
Setelah kepergian Silvia dari sana, Abraham segera masuk kedalam lift pribadinya untuk kembali kedalam ruangannya, niatnya untuk pergi makan siang dia batalkan karena nafsu makannya sudah hilang.
Asisten pribadinya mengikutinya dari belakang, dia sangat heran melihat bosnya kembali lagi keruangannya dan tidak hanya itu dia tampak bingung dengan sepatu yang masih berada ditangan bosnya.
Apa bosnya akan menyimpan sepatu itu seperti sepatu kaca Cinderela? Tidak hanya itu, apa penyakit OCD bosnya tiba-tiba sembuh?
Itu sebuah sepatu loh, biasanya mana mau seorang Abraham Achilles menyentuh benda-benda kotor seperti itu bahkan setelah berjabat tangan dengan seseorang saja dia akan langsung mencuci tangannya.
Abraham mendorong pintu ruangannya dengan kasar, dia masuk kedalam sana dan meletakkan sepatu yang dia bawa sedari tadi diatas meja setelah itu dia menuang minuman juga meneguknya dengan cepat, itu dia lakukan untuk meredakan kekesalan dihatinya.
Wanita China tadi benar-benar telah berani Melemparnya menggunakan sepatu! Jika wanita itu datang lagi akan dia balas, pasti!
Walaupun dia sulit menyebut nama Wanita tadi tapi dia masih ingat, Abraham mengambil pulpen dan kertas diatas meja, dia menuliskan nama wanita tadi disana 'Chén xiǎo xuān' setelah dia selesai menulis dia meletakkan pulpenya lagi keatas meja.
"Nick, kau lihat gadis China tadi bukan?" tanyanya pada asisten pribadinya.
"Yes bos."
"Ini namanya, cari tahu siapa dia!" Abraham memberikan nama yang dia tuliskan diatas kertas tadi kepada asisten pribadinya.
Nick mengambil kertas yang diberikan oleh bosnya dan melihatnya, setelah itu dia juga menjawab:
"Baik bos."
"Bagus, sana pergi!" usirnya.
Nick segera keluar dari sana sedangkan Abraham berjalan kearah jendela dan berdiri disana, matanya yang tajam memandangi kota Sydney dari kaca cendela besar yang ada didalam ruangannya. Siapa wanita China tadi yang berani mengaku sebagai pacarnya?
Dia jadi ingin tahu kenapa wanita itu berani melakukan hal itu, mungkin ada maksud tertentu atau jangan-jangan wanita itu adalah wanita yang akan dikenalkan oleh ibunya.
Ibunya memang suka menjodohkan dirinya dengan beberapa wanita karena penyakit OCDnya, oh ya ngomong-ngomong, Abraham memutar tubuhnya dan melihat sepatu yang dia bawa sedari tadi dan yang dia letakkan diatas meja.
Sialan! Dia lupa denngan penyakit OCDnya dan membawa sepatu itu,dia juga menyentuh wanita itu dengan mudahnya, pasti semua ini terjadi karena emosi.
Tapi kenapa sampai sekarang dia tidak merasa jijik? Abraham menarik nafasnya dengan berat, lupakan!
Wanita tadi pasti wanita yang akan dijodohkan oleh ibunya padanya, padahal dia sudah berusaha menolak tapi ibunya benar-benar, dia akan menghubungi ibunya saat ini juga.
Abraham segera mengambil ponselnya tentu untuk menghubungi ibunya, dia ingin tahu apa ibunya yang mengirim wanita China tadi.
"Wah, mimpi apa ibu semalam sampai putraku yang super sibuk ini menghubungiku?" goda ibunya dari sebrang sana.
"Ck mom, please. Tidak perlu basa basi."
"Hei kenapa begitu? Apa mommy membuat kesalahan?"
"Mom, katakan padaku siapa wanita China yang mommy kirimkan hari ini untuk menemuiku?"
"Wanita China?" ibunya sangat heran, dia tidak punya kenalan wanita China tapi memang dia ingin menjodohkan putranya kembali tapi bukan dengan wanita China.
"Sudahlah, mommy jangan pura-pura! Aku tahu mommy masih berusaha menjodohkan aku dengan para anak kenalan mommy jadi katakan padaku siapa wanita China yang mommy kirim untuk menemuiku hari ini?"
