Hanna

Hanna
Episode 3



Istana kecil Hanna penuh dengan manusia bahkan di luar juga sangat berisik. 4 jam miliknya telah berakhir. Hanna duduk disudut ruang tamu, disampingnya ada seorang sahabat yang akan menemaninya di rumah Ai sebelum pernikahan di lakukan. Ini bukan karena ia takut atau minta di temani, inilah adat, tradisi yang berlaku sejak dulu. "DI PABORUBORU" , begitulah orang kampung menyebutnya.


Ucapan pembuka terdengar di telinga, hal biasa dalam acara, dan untuk kesekian kalinya dalam acara persiapan pernikahan ini. Hanna menari mencari sosok yang telah mencintainya dengan jiwa, ya.... wajah senyum yang menyembunyikan kesedihan itu kini di pandangi Hanna seakan untuk terahir kalinya. "ayah... ibu... aku akan jauh" lirih Hanna sedih dalam hati. butiran kristalpun merambat di pipi mulus Hanna.


"Terimakasih telah memilih anakku". Ucap ayah menimpali kata-kata dari ayahnya Ai yang dari tadi sebagai orang pembuka acara lanjutan ini. " bawalah putri kami kerumahmu, jadikanlah ia sebagai putri sendiri, tegur ia bila salah, bimbing ia sesuai aturan di rumah mu, dan aku sebagai ayah memohon, tolong jaga hati dan air matanya agar tidak terluka dan menangis" sambung ayah Hanna.


air mata Hanna semakin deras saja. Sesak rasanya mendengar ucapan dari ayahnya. sudah cukuplah, ia telah lelah menangis. harusnya ia bahagia bukan?, pernikahan semakin mendekat. tidak pantas rasanya air mata tetap bersamanya. tapi kenapa hati dan matanya tak searah kali ini.


"Tisu" sambil menyodorkan "kamu memerlukannya"ucap suci sambil tersenyum pada Hanna. Hanna tau suci sedang menyuruhnya untuk kuat.


"calon pengantin wajib tersenyum " suci menimpali ucapannya untuk mendiamkan Hanna


"Yahhh" sahutknya seraya berusaha membentuk lengkungan di bibir tipisnya yang seksi. Suci kembali tersenyum sambil menepuk punggung Hanna


Semua orang sedang berdiri saat ini. Tak terkecuali Hanna, posisinya tepat di pintu. la sadar, ini saatnya ia diserahkan kekeluarga calon suaminya, akan dimulailah, dimana nanti Hanna datang kerumahnya seperti seorang tamu.


"Kuserahkan anakku kepadamu Rifa'i Lubis". Ucap ayah Hanna dan menarik tangan Ai serta menyatukan dengan tangan Hanna. Jadikan dia wanita satu-satunya. berikan dia kasihmu, sayangmu, dan cinta yang sesungguhnya. Bimbinglah ia menuju surga Allah. Ajari ia bagaimana hidup dalam keluargamu". Sambung ayah Hanna menekan suaranya tanda perintah sekaligus permohonan.


Kini saatnya Hanna mengayunkan kaki untuk melangkah. langakah inilah tanda ia terahir dirumah. Langkah ini jugalah sebagai tanda kehidupan barunya sedang di depan mata. Tanda semua kehidupannya selama ini akan jadi kenangan. Langkah ia meninggalkan orang tua dan kenyamanannya.


Hanna menangis sejadi-jadinya, ia takkan bisa lagi mengadu kepada ayah, merengek kepada ibu. ia takan pernah bisa seperti dulu. Teman. Keluarga. Semua yang bersangkutan dengannya berubah jadi kisah masa lalu. Inilah sebuah tanda kisah, kehidupan baru yang menyapa.


Butiran air mata jatuh berirama. langkahnya terus berayun meninggalkan tentang ia yang dulu. sungguh kejamnya ini. Hanna


ingin memeluk ibunya saat ini, tapi adat melarangnya berputar walau hanya sekali saja.


Kejam sangat adat ini. ia tidak boleh berjumpa dengan keluarganya sebelum acara pernikahan di adakan. Ini ibarat penyiksaan tepat mengenai hati. Ini menyakitkan. namun apa daya adatlah yang telah berbicara saat ini.


"Jangan menangis nak" ucap seorang wanita paruh baya yang menggandeng Hanna dari tadi. "cepatlah berdamai dengan hatimu, dan kamu akan terbiasa". Sambungnya wanita itu.


Tetap saja Hanna tidak menurutinya. bukan tak mau. Tapi ia tak mampu membendung air matanya. Bukan dibuat-buat. Murni dari dasar hatinya paling dalam.