
Saat pagi telah tiba Monica tampak begitu bersemangat, lagi-lagi dia sudah berdiri didepan pintu kamar putranya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam sana.
Dia hanya mondar mandir didepan pintu kamar dengan rasa penasaran yang tinggi dihatinya, dia benar-benar ingin tahu apakah putranya berhasil mengikat Silvia?
Rasa keingin tahuannya semakin besar, karena sudah merasa tidak sabar lagi Monica membuka pintu kamar putranya dengan wajah ceria.
"Pagi para anak muda, apa tidur kalian nyenyak atau?"
Wow, Monica langsung tampak senang saat melihat Abraham sedang tidur diatas ranjang sambil memeluk Silvia, sepertinya misinya berhasil dan putranya sudah menjerat Silvia.
Monica tampak senang,dia langsung keluar dan menutup pintu kamar putranya dengan pelan supaya tidak menimbulkan suara, dia berjalan kearah dapur sambil berkata dengan ceria.
"Yey aku akan menjadi grandmother, sebentar lagi aku akan menjadi grandmother."
Monica mulai tampak sibuk untuk membuat makanan didapur sedangkan kedua orang didalam kamar masih tidur dengan pulas tanpa menyadari keadaan mereka berdua.
Saat Silvia merasakan seseorang tidur disampingnya bahkan memelukinya dengan erat, hembusan nafas hangat membelai wajahnya hingga membuatnya langsung membuka matanya.
Silvia terbelakak kaget saat melihat Abraham sedang tidur disampingnya sedangkan tangan Abraham melingkar dipinggangnya.
"Hei kau, lepas! Lepas! Lepaskan!" Silvia memukul-mukul bahu Abraham hingga Abraham kaget dan bangun dari tidurnya.
Silvia benar-benar kesal, tidak hanya memukul tapi dia juga mendorong-dorong tubuh Abraham sekuat tenaga.
"Hei jangan bergerak!" Abraham juga tampak kesal.
"Kenapa? Lapaskan aku!" Silvia hendak memberontak tapi Abraham memeluknya dengan erat.
"Asal kau tahu saja, lelaki dipagi hari adalah serigala dan akan lepas kontrol dengan mudah jadi sebaiknya kau diam dan jangan bergerak kalau tidak kau benar-benar akan membangunkan belalai gajahku yang sedang tertidur pulas."
"Apa sih yang kau katakan?" Silvia mulai kembali bergerak tapi pada saat itu pahanya menyentuh sesuatu yang menonjol dibawah sana.
"Uhg!" Abraham mengerang pelan karena sentuhan tidak sengaja paha Silvia yang mengenai belalai gajahnya yang telah sadar dari tidurnya.
Sialan! Silvia benar-benar kesal! Kenapa dia bisa tidur dengan Abraham?
Bukankah dia tidur diatas sofa semalam? Jangan katakan jika dia tidur sambil berjalan karena dia tidak akan mempercayai hal itu.
"Lepaskan!" Silvia melepaskan diri dari pelukan Abraham dan duduk disisi ranjang, dia duduk diam diisana untuk merapikan rambutnya yang berantakan.
Abraham memperhatikan punggung Silvia sejenak setelah itu dia juga bangun dari tidurnya dan duduk disisi ranjang membelakangi Silvia.
Dia mengusap wajahnya frustasi dan memikirkan dirinya sendiri, apa yang sedang dia lakukan?
Padahal Semalam Silvia tidur diatas sofa dan dia tidur diatas ranjang sendiri, tapi dia tidak bisa tidur sama sekali sampai membuatnya salah tingkah.
Abraham turun dari atas ranjang dan menghampiri Silvia yang sudah tertidur pulas. Dia juga keluar dari kamarnya untuk meminta ibunya tidur didalam kamar, Jangan sampai ibunya sakit karena tidur diluar.
Setelah Meyakinkan ibunya bahwa Silvia tidak akan pergi dan sudah tertidur barulah ibunya mau tidur didalam kamarnya.
Abraham kembali masuk kedalam kamarnya dan naik keatas ranjang, tapi dia hanya bisa membolak-balikkan tibuhnya diatas ranjang, gelisah.
Dia bangun kembali dan menghampiri Silvia, dia bahkan duduk didepan Silvia untuk melihat wajah tidurnya.
Ini menyebalkan! Silvia bisa tidur dengan nyenyak sedangkan dia tidak bisa. Apa ada yang salah?