"Wow, teganya putraku menuduhku." ibunya pura-pura sedih disebrang sana.
"Ck mom, please berhenti menjodohkan aku!" pinta Abraham frustasi.
"Tidak bisa! Kau tidak mau berhubung serius dengan seorang wanita karena penyakit OCDmu itu dan aku tidak mau kau tidak menikah!"
"Mommy!" Abraham semakin frustasi.
"Jika kau tidak ingin mommy menjodohkanmu maka carilah pacar dan segeralah menikah. Usiamu sudah 30 puluh tahun tapi kau belum juga punya pacar, bagaimana kau bisa menikah!"
Abraham menarik nafasnya dengan berat, ibunya mulai ceramah lagi dan dia bosan mendengarnya.
Dia segera berjalan kearah kursinya dan duduk disana, tidak hanya itu Abraham meletakkan ponselnya diatas meja membiarkan ibunya berceramah disebrang sana tanpa mau mendengarnya.
Jika tidak punya tujuan wanita itu pasti tidak akan berani mengaku menjadi pacarnya dan dia sangat ingin tahu.
Abraham bangkit berdiri, tapi sebelum itu dia menyalakan speaker diponselnya dan ibunya masih juga menceramahi dirinya supaya cepat menikah.
"Hei Abraham, apa kau mendengarku?" tanya ibunya.
"Iya aku mendengarkan." jawab Abraham dengan malas.
"Bagus, minggu depan Jenny akan pulang dari Inggris jadi minggu depan kau harus menemuinya."
"What? Hei apa maksud mommy?" Abraham meraih ponselnya.
"Kau sudah dengar bukan? Minggu depan temui Jenny!" ujar ibunya lagi.
"Ya ampun mom, lagi-lagi perjodohan." ujarnya frustasi.
"Aku tidak perduli pokoknya kau harus menemui dia!"
"But mom?"
"Tut!" sambungan ponselnya dimatikan oleh ibunya.
"Sial!" maki Abraham.
Sepertinya ibunya tidak akan berhenti menjodohkannya sampai dia menikah dan jujur saja dia tidak suka dijodohkan!
Abraham menghempaskan dirinya diatas kursinya, dari pada memikirkan perjodohan yang tiada habisnya lebih baik dia memikirkan proyek yang ingin dibangunnya.
Sementara itu didalam mobil, Silvia melihat telapak kaki kanannya yang sedikit lecet karena aspal jalan.
Dia melarikan diri menggunakan satu sepatu tadi dan jujur saja tadi itu sangat sulit tapi dia nekat dari pada ditangkap oleh pria aneh tadi.
Sepertinya dia harus membuang sepatu mahalnya yang tinggal sebelah saja tapi itu tidak jadi soal baginya, untungnya Dave cepat menjemputnya kalau tidak dia sudah seperti orang gila memakai satu sepatu saja.
"Nona bagaimana dengan kakimu?" tanya Dave khawatir.
"Tidak masalah, hanya lecet sedikit."
"Apa Abraham Achilles melakukan hal kasar pada nona?"
"Hmm tidak, aku tidak bertemu dengannya tapi aku bertemu dengan simodel celana dalam."
Dave hanya terkekeh tapi dia tetap fokus pada mobil yang dibawanya.
"Aku jadi penasaran, bagaimana rupa Abraham Achilles?" gumamnya.
"Nona Silvia bisa melihatnya di Internet."
"Oh kau benar Dave. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini?"
Silvia mengambil ponselnya dan mulai menuliskan nama Abraham Achilles disana dan pada saat sebuah artikel tentang
Abraham Achilles dan sebuah foto muncul dilayar ponselnya, mata Silvia terbelakak kaget.
"Oh mati aku, si model celana dalam!" gumamnya tidak percaya.
Pantas saja pria itu bisa mengusirnya dengan mudah? Bagaimana sekarang? Apa jika dia datang lagi Abraham Achilles akan menerimanya?
Ini gawat,dia sudah menyinggung Abraham Achilles dan dia rasa, semua ini tidaklah mudah.
Tapi demi anak panti dia tidak akan menyerah, dia akan menemui Abraham Achilles lagi dan semoga nanti dia tidak ditendang keluar oleh Abraham Achilles, semoga.