
Matahari kini telah tersenyum kepada dunia,semua makhluk tuhan telah beraktifitas seperti biasanya. tapi Hanna masih saja bergayut di tempat tidurnya, seperti orang yang tidak peduli dengan apa yang terjadi pada dunia saat ini.
"Bangunlahh... " suruh wanita berumur itu, yang ternyata ibu Hanna. Sedari tadi memperhatikan anaknya dan memikirkan nasib anaknya dengan sikap seperti ini.
"Masih ngantuk" jawabnya menimpali perintah
"Entah bagaimana nanti kamu?, bangun pagi saja malas. cepat bangun. jam 9 nanti orang itu mau datang ngantar seserahan tanda jadi". ucap ibu hanna menekan suaranya tanda ia marah melihat Hanna yang sedari tadi tidak bangun-bangun.
" Ahhhkkkkkk" ya aku bangun " ucapnya malas seiring melangkah dari bed kesayangannya menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.
Semuanya telah di persiapkan sebagai tuan rumah, tikar, makanan, semua yang dibutuhkan sudah bersiap di tempat nya, bahkan daun sirihpun sudah siap di tengah-tengah tikar itu. "ibu memang yang terbaik" lirih hanna dalam hati, ketika melihat semua persiapan ini. Semua keluarga kini me nunggu, setelah beberapa saat mereka datang di jam yang telah disepakati.
Acara seserahan tanda jadi ini berjalan seperti yang di harapkan. Yah, seperti biasa, acara di mulai dengan ucapan pembuka yang dimulai dari pihak laki-laki, dan diditutup dari pihak laki-laki juga. adat-adat khas daerah mandailing ini juga disertakan dalam acara. Adat ini tidak mungkin hilang, inilah adat yang di junjung di sini.
Setelah acara berahir, suasana hatinya berubah. Sedih merasuki rongga dada Hanna, senin depan hari terahirnya berada dirumah. apa yang akan ia lakukan di sana, kehidupan baru ini terlintas di kepalanya. Meninggalkan rumah, ayah, ibu.... dan semua kenyamanannya.
Ahhh, rasa ini telah mengaduk hati Hanna jadi tak karuan. kini ia sadar bagaimana perasaan ibunya dulu, ibu tega meninggalkan keluarganya demi sebuah cinta, cinta yang diharapkan dapat memberi kebahagiaan untuknya, kini Hanna berada di posisi itu.
Seminggu terasa sehari, inilah waktunya, detik jarum tepat pada angka 20.00 nanti waktu Hanna berahir dirumah. ia dilarang menangis, ia juga menguatkan hatinya agar tidak menangis, Namun mata Hanna tak ingin mengerti kalau ia lagi berusaha, ia menggagalkan rencananya, ia menangis dan terus menangis, padahal ia sadar masih punya waktu 4 jam lagi, tapi tetap saja Hanna sudah menangis sejadi-jadinya di kamar tepat didepan ibunya.
"sudahlah nak. jangan seperti ini, kamukan masih bisa pulang nanti" ucap ibunya menenangkan sambil memeluk erat anak semata wayangnya.
Tangis Hanna kini makin meningkat, pelukan ibunya membuat ia makin sedih, dieratkannya pelukan itu, tanda ia taksiap berpisah, ia benar-benar taksiap meninggalkan semuanya sekarang, sungguh ia takpernah merasa kesedihan seperti ini sebelumnya. banyak hal yang ingin Hanna ucapkan kepada ibunya, Namun, yang keluar hanya kata maaf dan terimakasih.
kata yang mewakilkan semua isi hatinya saat ini.
"Ibu bisakah aku jadi seperti ibu nantinya " tanya Hanna. sambil mendongkakkan kepalanya, tetap berada di pelukan ibunya.
"Pengalamanlah nak pelajaran yang paling berharga" ucap ibunya menjawab pertanyaan dari putri kesayangannya itu.
Sejujurnya hati ibunya sangat sedih melepas Hanna, ibunya sangat takut jikalau anaknya itu tidak seperti yang di harapkan keluarga dari besannya. namun apa yang bisa ibunya lakukan, jodoh tuhanlah yang tau.