Falling in Love with You

Falling in Love with You
Dimana rumahmu?



Setelah masuk kedalam ruangan pribadinya, Abraham meletakkan Silvia diatas ranjangnya degan pelan.


Dia juga membuka jas yang dipakainya dan memakaikan jas itu pada Silvia, tubuh Silvia memang sangat panas tapi dia terlihat menggigil.


Mungkin Silvia sudah menunggunya terlalu lama di dalam ruangannya yang dingin sehingga membuat sakitnya semakin parah.


"Te...terima kasih tuan Abraham, aku..aku akan pulang saja." ucap Silvia sambil memeluk tubuhnya yang semakin dingin.


"Diam saja di sana! Memangnya kau bisa pergi kemana dengan keadaan seperti itu!" jawab Abraham kesal.


Kenapa harus mencarinya dalam kondisi sedang tidak sehat? Merepotkannya saja!


"Lain kali jangan datang mencariku dalam keadaan sedang tidak sehat! Merepotkan saja! Aku tidak mau ada orang mati di dalam ruanganku!" ujar Abraham dengan sinis.


"Maafkan aku telah merepotkan Tuan Abraham." Silvia merasa tidak enak hati, memang seharusnya dia tidak datang dalam keadaan yang seperti ini.


"Ck!" Abraham memutar langkahnya keluar dari sana, bagaimanapun wanita itu berada ditempatnya, jangan sampai wanita itu mati di dalam ruangannya.


Mungkin ini sedikit gila, kenapa dia harus memperdulikan orang yang sedang menentangnya?


Seharusnya dia menarik Silvia keluar dan melemparnya kejalanan!


Setelah di luar sana Abraham menghubungi Nick, dia meminta asisten pribadinya untuk membeli obat demam.


Setidaknya dia harus memberi Silvia obat jika tidak keadaan Silvia akan semakin parah.


Tidak lama kemudian Nick masuk kedalam ruangannya sambil membawa obat yang dia minta, Nick sangat heran, apa bosnya sedang tidak enak badan?


Tapi dilihat bagaimanapun keadaan bosnya terlihat baik-baik saja lalu buat siapa obat itu?


Setelah mendapat obat dari Nick, Abraham segera kembali kedalam ruang pribadinya, di dalam sana Silvia tampak meringkuk di atas ranjang sambil memeluk dirinya sendiri.


Abraham mengambil air hangat setelah itu dia mendekati Silvia dan duduk di sisi ranjang.


"Hei, bangun. Ini obat untukmu!"


Silvia tidak menjawab sedangkan tubuhnya terus mengigil dengan hebat.


"Oh sialan! Sepertinya penyakitnya semakin parah!" maki Abraham dalam hati.


"Hei apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil naik ke atas ranjang, dia langsung menyentuh dahi Silvia yang terasa begitu panas sedangkan keringat membasahi dahi Silvia.


"Damn!!" makinya lagi dan dengan cepat dia mengelap tangannya yang terkena keringat.


Abraham tampak bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang? Bawa ke rumah sakit atau antar pulang saja?


Mungkin mengantar Silvia pulang adalah pilihan terbaik, bukankah dengan demikian dia jadi tahu di mana rumah wanita itu?


Dia juga jadi bisa tahu siapa keluarga Silvia dan siapa Silvia sebenarnya, ini pilihan yang paling bagus.


"Hei, katakan di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu."Abraham mengguncang tubuh Silvia.


"Hmm rumah?" gumam Silvia.


"Benar, di mana kau tinggal? Aku akan mengantarmu jadi cepat katakan!" tanyanya dengan tidak sabar.


"Dave?" gumam Silvia lagi.


"Bukan, aku bukan Dave!"


"Kakak?"


"Aku juga bukan kakakmu!" Abraham mulai kesal, kenapa dari tadi bicaranya tidak jelas?


"Oh, Jimy?"


"Hei jawab pertanyaanku dengan benar?" Dia menarik kerah baju Silvia hingga tubuh Silvia sedikit terangkat.


"Oh maaf, ternyata kau si model cel*na da*lam." Silvia membuka matanya dan melihat ke arah Abraham, jujur saja matanya terasa begitu berat dan dia merasa ingin tidur.


"Iya aku si model c*lana d*lam!" teriak Abraham marah.


Kenapa wanita ini begitu mudah memancing emosinya? Apa dia lemparkan saja wanita ini keluar dari jendela yang ada diruangannya.


