
Pagi itu tubuh Silvia terasa menggigil dengan hebat, ini akibat dia tercebur kedalam laut dan terkena angin laut semalam.
Dia hanya bisa meringkuk didalam selimut tebal, tidak saja merasa kedinginan tapi kepalanya juga terasa sakit.
Disaat seperti ini membuatnya rindu dengan ibunya, mungkin sebaiknya dia menghubungi ibunya.
Silvia duduk diatas ranjang dan meraih ponselnya, dia segera mencari nomor ponsel ibunya dan menghubunginya.
"Hallo sayang."
"Mom, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang bermain dengan Edwrad."
"Wah, apa Edward datang kerumah?" tanyanya dengan penuh semangat, dia jadi rindu dengan para keponakannya.
"Ya, kakakmu menitipkan Edward beberapa hari disini karena Jacob sedang sakit."
"Jacob sakit apa mom? Apa dia baik-baik saja?"
"Jangan khawatir, Jacob hanya demam jadi sedikit rewel."
"Oh baiklah, apa yang dilakukan oleh Edward? Boleh aku berbicara dengannya?"
"Tentu saja." Xiau Yu memberikan ponselnya pada Edward yang sedang bermain disampingnya,dia juga berkata:
"Edward, aunty Silvia ingin berbicara denganmu."
"Aunty." Edward terdengar sangat senang, dia segera mengambil ponsel dari tangan neneknya.
"Aunty, dimana aunty sekarang?"
"Oh my Edward, aunty berada di Australia sayang."
"Kenapa aunty tidak mengajak Edward?"
Silvia langsung terkekeh, dia jadi kangen dan ingin pulang padahal baru beberapa hari tidak bertemu.
"Lain kali aunty akan mengajak Edward, oke?"
"Baiklah, tapi aunty harus cepat kembali dan jangan lupa belikan Edward mainan pesawat supaya kita bisa bermain bersama dengan Jacob."
Silvia langsung tertawa, Jacob masih bayi bagaimana bisa mengajaknya main pesawat?
"Baiklah Edward sayang, aunty akan membelikan pesawat besar untuk Edward saat aunty kembali nanti."
"Benarkah?" Edward terdengar begitu senang.
"Yes, tapi Edward harus jadi anak baik, okey?"
"Edward selalu jadi anak baik aunty."
"Oh ya ampun kau!" ujarnya gemas.
"Baiklah sayang, aunty janji akan cepat kembali."
"Oke bye aunty, kakek dan nenek mau mengajakku pergi membeli permen."
"Oke bye."
Silvia meletakkan ponselnya kembali, nanti siang dia ingin menemui Abraham lagi dan membujuknya agar mau menjual tanah panti padanya.
Jika Abraham sudah mau menjual tanah itu padanya maka dia akan pulang karena dia sangat merindukan para keponakannya.
Saat itu seorang pelayan masuk kedalam kamarnya untuk membawakan obat untuknya, setelah memberikan obat itu padanya, pelayan itupun keluar dari sana.
Setelah meminum obatnya, Silvia masuk kedalam selimut, lebih baik dia tidur dan semoga nanti saat dia bangun, demamnya sudah membaik.
Sementara itu dipanti asuhan, Abraham datang kesana lagi tentu dengan satu tujuan, dia ingin menanyakan identitas Silvia kepada suster Maria.
Dia benar-benar ingin tahu siapa Silvia sebenarnya dan dia juga ingin tahu dimana Silvia tinggal, dia sungguh ingin tahu.
Dia seorang biarawati jadi dia harus bersikap sopan walaupun Abraham Achilles akan bersikap kasar padanya nanti.
"Tuan Abraham, ada apa anda datang kemari? Apa anda berubah pikiran dan tidak jadi membongkar panti asuhan ini?" tanya suster Maria dengan sopan.
"Cih, jangan terlalu banyak berharap karena tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanku!" ucap Abraham dengan dingin.
"Sayang sekali padahal aku sangat berharap anda berubah pikiran dan tidak jadi membongkar panti asuhan ini."
"Sebaiknya suster Maria jangan berharap! Aku akan tetap membongkar panti asuhan ini dan pendirianku tidak akan pernah berubah oleh apapun juga."
"Kedatanganku kemari hanya ingin menanyakan sesuatu kepada suster Maria dan aku harap suster Maria menjawab pertanyaanku dengan jujur."
