Falling in Love with You

Falling in Love with You
Apa aku sedang cemburu?



Suara ponsel Silvia yang berada didalam tas membangunkan Silvia dari tidurnya, Silvia mengusap wajahnya dan melihat sekelilingnya, ada dimana dia?


Pada saat itu juga dia langsung teringat, dimana dia berada.


"Oh tidak! Kenapa aku jadi tertidur?jam berapa sekarang?" gumamnya.


Dia langsung bangkit dari tidurnya dan duduk diatas ranjang, kemana perginya Abraham? Kenapa dia sendirian didalam kamar?


Tapi bukan itu yang penting,ini sudah jam berapa? Jika dia tidak pulang maka habislah dia, keluarganya akan curiga dan bisa-bisa dia langsung disuruh pulang.


Silvia melirik jam dipergelangan tangannya, jam 7 malam! Dengan cepat Silvia turun dari atas ranjang dan meraih tasnya, sebaiknya dia segera pulang jika tidak mau keluarganya curiga.


Dia yakin ibu Abraham pasti sudah kembali untuk menjaga putranya jadi dia sudah tidak punya alasan lagi untuk berada disana dan dia yakin Abraham pasti sudah sembuh dari sakitnya.


Silvia keluar dari kamar itu, sebelum pulang dia harus pamit dulu pada ibu Abraham, diluar sana tampak tidak ada orang tapi terdengar suara dentingan sendok didalam dapur.


Dia segera berjalan kesana dengan cepat, didalam sana Abraham sedang makan dengan ibunya,mereka sedang menikmati sup yang dibuatnya tadi siang.


"Hm...Selamat malam." ujar Silvia basa basi.


Pada saat mendengar suara Silvia, Abraham dan Monica melihat kearahnya.vMonica bangkit berdiri dan menghampiri Silvia dengan senyum diwajahnya.


"Silvia sayang, akhirnya kau bangun juga, ayo makan bersama kami."


"Tidak perlu mom, aku harus pulang." tolak Silvia dengan sopan.


"Sudahlah, ayo makan dulu! Nanti Abraham akan mengantarmu pulang!"


Monica menarik tangan Silvia dan membawanya kemeja makan sedangkan Silvia hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah ibu Abraham sampai mereka tiba dimeja makan.


"Ayo duduk, aku dengar kau yang membuat makanan ini?"


"Hmm ya." Silvia segera duduk tapi matanya menatap kearah Abraham, hal itu tidak jauh berbeda dengan Abraham, begitu Silvia masuk kedalam dapur, matanya tidak lepas dari Silvia.


Mereka saling pandang sampai deheman Monica mengalihkan perhatiin mereka berdua.


"Aduh...aduh..kalian berdua, baru aku tinggal sebentar tapi sudah terlihat akrab. Sepertinya aku harus keluar sekarang supaya tidak jadi pengganggu." goda Monica.


"Ck, mommy bicara apa sih? Sebaiknya segera habiskan makanan mommy!" ujar Abraham kesal.


"Wow, kau ingin mommy menghabiskan makanan mommy dengan cepat supaya mommy segera keluar dan kau bisa berdua dengan Silvia ya?"


"Oh my God, mom! Aku tidak mau berbicara denganmu!"


Monica langsung tertawa, entah kenapa dia sangat senang menggoda putranya dan melihat ekspresinya saat ini.


"Mom ini sudah malam, aku harus pulang." pinta Silvia.


"Oh sayang, ini baru jam 7 malam!kita makan bersama terlebih dahulu, setelah itu Abraham akan mengantarmu pulang."


"Tapi mom, dia masih sakit."


"Tenang saja sayang, dia tidak akan mati hanya mengantarmu saja!"


"Tapi aku tidak mau berhutang budi lagi padanya,aku akan segera meminta supirku untuk menjemputku!"


"Hutang budi?" Monica melihat kearah Abraham.


"Yah, aku tidak mau berhutang budi lagi." jawab Silvia.


Monica tersenyum pada putranya, ternyata putranya boleh juga, banyak akal.


"Jangan kau pikirkan sayang, kau sudah menyiapkan makanan ini untuk kami juga merawatnya jadi Abraham akan bertanggung jawab dan mengantarmu. Benarkan sayang?" Monica melihat kearah putranya dan tersenyum, dia harap putranya menjawab iya.


"Hmm...benar aku akan mengantarmu." jawab Abraham.


"Baiklah jika tidak merepotkan."


"Bagus, jadi ayo kita makan bersama-sama."


Silvia mengangguk dan meletakkan tasnya, setelah makan dia akan pulang. Lagi pula besok dia tidak akan datang lagi kesana.


