
Matahari kini telah melewati kepala. Ia seakan cepat berlari menuju persemayamannya, entah karena ia tak suka derama kehidupan dunia, atau ia muak melihat berbagai cerita yang memusingkan baginya.
Besok hari yang di tentukan bagi Hanna setelah seminggu berlalu dirumah Rifa'i, ia masih canggung berada disini, dan berharap Ai bersamanya. namun adat melarang mempelai laki-laki dan perempuan sering bersama meski sekarang mereka berada dalam satu atap yang sama.
Hanna saat ini bertemankan api, ia sedang mempersiapkan santapan malam bagi keluarga ini, tak lain sucipun disana membantunya. hanya mereka berdua disini yang lainnya diluar rumah untuk mempersiapkan acara pernikahan besok. Sanak saudara mulai berdatangan satu persatu. Hanna gugup, ia seakan ciut berada dilingkungan keluarga ini. Namun, demi cinta ia harus mengeraskan hatinya.
"Han....... jeruk nipis keknya abis la " sambil memeriksa tempat cabe yang didepannya " "ambilkan kebelakang la!!! " pinta suci
"Kaulah" jawab hanna
"Malas Han..., kau laya!!! biar aku giling cabe". Pinta suci memeberikan penawaran.
"Haissss" suara Hanna terdengar berat, sambil melangkah keluar menuju belakang rumah.
Hanna berjalan santai dan memandangi sekelilingnya, ia sudah beberapa kali kesini, tetap saja ia suka. Banyak pohon buah, sayur-sayuran juga banyak disini, belakang rumah ini bagaikan kebun kecil. Hanna tersenyum dan mempercepat langkahnnya menuju pohon Jeruk nipis. bawah pohon jeruk ini dijadikan orang tempat bercerita, selain tempatnya sejuk, dari sini nampak hamparan sawah yang luas, burung berirama sesukanya, yah jendela keindahan desa memang terpancar indah lewat tempat ini.
Hanna berhenti ketika melihat orang yang didepannya, kali ini ia tidak tersenyum. Hanna menggunakan telinganya untuk mendapatkan informasi dari perbincangan manusia didepannya, ia sangat penasaran. Keduanya tampak serasi bagaikan sepasang kekasih.
"Tenanglah, aku pasti bersamamu. dan juga akan bertanggung jawab padamu dan bai mu".
kata itu terniang jelas di telinga Hanna, runtuh sudah langit harapan Hanna, putus berurai tali rasa cinta yang Hanna bina, bagaimana mungkin hatinya tak terluka, bagaimana bisa ia menerima. Disaat cinta dan kebahagiaan akan berjalan kepadanya. Sungguh tega Rifa'i menghianatinya, bisa-bisanya ia bilang cinta disaat gadis lain mengandung anaknya. Tega..., apa yang akan Hanna perbuat, wanita itu hamil, inikah balasan cinta yang dijalinnya bertahun-tahun. Inikah hadiah terindah untuknya, hatinya pecah, berurai darah hati dari pipinya.
Hanna berjalan terhayun, wajahnya basah, ia berlari dari tempat dimana ia berdiri tadi. Semua sudah usai, tak ada cinta, yang benar dusta, janji... apalah itu, semua bohong, dan kebohongan itu terlipat indah dengan pernak-pernik seuntai ucap kata sayang.
Hanna menerobos masuk, tak ada suara, yang ada luapan emosi lewat tekanan suara jalan Hanna. suci heran dan bingung apa yang telah terjadi, Hanna pergi tidak lama bagaiaman bisa pulang berurai air mata. suci bertanya-tanya, apa yang telah terjadi dan ia langsung menghampiri Hanna.
"Han.... " sambil mengusap kepala Hanna.
Hanna tak menghiraukan, yang ada hanya suara tangis yang tertahan. dipeluknya suci dengan erat. badannya benar-benar bergetar, tak ada yang bisa suci lakukan. percuma bertanya. biarlah Hanna menangis sepuasnya, biar lega hatinya walau hanya sementara.
"aku tidak paham apa yang terjadi, tapi tolong diamlah. hatiku sakit melihatmu seperti ini. dan aku tidak tau apa yang akan aku lakukan". Ucap suci dengan nada sedih seakan kesedihan Hanna tersalurkan kepadanya lewat uraian air mata Hanna.
