Falling in Love with You

Falling in Love with You
Kecewa



Selama diperjalanan, Silvia hanya memandangi bangunan-bangunan yang mereka lewati.


Dia sudah berada didalam mobilnya saat ini, begitu pergi dari kantor Abraham dia langsung meminta Dave untuk menjemputnya.


Sedari tadi dia selalu memegangi bagian tubuhnya yang masih terasa sakit karena terkena paper bag yang dilemparkan Abraham kearahnya, jangan-jangan ada lebam disana?


Sesekali Dave melirik putri majikannya dari kaca spion yang ada, begitu masuk kedalam mobil Silvia hanya diam saja dan tampak termenung.


Dave jadi sangat penasaran, sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Abraham Achilles terhadap putri majikkannya?


Kecurigaannya semakin bertambah saat melihat paper bag yang dibawa kembali oleh Silvia dan juga Silvia hanya sebentar saja menemui Abraham.


Hal itu sangat aneh karena biasanya Silvia akan lama menemui Abraham Achilles, apa Abraham sedang tidak ada saat ini? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu diantara mereka berdua.


Selama ini dia tahu Abraham Achilles orang seperti apa, tapi jika pria itu berani melakukan sesuatu terhadap putri majikannya maka tidak akan dia biarkan.


Jika sampai dia tahu awas saja, sebelum majikkannya turun tangan dia yang akan pasang badan terlebih dahulu untuk menghadapi Abraham Achilles.


"Nona."


"Ya?" Silvia memaling wajahnya dan melihat punggung Dave.


"Apa Abraham Achilles melakukan sesuatu terhadap nona?"


Silvia hanya tersenyum dan kembali fokus memandangi bangunan yang mereka lewati.


"Tidak Dave, kau tidak perlu khawatir."


"Nona jika memang dia berani berbuat jahat pada nona katakan padaku, aku akan mengutus seorang pembunuh untuk menghabisinya!"


Silvia langsung tertawa, dia tahu Dave menghawatirkannya tapi dia tidak ingin melibatkan Dave dalam masalah yang sedang dihadapinya apalagi ini hanyalah masalah sepele yang tidak perlu dibesarkan.


"Tidak perlu Dave, untuk menghabisinya memang mudah tapi aku tidak ingin melibatkanmu. Aku hanya pendatang disini dan jangan sampai setelah menghabisinya kau malah masuk penjara dan mati disana."


"Tapi nona, aku rasa kita harus memberinya pelajaran yang setimpal jika dia berani menyakiti nona."


"Benar, jika kau ingin memberinya pelajaran cukup lemparkan kotoran padanya setiap hari." ujar Silvia bercanda.


"Itu ide yang bagus, akan segera aku lakukan."


Silvia langsung tertawa, dia mulai membayangkan ekspresi Abraham saat dirinya dilempari dengan kotoran, mungkin pria itu akan langsung shok dan tidak berani untuk keluar rumah.


Mungkin akan sangat menyenangkan jika hal itu terjadi dan mungkin ini adalah balasan yang bagus untuk membalas perbuatan Abraham terhadapnya. Jika lain kali Abraham berani memperlakukannya dengan kasar lagi maka dia tidak akan segan-segan untuk melempar pria itu dengan kotoran.


"Dave."


"Ya nona."


"Kita kepanti asuhan."


"Baik nona, apa nona sudah mendapatkan tanah itu?"


Sekarang dia ingin kepanti asuhan untuk mengatakan jika dia gagal mendapatkan lahan panti itu karena dia tidak mau bertemu lagi dengan Abraham Achilles dan mengemis pada pria itu.


"Tidak Dave, aku pikir dari pada aku membeli lahan itu lebih baik aku membeli lahan lain dengan sebuah bangunan diatasnya, itu bisa jadi tempat baru untuk anak-anak. Lagi pula Abraham tidak mau menjual lahan itu sampai kapanpun jadi tidak ada gunanya mengemis padanya."


"Itu bukan ide yang buruk nona, aku akan mencarinya mulai sekarang."


