Falling in Love with You

Falling in Love with You
Rasa penasaran yang begitu besar



Setelah kembali kerumahnya, Abraham melepaskan jas yang dipakainya dan melemparnya begitu saja. Dia juga menghempaskan dirinya diatas sofa bahkan menarik nafasnya dengan panjang.


Selama siperjalanan kembali pikirannya benar-benar kacau, walaupun dia bisa berpura-pura tenang tapi hatinya tidak.


Rasa penasaran semakin bertumbuh dengan subur didalam hatinya dan hal itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Dia memang ingin kembali seperti semula dan berpura-pura tidak pernah bertemu dengan Silvia, tapi dia tidak bisa membohongi dirinya jika dia semakin penasaran dan rasa penasaran itu semakin besar.


Abraham mengusap bawah dagunya, dia kembali mengingat kejadian tadi dimana Silvia memukuli dagunya.


Dia kira wanita itu tidak bisa melakukan apa-apa tapi ternyata? Dia salah menduga bahkan dia tidak menyangka Silvia akan memukulinya.


"Damn! Lama-lama aku bisa gila!" makinya kesal.


Selama ini dia belum pernah begitu penasaran terhadap seorang wanita, tapi sekarang?


Dia sendiri tidak mengerti padahal identitas Silvia tidaklah penting untuknya, dia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri.


Apa rasa penasaran itu muncul karena Silvia berani melawannya? Atau karena Silvia wanita pertama yang berani menantangnya?


Yang manapun tidak ada bedanya tapi bukan itu yang jadi masalah, yang jadi masalah dalam dirinya saat ini adalah rasa penasarannya yang semakin tinggi.


Abraham mengusap rambutnya dan bangkit berdiri, lebih baik dia mandi untuk menenangkan pikirannya yang kacau.


Pada saat dia hendak melangkah pergi ibunya masuk kedalam rumahnya sambil mengomelinya.


"Ya ampun Abraham, kau benar-benar keterlaluan!"


"Ada apa sih mom?"


Abraham langsung terlihat frustasi saat melihat ibunya, pasti dia akan mendapat sebuah lagu panjang lagi dari ibunya.


"Kau ini!aku pergi kekantor untuk menemuimu tapi kenapa kau tidak ada, hah? Aku juga sudah menunggumu begitu lama tapi kenapa kau tidak kembali kekantor? Aku sampai kesal setengah mati!" ujar ibunya kesal.


"Mom aku ada urusan, lagi pula untuk apa mommy pergi kekantor? Kenapa mommy tidak menghubungiku?"


"Tidak menghubungimu kau bilang? Ponselku sudah hampir pecah tapi tidak satu panggilan dariku kau jawab!"


Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat, ponselnya memang dia tinggalkan dimobil saat sedang berbicara dengan Silvia. Tapi mana dia tahu jika ibunya menghubunginya?


"Sudahlah, untuk apa mommy kekantor mencariku?"


"Kau ini, mommy membawakan makan siang untukmu tapi kau tidak ada, apa kau sudah makan?"


Abraham hanya menggelang, dia lupa untuk makan tadi.


Monica menarik nafasnya dengan berat, itulah kenapa dia ingin menjodohkan anaknya? Dia berharap putranya cepat menikah sehingga ada yang mengurusi putranya yang memiliki penyakit OCD.


Dia juga tidak mau putranya melajang seumur hidup kalau tidak keturunan Achilles benar-benar akan hilang.


Untung saja putranya bukan Gay, jadi dia tidak perlu khawatir. Setidaknya putranya pernah pacaran dan sekarang dia tinggal berusaha menjodohkan putranya dengan putri-putri sahabatnya. Siapa tau ada yang cocok?


"Kalau begitu pergilah mandi, mommy akan memanaskan makanan ini untukmu."


Monica segera berjalan kearah dapur sedangkan Abraham mengangguk dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi.


Dia tahu ibunya sangat ingin dia segera menikah tapi jujur saja dia tidak suka dengan wanita-wanita yang dikenalkan oleh ibunya selama ini.


Memang ibunya tidak pernah memaksanya untuk menyukai para wanita itu tapi tetap saja dia merasa lelah bertemu dari wanita satu kewanita lain.


Mungkin jika dia punya pacar ibunya akan berhenti menjodohkannya! Sepertinya ini bukanlah ide yang buruk.


