Hanna

Hanna
Pertemuan Kedua



Akhirnya tiba waktunya aku kembali ke klinik untuk memeriksa kakiku


Pulang sekolah aku ke klinik bersama dengan sahabat sejatiku.


Aku sangat bersyukur karena mereka begitu peduli dan perhatian padaku.


Di klinik aku harus antri untuk menunggu giliranku.Karena hari ini banyak pasien yang berkunjung ke klinik,jadi aku harus bersabar menunggu gilirannku.


Nama ku di panggil oleh seorang suster cantik untuk masuk ke ruangan dokter.Aku masuk ke dalam ruangan dokter di temani oleh Sity dan Yesi.Dokter memeriksa lukaku,ternyata lukaku sudah mulai mengering,tapi aku belum bisa pakai sepatu,karena lukaku belum sembuh. Dokter masih memberiku obat agar lukaku cepat kering.


Keluar dari ruangan dokter,kami bertiga langsung menuju ke loby klinik,karena Rio dan Marsel sudah menunggu kami di loby.


Tiba di loby klinik.


"Bagaimana luka lu?"tanya Marsel.


"Udah mendingan"jawabku.


Rio dan Marsel pun langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Ke kafe yuk !"ajak Rio.


"Okey "jawab kami para gadis.


Kami berlima keluar dari klnik menuju kafe Rio.Kami naik mobil mewah Marsel.


Rio yang menyetir mobil mewah Marsel, dan aku duduk di depan bersama Rio.


Sity,Yesi dan Marsel duduk di kursi belakang.


Dalam perjalanan kami menuju ke kafe kami saling bercanda,hingga kami tertawa sampai air mata kami keluar.


"Kapten kita duduk di meja yang paling pojok ajah ya!"ucapku.


"Setujuh" jawab Sity dan Yesi serempak.


"Terserah kalian ajah"ucap Rio.


"Kan kalian ownernya" kata Rio lagi.


"Jadi ceritanya ngak iklas ni !"jawabku lalu memandang Rio yang sedang menyetir mobil.


"Sensi amat bu !"jawab Rio lalu mengacak rambutku dengan tangan kirinya.


Aku hanya diam ajah.


"Akan ku kerjain lu "batin.


"Lu tuh kalau diam ada yang lu rencanakan" ucap Rio begitu santai.


Aku tetap diam.


"Mengapa Rio selalu tau isi dalam otakku?"aku bertanya pada diriku sendiri.


"Ya elah! sok budek lu!,kalau si cap ayam lu bisa kerjain tapi gue ngak bisa"he,,he,,kata Rio lalu terkekeh.


"Sikap lu,gue udah hafal,kanjeng mami !"ucap Rio lagi.


Akhirnya kami sampai juga di kafe Rio.


Rio menuju parkiran khusus,tiba di parkiran aku bergegas untuk turun.


Tapi sebelum aku membuka pintu mobil, tanganku sudah di tahan oleh Rio.


"Jangan dulu turun tuan putri" kata Rio yang melarang aku turun dari mobil.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah Rio.


Sity ,Yesi dan Marsel sudah turun duluan.


Aku melihat Rio.


"Kenapa lu?"tanyaku pada Rio.


"Nanti bareng aku"jawab Rio.


Rio turun dari mobil dan berjalan menuju pintu samping.Rio membuka pintu buatku.


"Silahkan tuan putri !"kata Rio dengan tersenyum.


"So Sweet banget ,aku sangat terharu !"ucapku.


Aku pun turun dari mobil,tanganku di pegang oleh Rio.


"Preeet "ucap Yesi,Sity dan Marsel bareng.


Mereka sudah menunggu aku turun dari mobil.


"Sirik ya !" ucapku .


Mereka tidak menjawabku,tapi langsung berjalan.


Kami berjalan menuju pintu masuk kafe.


Aku berjalan bareng sama Rio,Rio masih memeganga tanganku.


"Selamat siang pak"salam salah seorang pegawai kafe Rio .


Rio menjawabnya hanya dengan senyuman.


"Selamat siang juga "jawabku mewakili Rio.


"Sok ganteng lu"ucapku lalu menepuk tangan Rio.


Kami langsung menuju meja yang aku minta,untungnya meja tersebut masih kosong.


Aku memilih meja itu,karena mejanya tepat di pojok dan kami bisa melihat kendaraan yang lalu-lalang di jalan.


Kami duduk saling berhadapan.


Rio berdiri dari tempat duduknya.


