
Setelah tiba Abraham turun dari mobilnya, sambil merapikan jasnya, Abraham melangkah memasuki panti asuhan.
Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang sedang dipeluki oleh anak-anak panti yang ada disana.
Wanita itu lagi! Kenapa bisa ada disana? Dia ingin menghampirinya tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat!
Anak-anak begitu tampak gembira dan tertawa begitu juga dengan anak-anak yang ada disana, entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka terlihat begitu gembira.
Para anak panti tak henti-hentinya mengerumuni Silvia dan memelukinya, dari satu anak, keanak lainnya. Mereka berbaris ingin mengucapkan terima kasih kepada Silvia sedangkan suster Maria berdiri disamping Silvia sambil tersenyum.
Abraham melihati Silvia yang selalu tersenyum dengan ramah kepada setiap anak-anak yang mendekatinya.
"Cih, apa menyenangkannya melakukan hal seperti ini? Seorang wanita seharusnya pergi ke mall,belanja dan kesalon. Bukannya menghabiskan waktu dengan para anak panti seperti ini!" katanya dalam hati.
Saat itu suster Maria melihat kearah Abraham, dia baru menyadari jika situan tanah ada disana.
"Nona Silvia, aku kesana sebentar, tuan Abraham datang." ujar suster Maria.
Silvia memalingkan pandangannya dan melihat Abraham sedang menatap kearahnya dengan tajam.
Wow, apa si model celana dalam ingin membalasnya? Disana banyak benda kotor yang bisa dia lemparkan kearah Abraham jika sampai Abraham berani berlaku kasar padanya.
Suster Maria berjalan kearah Abraham sedangkan Silvia mengikutinya, dia ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan.
Semoga saja si model celana dalam ingin membicarakan hal baik, dia juga berharap kedatangan si model celana dalam tidak menakuti anak-anak yang ada disana.
"Tuan Abraham, ada apa anda datang kemari?" tanya suster Maria dengan ramah.
"Suster Maria aku ingin berbicara denganmu tapi tidak dihadapan orang asing yang tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ini!" Abraham melotot kearah Silvia yang sedang berdiri dibelakang suster Maria.
Suster Maria tersenyum ramah,dia mengerti maksud dari Abraham karena sedari tadi mata pria itu tidak lepas dari Silvia, mungkin telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.
"Disini tidak ada orang asing tuan Abraham, kami semua keluarga." jawab suster Maria dengan ramah.
"Tapi bagiku kalian semua orang asing!" jawab Abraham dengan sinis.
Silvia jadi kesal, kenapa begitu tidak sopan berbicara dengan seorang biara wati? Apa seorang Abraham Achilles tidak punya sopan santun?
"Hei model celana dalam, bisa tidak kau bersikap sopan terhadap suster Maria?" Silvia maju kedepan dan berdiri didepan Abraham.
"Untuk apa? Aku tidak perlu bersikap sopan kepada kalian!" jawab Abraham dengan angkuh.
"Sudahlah, tuan Abraham mari kita berbicara didalam. Tidak baik berbicara didepan anak-anak." ajak suster Maria. Dia tidak mau para anak panti mendengar pembicaraan mereka karena dia takut anak panti akan sedih, memang anak-anak masih berdiri dibelakang mereka dan melihat kearah mereka.
"Tidak perlu suster Maria, tempat ini kotor dan bau,aku tidak suka!" hina Abraham dengan tajam.
Silvia semakin kesal, apa mulut pria ini mau disumpal menggunakan tanah?
"Abraham Achilles, jaga ucapanmu! Yang sebenarnya kotor dan bau adalah kau!" Silvia juga tidak mau kalah.
"Apa kau bilang?" Abraham melototi Silvia.
"Sudah..sudah..tidak baik bertengkar didepan anak-anak." suster Maria mencoba meredakan kedua orang itu.
"Tidak apa-apa suster, lebih baik suster Maria mengajak anak-anak masuk kedalam. Biar aku yang mengajari pria sombong dan jahat ini!" ujar Silvia.
Dia benar-benar marah dan kesal terhadap Abraham Achilles, jujur saja sedari tadi dia sangat ingin mengambil segumpal tanah untuk menyumpal mulut Abraham Achilles.
"Suster Maria, percaya padaku." Silvia menyela ucapan suster Maria dengan cepat.
