Falling in Love with You

Falling in Love with You
Pakai bahasa batin



Silvia tampak begitu kesal, kenapa dia harus tinggal dan tidur dengan Abraham?


Memangnya mereka memiliki hubungan apa? Dia disana hanya untuk membalas budi pada Abraham tapi enak saja memintanya tinggal dengan si model celana dalam yang dia benci, apalagi sampai harus tidur dengannya, dia tidak akan pernah mau!


Abraham tak kalah kagetnya mendengar permintaan dari ibunya, tinggal dan tidur dengan Silvia?


Dia melirik kearah Silvia dan ternyata Silvia sedang melototinya, dia yakin Silvia pasti tidak akan mau mengikuti perkataan ibunya.


Ini gawat, jangan sampai Silvia mengatakan yang sebenarnya dan jangan sampai kebohongannya terbongkar.


Dia tahu ibunya hanya ingin melihat reaksinya saja, mungkin dia harus membujuk ibunya supaya membatalkan permintaannya.


"Mom,jangan begitu,dia tidak bisa tinggal denganku."


"Kenapa?" tanya Monica dengan cepat, dia ingin tahu apa wanita itu memang pacar putranya atau bukan?


"Pokoknya tidak bisa ya tidak bisa!"


"Bagus, kau mulai menipu mommy sekarang! Kau membawa wanita asing ini dari luar dan memintanya untuk berpura-pura jadi pacarmu bukan?"


"Mommy ngomong apa sih?" sangkalnya. Tapi kenyataannya memang demikian.


"Sudahlah Abraham, kau jangan menipu mommy! Kau lihat saja?" Monica melirik kearah Silvia.


"Dia bahkan tidak mengerti apa yang kita bicarakan." ujar Monica lagi.


Abraham memijit pelipisnya dan menghembuskan nafasnya dengan berat, ini gara-gara Silvia berbicara menggunakan bahasa Mandarin tadi dan lihatlah, ibunya benar-benar tidak percaya padanya.


Tidak hanya itu Silvia juga diam saja berpura-pura tidak mengeri apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mom dia benar pacarku, kenapa mommy tidak percaya?"


"Aku tidak akan percaya sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalian tinggal bersama dan tidur bersama!"


"Tapi mom..?"


"Kau tidak bisa menolak!"


Jenny menatap Silvia dengan tajam, dirinya bagaikan tidak ada disana dan dia semakin kesal dibuatnya.


"Aunty aku mau pulang saja." pintanya.


"Kenapa? Kita bahkan belum makan."


"Tidak aunty, aku masih kenyang."


"Sudahlah, makan dulu baru pulang, oke?"


Dengan terpaksa Jenny mengangguk, dia sangat kesal dan marah tapi dia juga tidak boleh mempermalukan dirinya.


Silvia melihat ibu Abraham sejenak, wanita itu terlihat ramah dan dia hanya diam saja sedari tadi karena dia harus bersikap sopan kepada orang yang lebih tua.


Tapi sepertinya dia tidak mau terus berbohong lagi, lagi pula ini bukan urusannya. Dia hanya orang luar yang dimanfaatkan oleh si model celana dalam.


Silvia langsung berdehem pelan, permintaan ini sudah diluar batas dan dia tidak akan pernah mau melakukannya.


Semua mata tertuju padanya begitu juga dengan Abraham, dia langsung memegangi tangan Silvia.


"Ada apa sayang, apa kau tidak enak badan?" Abraham mulai berakting, dia khawatir Silvia akan mengatakan semuanya tapi Silvia hanya diam saja dan melototinya.


"Cih, sayang nenek moyangmu." maki Silvia dalam hati.


"Kenapa? Apa kau sakit?" Monica tampak khawatir.


Silvia masih diam saja, hal itu membuat Monica menjadi serba salah, bagaimana caranya untuk berbicara dengan wanita itu sedangkan dia tidak bisa berbicara bahasa Mandarin?


"Hei Abraham, tanyakan keadaannya, apa dia baik-baik saja?" perintahnya.


"Aku sedang menanyakan mom!" Abraham tampak frustasi.


"Pakai bahasa Mandarin!"


"Aku tidak bisa!"


"Lalu selama ini bagaimana kau berkomunikasi dengannya?"


"Pakai bahasa batin!" jawab Abraham kesal.


"Mommy lihat, dia hanya menipu mommy dan berpura-pura tidak mengerti dengan yang kita bicarakan!" Abraham menatap Silvia dengan tajam. Wanita ini benar-benar!