"Aku ke atas dulu,ada yang akan aku kerjakan"ucap Rio yang sudah berdiri.


Rio memangil pegawainya hanya dengan melambaikan tangannya.


"Pesan ajah sekalian dengan ku"kata Rio lalu berjalan menuju lantai dua.


Kami memasan makanan yang sering kami makan beserta minumannya.


Saat kami asik bercanda,aku melihat seorang pria masuk ke kafe dengan gaya yang sangat cool.


"Kok kayak aku kenal"batin.


Tapi karena Rio datang bergabung dengan kami,aku sudah tidak lagi fokus sama pria itu.


Kami menikmati makanan dan minuman kami yang kami selinggi dengan candaan.


"Jubaidah sabtu ini kita akan membayar upah para pekerja"kataku.


"Iya,aku sudah merekap data-datanya"jawab Sity.


"Syukurlah"ucapku.


Aku berdiri, karena aku ingin ke toilet.


"Kemana mi?"tanya Sity.


"Temani aku ke toilet yuk !" ajakku pada Sity


Sity berdiri dari tempat duduknya.


Kami berdua beranjak dari tempat duduk kami menuju ke toilet.


Selesai dari toilet kami menuju ke tempat duduk kami.


Sity berjalan di depanku.


Karena ada yang menempel di sendalku,aku menunduk untuk melihat sendalku.Ternyata ada kertas permen yang menempel di sendalku.


"Jubaidah lu duluan ajah"kataku pada Sity.


Sity berbalik dan melihatku.


"Emang kenapa?"tanya Sity.


Sity pun melihat apa yang aku lakukan.


"Ngak Jubaidah "jawabku yang sudah jongkok untuk mengambil kertas permen yang menempel di sendalku.


Oh ! "ya sudah ku duluan ya! jangan lama-lama "ucap Sity lalu berjalan meninggalkan aku.


Setelah kertas permen yang menempel di sendalku ku ambil,aku berdiri dan mencari tempat sampah di sekitar tempatku,ku lihat tempat sampahnya berada di dekat meja kasir.


Aku berjalan menuju ke meja kasir dimana tempat sampahnya pas di samping meja kasir,karena kakiku belum bisa melangkah dengan cepat,aku berjalan pelan-pelan.


Saat aku sudah membuang kertas permen,aku membalikan badanku untuk berjalan untuk bergabung dengan yang lain,tapi sebelum aku melangkah tanganku sudah di pegang oleh seseorang.


"Ketemu lagi kita ,neng cantik"kata orang itu.


Ku lihat siapa yang memegang tanganku ternyata dia adalah pria yang aku lihat yang masuk ke kafe tadi.


Aku tidak menjawab perkataan pria itu,tapi aku langsung menarik tanganku.


Tanganku terlepas dari genggaman pria itu.


"Permisi"pamitku.


"Tunggu dulu"jawab pria itu.


"Maaf aku masih banyak kerjaan"ucapku lalu berjalan meninggalkannya.


Chiii ! "hanya seorang pelayan sok jual mahal"kata pria itu.


Aku tidak menanggapinya,aku berjalan dengan langkah sedikit cepat.


Ah !"orang gila itu,muda-mudahan dia tidak mengikutiku" batinku.


"Sial ini yang kedua kalinya aku bertemu dengan dia,dan sikapnya itu tidak ada yang berubah,tidak sopan banget"aku ngomong sendiri sambil berjalan.


Tiba di tempat duduk,ku lihat mereka berempat menatapku dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa lu, kayak habis lihat setan ?" tanya Marsel.


Aku tidak menjawab pertanyaan Marsel.


Ku mendekati Yesi dan menarik tangannya yang duduk di samping Marsel.


"Chi aku duduk di sini ya!"ucapku.


Yesi yang binggung langsung berdiri dan berjalan menuju ke kursiku.


"Segitu ngak mau jauhan sama calon papa sambung ya!"jawab Yesi yang sudah duduk di kursiku .


Aku tidak merespon jawaban Yesi.


Ku sengaja duduk di samping Marsel,agar pria itu tidak melihatku,karena tempat dudukku yang pertama menghadap di meja pria itu.


"Cap ayam "panggilku setengah berbisik.


Sity yang melihat perubahan wajahku langsung bertanya "Apa kaki lu sakit lagi,mi ?".


Rio langsung menatapku,karena Rio duduk di depanku.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Trus kenapa lu tegang banget?"tanya Rio.


"Kenapa lu?"tanya Marsel.


