Falling in Love with You

Falling in Love with You
kau pantas menjadi menantuku!



Setelah selesai makan, Silvia tampak sudah tidak sabar ingin segera menyudahi sandiwara mereka dan ingin segera pulang.


Dia hanya diam saja tanpa mau berbicara karena dia merasa tidak ada yang perlu dia bicarakan apalagi dia tidak mau membohongi ibu Abraham lebih jauh lagi.


Setelah meneguk minumannya Monica langsung bangkit berdiri, dia segera menghampiri Abraham dan berkata:


"Abraham, pergi bayar makanan ini. Aku ingin berbicara dengan calon menantuku!"


"Ck, mommy mengusirku sekarang!" Abraham tampak kesal.


"Sana pergi, mommy malas melihat wajahmu!" usir ibunya lagi.


"Baiklah, dia jadi anakmu sekarang, aku bukan!"


Abraham langsung bangkit berdiri dan sebelum melangkah pergi dia melihat kearah Silvia, dia harap wanita itu bisa bekerja sama dan tidak mengatakan yang sebenarnya.


Setelah kepergian putranya Monica langsung duduk disamping Silvia, dia juga meraih tangan Silvia dan mengusapnya dengan lembut.


"Nah Silvia, katakan padaku, apa anak itu membayarmu untuk menjadi pacarnya?"


"Tidak aunty, dia tidak membayarku." yah memang kenyataannya begitu, dia melakukan semua itu hanya untuk membalas budi.


"Hei bukankah sudah aku katakan, jika kau benar pacar Abraham jangan memanggilku aunty, tapi panggil aku mommy."


Silvia mengangguk dan berusaha tersenyum, terus terang saja dia semakin tidak enak hati membohongi ibu Abraham lebih jauh lagi.


Tapi dia harus berakting sebaik mungkin untuk membalas kebaikan Abraham dan dia akan melakukan hal itu sampai selesai.


"Coba katakan pada mommy, apa yang kau sukai dari Abraham? Dia itu OCD, kau tahu bukan?"


"Aku tahu mom, aku tahu dia begitu mencintai kebersihan."


"Lalu? Kenapa kau bisa menyukainya? Katakan padaku karena aku ingin tahu!"


Silvia berusaha tersenyum, siapa yang menyukai Abraham? Dia sangat membenci Abraham yang sombong, jahat dan kasar. Dia benci dengan pria yang tidak punya hati itu dan mereka adalah musuh.


Tapi demi aktingnya, dia harus memikirkan sesuatu. Apa yang dia sukai dari Abraham? Dipikir-pikir mereka tidak begitu mengenal satu sama lain.


Mereka kenal begitu saja dan mereka benar-benar orang asing bahkan mereka baru bertemu beberapa kali dan itupun selalu diwarnai dengan pertengkaran.


"Silvia, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan mommy?"


Monica tampak heran, kenapa Silvia hanya diam saja?


"Hmm maaf mom, aku bingung mau menjawab apa. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyukai Abraham, dia tidak begitu tampan, dia juga pria yang kasar! Tidak hanya itu, dia juga pria pemarah, terlalu mencintai kebersihan, dia juga terlalu sombong. Tapi satu kelebihan yang dia punya dan mungkin aku menyukai kelebihannya itu."


"Oh ya? Katakan padaku kelebihan apa yang ada pada anak itu?"


"Dia sangat cocok menjadi model celana dalam!"


"Ha..ha..ha...ha...ha..ha...ha..!" Monica langsung tertawa terbahak-bahak.


Apa? Putranya cocok menjadi model celana dalam? Dia langsung suka dengan Silvia. Mau wanita itu pacar anaknya atau bukan, dia ingin Silvia menjadi menantunya kelak.


"Oke baiklah, aku suka denganmu! Kau pantas menjadi menantuku jadi katakan padaku siapa orang tuamu, aku akan menemuinya dan melamarmu."


"What?" Silvia terbelalak kaget, siapa yang mau menikah dengan Abraham? Sepertinya akting yang diperankannya sudah semakin jauh.


"Hmm...maaf mom, orang tuaku sedang diluar negri."


"Kapan mereka kembali? Saat mereka kembali aku dan Abraham akan langsung menemui mereka untuk melamarmu."


"Aku tidak tahu, mungkin mereka akan kembali tahun depan atau dua tahun lagi, aku tidak tahu." Jawab Silvia.


Sandiwara ini benar-benar bisa menjerumuskannya, untung saja ayah dan ibunya berada di Amerika dan untungnya dia hanya pendatang dan pada saat waktunya berada disana sudah habis, maka dia harus pulang ke Amerika.


