
Entah kenapa Abraham jadi kesal saat melihat Silvia sedang memasuki restoran itu sambil menggandeng tangan seorang pria disisinya.
Apakah pria itu pacarnya? Siapapun itu dia tidak perduli walaupun sebenarnya dia kesal. Kebetulan bertemu disana dan inilah saatnya meminta Silvia untuk membalas budi dan memintanya berpura-pura menjadi pacarnya didepan ibunya.
Abraham berjalan menghampiri Silvia dengan cepat dan pada saat Silvia hendak duduk dia langsung memegangi tangan Silvia.
Silvia sangat kaget begitu juga dengan Jimy, mereka berada direstoran itu karena Jimy ingin membalas kebaikan Silvia yang telah memberinya makanan waktu itu.
Silvia melotot pada Abraham sedangkan Abraham menatapnya dengan tajam, dia juga melirik kearah Jimy dengan ujung matanya. Siapa pria itu?
"Hei tuan, kenapa kau memegangi tangannya?" Jimy tampak kesal saat melihat tangan Silvia dipegangi oleh Abraham.
"Ini bukan urusanmu!" jawab Abraham dengan sinis.
"Tuan bisa kau lepaskan tanganku?" pinta Silvia dengan sopan.
Kenapa Abraham ada disana?dan untuk apa Abraham memegangi tangannya? Bukankah seharusnya mereka berpura-pura tidak saling mengenal jika mereka bertemu. Lalu ada maksud apa Abraham melakukan semua ini?
"Tidak! Ayo ikut denganku!" Abraham mulai menarik tangan Silvia tapi Jimy menahan bahu Abraham.
"Hei tuan, jangan bersikap kasar pada seorang wanita!"
"Jangan menyentuhku!" Abraham mengibaskan tangan Jimy dari bahunya dan tampak marah.
"Tā shì shéi?"
(Siapa dia?) tanya Jimy pada Silvia.
"Wǒ bù zhīdào."
(Aku tidak tahu) jawab Silvia.
"Hei, jangan berbicara bahasa Mandarin didepanku!" bentak Abraham kesal.
"Tuan, kalian tidak saling mengenal lalu untuk apa kau memegangi tangannya, lepaskan!" Jimy semakin kesal.
"Aku memang tidak mengenalmu tapi aku mengenalnya!" Abraham membentaki Jimy dengan kencang sampai tamu retoran melihat kearah mereka.
"Bisa kau tidak membentaki temanku!" Silvia mulai marah.
Ini sungguh memalukan, sekarang mereka sudah jadi bahan tontonan oleh orang-orang yang ada disana.
Teman? Saat mendengar hal itu Abraham merasa lega, ternyata hanya temannya saja.
"Baiklah maafkan aku, ayo ikut denganku, aku butuh bantuanmu." Abraham mulai bersikap dengan lembut.
"Tidak mau! Untuk apa aku mengikutimu!" tolak Silvia.
"Ayolah, kau tidak lupa bukan? Kau punya hutang budi padaku."
"Hei tuan Abraham, aku akan membalas budimu tapi nanti!"
"See!" Abraham menaikkan satu alisnya dan tersenyum dengan sinis.
"Bukankah kau bilang tidak mengenalku tadi?"
"Sialan! Aku kelepasan!" maki Silvia dalam hati.
Jimy hanya bisa diam menyaksikan mereka berdua, dilihat bagaimanapun kedua orang itu saling mengenal tapi kenapa Silvia mengatakan jika dia tidak mengenal pria itu tadi?
"Tuan Abraham, bisa lain kali saja balas budinya? Aku sedang ingin makan malam dengan sahabatku." pinta Silvia.
"Tidak bisa! Aku maunya sekarang!"
"Ck!" Silvia berdecak kesal, perdebatan ini tidak akan pernah selesai.
Jujur saja dia sudah sangat tidak enak hati pada Jimy yang sedari tadi melihat mereka berdua dengan wajah kebingungan.
"Silvia, tidak apa-apa. Kita bisa makan lain kali dan selesaikan permasalahanmu dengannya." ujar Jimy.
"Maafkan aku Jimy."Silvia benar-benar tidak enak hati sedangkan Abraham tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah selesai bukan? Ayo ikut denganku!"
"Baiklah tapi bisa kau lepaskan tanganku? Kita ini tidak pacaran dan hanya orang asing!"
"Mulai malam ini kau jadi pacarku!" jawab Abraham dengan cepat.
"Apa? Hei apa maksudmu?"
Abraham tidak menjawab, dia mulai menarik tangan Silvia dan membawanya pergi.
"Tuan Abraham bisa kau jelaskan terlebih dahulu apa maksud ucapanmu itu?"
"Dengar nona Silvia, mulai malam ini kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan tuan lagi. Mulai malam ini kita harus saling memanggil dengan mesra. Kita harus bersikap mesra didepan ibuku nanti."