" Tenangkanlah dirimu, aku harus melanjutkan masaan kita, tidurlah dulu, nanti malam baru ceritakan padaku".
Suci tak paham apa yang terjadi, masaan yang dijadikan alasan ditinggalkannya begitu saja. ia bergegas menuju pohon jeruk nipis tadi, memastikan apa yang telah terjadi. dan sucipun menemukan dua insan yang sedang bercanda ria di bawah pohon jeruk itu.
"Tempat yang indah" gumam suci dengan marahnya. ia mendekat dan membawa kayu, hatinya serasa ingin membunuh dua orang yang didepannya. "Bagaiaman mungkin orang yang akan menikah, dan itu besok bisa bercanda mesra di sini. berduaan. dasar berhati iblis". umpat Suci dalam hati
Suci membalas sautan itu dengan senyum terpaksa." Dari mana datangnya anak setan ini" lirihnya dalam hati
"Kau kok lama kali sih cok??? " suara Ai terdengar marah. "Padahal cuma beli rokok" sambungnya.
"Maaf .... ". Tadi pas beli rokok disuruh jemput nangka buat sayur pesta besok
"Ohhh". Saut Rifa'i dengan muka datar. "eh Suci ngapain kesini??" tanya Rifa'i.
"Mau ngambil jeruk nipis" jawab Suci.
Sebetulnya Suci ingin bertanya, namun Suci ragu apa yang harus ia tanyakan. ia belum tau apa yang terjadi, ditambah lagi si ucok yang suka menggodanya disini.
"Adek suci butuh jeruk nipis" ucap ucok dengan nada menggoda. "Abang ucok ya yang ambil".
"terserah la, yang penting cepat sayurnya udah mau masak". jawab suci dengan nada jutek. Seakan Suci ingin menumpahkan semua amarahnya saat ini kepada laki-laki gila yang didepannya.
"Hanna mana ci ??" tanyak Rifa'i
"Di kamar tadi" jawab suci seadanya.
Suci menunggu tanggapan Rifa'i, namun Rifa'i tidak bertanya lagi, Suci menggrutu sendiri, ia mengumpat Ai dalam hatinya, bagaimana bisa orang yang dicintai Hanna sedingin ini.
"Bang Ai... " panggil suci. " Hanna lagi menangis di kamar " lanjut Suci. ia tidak bisa bertanya saat ini, setidaknya ia ingin melihat bagaiama reaksi Rifa'i mendengar hal ini.
Rifa'i langsung bangkit dan pulang kerumah, ia nampak seakan berlari, Suci jadi sangat bingung. otak suci penuh dengan tanda tanya. terlihat jelas wanita tadi tidak merelakan Ai pergi, sedangkan ucok hanya tertawa kecil melihat tingkah Ai yang bertolak belakang dengan sifat aslinya.
Rifa'i berjalan tergesa-gesa, hatinya pilu mendengar buanga hatinya menangis. Ia ingin berada disana, menenangkan hati kekasihnya.
"Han..." Ai memanggil didepan pintu. "Sayang" ucapnya lagi, seakan menandakan ia ingin segera pintunya di buka. "Sayang " panggilnya untuk ketiga kalinya. Rifa'i menekan gagang pintu dan membukanya, ia melihat Hanna tertidur di atas ranjangnya. Ai memperhatikan sekelilingnya memastikan tidak ada orang dewasa yang melihat, ia masuk melihat gadisnya. Ai merasa seakan sedang mencuri di rumah sendiri. yang membuat ia menarik dua sudut bibirnya sehingga terlihat sedikit giginya.
"sayang....," lirih Ai, sambil mencium kepala Hanna. "Sabar-sabar ya, nanti kita bakal cepat punya rumah sendiri, aku akan berusaha"
Ai sadar gadisnya tidak terlalu suka berada di rumahnya. Rifa'i berjanji pada dirinya, dia akan menjadikan gadisnya orang satu-satunya yang akan menemaninya samapai ia tutup usia. tak peduli apa pun yang terjadi. hanya Hannalah wanita yang bisa membuat ia khawatir dan merasakan bagaimana tersiksanya menahan rindu. dan saat ini gadisnya tertidur pulas, Ai mencium hidung Hanna, dan beranjak meninggalkan kamar.