Falling in Love with You

Falling in Love with You
Meyakinkan anak panti



Setelah selesai makan dengan para anak panti yang ada disana, Silvia mengeluarkan sebuah permen untuk mempermanis mulutnya.


Suster Maria dan para suster lainnya tampak begitu sibuk mengurusi anak-anak yang ada disana sedangkan dari wajah mereka benar-benar tampak begitu bahagia.


Silvia membuka tasnya dan mengeluarkan cek dari sana, dia juga mengambil sebuah bulpoin dan mulai menuliskan beberapa nominal angka disana.


Dia belum pernah menyumbangkan uang untuk panti asuhan itu, memang dia suka membeli makanan dan beberapa keperluan untuk anak-anak tapi dia belum pernah memberikan uangnya untuk panti asuhan itu.


Setelah selesai menulis Silvia kembali menyimpan bulpoin dan ceknya kedalam tas, dia segera menghampiri anak-anak yang tampak masih menghabiskan makanan mereka tapi ada juga yang telah selesai.


Dia ingin menjelaskan kepada anak-anak panti jika dia gagal mendapatkan lahan panti itu dan dia akan mengatakan kepada semua anak yang ada disana jika dia akan mencarikan tempat baru untuk mereka dan dia berharap anak-anak mau menerima dan mengerti dengan penjelasannya nanti.


Tentu Silvia sudah meminta bantuan suster Maria supaya membantunya nanti untuk menjelaskan niatnya kepada para anak panti yang ada disana.


Dia segera menghampiri suster Maria dan berdiri disampingnya, suster Maria langsung mengerti dan menepukkan tangannya untuk menarik perhatian anak-anak yang ada disana.


"Anak-anak, ada yang ingin kakak Silvia sampaikan pada kita semua jadi kalian harus mendengarkannya."


"Baik suster Maria." jawab anak-anak serempak.


Suster Maria mempersilahkan Silvia untuk berbicara kepada anak-anak dan Silvia mengangguk pada suster Maria.


"Anak-anak, bagaimana menurut kalian tempat ini?" Silvia mulai bertanya.


"Tempat ini sangat menyenangkan dan disinilah rumah kami berada." jawab salah satu anak yang ada disana.


"Benar, ini rumah kalian semua. Tapi bagaimana jika rumah kalian ini dibongkar?"


Anak-anak mulai diam, jadi tempat itu akan benar-benar dibongkar?


"Maafkan aku karena aku tidak bisa membujuk si tuan jahat untuk mempertahankan rumah kalian ini." ujarnya dengan nada sedih.


"Jadi si tuan jahat akan tetap mengusir kami?" Candy bangkit berdiri dan melangkah menghampiri Silvia, gadis itu berdiri dibawah kaki Silvia dan memegangi ujung dress yang dipakainya.


Silvia mengusap kepala Candy dan tersenyum, dia tahu ini pasti sangat berat untuk anak-anak tapi dia akan membujuk anak-anak yang ada disana.


"Maaf Candy, kakak sudah berusaha tapi si tuan jahat tetap ingin membongkar tempat ini jadi kakak tidak bisa melakukan apapun."


"Tidak mau, aku tidak mau pindah!" Candy berteriak dan menangis,dia juga memeluki kaki Silvia.


"Benar kakak, kami tidak mau pindah!" teriak anak-anak lainnya.


"Anak-anak, dengarkan penjelasan kakak Silvia terlebih dahulu." Suster Maria mencoba menenangkan anak-anak yang ada disana.


"Suster Maria, jika tempat ini akan dibongkar lalu kita mau pindah kemana? Aku tidak mau berpisah dengan teman-temanku!"


"Sebab itu kalian harus mendengarkan penjelasan kakak Silvia sampai selesai."


Anak-anak kembali diam sedangkan suster Maria mempersilahkan Silvia untuk kembali berbicara.


"Begini." Silvia mengangkat Candy dan menggendongnya.


"Kita tidak bisa melawan si tuan jahat yang hendak membongkar rumah kalian ini jadi biarkan dia membongkarnya, tapi kalian tidak perlu khawatir karena aku akan menyediakan tempat untuk kalian semua. Tempat itu nanti akan menjadi rumah kalian dan disana kalian akan mendapat teman-teman baru dan aku pastikan tempat itu akan jauh lebih nyaman dari pada tempat ini."


