Falling in Love with You

Falling in Love with You
Kami hanya bersandiwara



Setelah keluar dari kamar Abraham, Silvia ingin mencari ibu Abraham karena dia ingin berbicara dengannya.


Hari ini dia harus pulang dan dia harus meminta ijin kepada ibu Abraham, dia juga mau menjelaskan semuanya kepada ibu Abraham. Dia tidak mau menipu ibu Abraham terlalu jauh dan dia tidak mau berlama-lama berada dirumah Abraham.


Saat mendengar suara didalam sana Silvia segera menghampiri dimana datangnya suara, ternyata ibu Abraham sedang sibuk membuat makanan didalam dapur.


"Good morning mom." Silvia berjalan kearah Monica dan menyapanya.


"Oh good morning sayang, kau sudah bangun."


Monica segera menghampiri Silvia dan memeluknya, dia sangat senang melihat Silvia ada disana.


"Bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?" godanya.


"Tentu mom, walaupun ada nyamuk besar didalam kamar."


"Ha...ha..ha..ha...ha..!" Monica langsung tertawa.


"Apa nyamuk itu menggigitmu semalam sayang?" tanyanya.


"Tidak! Jika dia menggigitku maka akan aku pukul dia!" Jawab Silvia penuh dengan semangat.


Monica tampak kecewa saat mendengarnya, berarti semalam Abraham belum mengikat Silvia.


"Dasar bodoh, sudah diberi kesempatan tapi malah disia-siakan!" kata Monica dalam hati.


Tapi tidak apa-apa, masih banyak waktu untuk membantu putranya supaya bisa mendapatkan Silvia.


"Apa yang sedang kau buat mom?"


"Hanya sarapan untuk kita bertiga."


"Biar aku yang melakukannya, mommy duduk saja." Silvia menarik sebuah kursi dan mempersilahkan ibu Abraham untuk duduk disana.


Setelah itu dia melihat sarapan yang hendak dibuat oleh ibu Abraham dan belum selesai.


"Aku dengar mommy punya penyakit jantung."


"Benar, penyakitku ini bisa kumat sewaktu-waktu."


"Jika begitu bukankah seharusnya mommy beristirahat saja dan tidak melakukan hal ini? Biarkan pelayan yang melakukannya dan mommy cukup duduk diam saja."


"Kau benar sayang, tapi aku lebih suka melakukan hal ini supaya otot-otot tanganku tidak kaku,lagi pula aku bukan orang yang suka duduk diam saja."


Silvia hanya tersenyum dan meneruskan pekerjaan ibu Abraham yang tertunda sedangkan Monica melihat Silvia dengan senyum diwajahnya, Silvia benar-benar menantu idaman dan dia akan terus berusaha mendekatkan Silvia dan Abraham bagaimanapun caranya.


Dia harap putranya mau bekerja sama denggannya nanti karena menurutnya Silvia dan Abraham bisa jadi pasangan yang serasi.


Setelah selesai membuat sarapan Silvia membawa makanan dan berjalan mendekati ibu Abraham,dia juga menarik sebuah kursi dan duduk disamping ibu Abraham.


"Mom, ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa itu? Katakan padaku!apa kau ingin menikah dengan Abraham dan menjadi menantuku?" goda Monica.


"Tidak, bukan begitu mom."


"Lalu?"


"Mom." Silvia memegangi tangan Monica, dia masih memanggil wanita itu dengan sebutan 'mommy' karena dia menghargainya.


"Maaf sebelumnya jika aku harus mengatakan ini, aku harap mommy mau mengerti dan tidak marah padaku, aku juga harap mommy tidak kecewa padaku dan aku juga berharap kesehatan mommy tidak terganggu hanya karena aku."


"Silvia, aku akan mendengar perkataanmu jadi katakan apa yang ingin kau katakan." Monica membalas pegangan tangan Silvia bahkan mengusap tangan Silvia dengan lembut.


Monica tersenyum dan mengusap wajah Silvia, dia tahu semuanya dan dia tidak kaget saat mendengarnya.


"Maafkan aku kerena telah membantu Abraham untuk menipu mommy, aku membantunya karena aku punya hutang budi padanya. Aku kira semalam sandiwara kami akan selesai tapi ternyata terus berlanjut dan terus terang saja aku merasa sangat tidak enak hati karena telah menipu mommy."