"Terima kasih Dave, sekarang aku ingin kepanti asuhan untuk mengatakan kepada suster Maria dan menanyakan hal ini, semoga mereka mau pindah ditempat yang aku sediakan nanti."


Dave mengangguk dan tersenyum, dia sangat tahu bagaimana keluarga Smith karena dia sudah melayani keluarga itu sejak lama. Mereka memang menakutkan bagi para orang yang berani melawan mereka tapi sebenarnya mereka memiliki hati yang sangat baik.


Itulah sebabnya dia tidak kaget sama sekali saat putri majikannya ingin membantu para anak panti padahal bisa saja nona mudanya diam saja dan pura-pura tidak tahu.


Mereka memiliki hati bagaikan malaikat dan tidak bisa tinggal diam saja saat melihat orang yang mengalami kesulitan bahkan mereka rela mengeluarkan uang berapapun juga untuk menolong orang itu karena bagi mereka uang bukan jadi soal.


Setelah tiba dipanti asuhan, Silvia turun dari mobilnya dan sebelum memasuki panti asuhan itu dia menarik nafasnya sejenak.


Dia harap suster Maria dan anak-anak tidak kecewa karena dia tidak berhasil mendapatkan tanah itu,dia juga berharap anak-anak mau pindah ketempat yang dia beli nanti untuk menjadi rumah baru mereka.


Silvia segera berjalan memasuki panti asuhan, suasana tampak sepi mungkin karena anak-anak panti sedang tidur siang tapi ini hal yang bagus karena dia tidak mau para anak panti mendengar kegagalannya.


Saat sudah didalam dia langsung disambut oleh para suster yang ada disana, dia berkata kepada para suster yang ada disana jika dia ingin bertemu dengan suster Maria tapi sayang suster Maria sedang pergi dengan beberapa anak kesuatu tempat untuk menggalang dana.


Silvia tampak kecewa, padahal dia sangat ingin mengutarakan niatnya tapi tidak apa-apa, besok dia akan datang lagi jadi dia memberi tahu kepada suster yang ada disana jika besok dia akan datang lagi untuk menemui suster Maria.


Karena suster Maria tidak ada jadi Silvia memilih untuk pergi dari sana, dia memerintahkan Dave untuk membawanya pulang karena dia ingin beristirahat.


Tadi pagi dia bangun pagi sekali untuk membuat makanan dan merasa lelah jadi lebih baik dia pulang untuk beristirahat dan besok dia akan kembali lagi kepanti asuhan untuk membicarakan hal penting kepada suster Maria.


Sedangkan ditempat lain seorang pria tampak uring-uringan tidak jelas, pria itu ya Abraham.


Dia tampak hanya mondar mandir didalam ruangannya karena dia begitu penasaran dengan Silvia.


Siapa sebenarnya Silvia? Kenapa wanita itu tidak mau mengatakan siapa dirinya sebenarnya?


Jujur saja dia sangat penasaran saat ini dan dia sangat ingin tahu tentang wanita yang tidak takut padanya sama sekali.


"Sialan! Rasa penasaran ini bisa membunuhku!" makinya kesal.


Abraham berjalan kearah jendela dan melihat kebawah sana, seharusnya dia tidak mengusir Silvia dengan begitu cepat.


Seharusnya dia mengusir Silvia setelah dia tahu siapa sebenarnya wanita itu dan lihatlah, dia benar-benar penasaran setengah mati terhadap Silvia.


Seorang wanita yang datang tiba-tiba dan menatangnya bahkan wanita yang tidak takut sedikitpun terhadapnya.


Mungkin jika mereka bertemu lagi dia akan menanyakan hal ini sampai tuntas karena dia benci rasa penasarannya.


Dia berharap Silvia datang lagi besok untuk menemuinya dan besok dia akan membiarkan wanita itu masuk kedalam ruangannya. Pada saat itu dia akan membuat rasa penasarannya hilang dan memaksa Silvia untuk mengatakan dari keluarga mana dia berasal.


Kenapa Silvia berkata bisa menghancurkan dirinya dengan mudah? Sungguh dia ingin tahu!