
Dunia ini bukan hanya becerita tentang kebahagian saja, pasti isinya ada kesedihan, penderitaan dan kesengsaraan. yah inilah dunia. Nano-Nano begitulah orang menyebutnya. ini memang pasti, jika ingin hidup anda manis laluilah Nano-Nano ini. begitulah Hanna mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan yang akan menyapanya.
Untuk pertama kalinya bagi Hanna bangun tidur dirumah orang lain. Ia sangat gugup, dan tidak paham apa yang akan ia lakukan terlebih lagi Hanna merupakan anak manja dirumahnya. Hanna masih bisa bernafas lega karena ada Suci. sahabat yang akan membantunya saat ini.
"Bagaimana rasanya...? " tanya Suci dengan jurus senyumnya yang nampak licik.
"Rasa apa" jawab hanna cuek sambil mengikat rambutnya sambil berjalan kedepan cermin yang ada di pojok kanan kamar itu.
"Yah semalamla" sambung suci sambil duduk di atas kasur menghadap punggung Hanna." "kekmana rasanya disambut ibu mertua di depan pintu ditambah jadi pajangan di tengah-tengah orang ramai" tanya suci dengan wajah seriusnya.
"Isss kaula. Bisaya, nanyak itu langsung" balas Hanna dengan muka kesalnya.
"Hehehe. kepo. " jawab Suci "sebetulnya pengen semalam kutanyak tapi kamunya kasihan masih sedih."
"Nanti kamu pasti ngerasain" sambung Hanna sambil menarik kedua pipi Suci yang cabi.
"Ahhhhh. Tak dijawab." suara suci memelas. namun Hanna tetap tidak peduli dengan rengean sahabatnya itu. Sucipun tidak melnjutkan lagi karena ia tau sekali tidak pasti tidak.
"Capek kali Han, dari semalm duduk sampe sekarang, sampe mati rasa pantat ku ini." keluh Suci ia memang anak yang cerewet persis kek Hanna, mungkin itulah cara tuhan menjadikan mereka sahabat. "nikah ribet ya" sambung Suci lagi, kau sih.... pengen kali cepat nikah. celoteh Suci tak karuan yang berhasil buat Hanna membalikkan badan.
"Is is is" muncung ya......, kau juga bakalan nikah." balas Hanna menanggapi.
"iyasih. tapi calonnya masih diperut. ucap suci diiringi tawaan khas Suci yang buat orang juga bakal ikut tertawa.
"Rumah mertua kau besar kali han. aku jadi canggung" ucap suci disela-sela tawanya.
"Aku juga ci" kadang aku takut kalau aku tidak bisa beradap tasi disini. mereka terlalu kaya sedangkan aku hanya rakyat miskin." Sambung Hanna dengan raut wajah yang sedih.
Banyak para tamu yang datang dari kampung tetangga khusus melihat calon pengantin wanita. tidak sedikit pula yang bilang Hanna tidak cocok dengan Rifa'i. Andalan Hanna hanya wajah la. di kasih pelet la, dan sebagainya. Banyak hal yang Hanna dengar dan itu disengaja. yah.., inilah hidup. Manusia di kasih hati dan pikiran oleh tuhan untuk menimbang hal baik. "seharusnya"!!!!. tapi manusia menggunakan nikmat itu untuk menghujat dan menghakimi, padahal mereka sedikitpun tidak pantas untuk menghakimi Hanna. Bukankah Tuhan yang mengatur jodoh dan pastinya rahasia Allah, Namun. Mereke mana mengerti.
"Hanna " panggil Suci membuyarkan lamunan Hanna.
"ehhh. apa" saut Hanna.
"mikirin apa sih sayang? " kok terlihat bodoh. mikirin bang Ai?. " Suci menekan kalimatnya satu persatu serta mengangkat alisnya yang membuat ia terlihat licik dan genit.
sebetulnya Suci paham perasaan Hanna, tapi ia tidak ingin sahabatnya ini bertambah sedih lagi.
"Apa sih...." Sok tau" jawab Hanna sambil tersenyum dengan muka memerah.
"Iri aku sama kau". Sambung suci sambil menunjukkan muka menjijikkan nya.
"kanapa iri"? jawab Hanna dengan tertawa kecil.
"akutuh... iri sama kau, karna kau bakalan ngarasain malam pertama, sedangkan aku..." ucapnya ringan dengan muka prustasinya
Suci...., teriak Hanna sambil memukul dengan bantal yang dari tadi di dekap oleh Suci.
Merekapun tertawa dengan terbawa suasana. inilah mereka dua manusia yang memiliki watak yang hampir sama. persahabatan indah ini akan selalu terikat walau pernikahan akan menjadi batas di antara mereka.
"Suara mu " kita baru disini. nanti mertuamu datang baru tau. ucap Suci mengingatkan, kata ini juga menjadi jurus pamungkas Suci mendiamkan pukulan Hanna yang tiada berhenti karena malu. "kau harus jaga sikap" sambung Suci lagi" seakan Suci tidak ikut ambil bagian dalam permainan ini.
"Baik bosss" timpal Hanna ringan.