Selama mandi sebuah ide terbesit diotaknya, sepertinya dia harus mencari seseorang untuk menjadi pacar pura-puranya untuk menghentikan keinginan ibunya untuk menjodohkannya lagi.


Dia yakin ibunya pasti datang untuk membicarakan masalah Jenny lagi padanya dan dia benar-benar malas untuk bertemu dengan wanita itu.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Abraham segera keluar dari kamarnya dan berjalan kearah dapur.


"Mom."


"Hmm?"


"Parfum apa yang kau pakai?" tanyanya saat mencium aroma tubuh ibunya.


"Kenapa? Kau ingin membelikan parfum untuk Jenny nanti?" tanya ibunya asal.


"Astaga mom, kami saja belum bertemu untuk apa aku membelikan parfum untuknya!"


"Jangan begitu, belilah sebuah hadiah untuk jenny saat kalian bertemu besok."


"Apa? Besok?"


"Benar, Jenny sudah kembali jadi besok kita akan bertemu dengannya."


"Ya ampun mom!" Abraham melepaskan pelukannya, dia menarik sebuah kursi dan duduk disana.


Besok? Padahal dia berniat mencari seseorang yang ingin menjadi pacar pura-puranya saat menemui Jenny.


Dia ingin melakukan itu untuk menolak Jenny dan tentu saja supaya ibunya berhenti menjodohkannya. Tapi jika besok sudah harus bertemu dengan Jenny mau dapat pacar pura-pura dari mana?


Tidak mungkin bukan dia membayar seorang wanita j**ang? Dia tidak mau membayar orang sembarangan walaupun hanya untuk menjadi pacar pura-puranya saja.


"Abraham dengarkan mommy!aku harap kau mau berhubungan dengan Jenny setelah kalian bertemu. Dia wanita yang cantik, berpendidikkan tinggi dan juga pintar. Dia juga pintar memasak jadi mommy rasa Jenny cocok menjadi menantu mommy karena dia bisa mengurusimu dengan baik."


"Ck, mommy terlalu berlebihan! Yang pintar memasak bukan dia saja!"


"Mommy tahu, hampir semua wanita bisa memasak. Tapi mommy ingin kau punya istri yang bisa masak supaya ada yang mengurusimu.asal kau tahu saja, mommy tidak bisa selalu berada didekatmu."


Abraham diam saja, entah kenapa dia jadi penasaran dengan makanan yang diberikan oleh Silvia waktu itu. Silvia bilang dia yang membuat makanan itu sendiri dan entah kenapa dia jadi ingin tahu bagaimana rasa masakannya.


"Sialan! Orangnya saja sudah membuatku penasaran setengah mati sekarang masakannya lagi! Sebaiknya setelah ini aku pergi konsultasi ke seorang psikolog saja!" makinya dalam hati.


"Sudahlah mom jangan membicarakan soal wanita, aku pusing!"


"Hei apa maksudmu?" Monica melihat putranya dengan heran,ada apa? Apa putranya sedang kesal dengan seorang wanita? Atau jangan-jangan putranya sedang tertarik dengan seseorang?


Jika benar itu akan menjadi berita yang bagus, tapi putranya harus tetap menemui Jenny. Dia juga berharap putranya dan Jenny dapat menjalin hubungan satu sama lain.


"Mom, aku hanya perlu menemui Jenny saja bukan?" tanyanya.


"Benar, aku harap setelah kalian bertemu kalian bisa memiliki hubungan khusus nantinya."


"Aku rasa tidak! Aku akan menemuinya seperti aku menemui para wanita yang dikenalkan oleh mommy padaku. Apa lagi memiliki hubungan dengannya aku rasa itu tidak akan pernah terjadi."


"Jangan berkata begitu padahal kalian belum pernah bertemu, aku yakin kau pasti akan menyukainya saat kau melihatnya."


"Tidak akan mom karena sudah ada seseorang yang aku sukai!" dustanya.


"Apa benar?" ibunya tidak percaya dengan putranya.


"Tentu saja."


"Bagus, besok bawa dia untuk menemuiku! Aku ingin lihat, wanita itu dan Jenny mana yang lebih layak menjadi menantuku."


"Wow, tapi mom?"


"Pokoknya besok bawa dia!" sela Monica.


"Sialan! Aku menggali lubang kuburku sendiri!" maki Abraham dalam hati.


Sepertinya besok dia harus mencari seseorang yang mau berpura-pura menjadi pacarnya. Tapi siapa?