"Oh bagus!" Monica juga tampak kesal.


"Sory aunty sebenarnya aku bu?"


Tiba-tiba saja Abraham menutupi mulut Silvia dengan tangannya, jangan sampai kebohongan mereka terbongkar kalau tidak ibunya akan memaksanya untuk menikah dengan Jenny.


"Apa sayang, kau sakit? Jika begitu ayo kita pulang." Abraham mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hei, jangan sembarang berbicara! kau harus berperan menjadi pacarku sampai selesai!" bisik Abraham ditelinga Silvia dengan pelan.


"Aku tidak mau tinggal dan tidur denganmu!" Silvia juga berbisik dengan pelan.


"Aku juga tidak mau jadi kau tenang saja!"


Silvia mengangguk dan hanya bisa memaki dalam hati sedangkan tangannya hendak menyingkirkan tangan Abraham dari mulutnya.


Hanya malam ini bukan? Baiklah akan dia lakukan, pura-pura menjadi pacar Abraham didepan ibunya dan setelah ini dia tidak punya hutang budi lagi kepada si model celana dalam.


Dan tentunya setelah ini mereka tidak akan saling bertemu lagi karena saat dia menemukan tempat yang cocok untuk anak-anak panti maka dia akan langsung pulang ke Amerika.


Monica tersenyum kecil melihat putranya, biasanya putranya itu tidak suka menyentuh orang sembarangan tapi lihatlah, dengan mudahnya Abraham menyentuh Silvia.


Sepertinya wanita itu memang pacar anaknya tapi dia tetap ingin melihat mereka tinggal bersama supaya dia tambah yakin, kalau bisa mereka segera menikah.


"jika Silvia baik-baik saja ayo kita segera makan, setelah ini kita pulang." ajak Monica karena makanan memang sudah terhidang diatas meja.


Abraham melepaskan tangannya dan menarik sebuah kursi untuk Silvia. Saat mereka sudah duduk Abraham mengambilkan makanan untuk Silvia. Itu dia lakukan supaya terlihat mesra didepan ibunya.


Ibunya tampak sedang berbicara dengan Jenny sedangkan Silvia makan dalam diam begitu juga dengan Abraham, dia makan sambil sesekali melirik kearah Silvia.


"Silvia, berapa umurmu?" Monica memecah keheningan diantara mereka.


"24 tahun aunty."


"Aduh, panggil aku mommy jangan aunty."


Silvia hanya tersenyum sedangkan Jenny tambah kesal!


"Apa kau orang sini?" tanya Monica lagi.


"Ya begitulah." jawab Silvia asal.


"Oh ya, kenalkan ini Jenny. Tadinya ingin aku jodohkan dengan Abraham. Jenny baru kembali dari Inggris karena dia baru saja menyelesaikan pendidikannya disana."


"Oh hai." Sapa Silvia tapi Jenny hanya mendengus kesal.


"Aunty, jangan begitu. Aku malu jika sampai dia tahu aku hanya kuliah di University of Cambridge." ujar Jenny sedikit merendah, padahal dia ingin menyombongkan dirinya didepan Silvia.


"Wow, itu Universitas nomor 2 di Inggris." ujar Silvia kagum.


"Benar, tadinya aku ingin kuliah di Oxford, tapi aku lebih suka di Cambridge."


"Oh ya? Aku rasa University of Oxford tidak sembarangan menerima murid dan jika ada yang nomor satu kenapa harus memilih yang nomor dua."


"Jangan asal bicara, orang sepertimu mana tahu tentang Universitas Oxford! Itu Universitas yang paling terkenal di Inggris!" Jenny mulai tampak kesal.


"Hei santai saja, jangan marah. Aku tahu karena aku lulusan disana."


"Apa?" wajah Jenny langsung merah padam.


Karena malu Jenny langsung bangkit berdiri, dia juga berkata, "Aunty aku mau pulang!"


"Jenny, kau bahkan belum selesai makan."


"Maaf aunty, aku mau pulang."


"Baiklah jika itu keinginanmu, berhati-hatilah."


Jenny mendengus kesal, sebelum pergi dia menatap Silvia dengan tajam, wanita yang telah mempermalukkannya, awas saja!


Silvia memakan makanannya dengan santai sedangkan Abraham tampak tersenyum dengan puas, tanpa perlu bersusah payah ternyata Silvia bisa mengusir Jenny.


"Ternyata wanita ini boleh juga!" katanya dalam hati.