Falling in Love with You

Falling in Love with You
Pria sombong



Semua yang ada disana sangat kaget melihatnya sedangkan Silvia memegangi bagian tubuhnya yang terkena paper bag.


Jujur saja rasanya sangat sakit apalagi kotak makanan itu penuh terisi tapi dia berusaha menahannya bahkan dia tersenyum manis pada Abraham.


Dia tidak merasa marah atau tersinggung, dia hanya menyimpulkan jika Abraham hanya tidak suka dengan makanan yang dia buat apalagi Chinese food tidak selalu disukai oleh orang-orang Australia.


Seharusnya dia membuat makanan lainnya, mungkin dengan begitu Abraham mau menerima makanan yang dia berikan.


Abraham masih menatap Silvia dengan tajam tapi kemudian dia melihat isi dari paper bag yang dia lemparkan kearah Silvia, kotak makanan.


Apa wanita itu memberikan makanan untuknya? Dia tidak menyangka barang yang ada didalam paper bag ternyata isinya makanan tapi dia juga tidak mau menerimanya.


Apalagi dia tidak tahu dari mana makanan itu berasal, bisa saja Silvia membeli makanan itu disembarang tempat yang tidak terjamin kebersihannya.


Dia bahkan tidak perduli saat melihat Silvia berjongkok untuk memunguti kotak makanan yang berada diatas lantai bahkan dia tidak perduli dengan karyawannya yang mulai bergosip dibelakangnya.


Siapa suruh wanita itu telah berani mengganggunya dan menantangnya! Sekalipun seorang perempuan tidak akan dia biarkan, lagi pula ini akan menjadi contoh yang bagus bagi para karyawannya yang ada disana jadi mereka tidak boleh macam-macam dengannya.


Silvia memasukkan tempat makanan yang dia ambil kedalam paper bag kembali, ketika telah selesai dia bangkit berdiri dan berjalan kearah Abraham, dia juga berdiri didepan Abraham dan menatapnya dengan tajam.


"Tuan Abraham Achilles yang terhormat, kenapa kau melemparku dengan makanan ini?" tanyanya.


"Bawa pergi karena aku tidak menerima makanan kotor itu!" ujar Abraham dengan sinis.


"Astaga tuan Abraham, tidak baik menghina makanan!"


"Aku tidak perlu ceramah darimu!"


"Benarkah? Tapi aku rasa kau butuh itu tuan Abraham! Apa selama ini tidak ada seorangpun yang menceramahimu? Apa selama ini tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa apa yang kau lakukan selama ini salah?"


"Nona Silvia sebaiknya kau diam!"


"Tidak, aku tidak bisa diam saja melihat orang sepertimu! Kau boleh menghinaku tapi kau tidak boleh menghina makanan! Apa kau pikir makanan yang kau beli direstoran itu bersih? Ini makanan hasil buatanku sendiri tapi ternyata kau tidak layak memakan makanan yang aku buat!"


"Seharusnya aku tidak perlu bersusah payah bangun pagi-pagi untuk membuatkan makanan ini untukmu, aku pikir aku harus mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu tapi ternyata aku salah!"


Abraham diam saja sedangkan matanya masih melotot pada Silvia, ternyata makanan itu Silvia buat sendiri untuk diberikan padanya sebagai ungkapkan terima kasih?


Tapi dia tidak akan pernah merasa bersalah sedikitpun! Toh dia tidak akan sudi memakan makanan dari wanita yang telah menyinggungnya.


"Aku datang kemari dengan maksud baik tuan Abraham, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu beberapa hari lalu tapi sepertinya kau tidak membutuhkan itu!"


"Aku tidak memintamu untuk datang dan aku tidak butuh ucapan terima kasih darimu jadi sebaiknya kau pergi dari sini! Ingat jangan pernah datang lagi karena aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu!" jawab Abraham dengan dingin.


