.


Bunda Bernadeth masuk ke tempat tidur Maria.


"Sudah bunda duga ,kalian.pasti bersama Maria"kata bunda.


Kami hanya tersenyum.


Yesi mendekati bunda Bernadeth.


"Bunda ,apakah Maria boleh menjadi adik angkatku ? "tanya Yesi.


Aku terkejut mendengar pertanyaan Yesi.


"Boleh sayang,Maria itu adik kalian semua"jawab bunda Bernadeth.


"Tapi bun,Yesi mau Maria tinggal di rumah Yesi"kata Yesi lagi.


"Nak untuk mengambil anak angkat ada banyak prosedurnya"ucap Suster Bernadeth .


"Bunda ,Yesi anak tunggal,di rumah mami sama papi punya usaha sendiri"jawab Yesi.


"Ia nak,tapi harus mami dan papi Yesi yang memutuskan dan itu harus tidak dengan pemaksaan dari siapapun "ucap Suster Bernadeth lagi.


Suster Bernadeth mengajak kami keluar dan masuk ke kantornya.


Aku dan Sity mengikuti Suster Bernadeth tapi Yesi mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


Kami sudah di dalam kantor dan sudah duduk di dalam dengan sangat manis,barulah Yesi masuk.


"Bunda mami dan papi Yesi sedang menuju kemari,kebetulan mereka berada di dekat panti ini"kata Yesi lalu duduk di sampingku.


"Kata mami lima menit lagi sampe"ucap Yesi lagi.


"Nak bunda bersyukur banget karena kamu ingin menjadi kakak angkat Maria,tapi fisiknya tidak sama sepeti kamu sayang "kata Suster Bernadeth.


Aku dan Sity hanya diam saja.


"Bunda jangan takut,Yesi akan menyayanginya seperti Yesi menyayangi diri Yesi sendiri"jawab Yesi.


"Selamat siang" salam dari mami dan papi Yesi saat sudah di depan pintu .


"Selamat siang "jawab kami semua.


Yesi langsung berlari dan mencium tangan mami dan papinya.


Aku dan Sity pun berbuat sama seperti Yesi. Karena kami sudah menganggap mami dan papi Yesi sudah seperti orang tua kami.


"Mari masuk !"ajak Suster Bernadeth.


Mami dan papi Yesi mendekati bunda Bernadeth.


"Perkenalkan, kami mami dan papinya Yesi" kata mami Lusi.


Lusi nama maminya Yesi.


"Aku suster Bernadeth "jawab bunda.


"Suster apakah kami boleh melihat malaikat kecil itu ? "tanya mami Lusi tanpa neko-neko.


"Ayo "ajak Suster Bernadeth.


Kami pun berdiri dan menuju ke tempat tidur Maria.


Saat sudah di tempat Maria,mami Lusi langsung ke tempat tidur dan melihat Maria lagi asik bermain sendiri dengan memengang jarinya.


Mami Lusi memandang Suster Bernadeth dan bertanya "bolehkah aku menggendongnya ?"


"Boleh bu "jawab Suster Bernadeth dengan sangat halus.


Mami Lusi mengangkat Maria dari tempat tidurnya,lalu mengendongnya.


Papi Liong mendekati mami Lusi.


Liong nama papinya Yesi.


Papi Liong mengangkat jarinya dan mendekatkan ke mata Maria.Papi Liong menarik jarinya dan mendekatnya lagi.


"Maria tuna netra "kata Suster Bernadeth karena melihat tingkah papi Liong.


"Maaf Suster ,aku hanya ingin melihat matanya saja"jawab papi Liong dengan menundukkan kepalanya.


"Suster apa boleh Maria menjadi anak angkat kami "tanya papi Liong.


"Boleh tapi kita harus menggurus surat-suratnya"jawab Suster Bernadeth.


" Ayo kita bicarakan di kantor ajah"ajak Suster Bernadeth.


Kami pun kembali ke kantor Suster Bernadeth.


Kami duduk ,mami Lusi masih menggendong Maria.


"Suster tenang ajah Maria akan kami jadikan malaikat di rumah kami"kata papi Liong.


Suster Bernadeth hanya tersenyum mendengarnya.


"Suster tau Maria masih boleh sembuh,matanya masih bisa di sembuhkan"kata papi Liong lagi.


Kami semua yang duduk dalam kantor Suster Bernadeth terkejut mendengar nya.


"Ijinkan kami mengangkat Maria jadi anak kami,menjadi adik satu-satunya Yesi" ucap papi Liong lagi.


"Biarkan kami yang mengurus surat-suratnya ,suster hanya menerima hasilnya" sela mami Lusi.


"Ya kalau itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan bapak dan ibu mau saya hanya mengikutinya,mungkin Maria adalah berkat buat keluarga bapak dan ibu"jawab Suster Bernadeth.


"Syukurlah bunda mengijinkam Maria menjadi adik angkatku "kata Yesi dengan sangat gembira dan langsung memeluk Suster Bernadeth.


Mami Lusi sudah tidak bisa mengandung karena kandungan mami sudah diangkat lima tahun lalu,karena mengalami keguguran dan hampir mengambil nyawa mami Lusi.


Adikku kamu sudah mendapat keluarga yang akan menjaga dan menyayangimu dengan tulus hati.


❤❤❤


MASIH BERLANJUT


😍Tinggalkan Jejak Sayang 😍😍😍