
Setelah dari kamar mandi Abraham kembali kedalam dapurnya, Silvia terlihat sedang sibuk membuat makanan.
Rambut panjangnya diikat begitu saja tapi Silvia terlihat begitu cantik, entah kenapa dia senang melihatnya.
Abraham kembali duduk ditempatnya, memperhatikan Silvia yang bergerak kekanan dan terkadang bergerak kekiri bagaikan kupu-kupu untuk mencari sesuatu.
Entah apa yang dibuat Oleh Silvia tapi dari aromanya sepertinya itu enak, jujur saja dia jadi lapar sekarang.
"Ck, bisa tidak lemari ini lebih tinggi lagi!" geruru Silvia kesal.
Dia tampak sedang berjinjit untuk menggapai sesuatu diatas sana dengan susah payah.
"Apa yang ingin kau ambil?" Abraham bangkit berdiri dan menghampiri Silvia.
"Tolong ambilkan itu!" Silvia menunjuk sebuah benda yang ada diatas sana.
"Apa?" Abraham tidak mengerti.
"Panci yang itu kau lihat, kenapa peralatan memasakmu susah dicari dan ada diatas sana?"
"Jarang digunakan jadi disimpan disana!"
"Kalau begitu ambilkan panci itu, sudah jarang digunakan lemaripun tingginya minta ampun!" ujar Silvia kesal.
"Lemari itu tidak tinggi, kau saja yang pendek!"
"Apa kau bilang?"
Tiba-tiba saja Abraham mengangkat tubuh Silvia dari belakang, hal itu membuat Silvia sangat kaget.
"Hei, kenapa kau mengangkatku?" teriaknya.
"Sudah sana ambil! Disana banyak barang mana aku tahu panci mana yang kau butuhkan!"
"Ck!" Silvia mulai mengambil panci yang dia butuhkan, ya dia ingin membuat sup dengan bahan yang ada dan dia memerlukan panci itu.
"Sudah, turunkan aku!" pinta Silvia saat sudah mendapatkan pancinya.
Abraham segera menurunkan Silvia dan berdehem pelan, dia langsung melangkah pergi dan duduk kembali dimeja makan sedangkan Silvia kembali sibuk membuat sup.
Dia melirik kearah Abraham yang melihatnya sedari tadi, untuk apa melihatnya seperti itu? Apa Abraham tidak pernah melihat seseorang sedang memasak?
Dia tidak mau memperdulikan hal itu karena saat ibu Abraham kembali dia mau pulang dan tidur, tapi lama-lama rasanya tidak nyaman juga menjadi sebuah pusat perhatian.
"Hei!" Silvia menatap Abraham dengan tajam.
"Apa?"
"Mau sampai kapan kau melihatku seperti itu?"
"Kenapa? Aku punya mata jadi aku berhak melihatmu sampai aku puas."
"Ck sana pergi tidur, bukankah kau sedang sakit? Atau jangan-jangan kau dan ibumu bekerja sama utuk menipuku!"
"Jangan asal bicara, siapa yang menipumu!" sangkal Abraham. Walau sebenarnya dari awal dia memang tidak sakit dan sakitnya ini dia dapat karean ibunya yang super tega.
"Jika begitu sebaiknya kau pergi beristirahat, jika sudah selesai aku akan membangunkanmu."
Silvia berkata dengan lembut sekarang dan hal itu membuat Abraham senang, apa Silvia menghawatirkannya?
"Baiklah, aku akan beristirahat." Abraham bangkit berdiri dan berjalan pergi sedangkan Silvia kembali membuat makanannya yang tertunda.
Dia tampak begitu serius membuat makanan tapi sayang sekali bahan makanan yang ada hanya sedikit, jika ada banyak mungkin dia bisa membuat banyak makanan dan menyimpannya didalam kulkas.
Dia bisa membuat berbagai macam makanan jika bahan makanan ada, dengan begitu saat Abraham ingin makan dia bisa memanaskannya di Microwave.
"Oh Silvia apa yang kau pikirkan? Untuk apa kau begitu perduli dengan pria jahat dan sombong itu?"
"Biarkan saja dia mati!jika perlu racuni makanan yang sedang kau buat ini!" gumamnya.
Biarpun dia berkata demikian tapi dia tetap melanjutkan memasaknya, mungkin membuat minuman hangat untuk Abraham akan membuat tubuh pria itu lebih hangat.
Tidak lama kemudian, makanan yang dia buatpun jadi, Silvia memasukkan sup yang dibuatnya kedalam sebuah mangkuk, dia juga membuat minuman hangat dan setelah itu Silvia membawanya masuk kedalam kamar Abraham.
Abraham tampak sudah tertidur jadi dia meletakkan makanan dan minuman itu diatas meja, sebaiknya dia beristirahat karena dia juga merasa lelah.
