Falling in Love with You

Falling in Love with You
Nasehat ibu



Setelah selesai sarapan Silvia meminta ijin kepada ibu Abraham untuk pergi mandi, dia harus segera pulang kalau tidak Dave akan menghubungi kakaknya.


Jika sampai hal itu terjadi maka dipastikan dia akan langsung disuruh pulang oleh keluarganya.


Dia tidak mau hal itu terjadi karena dia belum menemukan tempat yang bagus untuk anak-anak panti asuhan.


Setelah memastikan Silvia sudah pergi Monica langsung menarik telinga putranya yang sedang duduk disampingnya.


"Mom kenapa kau menarik telingaku" Abraham memegangi tangan ibunya yang berada ditelinganya.


"Aku sudah memberimu kesempatan tadi malam kenapa kau menyia-nyiakannya? Apa kau pria sejati?"


"Ya ampun mom, dia mana mau melakukan hal itu! Mommy dengar sendiri bukan jika dia sangat menjaga kehormatannya, jadi mana mau dia melakukan hal seperti itu dengan seorang pria yang bukan pasangannya!"


Monica melepaskan tangannya dari telinga putranya dan mendengus kesal, memang sih, Silvia tidak akan mau melakukan hal seperti itu.


"Hei Abraham, sekarang kau jujur pada mommy, dimana kau mengenalnya?"


"Ck, kami bertemu secara kebetulan!"


"Kebetulan seperti apa ayo jelaskan?"


Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat, dia malas menjelaskan jika mereka bertemu karena Silvia hendak membela hak anak panti yang hendak dia gusur.


Jika ibunya tahu mungkin permasalahan panti itu akan semakin panjang dan bisa saja ibunya akan ikut campur dalam pekerjaannya, dia tidak mau ibunya tahu jika dia hendak membongkar lahan pantai dan akan menggusur anak-anak yang ada disana.


Jika ibunya tahu dia yakin ibunya akan menentangnya apalagi sekarang ibunya sangat menyukai Silvia.


Sepertinya dia harus mencari alasan bagus untuk membohongi ibunya.


"Yah, kami bertemu disebuah restoran. Waktu itu dia tidak bawa uang jadi dia meminta bantuanku untuk membayar makanannya." dustanya.


Monica melihat putranya dengan tatapan tidak percaya, terus terang saja dia memang tidak percaya dengan perkataan putranya.


"Jangan berbohong padaku sayang."


"Aku tidak membohongi mommy."


"Oh ya, lalu kenapa Silvia berkata jika kalian bertemu, kalian selalu bertengkar dan tidak pernah akur?"


Abraham memijit pelipisnya dan menghembuskan nafasnya, kenapa keingintahuan ibunya sangat besar?


"Sudahlah mom, pokoknya pertemuan kami tanpa disengaja walaupun kami selalu bertengkar tapi kami bisa akur disituasi tertentu."


"Itu bagus jadi dengarkan nasehatku Abraham."


Monica meraih tangan putranya sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.


"Seharusnya kau bersyukur dapat mengenal wanita seperti Silvia."


"Maksud mommy?"


"Kau benar-benar bodoh! Dilihat bagaiamanapun Silvia gadis baik-baik, jarang aku melihat gadis sepertinya dijaman modern ini."


"Jika kau tidak percaya coba kau lihat para putri orang kaya yang selalu main ke Club malam, melakukan s*eks bebas dengan siapa saja dan selalu mengadakan pesta dengan teman-teman mereka."


"Tapi aku lihat Silvia berbeda dan bisa aku tebak dia bukan gadis biasa, itu bisa dilihat dari penampilannya. Kau lihat baju yang dia kenakan, tas, jam tangan dan sepatu bahkan asesoris yang melekat ditubuhnya bukan barang sembarangan yang bisa dibeli orang biasa dengan mudah."


"Lalu maksud mommy apa?"


"Abraham, aku memang tidak tahu bagaimana cara kalian bisa bertemu dan aku rasa, kau bisa bertemu dengannya secara kebetulan itu namanya jodoh. Mommy bukan memintamu berhubungan dengannya karena dia bukan orang biasa atau dia putri seorang konglomerat tapi karena watak dan kepribadiannya yang ramah dan tidak sombong."


"Mommy sangat mengharapkan kalian bisa mempunyai hubungan nanti karena sifat dan kepribadiannya yang tidak akan mudah kau jumpai diluar sana."


"Silvia sangat cantik, anggun, dia sangat sopan dan tidak pula sombong. Dia sangat menghargai mommy dan asal kau tahu saja, dia baru saja mengakui sandiwara kalian karena dia tidak mau membohongiku terlalu jauh."


Abraham diam saja sedang memikirkan perkataan ibunya.


