Falling in Love with You

Falling in Love with You
Penjaga pintu



Didalam kamar, Silvia diam saja tidak melakukan apapun. Bahkan dia masih didepan pintu tanpa beranjak dari sana karena dia sedang berpikir bagaimana dia bisa pergi dari sana.


Abraham hanya melewati Silvia tanpa berkata apa-apa, dia membuka jas yang dipakainya dan meletakkan jasnya diatas sofa yang ada dikamar itu.


Abraham menjatuhkan dirinya diatas sofa dan menatap Silvia dengan tajam, mau sampai kapan wanita itu berdiri disana?


Dia terus memandangi Silvia sambil melonggarkan dasinya, dia ingin lihat sampai berapa lama Silvia bisa bertahan berdiri disana.


Silvia mengedarkan pandangannya melihat kamar Abraham dengan teliti, untuk seorang yang memiliki OCD kamar itu memang sangat bersih tapi bukan itu masalahnya,dia berada dikamar seorang laki-laki saat ini dan laki-laki itu adalah musuhnya.


"Hei kau mau berdiri sampai kapan?" Abraham mulai membuka suaranya.


"Aku mau pulang!"


"Kau bisa pulang setelah ibuku tidur!"


"Tidak bisa, aku mau pulang sekarang!"


"Percuma saja, percaya atau tidak ibuku sedang berjaga didepan pintu."


"Tidak mungkin!" ujar Silvia tidak percaya.


"Jika tidak percaya kau coba saja keluar, saat ibuku melihatmu pergi begitu saja penyakitnya pasti akan kambuh."


"Sialan! Kenapa aku harus terlibat dengan permasalahanmu!" maki Silvia kesal.


Abraham diam saja,dia bisa mengusir wanita itu keluar dari kamarnya saat ini juga dan mengabaikan sandiwara mereka tapi yang jadi masalahnya adalah, jika ibunya tahu mereka hanya pacaran pura-pura maka besok dia harus menemui Jenny bahkan dia harus menikah dengan Jenny dan jujur saja dia tidak mau hal itu terjadi.


"Sudahlah ini sudah malam,jangan berdiri disana saja dan menjadi penghias kamar. Duduk disini denganku kita bicara, apa kau tidak lelah berdiri seperti itu?"


"Tidak mau aku ingin pulang."


"Ck!" Abraham berdecak Kesal dan bangkit berdiri.


"Bukankah sudah aku katakan padamu, aku akan mengantarmu saat ibuku sudah tidur, asal kau tahu ibuku masih ada diluar! Saat dia tahu kita menipunya maka penyakit jantungnya akan kambuh dan aku tidak mau itu terjadi jadi tolong untuk bekerja sama denganku sebentar lagi."


"Ibumu punya penyakit jantung?"


"Iya, jika malam ini kau pergi dan dilihat olehnya maka aku takut dia akan kecewa dan penyakit jantungnya akan kambuh. Tapi jika kau pergi saat dia tidur maka besok aku akan menjelaskan semuanya pada ibuku."


Silvia menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia benar-benar tidak punya pilihan sekarang.


"Tapi aku mau pulang kalau tidak keluargaku akan mencariku." dia khawatir Dave akan menghubungi ayah atau kakaknya.


"Aku bilang tunggu sebenar lagi dan jika kau tidak percaya coba lihat ini?"


Abraham berjalan kearah pintu dan membukanya, pada saat pintu kamarnya terbuka benar saja, ibunya berada disana dan hampir saja terjatuh.


Silvia tidak percaya melihatnya, wow! Ternyata ibu Abraham benar-benar ada didepan pintu!


"Apa yang mommy lakukan didepan pintu kamarku?"


"Tidak ada, mommy sedang berbicara dengan arwah daddymu."


"Jangan mengada-ada, daddy sudah lama mati jadi mommy tidur sana!"


"Tidak mau, daddymu bilang dia ingin mengobrol dengan mommy diluar, jadi mommy akan tidur diluar."


"Astaga mom!"


Monica mengintip kedalam kamar putranya, dia melihat Silvia sedang berjalan kearah sofa dan duduk disana.


Monica segera menarik dasi putranya dan berisik pelan.


"Hei Abraham, sebagai seorang pria sejati seharusnya kau bisa menakhlukkan dia malam ini."


"Maksud mommy apa sih?"