"Tǎoyàn de rén!"
(Pria menyebalkan!) gumamnya.
Silvia hendak beranjak pergi tapi dia urungkan saat melihat Abraham, tanpa ragu Silvia naik keatas ranjang. Dia juga mendekati Abraham sedangkan tangannya mulai menyentuh dahi Abraham untuk mencoba suhu tubuh Abraham.
Silvia hendak menarik tangannya kembali tapi tiba-tiba saja Abraham memegangi tangannya dan menatapnya dengan tajam.
"Mau apa?"
"Tidak ada!" Silvia ingin menarik tangannya kembali tapi pada saat itu Abraham sudah menariknya hingga Silvia jatuh diatas tubuh Abraham.
"Hei!" Silvia hendak bangun dari atas tubuh Abraham.
"Kau sudah gila ya!" Silvia tampak kesal.
"Oh ayolah, bukankah kau bilang akan bertanggung jawab dan merawatku sampai sembuh?"
"Benar!"
"Maka dari itu temani aku tidur dan peluk aku,aku sedang kedinginan."
"Aku tidak mau dasar kau pria gila!"
"Kau tidak bisa menolak!"
"Aku bisa menolak dan aku bisa melakukan apapun yang aku mau terhadapmu!"
"Ck, kau harus balas budi bukan?"
"Bukannya sudah!"
"Belum, apa kau lupa nona Silvia?waktu kau kedinginan dikantorku siapa yang memelukmu dan menghangatkan tubuhmu?"
"Siapa yang tidur denganmu dan memelukmu sampai keadaanmu membaik?" tanya Abraham sedangkan sebuah senyuman licik menghiasi wajahnya.
"Oh sialan! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!" maki Silvia kesal.
"Aku tidak mencari kesempatan dalam kesempatan Silvia, aku hanya memintamu membalas budi."
"Oh astaga, aku benar-benar benci padamu dan aku sangat sial harus mengenal pria sepertimu!"
Abraham diam saja dan semakin mengencangkan pelukannya, entah kenapa dia sangat ingin seperti itu. Apa semua ini karena sakitnya? Dia juga tidak tahu!
"Hei tuan Abraham!"
"Jangan memangilku tuan, pangil saja namaku!"
"Bukankah kau Mysophobia?"
"Benar?"
"Lalu kenapa kau begitu mudah memelukku? Asal kau tahu aku baru selesai memasak dan aku berkeringat! Apa kau tidak merasa jijik padaku?"
Abraham tidak menjawab, jujur saja dia juga tidak tahu kenapa bisa menyentuh Silvia dengan mudah seolah-oleh tidak seperti dirinya yang biasanya.
Saat menyentuh Silvia dia juga tidak merasa jijik, dia benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa bersikap biasa saja terhadap Silvia.
"Entahlah." jawabnya dengan malas.
"Kau harus ingat ini Abraham, setelah ini aku tidak punya hutang budi lagi padamu!"
"Akan aku ingat."
Silvia turun dari atas tubuh Abraham dan merebahkan dirinya disisi Abraham, hanya menemani pria itu tidur saja bukan?
Akan dia lakukan dan setelah ini dia tidak punya hutang budi apapun lagi pada Abraham Achilles dan dikemudian hari dia tidak akan mau menghiraukan pria itu lagi.
"Silvia."
"Apa?"
"Kenapa kau tidak menginginkan lahan panti itu lagi?" Abraham penasaran dengan hal ini.
"Kau tidak perlu tahu!"
"Kenapa? Apa kau tidak jadi menolong anak-anak panti?"
"Aku pasti akan menolong mereka tapi dengan caraku sendiri!"
"Oh ya, apa itu? Katakan!"
"Abraham sebaiknya kau tidur kalau tidak aku akan pergi!"
"Baiklah, kau begitu galak tapi aku suka!"
"Apa?" Silvia mengernyitkan dahinya, apa maksud ucapan Abraham?
"Hei apa maksudmu?" tanyanya.
Abraham diam saja tidak menjawab pertanyaan Silvia sedangkan Silvia mendengus kesal.
"Cih,dasar pria aneh dan menyebalkan!"
Dia diam saja didalam pelukan Abraham dan tanpa mereka sadari,mereka berdua tertidur bersama-sama dan melupakan sup serta minuman hangat yang dibawa oleh Silvia.
Pada saat sore hari, Monica kembali kerumah putranya, dia langsung masuk kedalam kamar Abraham ingin melihat keadaan putranya.
Senyum Monica langsung mengembang diwajahnya saat melihat Abraham dan Silvia tidur diatas ranjang bersama-sama.
Monica tampak begitu senang, drama yang dia ciptakan berjalan dengan sukses!