Falling in Love with You

Falling in Love with You
Didalam kamar



Saat didalam kamar mandi,Silvia berdiri didepan cermin sambil membuka kepangan rambutnya.


Dia benar-benar memikirkan keputusan yang harus dia ambil nanti, dia tidak boleh sembarangan mengambil keputusan karena sandiwara ini akan merugikan dirinya sendiri.


Mungkin dia harus berbicara dengan ibu Abraham dan menjelaskan semuanya, ya mungkin ini lebih baik, dia akan menjelaskan semuanya pada ibu Abraham dan dia tidak mau terjebak didalam kamar itu selama dua minggu dengan Abraham.


"Baju yang kau inginkan!" ujar Abraham dari luar sana.


Silvia membuka pintu kamar mandi dan tampak Abraham sedang berdiri diluar sana dengan sebuah baju kaos ditangannya.


"Terima kasih."


Silvia mengambil baju kaos dari tangan Abraham dan hendak masuk kembali tapi Abraham memegangi bahunya.


"Apa perlu aku bantu?"


"Apa?" Silvia bertanya dengan sinis.


"Jangan seperti ini, apa kita tidak bisa berdamai untuk sesaat saja?"


"Tidak karena aku benci padamu!"


"Aku tahu, tapi sekarang aku akan bersikap baik padamu jadi kemarilah, aku akan membantumu membuka kepangan rambutmu."


Silvia diam saja sedangkan Abraham sudah masuk kedalam kamar mandi, Silvia berdiri didepan cermin kembali dan Abraham berdiri dibelakangnya untuk membuka kepangan rambutnya.


Mereka merdua diam saja sedangkan Abraham tampak begitu serius membuka kepangan rambut Silvia, ini sedikit gila, kenapa dia malah menawarkan diri dan mau melakukan hal itu?


Entah kenapa begitu melihat kepangan rambut Silvia yang belum terbuka membuatnya ingin melakukannya.


"Parfum apa yang kau pakai?" tanyanya saat aroma manis tubuh Silvia masuk kedalam indra penciumannya.


"Untuk apa kau tahu?"


"Bisa kau jawab pertanyaanku tanpa membuatku kesal!"


"Ini hakku mau menjawab pertanyaanmu atau tidak!"


"Ck, baiklah. Aku hanya ingin tahu parfum apa yang kau pakai karena aku suka wanginya! Aku berniat membelikan parfum itu jika aku sudah punya pacar nanti!" ujar Abraham kesal.


Silvia diam saja, banyak parfum didunia ini lalu kenapa Abraham ingin tahu parfum apa yang dia pakai? Terus terang saja parfum yang dia pakai tidak dijual karena parfum itu adalah parfum spesial yang dipesannya pada seorang pembuat parfum bahkan dia sudah membeli parfum itu hanya untuk dirinya sendiri dan tidak boleh dijual kepasaran.


Bahkan dilogo botol parfum yang dia pakai terukir namanya dan parfum itu sudah paten jadi miliknya sampai dia bosan.


"Hei kenapa kau tidak menjawab?"


"Kau tidak akan bisa membeli parfum yang aku pakai sampai kapanpun juga kerena parfum yang aku pakai tidak dijual dipasaran!"


"Wow, apa itu merk terkenal yang hanya ada 10 didunia?"


"Tidak! Jadi keluar sana karena aku mau mandi!"


Setelah kepangan rambut Silvia selesai dibuka, Abraham berjalan keluar dari kamar mandi.


Dia berjalan kearah ranjang dan duduk disisinya sambil bertanya dalam hati, kenapa dia begitu penasaran pada Silvia?


Selama ini dia tidak pernah penasaran terhadap wanita manapun dan jujur saja Silvia adalah wanita pertama yang membuatnya sangat penasaran.


Abraham mengusap wajahnya frustasi, lama-lama dia bisa gila jika seperti ini terus karena rasa penasarannya yang semakin tinggi.


Dia melirik kearah meja dimana tas Silvia berada, mungkin dia harus melihat identitas Silvia disana untuk menjawab rasa penasarannya.


Melakukan hal ini tidak termasuk tidak kriminal bukan? Dia hanya ingin melihat identitas Silvia saja setelah itu dia akan mengembalikkan identitas wanita itu kembali kedalam tasnya.


Tanpa menunggu lagi Abraham berjalan kearah tas Silvia, mumpung Silvia sedang mandi jadi dia akan melakukan niatnya dengan cepat.


Abraham meraih tas Silvia dan duduk diatas sofa, dia meletakkan tas Silvia diatas pangkuannya dan mulai membukanya.


Matanya mulai mencari-cari didalam sana dan didalam sana ada ponsel, dompet, make up, tisu, tisu dan tisu dari yang basah sampai yang kering juga ada.