"Kalian akan mendapat tempat yang jauh lebih bagus dan aku akan menjamin kalian tidak akan menyesal telah pindah dari tempat itu ketempat yang baru, aku juga akan menjamin tidak akan ada yang bisa mengusir kalian dari tempat itu." jelasnya.


"Benar anak-anak, kita tidak bisa melakukan apapun dan terus terang saja suster juga khawatir jika tuan Abraham akan mencarikan tempat yang kurang layak apalagi dalam jangka waktu satu bulan saja. Aku juga khawatir kita akan terpisah nantinya jadi maukah kalian menerima tawaran kakak Silvia?" suster Maria juga berusaha meyakinkan anak-anak yang ada disana.


Anak-anak tampak berpikir dan saling pandang, berpisah dengan yanga lainnya tentu mereka tidak akan pernah mau karena bagi mereka, mereka semua adalah keluarga.


Memang sebagian dari mereka belum begitu mengerti tapi mereka tidak mau berpisah dengan yang lainya dan mereka ingin selalu bersama-sama.


Silvia tampak senang, jadi anak-anak tidak keberatan? Ini adalah hal yang sangat bagus.


"Kalian jangan khawatir, kalian akan segera pindah sebelum tempat ini dibongkar oleh situan jahat."


"Tapi kakak, apa nanti kami akan mendapat sekolah yang bagus ditempat baru nanti?"


"Tentu saja, kalian tidak perlu menghawatirkan tentang hal itu. Aku juga akan jadi donatur tetap untuk kalian dan aku akan mengirimkan uang untuk kalian setiap bulan. Aku sudah bilang bukan? Kalian pasti akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah pindah dari sini."


"Horre!!" anak-anak bersorak dengan gembira, hal itu membuat Silvia dan para suster disana tampak begitu senang.


Tempat yang dia janjikan bukan tipuannya untuk membohongi anak-anak, Dave telah menunjukkan beberapa tempat padanya semalam tapi dia masih ingin mencari tempat yang lebih bagus lagi jika memang ada.


Candy langsung memeluki lehernya bahkan menciumi pipinya, gadis manis itu juga berkata.


"Terima kasih kakak."


"Sama-sama sayang." Silvia juga menciumi pipi Candy, dia sangat senang anak-anak mau menerima tawarannya.


"Ehm..anak-anak, ada sesuatu yang ingin kakak minta kalian lakukan." pintanya.


"Katakan kak, kami pasti akan mendengarkan." jawab anak-anak serempak.


"Jika si tuan jahat datang maukah kalian merahasiakan hal ini? Dia tidak boleh tahu jika kalian akan pindah jadi jangan sampai kalian memberi tahukan tentang ini padanya, oke?"


"Siap kak! Kami akan tutup mulut."


"Bagus." Silvia segera menurunkan Candy dari gendongannya dan setelah itu dia kembali berbicara dengan suster Maria.


"Suster Maria, aku harap Abraham tidak tahu mengenai rencanaku ini! Aku harap semua yang ada disini bisa menjaga rahasia ini."


Suster Maria tersenyum dengan lembut dan berkata:


"Tentu saja nona Silvia, kami tidak akan mengatakan hal ini padanya. Kami akan pindah tanpa sepengetahuannya walaupun ini terkesan tidak sopan tapi dia memang sudah keterlaluan."


"Suster benar, jika dia ingin dihormati maka dia harus belajar menghormati orang lain terlebih dahulu."


"Nona Silvia kau benar-benar seperti seorang malaikat."


"Tidak suster,aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan dan ini?".


Silvia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah cek dari sana, dia juga memberikan cek itu pada suster Maria.


"Ini donasi awalku, nanti setiap bulan aku akan memberikan donasi untuk anak-anak yang ada disini."


Suster Maria mengambil cek itu dan melihatnya, matanya tampak terbelalak kaget, 15 ribu dolar! Tapi kemudian dia tersenyum.


"Terima kasih nona Silvia."


"Kalau begitu aku harus segera pergi untuk melihat tempat untuk anak-anak nanti."


"Baiklah, aku dan anak-anak akan mengantarmu."


Suster Maria dan para anak-anak yang ada disana mengantar kepergiannya dengan suka cita, mereka tampak begitu senang begitu juga dengan Silvia, dia juga tampak begitu senang.


Setelah tiba dimobilnya Silvia membuka pintu dan hendak masuk kedalam tapi tiba-tiba saja seseorang menahan tangannya.


Silvia melihat orang itu dan wajahnya langsung tampak tidak senang, si model celana dalam!


Mau apa lagi pria sombong itu?