"Aku ketemu dengan pria gila itu" jawabku


Mereka berempat kaget mendengar jawabanku .


Haaaa !!!


Mata Marsel langsung mencari keberadaan pria itu.


"Dimana orang gila itu?"tanya Rio yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Ya kali ada orang gila di kafe ini"kata Rio lagi.


"Duduk dulu kapten,lu ngak tau orang yang di maksud kanjeng mami"ucap Marsel yang sudah menarik tangan Rio untuk duduk lagi.


Rio pun duduk kembali di kursinya.


"Lu ketemu dimana mi ?"tanya Marsel.


"Di meja kasir,tadi aku membuang sampah yang berada di samping meja kasir"jawabku.


"Dia ngak ngapa-ngapain lu kan ?"tanya Marsel .


Yesi,Sity dan Rio hanya mendengar percakapan kami.


"Dia menarik tanganku, dan di kiranya aku seorang pelayan kafe ini"jawabku.


"Emang kalian ngomongin siapa sih?"tanya Rio.


Akhirnya aku pun menceritakan semua pada mereka bertiga tentang kejadiaan saat aku dan Marsel berada di pantai itu.


"Kurang ajar baget tu orang "kata Rio.


Marsel berdiri dari tempat duduknya.


"Kalian temani kanjeng mami dulu,aku ingin melihat siapa tau pria itu masih berada di sekitar kafe ini"kata Marsel.


"Aku ikut "ucap Rio lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Jangan bro,lu temani para bidadari ini,takutnya saat kita tinggal pria itu masih ada di kafe ini dan mendekati mereka" jawab Marsel yang mencegah Rio untuk meninggalkan kami.


Rio mengangukan kepalanya.


Marsel pun pergi meningalkan kami.


"Mi,emang tadi lu lihat pria itu dimana"tanya Yesi.


"Aku melihatnya masuk ke kafe ini saat kita belum lama duduk,dan dia duduk tepat di meja sana no,,,no "jawabku lalu menujuk tempat duduk pria itu.


"Tapi tadi aku lupa pernah ketemu pria itu dimana"ucapku.


Aku menarik nafasku dan membuangnya dengan sangat kasar.


Fhuuu !!!


"Trus ketemu langsung di meja kasir saat aku membuang kertas permen yang menempel di sendalku,barulah aku mengingatnya "ucapku lagi.


Marsel datang dan bergabung dengan kami .


"Kayaknya pria itu sudah pergi"ucap Marsel.


"Ayo naik ke atas" ajak Rio.


Kami pun beranjak dari meja 25 menuju ke lantai atas tempat biasa kami nongkrong.


"Jubaidah lu jalan sama Chi,kapten sama kanjeng mami,aku nanti menyusul kalian dari belakang"kata Marsel.


Kami pun berjalan mengikuti sesuai arahan Marsel.


Sampai di lantai dua,Rio dan Marsel langsung masuk ke ruang pribadi Rio.


Kami gadis-gadis duduk menghadap jalanan.


"Bener kan ucapanku,resto itu sudah menjadi tempat esek-esek"kata Yesi.


Aku hanya menganggukan kepalaku.


***


Di dalam ruangan pribadi Rio.


Rio dan Marsel sedang melihat CCTV.


No,,,no ,,. ! tunjuk Marsel di layar monitor


"Itu dia orangnya "ucap Marsel .


"Yang pake kaos navi?"tanya Rio.


"Iya ,itu orangnya aku ngak mungkin lupa"jawab Marsel.


Oh ! "bener kata kanjeng mami dia duduk pas menghadap kita" ucap Rio.


"Kita lihat di meja kasir "kata Rio lagi.


Marsel menganggukan kepalanya.


"Eh brengsek tu orang,ngak.ada sopan-sopanya sama wanita"ucap Rio,karena melihat pria itu menarik tangan ku.


Karena sudah menemukan orangnya,Marsel langsung mengajak Rio untuk keluar dari ruangan Rio.


"Ayo kita gabung sama mereka"ajak Marsel.


Marsel dan Rio pun keluar dari ruangan Rio.


***


Pertemuan kedua dengan pria itu membuatku dongkol.


"Mengapa aku bertemu lagi dengannya?"tanyaku pada diriku sendiri.


"Jangan begong"ucap Sity sambil menepuk tanganku.


Aku melihatnya dengan tersenyum.


Marsel dan Rio keluar dari ruangan Rio lalu duduk bergabung dengan kami.


❤❤❤


Nantikan Kelanjutannya


😍Tinggalkan Jejak Sayang😍😍😍