Abraham menatap suster Maria dengan tatapan tajamnya, dia harap suster Maria mau mengatakan padanya siapa sebenarnya Silvia.
"Apa yang ingin tuan Abraham tahu? Aku akan menjawabnya sebisa mungkin "
"Itu bagus jadi katakan padaku siapa sebenarnya Silvia? Dimana dia tinggal dan dari keluarga mana dia berasal?"
Suster Maria hanya tersenyum, ternyata benar kecurigaan Silvia jika Abraham akan mendatanginya untuk menanyakan identitasnya Kepadanya.
Abraham jadi kesal, kenapa suster Maria hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaan darinya? Jangan katakan suster Maria tidak mau mengatakan siapa Silvia sebenarnya.
Jika suster Maria tidak mau memberi tahunya maka akan dia paksa suster Maria sampai mau menjawab pertanyaanya.
"Suter Maria, kenapa kau tidak mau menjawab?" bentaknya.
"Sabar tuan Abraham, aku pasti akan menjawab pertanyaanmu tapi bagai mana aku harus menjawabnya? Aku takut anda tidak akan percaya dengan semua ucapanku nantinya."
"Tidak perlu banyak berpikir, cukup jawab saja pertanyaanku dengan jelas."
"Baiklah, aku akan menjawabnya, sebenarnya aku tidak tahu siapa nona Silvia."
"Suster Maria!" teriak Abraham marah.
Dia langsung bangkit berdiri karena emosi sedangkan tatapan tajamnya masih menatapi suster Maria.
Dia benar-benar marah dengan jawaban suster Maria, tidak mungkin suster Maria tidak mengetahui identitas wanita yang ingin mempertahankan panti asuhan itu dan yang telah berani menantangnya.
Jangan katakan jika suster Maria berbohong karena dia adalah seorang biarawati!
"Tuan Abraham, tidak baik berteriak seperti itu." suster Maria berusaha menenangkan emosi Abraham.
"Jawab pertanyaanku dengan baik suster Maria dan jangan menguji kesabaranku!"
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu dengan baik tuan Abraham, aku seorang biarawati jadi mana mungkin aku berbohong."
"Secara kebetulan nona Silvia menemukan Candy yang hilang dan datang kepanti ini, dia mendengarkan semua keluhan anak-anak mengenai keinginanmu untuk membongkar panti asuhan ini."
"Nona Silvia berisnisiatif untuk membantu kami tanpa kami minta dan dia berusaha pergi mencarimu. Mengenai identitasnya yang ingin tuan Abraham tahu, aku sendiri tidak tahu."
"Aku hanya tahu namanya Silvia, aku tidak tahu dimana rumahnya dan aku juga tidak tahu siapa keluarganya. Bagiku dan anak-anak yang ada disini, dia bagaikan malaikat yang diutus oleh Tuhan untuk menolong kami." jelas Suster Maria panjang lebar.
"Cih, malaikat!" Abraham kembali duduk dikursinya, sepertinya suster Maria tidak sedang membohonginya.
Suster Maria tampak lega,untung saja Abraham tidak menanyakan asal Silvia, jika sampai Abraham bertanya demkian maka dengan terpaksa dia harus menjawab pertanyaan Abraham dengan benar karena dia tidak bisa berbohong.
Abraham tampak berpikir sejenak, wanita yang bernama Silvia ini sungguh misterius dan jujur saja dia semakin penasaran.
Apa Silvia hanya pendatang dari China? Tapi sepertinya tidak mungkin karena wanita itu punya supir pribadi.
Seorang pendatang tidak mungkin memakai supir pribadi untuk membawa mereka kemana-mana,ini benar-benar aneh dan semakin membuatnya penasaran, siapa Silvia sebenarnya?
Abraham langsung bangkit berdiri dan berjalan pergi meninggalkan suster Maria tanpa berkata apa-apa, seharusnya semalam dia mengikuti Silvia sampai kerumahnya tapi gara-gara basah membuatnya terpaksa pulang.
Jika ada kesempatan maka tidak akan dia sia-siakan dan lagi pula, Silvia berkata dia akan datang kekantornya setiap hari untuk mencarinya jadi sebaiknya dia pergi kekantornya dan menunggu kedatangan Silvia disana.
Jadi dia harap, hari ini Silvia akan datang mencarinya dan hari ini dia akan mengikuti Silvia sampai dia tahu siapa sebenarnya Silvia dan dimana rumahnya.