"Cih, aku tidak sudi!"
"Tapi kau harus melakukannya!"
"Atas dasar apa aku harus mengikuti perkataanmu?"
"Kau harus melakukannya karena aku telah menyelamatkan nyawamu."
Memang tidak bisa dipungkiri Abrahamlah yang telah menyelamatkannya tapi kenapa harus jadi pacarnya?
Abraham menyunggingnya bibirnya dan menggandeng tangan Silvia menuju ruangan dimana ibunya sedang menunggunya.
Sekarang ibunya tidak akan lagi memaksanya untuk berhubungan dengan Jenny dan Silvia adalah orang yang tepat untuk dijadikan pacar pura-puranya.
Saat mereka tiba didepan ruangan dimana ibunya dan Jenny telah menunggu, Abraham melingkarkan tangannya dipinggang Silvia, dia juga meraih tangan Silvia agar memeluki pinggangnya. Itu dia lakukan agar mereka terlihat mesra didepan ibunya nanti.
"Hei tunggu dulu."
"Ada apa lagi?"
"Siapa yang harus aku temui."
"ibuku."
"Bagus, kau menipu ibumu sendiri!"
"Ini aku lakukan supaya aku tidak berhubungan dengan wanita yang ada didalam sana!"
"Lalu kenapa harus melibatkan aku!"
"Ini hanya kebetulan jadi sebaiknya kita bersikap seolah-olah kita ini pacaran dan jangan banyak bicara, cukup duduk diam saja supaya ibuku tidak curiga!".
"Kau kira aku manekin?"
"Sudahlah, ibuku bisa marah jika terlalu lama."
"Bukan urusanku!" desis Silvia kesal.
"Ayolah kau harus balas budi dan ingat jangan banyak bicara." Abraham membawa Silvia masuk kedalam ruangan itu dan pada saat melihat kedatangan mereka Monica dan Jenny langsung bangkit berdiri.
Mereka melihat penampilan wanita yang berada disamping Abraham dari atas sampai kebawah.
Wanita itu terlihat cantik dengan guan cheongsam berwarna hitam dengan motif bunga bunga berwarna merah, gaun yang hanya panjangnya sampai diatas lutut saja.
Wanita itu seperti wanita China pada jaman kuno apalagi rambut hitamnya dikepang disisi kanan dan sisi kirinya lalu disanggul ketas, sedangkan jepitan-jepitan bunga kecil menghiasi rambutnya untuk mempercantik penampilannya.
"Aunty." Jeny memegangi tangan Monica, dia mulai khawatir sekarang.
"Jangan khawatir, belum tentu wanita itu pacarnya." bisik Monica.
Jenny hanya mengangguk, dia juga berharap wanita itu bukan pacar Abraham dan hanya temannya saja.
"Mom, aku sudah membawanya." Abraham mengencangkan pelukannya dipinggang Silvia sedangkan Silvia berusaha tersenyum.
"Oh baguslah, ayo duduk."
"Wǎn'ān, wǒ jiào chén xiǎo xuān."
(Selamat malam, namaku chén xiǎo xuān.) Silvia membungkuk didepan ibu Abraham.
"What?" ujar Abraham dan ibunya secara bersamaan.
"Hei, jangan pakai bahasa Mandarin." bisik Abraham.
"Hǎo ba."
(Baiklah) Silvia mengedipkan sebelah matanya kepada Abraham.
Abraham memijit pelipisnya, kenapa harus memakai bahasa Mandarin? Bisa-bisa ibunya tidak akan percaya jika seperti ini.
"Hei Abraham, memangnya pacarmu tidak bisa berbicara bahasa Inggris?" Monica melotot kearah putranya.
Dia yakin wanita China itu adalah wanita yang putranya temukan diluar sana untuk menjadi pacar pura-puranya.
"Tentu saja bisa?"
"Lalu kenapa dia menyapa kita dengan bahasa Mandarin?"
"Aku tidak tahu!"
"Kau menipu mommy ya?"
"Tidak, dia sungguh pacarku."
Monica melihati Silvia kembali sedangkan Silvia hanya tersenyum saja, jangan pikir Abraham bisa memanfaatkannya dengan mudah.
"Hmm..baiklah, siapa namamu?" Monica mulai bertanya.
"Namanya Silvia." Jawab Abraham.
"Aku tidak bertanya padamu!"
"Mom,aku sudah membawanya bukan? Lalu apa lagi?"
"Aku tidak percaya padamu! Jika dia memang pacarmu maka malam ini bawa dia pulang dan kalian harus tinggal bersama dan tidur bersama!"
"Apa?" Semua yang ada disana begitu kaget kecuali Monica.
Jenny memandangi Silvia dengan tajam, awas saja wanita China itu.