Abraham menaikkan sebelah alisnya, Sil apa? Dia jadi penasaran, jangan-jangan itu nama asli dari wanita yang berani menantangnya.
"Baiklah jika begitu, aku permisi." ujar suster Maria.
Dia segera berlalu pergi untuk membawa anak-anak masuk kedalam panti, itu dia lakukan supaya anak-anak tidak melihat pertengkaran kedua orang yang tampak sedang menatap dengan tajam satu sama lain dengan sengit.
Sebenarnya suster Maria khawatir dengan keadaan Silvia, seorang wanita melawan seorang pria? Sepertinya ini bukan hal yang bagus tapi dia tidak punya pilihan untuk segera membawa anak-anak untuk masuk kedalam bersama dengan suster lainnya yang ada disana.
Setelah kepergian suster Maria, kedua orang itu masih saja tidak melepaskan pandangan mereka,api permusuhan semakin tercipta diantara mereka berdua.
"Katakan padaku siapa sebenarnya kau?" tanya Abraham.
"Bukankah sudah aku katakan, aku Chen Xiau Xuan!"
"Heh, jangan menipuku dengan nama palsu!"
"Menipu? Untuk apa aku menipumu! Aku tidak seperti dirimu yang kotor dan kejam!"
"Jaga ucapanmu nona Chen! Aku orang yang sangat mencintai kebersihan tidak seperti dirimu, kotor, bau! Orang yang bisa makan dengan siapa saja dan dimana saja, bahkan orang yang tidak tahu malu!" hinanya.
"Cih, coba kau cium tubuhku ini, apakah bau atau tidak? Coba kau lihat penampilanku ini, bagian mananya yang kotor?"bSilvia mendekati Abraham sampai jarak mereka begitu dekat, bahkan Abraham dapat mencium aroma manis tubuh Silvia dengan jelas.
"Lagi pula bukan kotor anggota tubuh yang aku maksud!" Silvia menunjukkan jarinya kedada Abraham.
"Tuan Abraham Achilles, kelakuanmu terlalu jahat dan aku rasa hatimu itu kotor dan busuk!" ujar Silvia.
Abraham mengepalkan tangannya marah!
"Kau memang pecinta kebersihan, mungkin kau mandi setiap hari sampai berkali-kali untuk membersihkan daki dan kotoran yang ada diseluruh tubuhmu itu tapi tidak dengan hatimu!"
"Ucapanmu terlalu jahat bahkan terhadap seorang biara wati saja kau begitu sombong, kau harus ingat tuan Abraham Achilles, diatas langit masih ada langit jadi sebaiknya mulai sekarang lebih baik kau tidak saja membersihkan tubuhmu ini tapi bersihkan juga hatimu!"
Rahang Abraham mengeras karena menahan amarah, seorang wanita yang tiba-tiba melibatkan diri didalam permasalahannya tapi sudah berani menghina dirinya. Sungguh tidak akan dia biarkan.
Dengan kemarahan dihati Abraham menjambak rambut belakang Silvia dan mengangkatnya hingga tubuh Silvia sedikit terangkat.
"Kau sungguh berani nona Chen!"
"Aku tidak takut pada siapapun!" Silvia memegangi tangan Abraham yang sedang menarik rambutnya sedangkan dari wajahnya tidak terpancar kesakitan bahkan tidak terlihat ketakutan sedikitpun.
"Bhuk!!" tiba-tiba saja suatu benda terlempar kearah Abraham dan mengenai wajahnya.
Abraham mendorong tubuh Silvia hingga jatuh diatas tanah dan dengan cepat pula dia mengusap wajahnya karena suatu benda lengket mengenai wajahnya.
Abraham melihat tangannya dan pada saat itu matanya berkilat marah, lagi-lagi wajahnya dilempar sesuatu dan kali ini yang mengenai wajahnya adalah lumpur tanah.
Tapi sekarang pelakunya adalah para anak panti yang berdiri tidak jauh dari mereka. Abraham menggeram marah, beraninya mereka!
"Katakan siapa yang berani melemparku!" teriaknya marah, sekalipun anak-anak tidak akan dia biarkan!
"Tuan jahat, pergi! Jangan ganggu kakak Silvia!" teriak para anak panti secara bersamaan.
Silvia bangkit berdiri dan melihat kearah anak panti, oh tidak!