Tidak biasanya dia seperti ini dan terus terang saja sudah lama dia tidak lama tidur sekamar dengan seorang perempuan.
Dulu pacarnya pernah tidur dikamarnya itupun sudah lama dan lihatlah, seorang wanita cantik tidur dikamarnya walaupun Silvia tidur diatas sofa.
Tanpa banyak berpikir dia langsung menggendong Silvia dan membawanya keatas ranjang, setelah merebahkan tubuh Silvia, dia juga tidur disisi Silvia.
Tadinya Abraham tidak berniat untuk tidur disana tapi tiba-tiba saja Silvia memeluknya dengan erat, hal itu membuat Abraham kesal. Dia ingin memarahi Silvia tapi dia urungkan saat mencium aroma manis tubuh Silvia, aroma manis yang menenangkan.
Ini menyebalkan, jangan katakan jika dia mulai kecanduan dengan aroma tubuh Silvia!
Abraham mulai memeluki Silvia, dia juga menciumi ujung kepala Silvia bahkan mengusap punggungnya dengan lembut. Rasanya dia ingin seperti itu sejenak tapi tanpa dia sadari dia malah ketiduran disisi Silvia.
Itulah kenapa mereka bisa tidur berdua diatas ranjang dan sepertinya dia sudah gila melakukan hal seperti itu.
"Kenapa aku bisa tidur denganmu!" Silvia benar-benar kesal.
"Mana aku tahu, saat tengah malam kau naik keranjangku dan tidur disisiku." dustanya.
"Jadi maksudmu aku tidur sambil berjalan begitu?" Silvia tidak percaya, dia belum pernah tidur sambil berjalan.
"Bisa jadi." Jawab Abraham malas.
"Aku tidak percaya, aku belum pernah tidur sambil berjalan sebelumnya!"
"Aku juga tidak percaya saat tengah malam kau naik keatas ranjangku dan memintaku memelukmu karena kedinginan."
"Apa? Tidak mungkin!"
"Apanya yang tidak mungkin!bilang saja jika kau memang ingin aku peluk, bilang saja jika kau memang menyukai pelukan hangatku."
"Sialan! Sudah gila ya kau!"
"Aku tidak gila! Kau memang memelukku tadi malam dan tidak mau melepaskan aku, oh jangan-jangan kau mencari kesempatan dalam kesempitan atau jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padaku." ujar Abraham penuh percaya diri.
"Bhuk!!" tiba-tiba suatu benda melayang dan mengenai kepala Abaraham.
Abraham sangat kaget dan memegangi belakang kepalanya, dia juga melihat benda yang yang dilemparkan oleh Silvia kearahnya, sebuah pajangan yang ada diatas meja.
"Nona Silvia kau!!" geramnya marah.
"Kenapa? Seharusnya kau bersyukur itu bukan pisau!"
Abraham bangkit berdiri dan menghampiri Silvia dengan cepat,ini sudah yang kesekian kalinya wanita itu melemparnya dan kali ini tidak akan dia biarkan wanita itu lepas.
"Akan aku bunuh kau!!" maki Abraham kesal.
Dia ingin menangkap Silvia tapi tiba-tiba saja Silvia melompat kearahnya, mengangkat lututnya dan?
"Bhukk!" Silvia menyerang perut Abraham menggunakan lututnya.
Abraham memegangi perutnya dan terhuyung kebelakang sambil meringis kesakitan, dia tidak menyangka Silvia berani melakukan hal itu.
"Kau!! Aku benar-benar akan membunuhmu!" teriaknya marah!
Silvia tampak begitu puas, ini belum seberapa. Jika ada pisau sudah dia lemparkan kearah Abraham karena telah berani sembarang bicara.
"Lain kali jaga mulutmu tuan Abraman! Aku jatuh cinta padamu? Mataku belum buta dan aku belum gila untuk mencintai pria sombong dan aneh sepertimu!" ujar Silvia dengan dingin.
Silvia segera berlalu pergi keluar dari kamar Abraham sedangkan Abraham merasa dirinya sedang ditantang. Sepertinya dia harus membuat Silvia jatuh cinta padanya dan mengemis cinta padanya nanti.
Akan dia lakukan dan lihat saja, wanita yang bernama Silvia pasti akan mengemis cinta padanya nanti, ini sungguh menarik.