
Selama diperjalanan menuju rumah Abraham, Silvia diam saja.dia sudah meminta Dave untuk pulang terlebih dahulu dan dengan terpaksa Silvia mengikuti ibu Abraham.
Monica tampak begitu senang, selama diperjalanan dia selalu menggenggam tangan Silvia dan mengusap-usap tangannya dengan lembut.
Terkadang Silvia tersenyum pada ibu Abraham, dia sangat pusing sekarang. Bagaimana dia bisa kabur nanti?
Dia berharap ibu Abraham tidur dengan cepat supaya dia bisa pulang kerumah sebelum tengah malam.
Silvia mulai gelisah saat mobil Abraham masuk kedalam sebuah rumah, padahal dia tidak mau bertemu dengan pria itu lagi, dia tidak mau berurusan dengan pria yang bernama Abraham Achilles lagi bahkan tidak mau mengenal pria itu lagi. Tapi kenapa dia harus terlibat dengan pria itu dan berpura-pura menjadi pacarnya?
Bahkan sekarang sandiwara yang mereka mainkan semakin menyeretnya lebih dalam kedalam kehidupan Abraham Achilles.
Dia berharap setelah sandiwara ini mereka tidak saling bertemu lagi dan dia juga berharap mulai besok mereka tidak bertemu lagi.
"Ehem!" Abraham berdehem pelan karena Silvia tidak juga keluar dari mobilnya padahal mereka sudah tiba dirumahnya sedari tadi.
Silvia hanya melototinya dan pada saat itu Abraham mengulurkan tangannya kearah Silvia.
Silvia tampak kesal, semua ini gara-gara simodel celana dalam!
Sebelum menyambut tangan Abraham dia mengusap telapak high hell yang dipakainya berkali-kali, itu dia lakukan supaya tangannya kotor dan dia ingin lihat apa Abraham masih mau memegangi tangannya?
Abraham melotot tidak percaya saat melihat Silvia sengaja mengotori tangannya, wanita itu benar-benar licik dan banyak akal.
Silvia tersenyum dengan manis saat melihat wajah Abraham yang tampak kesal, dia ingin menyambut uluran tangan Abraham tapi Abraham langsung menarik tangannya.
Dia tidak mau memegangi tangan Silvia yang telah kotor tapi ibunya berdehem pelan dan melotot padanya.
Hal itu membuat Abraham mengutuk dalam hati dan terpaksa mengulurkan tangannya kembali.
Silvia langsung turun dari mobil tanpa mau menyambut uluran tangan Abraham tapi pada saat itu dia pura-pura tersandung sampai membuatnya jatuh didalam pelukan Abraham.
Abraham kesal setengah mati bukan kesal karena Silvia jatuh kedalam pelukannya tapi dia kesal karena tangan Silvia yang kotor menempel diwajahnya, wanita ini pasti sengaja!
"Kau!!"
"Sory aku tidak sengaja karena kesandung batu." ujar Silvia pura-pura, padahal tidak ada batu disana.
"Jangan berpura-pura,kau sengaja bukan?" Abraham benar-benar marah, dia sampai melupakan sandiwara mereka dan keberadaan ibunya disana.
"Aku tidak pura-pura!aku memang kesandung batu." Silvia tidak mau kalah.
"Mana batunya? Tunjukkan!" bentak Abraham dengan kencang.
"Ada dibawah kakiku, kau lihat saja sendiri dasar model celana dalam!"
"Berhenti memanggilku model celana dalam!"
"Tidak akan!"
Monica hanya menggeleng melihat tingkah kedua anak muda itu, apa mereka lupa dengan sandiwara yang mereka mainkan?
"Pergi kau!" usir Abraham dengan kasar.
"Abraham!" Monica tampak marah sekarang.
"Kenapa kalian bertengkar?"
Silvia dan Abraham tampak menatap satu sama lain dengan tatapan penuh kebencian, setelah itu mereka berdua membuang pandangan mereka berdua dan mendengus kesal.
"Maaf mom,dia sengaja menyentuhku dengan tangannya yang kotor." Abraham mencoba membela diri.
"Mommy aku mau pulang saja."pinta Silvia.
"Jangan sayang, ini sudah larut malam. Tidak baik pulang sendirian."
"Tapi mom?"
"Sudahlah, maafkanlah dia, dia memang kekanak-kanakan."