"Cih, dasar wanita!" gerutunya.


Dia mulai mengambil dompet Silvia dan melirik kearah kamar mandi, dia khawatir jika Silvia tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan melihat aksinya.


"Sialan! Aku sudah seperti seorang pencuri!" makinya.


Abraham mulai membuka dompet Silvia dan wow, semua credit card yang ada didalam sana no limit! Dia jadi semakin penasaran, siapa sebenarnya Silvia?


Saat dia sudah menemukan kartu identitas Silvia dan mengambilnya tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar mandi, Abraham langsung gugup sedangkan kartu identitas Silvia jatuh keatas lantai.


Ini benar-benar menegangkan dan jangan sampai Silvia tahu apa yang dia lakukan kalau tidak dia akan dikira pencuri oleh wanita itu.


Silvia melihat Abraham dengan heran, apa yang dilakukan Abraham disana?


"Sedang apa kau?" tanyanya curiga.


"Tidak ada, aku sedang mengecek apakah sofa ini empuk untuk ditiduri nanti?"


"Oh kau mau tidur diatas sofa, bagus." Silvia meraih tasnya dan berjalan kearah ranjang sedangkan Abraham bangkit berdiri dan mengikuti Silvia.


"Hei jangan tidur diatas tempat tidurku, aku tidak suka!jadi sebaiknya kau tidur disofa!"


"Tidak mau, kau saja yang tidur disana!"


"Jangan coba-coba kalau tidak aku akan menerkammu!"


"Aku ingin lihat, apa kau berani?" Silvia meletakkan tasnya dan naik keatas ranjang, dia tidak perduli dengan kekesalan Abraham.


Silvia mengambil sebuah bantal dan merebahkan diri disana, Abraham benar-benar kesal, beraninya wanita itu tidur disaat ranjangnya!!


"Hei turun kau dari atas ranjangku!" teriaknya marah.


"Tidak mau!"


"Kau yang memulai ini!"


Abraham naik keatas ranjang dan merangkak diatas tubuh Silvia, Silvia melotot tidak percaya, mau apa pria ini?


Dia segera memundurkan tubuhnya tapi Abraham terus mendekatinya dengan senyum licik diwajahnya,


"Mau apa kau?"


"Melewatkan malam indah denganmu sayang."


"Kurang ajar! Jangan coba-coba menyentuhku!"


"Kau yang memulai duluan!"


Abraham mendekatkan wajahnya sedangkan Silvia semakin gugup, dia kira simodel celana dalam yang mengidap OCD tidak berani menyentuhnya tapi ternyata pria itu tidak main-main.


"Jangan sentuh aku model celana dalam!"


Silvia mengangkat kakinya dan dengan sekuat tenaga dia menendang Abraham hingga Abraham langsung terjungkal diatas lantai.


"Gubrak!!" suara itu sampai didengar oleh Monica diluar sana, dia sedang mencuri-curi dengar didepan pintu karena penasaran apa yang sedang dilakukan oleh putranya didalam sana.


Saat mendengar suara itu Monica langsung membuka pintu kamar putranya.


"Hei apa yang kalian lakukan?"


Dia tampak begitu senang saat melihat putranya sedang berada diatas tubuh Silvia dan sedang memegangi kedua tangan Silvia.


"Oh good boy." ujar Monica dalam hati.


"Sory, silahkan kalian lanjutkan." Monica menutup pintu kamar itu kembali dan tampak senang. Ternyata putranya mulai bergerak cepat.


Setelah ditendang oleh Silvia tadi Abraham langsung naik keatas ranjang dan menerkam Silvia, dia sangat kesal karena Silvia berani menendangnya.


Tapi pada saat dia hendak mencium Silvia, ibunya malah membuka pintu kamarnya hingga dia menghentikan aksinya.


"Lepaskan, lepaskan!" Silvia mulai memberontak,bagaimanapun dia kalah tenaga.


"Cih, mommy mengganggu saja!" maki Abraham kesal.


"Apa maksudmu? Cepat lepaskan!" Silvia sudah tampak begitu kesal.


"Aku akan melepaskanmu tapi kau harus tidur disofa dan jangan disini!"


"Aku juga tidak mau tidur disini jadi lepaskan!"


Abraham melepaskan Silvia dan pada saat itu dengan cepat Silvia langsung bangun dan lari kearah sofa.


"Abraham Achilles, tunggu saja pembalasanku!" katanya dalam hati.


Sepertinya malam itu dia memang harus tidur diatas sofa dan dia sangat bersyukur, ibu Abraham membuka pintu kamar itu diwaktu yang tepat, hampir saja.


Abraham tampak sedikit kecewa dan berkata dalam hati, "Mommy menyebalkan, mengganggu saja!"