"Aku tahu sayang, aku tahu kalian hanya bersandiwara saja karena aku tidak buta."


"Mommy tahu?" Silvia menatap Monica tidak percaya.


"Tentu saja sayang, aku tahu kalian hanya pura-pura tapi terus terang, aku suka denganmu dan aku harap kalian bisa dekat dan menjalin hubungan nantinya."


"Itu tidak mungkin mom." sela Silvia dengan cepat.


"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan si model celana dalam?" Monica mulai Penasaran, apa putranya kurang menarik?


"Yah, aku tidak suka dengannya. Dia terlalu sombong dan arogan, selama ini kami selalu bertengkar dan mommy bisa melihatnya semalam. Aku dan dia tidak mungkin bisa dekat apalagi saling menjalin suatu hubungan, aku dan Abraham ibarat api dan minyak."


Monica tampak kecewa setelah mendengar perkataan Silvia, apa tidak ada sedikit celah saja supaya dia bisa mendekatkan putranya dengan Silvia?


Tapi dia akan tetap berusaha mendekatkan Silvia pada putranya dan dia harap usahanya berhasil nanti.


"Sayang sekali padahal aku sangat berharap kalian bisa bersama, jujur saja kalian sangat cocok tapi si model celana dalam itu memang terlalu sombong."


"Hmm..siapa yang sombong?" Abraham masuk kedalam dapur dan menyela perkataan ibunya.


"Oh simodel celana dalam sudah bangun!" Monica menatap putranya dengan tajam.


"Mom, kenapa kau memanggilku model celana dalam!" Abraham tampak kesal. Semua ini karena Silvia memanggilnya model celana dalam dan sekarang ibunya juga memanggilnya demikian.


"Benar kata Silvia, kau memang cocok jadi model celana dalam."


"Astaga mom!"


Abraham berjalan pergi untuk mengambil air, sepertinya ibunya mulai menjadi sekutu Silvia sekarang.


"Mom, aku harus pulang." ujar Silvia.


"Kenapa? Apa kau tidak mau berada disini denganku?"


"Bukan begitu mom, aku harus pulang karena keluargaku akan mencariku. Jika mereka tahu aku tidak berada dirumah dan tinggal dirumah orang asing maka kakakku akan mengirim seseorang untuk mengikutiku kemanapun aku pergi dan aku tidak mau hal itu terjadi."


"Benarkah? Kenapa harus begitu?" Monica melihat Silvia dengan lekat. Dia yakin Silvia bukan putri orang biasa.


"Yah, keluargaku tidak mengijinkan aku bermain-main karena mereka takut aku melakukan hal yang tidak benar. Kami selalu menjunjung tinggi kehormatan dan kami selalu diwajibkan menjaga diri kami jadi jika kakakku tahu aku berada dirumah seorang pria maka dia akan meminta seseorang mengawalku selama 24 jam."


"Wow!" Monica tampak kagum.


Dijaman yang sudah modern dimana s*ks bebas sudah bukan hal tabu lagi tapi masih saja ada keluarga yang menjaga kehormatan mereka dan Silvia mengikuti semua itu.


Dia jadi semakin suka dengan Silvia dan dia pastikan Silvia pasti akan menjadi menantunya, pasti.


"Baiklah, tapi bolehkah aku dan Abraham mengantarmu? Aku ingin berkunjung kerumahmu dan aku ingin mengunjungimu setiap ada waktu, bolehkah?" pinta Monica.


"Boleh saja, aku pasti akan menyambut mommy dengan senang hati."


"Oh bagus, aku sangat senang mendengarnya." Monica tampak begitu senang.


Abraham hanya mendengar percakapan mereka dari belakang, mengantar Silvia? Padahal dia ingin mencari rumah wanita itu dari kemarin dan ternyata dia bisa mengetahui rumah Silvia dengan mudah melalui ibunya.


Abraham menyunggingkan bibirnya tersenyum dengan licik, dia sungguh penasaran siapa Silvia sebenarnya dan dari keluarga mana dia berasal dan sepertinya sebentar lagi, semua rasa penasarannya akan segera terjawab.