"Kenapa mommy menyalahkan aku?" Abraham tidak terima.
"Aku tidak menyalahkanmu! Aku lihat Silvia memang tersandung dan tidak sengaja tapi kenapa kau begitu marah? Sebenarnya dia pacarmu atau bukan?"
"Tentu saja dia pacarku!"
"Oh ya? Melihat kalian seperti ini aku jadi curiga, kalian berdua menipuku ya?"
"Tidak mom." jawab Abraham.
"Apa? Aku tidak mau!" Abraham menolak dengan cepat.
"Kalau tidak mau kau tahukan apa yang harus kau lakukan."
Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat, dengan terpaksa dia segera mendekati Silvia dan meraih tanggannya yang kotor tadi sambil berkata:
"Maafkan aku sayang, aku tidak percaya padamu."
"Huh!" Silvia membuang wajahnya kesamping.
"Maaf aku tidak melihat batunya dan memarahimu sembarangan." ujarnya lagi, dia terpaksa membenarkan ada batu walaupun dibawah sana memang tidak ada batu.
"Ayo masuk, diluar dingin."
Abraham merangkul pinggang Silvia dan mengajaknya masuk kedalam, Silvia hanya mengikuti langkahnya dan masih tampak kesal.
Monica mengikuti mereka dengan banyak rencana dihatinya, segitu tidak maunya kah Abraham menikah dengan Jenny dan lebih memilih bersandiwara dengan wanita China itu?
Dia yakin mereka berdua pasti saling mengenal satu sama lain dan wanita bernama Silvia itu pasti mau membantu putranya karena suatu alasan.
Apapun itu dia ingin Silvia menjadi menantunya dan lagi pula, dilihat bagaimanapun Abraham dapat menyentuh Silvia tanpa sungkan tanpa mengingat OCD yang dideritanya.
Jangan kira dia bodoh! Memangnya dia tidak punya mata untuk melihat apalagi saat di restoran dia mendengar pembicaraan mereka berdua saat Silvia mau pergi.
Bagaimanapun caranya dia akan mendekatkan kedua orang itu dan berubah menjadi cupid tua.
"Hei lepaskan tanganmu!" Silvia berusaha menyingkirkan tangan Abraham dari pinggangnya tapi Abraham malah semakin memeluknya dengan erat.
"Diam nanti ibuku tambah curiga!"
"Aku tidak perduli cepat lepaskan aku!"
"Stts..diam! Saat didalam nanti aku akan melepaskannya!"
Abraham melirik kearah belakang untuk melihat ibunya sedangkan ibunya melotot kearahnya, dia tidak punya pilihan selain memainkan sandiwara mereka dengan baik karena dia tidak mau menikah dengan Jenny.
Saat sudah didalam sana Abraham melepaskan tangannya dan melangkah pergi untuk masuk kedalam kamarnya, dia ingin segera mandi karena dia sudah tidak tahan dengan wajahnya yang kotor karena sentuhan tangan kotor Silvia tadi.
"Hei Abraham!"
"Apa lagi mom?" Abraham menghentikan langkahnya.
"Bawa Silvia kedalam kamarmu ini sudah malam."
"Apa?" Ujar Silvia dan Abraham secara bersama-sama. Yang benar saja!
"Mom aku tidak mau!" tolak Silvia.
"Aku juga tidak mau!" tolak Abraham.
"Kenapa? Kalian pacaran bukan? Tidur berdua adalah hal wajar jadi sana."
"Tapi aku?" Silvia semakin serba salah, sandiwara ini benar-bentar menjerumuskannya semakin dalam.
"Sudah sana!"
"Mom biarkan dia tidur denganmu."
"Tidak mau karena setiap malam aku tidur dengan arwah daddymu!"
"What?"
Monica mendorong tubuh Silvia dan Abraham menuju kamar putranya, dia juga membuka pintu kamar itu dan begitu terbuka, Monica kembali mendorong tubuh Silvia hingga masuk kedalam sana.
"Beristirahatlah yang nyenyak sayang dan kau?" kini dia mendorong tubuh putranya hingga masuk kedalam sana.
"Jangan sia-siakan kesempatan ini, buatkan cucu untukku."
"Hei mom, jangan asal bicara!"
"Tidak sayang, ayo sana."
Monica menutup pintu kamar itu dan bersorak dalam hati, dia harap putranya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Mision one, successfully!