Mereka mulai makan bersama-sama sampai suara ponsel Silvia berbunyi, Silvia menghentikan makannya untuk mengambil ponselnya yang berada didalam tas.


Wajah Silvia langsung berseri saat melihat orang yang menghubunginya, dia segera bangkit berdiri dan berkata:


Monica dan Abraham mengangguk, mereka saling pandang saat melihat wajah Silvia yang tampak begitu senang, siapa yang menghubungi Silvia? Mereka jadi penasaran.


Silvia segera berlalu pergi dan menjawab panggilan yang masuk dari ponselnya.


"Edwar sayang, apa kabarmu?"


Saat Silvia mengatakan hal itu Monica dan Abraham mendengarnya, Edward? Siapa? Apa pria itu pacar Silvia?


"Oh Abraham sayang, sainganmu sungguh banyak!"


"Saingan apa sih!" Abraham tampak kesal, entah kenapa selera makannya jadi hilang.


"Saingan cintamu! Tadi pagi seorang pria China, sekarang seorang pria yang bernama Edward, mungkin besok kau akan dapat saingan baru lagi."


"Apa yang mommy bicarakan, dia bukan pacarku jadi terserah dia mau berhubungan dengan siapa, aku tidak perduli!"


"Apa benar? Apa kau tidak keberatan melihatnya dengan pria lain?"


"Tidak!"


"Sayang sekali wanita secantik dan sebaik Silvia tidak bisa menjadi menantuku!" Monica mulai memancing emosi putranya.


"Wanita seperti dia pasti disukai banyak pria, aku jadi membayangkan dia sedang berduaan dengan pria yang lebih tampan darimu dan tentunya lebih baik darimu!"


"Ck,mommy jangan mengujiku!" ujar Abraham kesal.


"Oh aku tidak mengujimu sayang, asal kau tahu, pria tampan dan keren juga kaya bukan dirimu saja. Apa kau tidak keberatan jika Silvia bersama pria lain?"


Abraham diam saja, memikirkan perkataan ibunya, untuk apa dia keberatan jika Silvia dengan pria lain?


Suatu gambaran muncul dikepalanya, dia mulai membayangkan Silvia bersama dengan pria China yang berani menantangnya tadi pagi bahkan dia juga membayangkan Silvia dipeluk oleh pria bernama Edward, entah kenapa dia jadi membayangkan hal itu padahal dia tidak tahu siapa itu Edward.


Hatinya jadi panas dan dia jadi kesal, entah kenapa dia tidak suka Silvia dekat dengan pria lain.


"Sialan! Apa aku sedang cemburu?" maki Abraham dalam hati.


Monica tersenyum melihat ekspresi wajah Abraham yang berubah, sepertinya pancingannya sukses dan putranya terlihat cemburu.


"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik sayang sebelum dia diambil oleh orang lain."


Abraham diam saja dan pada saat itu Silvia kembali menghampiri mereka bahkan wajahnya tampak begitu senang, hal itu membuat Abraham kesal, apa yang dibicarakan oleh Silvia dan pria yang bernama Edward itu? Sungguh dia sangat penasaran dan ingin tahu.


"Mom, aku sudah selesai dan aku harus pulang, ini sudah malam."


"Oh baiklah, apa besok kau bisa datang kemari sayang?"


"Maaf mom sepertinya tidak bisa, besok aku harus pergi sesuatu tempat."


"Apa kau mau pergi kencan?"


Wajah Abraham tampak menegang saat mendengar pertanyaan dari ibunya, dia sangat ingin mendengar jawaban dari Silvia.


"Tidak mom,aku hanya ingin pergi kesuatu tempat saja."


Abraham langsung tampak lega, syukur deh.


"Begini saja sayang, bagaimana jika kita makan malam bersama besok, aku akan memasak untukmu."


"Tidak perlu mom, kau harus jaga kesehatan dan tidak boleh terlalu lelah. Lagi pula tidak ada bahan makanan didalam kulkas jadi tidak ada yang bisa kita buat juga."


"Besok ikut aku belanja dan ayo aku akan mengantarmu pulang." Abraham bangkit berdiri dan berlalu pergi sebelum mendengar jawaban Silvia, dia tidak mau Silvia membantah ucapannya.


"Oh itu ide yang bagus." Monica tampak senang.


Silvia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, sepertinya dia akan terus terlibat dengan ibu dan anak itu selama dia


ada di Sydney.


"Baiklah, aku akan datang lagi besok." katanya dengan pasrah.


Monica bangkit berdiri dan menghampiri Silvia, mereka berdua keluar dan didepan sana Abraham sudah menunggu Silvia didalam mobilnya.


Silvia berpamitan pada Ibu Abraham sedangkan Monica tampak begitu senang, dia harap putranya bisa membuang egonya untuk mendapatkan Silvia.