"Dingin." tiba-tiba saja Silvia memeluk Abraham.


Abraham menjadi kaku, kenapa Silvia malah memeluknya? Apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Hei jangan memelukku!" teriaknya lagi.


"Dingin!" ujar Silvia lagi sedangkan dia semakin mengencangkan pelukkannya.


Abraham tampak frustasi, dia hanya bisa memghela nafasnya dengan berat. Sepertinya salah dia menerima wanita ini di dalam ruangannya, untuk kedepannya dia tidak akan membiarkan wanita ini masuk kedalam ruangannya dan menemuinya, tidak akan lagi!


"Dingin, peluk aku." pinta Silvia sedangkan tubuhnya masih saja terus menggigil.


Abraham memaki dalam hati, pacar bukan sahabat juga bukan, enak saja minta dipeluk, memangnya dia g**olo?!


"Pelukanku mahal!" gerutunya kesal.


"Akan aku bayar."


"What?" Abraham semakin kesal, dia benar-benar merasa Silvia menganggapnya seperti seorang gi**lo saat ini.


Silvia memejamkan matanya merasakan kehangatan tubuh Abraham, setidaknya dia tidak merasa kedinginan lagi dan sebaiknya dia tidur sebentar supaya keadaannya lebih baik, jika dia terus seperti ini maka dia tidak akan bisa pulang.


Jangan sampai Abraham mengantarnya pulang karena dia tidak mau Abraham mengetahui identitasnya begitu cepat, dia akan mengatakan siapa dirinya saat Abraham telah menjual tanah panti itu padanya.


Setidaknya jika tanah panti itu sudah jadi miliknya dia bisa pulang dengan tenang dan pastinya setelah ini dia harus berterima kasih pada Abraham, walaupun pria itu mempunyai penyakit OCD tapi dia masih mau memeluknya dan tidak melemparnya keluar.


"Hei, minum obat dulu," dia lupa dengan obat yang dia bawa dan baru mengingatnya tapi tampaknya Silvia sudah tertidur di dalam pelukannya.


Abraham memandangi wajah Silvia yang sudah tertidur, dia merasa sedikit aneh, biasanya dia tidak suka bersentuhan dengan sembarangan orang tapi dia tidak tahu kenapa dia bisa menyentuh Silvia tanpa merasa jijik.


Dia bahkan mengijinkan Silvia memeluknya tanpa merasa jijik sedikitpun, biasanya dia tidak akan pernah mengijinkan wanita manapun menyentuhnya terlalu lama.


Ya sebenarnya dia pernah punya pacar, karena penyakit Misopobia yang dideritanya membuat pacarnya pergi darinya, hal itu membuatnya tidak mau berhubungan serius dengan siapapun lagi.


Itulah sebabnya ibunya tidak henti-hentinya berusaha menjodohkannya dengan putri teman-temannya dan dia tidak menyukai semua wanita yang dijodohkan oleh ibunya.


Abraham mengangkat tangannya dan memainkan rambut Silvia, dia juga mengangkat rambut Silvia dan menciumnya.


Jujur saja dia suka dengan wangi Silvia, wangi manis yang tidak berlebihan. Gaya Silvia juga anggun begitu juga dengan pakaian yang dikenakan oleh Silvia dan selalu terlibat sopan.


Itu menurutnya selama dia bertemu dengan Silvia, walaupun dia belum tahu siapa sebenarnya wanita itu tapi dia akan mencari tahu.


"Oh sial! Apa yang aku lakukan!" maki Abraham dalam hati.


Abraham mengusap rambutnya dan meghembuskan nafasnya dengan kasar, apa yang dia lakukan saat ini dia sendiri tidak mengerti.


Apa ini akibat dia sudah lama tidak berdekatan dengan seorang wanita? Atau ini akibat dia sudah lama tidak memiliki seorang pacar?


Sepertinya dia akan gila menghadapi situasi ini tapi dia akan pastikan, dia tidak akan mau menemui wanita yang sedang memeluknya ini, tidak akan mau lagi!


Dia bisa mencari tahu siapa Silvia tanpa menemuinya lagi jadi jika Silvia datang mencarinya lagi, maka akan dia usir keluar, pasti itu akan dia lakukan!


Tunggu dan lihat saja, saat dia sudah tahu siapa Silvia maka akan dia hancurkan.