"Abraham, aku ibumu dan aku berharap kau bisa secepatnya menikah dan dapat menemukan pasangan yang baik untuk menjadi istri dan ibu anak-anakmu nanti dan aku melihat Silvia sangat cocok menjadi pendamping hidupmu."


"Diluar sana memang banyak wanita cantik dan kaya tapi yang berkepribadian baik itu jarang, sebaiknya kau pikirkan nasehat mommy baik-baik. Mommy mau kekamar dulu untuk bersiap-siap, kita harus mengantarnya pulang dan aku harap kau bisa menggunakan kesempatan ini baik-baik."


Monica bangkit berdiri dan pada saat itu Abraham memegangi tangan ibunya serta berkata:


"Mom, kenapa kau sangat ingin aku menjalin hubungan dengannya? Aku dan dia belum kenal lama! Lagi pula bukankah mommy ingin menjodohkan aku dengan Jenny?"


"Apa kau ingin menikah dengan Jenny?"


"Tidak!"


"Kalau begitu jangan bertanya tentangnya, nanti aku akan pergi menemui Jenny dan soal Silvia, aku sudah katakan dia wanita baik yang tidak akan mudah kau jumpai."


Setelah berkata demikian Monica segera berlalu pergi sedangkan Abraham mengikuti langkah ibunya dan masuk kedalam kamarnya.


Saat dia masuk kedalam sana, Silvia tampak sudah mandi dan memakai pakaiannya kembali, dia jadi berpikir, kenapa Silvia suka memakai baju cheongsam? Tapi baju seperti itu memang sangat cocok untuk Silvia.


Silvia cuek saja saat Abraham masuk kedalam kamar, setelah merapikan rambutnya dia segera meraih tasnya, dia ingin segera keluar dari sana.


"Hei!" Abaham menangkap tangan Silvia dan menggenggamnya.


"Apa?"


"Aku akan mengantarmu!"


"Huh!" Silvia menarik tangannya dan melangkah keluar sedangkan Abraham mengikuti langkah Silvia dengan senyum mengembang diwajahnya.


Setelah Monica siap, mereka segera pergi untuk mengantar Silvia. Sebenarnya itu hanya alasan Monica saja supaya dia tahu dimana Silvia tinggal dan supaya Abraham punya kesempatan untuk mendekati Silvia.


Dengan alamat yang diberikan oleh Silvia mereka menuju kesuatu tempat, pada saat mereka tiba disebuah rumah mewah berlantai tiga dan bergaya eropa, Monica melihatnya tidak percaya, itukan rumah?


"Silvia sayang, apa kau tinggal disini?" tanyanya.


"Ya mom."


Wah, apa keluarga Silvia membeli rumah itu? Tapi setaunya rumah mewah itu tidak pernah mau dijual sejak kematian Ellen Smith walaupun banyak yang menginginkannya. Lalu bagaimana bisa Silvia tinggal disana? Atau jangan-jangan?


"Sayang, apa kau memiliki hubungan dengan Ellen Smith?"


"Oh, Ellen nenekku."


"Wow, putraku benar-benar mengenal keturunan orang hebat!" kata Monica dalam hati.


Abraham diam saja mendengar pembicaraan Silvia dan ibunya, Ellen Smith? Sepertinya dia pernah mendengarnya dan dia harus menanyakan hal ini pada ibunya nanti.


"Apa kalian tidak mau mampir?" tanya Silvia basa basi.


"Tidak dulu sayang, aku ingin pergi menemui Jenny tapi kami akan datang lagi nanti, apakah boleh?"


"Tentu saja boleh, begini saja, bagaimana jika aku mengundang mommy untuk makan malam, aku akan menyiapkan makanan enak untuk mommy."


"Oh sayang, aku tidak akan menolak. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


"Tentu saja." Silvia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada ibu Abraham, tentu Monica mengambil kartu nama itu dengan wajah senang.


Setelah itu dia mengucapkan terima kasih kepada Abraham dan ibunya karena telah mengantarnya, Silvia keluar dari mobil Abraham dan melambaikan tangannya.


Hati Abraham dipenuhi dengan tanda tanya dan belum juga memerintahkan supirnya untuk menjalankan mobilnya, pada saat itu dari arah depan seorang pria China berteriak memanggil Silvia dan menghampiri Silvia.


Monica dan Abraham melihat keluar, dimana Silvia sedang berbicara dangan pria China itu dengan akrab.


"Abraham sayang, selamat kau punya saingan dan jika kau tidak cepat, kau akan kalah!"


Abraham sangat kesal saat melihat pria China yang bersama Silvia direstoran semalam memegangi tangan Silvia.


Abraham tampak marah, jangan sentuh tangan miliknya!