"Wah sayang sekali, kalau begitu mintalah ayah dan ibumu untuk cepat kembali. Aku sudah tidak sabar ingin berbicara dengan mereka."


"Akan aku usahakan."


Pada saat itu Abraham masuk kedalam ruangan itu kembali, ibunya tampak begitu senang berbincang dengan Silvia begitu juga dengan Silvia, wanita itu tampak selalu tersenyum pada ibunya.


Entah apa yang mereka bicarakan dan dia merasa begitu was-was takut Silvia asal bicara hingga kebohongannya terbongkar, tapi dilihat bagaimanapun ibunya begitu tampak senang, sepertinya sandiwara mereka aman-aman saja.


"Mom, aku sudah selesai."


"Oh Abraham, kau menemukan wanita hebat dan aku suka, Silvia lebih tepat menjadi menantu mommy dari pada Jenny."


"Hah?" Abraham tidak mengerti sedangkan Silvia tersenyum dengan terpaksa.


Sandiwara yang mereka mainkan ini semakin jauh dan sepertinya ini akan sedikit gawat.


"Mommy ingin kekamar mandi sebentar jadi tunggulah mommy,sl setelah itu kita pulang bersama." Monica bangkit berdiri dan berjalan pergi.


Setelah kepergian ibunya, Abraham langsung memegangi Silvia.


"Hei apa yang kau katakan pada ibuku sampai dia begitu menyukaimu?" tanyanya curiga.


"Tidak ada!" Silvia menjawab dengan malas.


"Jangan bohong!" Abraham tidak percaya.


"Ck, untuk apa aku membohongimu! Ibumu bertanya padaku apa yang aku sukai darimu tapi aku katakan padanya, aku tidak menyukaimu karena kau jahat, sombong dan jelek juga pemarah! Tapi mana aku tahu jawabanku malah membuatnya menyukaiku!"


"Oh ya ampun, ibuku yang unik!" Kata Abraham dalam hati.


Abraham memijit pelipisnya dan rasanya dia sedikit kecewa, ternyata Silvia begitu tidak menyukainya!


Tapi buat apa dia perduli? Mereka hanya sedang bersandiwara saja.


"Tuan Abraham, aku rasa aku sudah selesai dan aku sudah membalas budi baikmu jadi aku tidak berhutang budi lagi padamu.oleh karena itu jika kita bertemu jangan pernah memanggilku lagi."


Silvia segera bangkit berdiri,dia mau pulang dan menyudahi sandiwara yang dia mainkan. Dia tidak mau menipu ibu Abraham lebih jauh lagi karena dia merasa sangat bersalah terhadap wanita itu.


"Hei aku akan mengantarmu." Abraham memegangi tangan Silvia tapi Silvia langsung menepis tangannya.


"Tidak perlu basa basi dan sok baik, terima kasih tuan Abraham."


Silvia langsung berjalan pergi tapi kemudian dia menghentikan langkahnya sejenak dan berkata:


"Tolong sampaikan permintaan maafku pada ibumu dan sampaikan salam dariku."


Setelah berkata demikian Silvia hendak keluar dari sana tapi tiba-tiba saja ibu Abraham langsung memanggilnya.


"Kau mau kemana Silvia?"


Silvia kembali menghentikan langkahnya, sialan! Seharusnya dia segera pergi tadi.


"Sorry mom, aku harus pulang."


"Kau mau pulang sendiri tanpa menunggu mommy?"


"Bukan begitu, ini sudah malam jadi aku harus segera pulang."


"Benar, ini sudah malam. Tidak baik seorang wanita pulang sendirian jadi ayo kita pulang bersama-sama."


"Mommy tidak perlu khawatir, supirku sudah menunggu."


"Pokoknya aku memaksa, malam ini kau harus menginap!"


"Tapi aku tidak bawa baju mom!"


"Jangan dipikirkan, kau bisa pakai baju Abraham."


"Apa? Aku tidak mau!"


"Kenapa? Jangan-jangan kalian tidak pacaran dan menipuku!"


"Tidak mom, kami memang pacaran."


Abraham mendekati Silvia dan memeluk pinggangnya.


"Hei!" Silvia tampak begitu kesal.


"Ikut saja, saat ibuku tidur aku akan mengantarmu pulang." bisik Abraham.


Silvia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Abraham, hanya malam ini dan besok mereka tidak akan bertemu lagi untuk selamanya.


Mereka keluar dari sana seperti sepasang kekasih dan tampak mesra sedangkan Monica mengikuti langkah mereka dengan senyum diwajahnya.