"Dasar bodoh, ikat dia dan buat dia hamil. Aku ingin dia jadi menantuku dan aku ingin kau menjeratnya malam ini."


"Astaga, mommy sudah gila ya!"


"Hei kalian pacaran bukan? Atau kalian menipuku?"


"Good luck boy."


Abraham masuk kedalam kamarnya kembali dan menutup pintu kamarnya dengan rapat, dia melihat Silvia sekilas yang hanya duduk diam saja kemudian dia masuk kedalam kamar mandi untuk mandi.


Silvia sangat kesal, sepertinya sandiwara yang mereka mainkan ini tidak akan mudah berakhir, dia punya firasat jika dia tidak akan bisa pulang malam ini apalagi Abraham berkata ibunya punya penyakit jantung.


Dia takut begitu dia pergi ibu Abraham jadi shock dan gagal jantung karena ulahnya, jangan sampai hal itu terjadi.


Dia benar-benar pusing memikirkan cara untuk mengakhiri sandiwara yang dia mainkan tapi pada saat itu ponselnya yang berada didalam tas berbunyi, dengan cepat Silvia mengambil ponselnya dan menjawabnya.


"Silvia aku dengar dari Dave kau tidak pulang?"


"Kakak?" katanya dalam hati, habislah jika sampai kakaknya tahu dia sedang berada dikamar seorang lelaki saat ini.


"Hmm ya, aku memang tidak pulang."


"Kau pergi kemana? Awas jika sampai kau berani main ke Club malam!"


"Tidak kak, aku dirumah seorang kenalan. Besok aku pasti pulang."


"Benar?" tanya kakaknya curiga.


"Benar! Untuk apa aku berbohong."


"Ya sudah, jika kau berani berbohong maka aku akan memerintahkan seseorang untuk mengikutimu kemanapun kau pergi!"


"Kakak tenang saja, aku tahu apa yang boleh aku lakukan dan mana yang tidak."


"Bagus!"


"Kak, Edward dimana?"


"Dirumah."


"Ck ya sudah, aku mau tidur."


"Hmm!"


Setelah mematikan ponselnya Silvia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, benarkan dugaannya, Dave pasti menghubungi kakaknya.


Untung saja kakaknya mempercayai ucapannya, pokoknya jika ada kesempatan dia harus segera pulang. Jangan sampai kakaknya tahu jika dia berada didalam kamar seorang laki-laki saat ini!


Setelah selesai mandi Abraham segera keluar dari kamar mandi, dia langsung naik keatas ranjang tanpa memperdulikan Silvia yang masih duduk disofa.


Terserah wanita itu mau melakukan apa, dia tidak akan perduli yang pengting wanita itu tidak tidur diatas ranjangnya karena dia tidak akan suka.


"Aku haus." ujar Silvia tiba-tiba.


"Keluar sana ambil sendiri." bentak Abraham kesal.


"Cepat ambilkan karena aku tidak tahu dimana dapurmu, kuklasmu dan air minummu!"


Abraham turun dari atas ranjang dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, baru kali ini ada yang berani memerintahnya!


Dia segera membuka pintu kamar dan pada saat itu matanya terbelakak kaget melihat sofa panjang berada didepan kamarnya sedangkan ibunya sedang merebahkan diri disana.


"Astaga mom, untuk apa kau tidur didepan kamarku dan bagaimana mommy memindahkan sofanya?"


Silvia bangkit berdiri dan menghampiri Abraham, dia juga tak kalah kagetnya melihat ibu Abraham sedang menunggu didepan kamar. Ini benar-benar gila dan dia semakin yakin jika dia tidak akan bisa pergi dari sana!


"Sorry sayang, daddymu mengajak mommy tidur disini." ujar Monica, pokoknya calon menantunya tidak boleh kabur dan dia akan tidur disana sampai pagi.


"Mom, kau bisa sakit. Tidur dikamar sana!"


"Tidak akan, aku lebih senang tidur disini."


"Astaga!"Abraham kehabisan kata-kata, dia segera berlalu pergi untuk mengambilkan air minum yang dipinta Silvia.


Silvia hanya bisa pasrah, bagaimana dia bisa melarikan diri sekarang? Sedangkan ibu Abraham berada didepan pintu seperti seorang penjaga.


Sandiwara ini benar-benar sudah menjerumuskan dirinya kedalam kehidupan simodel celana dalam! Semoga saja sandiwara yang mereka mainkan bisa cepat berakhir.