Silvia menyunggingkan bibirnya, tersenyum dengan sinis. Jadi Abraham tidak mau bertemu dengannya? Tapi jujur saja, dia juga tidak mau bersusah payah datang kesana untuk menemui pria jahat dan arogan itu jika bukan untuk membela anak panti.


Jika bukan demi anak panti dia juga tidak mau mengenal Abraham Achilles, sepertinya dia harus mencari jalan lain untuk para anak panti jika Abraham tidak mau menjual lahan panti itu padanya.


"Cih!" Abraham tersenyum dengan sinis, apa Silvia masih belum mengerti juga? Sampai kapanpun dia tidak akan menjual tanah miliknya!


Abraham mencengkram kerah baju Silvia dan menariknya hingga tubuh Silvia mendekat padanya, dia juga berbisik ditelinga Silvia.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menjual tanah itu pada siapapun dan asal kau tahu saja, kau mau datang setiap hari kemari dan memintaku untuk menjual tanah itupun aku tetap dengan pendirianku. Tidak akan ada yang bisa merubah keputusanku karena keputusanku sudah bulat, sekalipun Tuhan! Diapun tidak akan bisa mengubah keputusanku!" ujarnya dengan nada sombong.


"Wow, tuan Abraham. Sebaiknya hati-hati dengan ucapanmu karena Tuhan mendengarnya! Ingatlah tuan Abraham, Tuhan yang memberikan semua yang kau punya jadi Dia juga bisa mengambil semua yang kau punya dalam sekejap mata."


"Kau menyumpahiku?" Abraham kembali menatap Silvia dengan tajam.


"Tidak, aku hanya memperingatimu supaya jangan sembarangan dalam berbicara karena itu bukan hal yang baik apalagi kau menantang Tuhan."


"Mungkin hari ini Dia akan memaafkan ucapanmu dan menganggap kau hanya bercanda saja tapi lain kali jika kau berkata dengan sombong lagi, aku takut Dia akan memberimu sedikit pelajaran jadi sebaiknya kau menjaga ucapanmu."


"Ingatlah tuan Abraham, apa yang kita punya didunia ini hanya sementara! Kita datang tanpa membawa apa-apa dan kita akan kembali tanpa membawa apa-apa juga!"


"Jangan menceramahiku!!" bentak Abraham.


Dia langsung mendorong tubuh Silvia hingga tubuh Silvia terjerambab diatas lantai, Silvia meringgis kesakitan sambil memegangi bokongnya.


"Pria ini benar-benar sudah gila!" makinya dalam hati.


Dia segera bangkit berdiri dan menepuk-nepuk bokongnya dari debu, Silvia sangat kesal karena diperlakukan seperti itu dan sepertinya dia tidak perlu lagi datang kesana untuk mencari Abraham.


Mengenai anak-anak panti dia akan mencari solusinya nanti,bdia tidak mau diperlakukan dengan tidak sopan seperti itu dan dia tidak mau seperti pengemis yang mengemis kepada seorang pria yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun.


Sudah cukup pembicaraan mereka karena dia tahu Abraham tidak akan pernah mau menjual lahan panti kepadanya jadi dia tidak akan menemui Abraham lagi.


"Tuan Abraham, aku tidak akan membalas perbuatanmu hari ini padaku karena aku masih mengingat kebaikkanmu kemarin tapi jika nanti kau masih berani memperlakukan aku seperti ini maka aku tidak akan segan-segan untuk melubangi kepalamu itu jadi lebih baik jangan menguji kesabaranku!" ujar Silvia dengan sinis.


"Kau ingin melubangi kepalaku? Memangnya siapa kau?"


"Aku siapa itu tidak penting yang pasti keluargaku jauh lebih hebat darimu tapi kami tidak pernah memperlakukan seseorang dengan tidak sopan bahkan kami tidak pernah menyombongkan diri!"


"Jika aku mau aku bisa meminta kakakku untuk menghancurkan dirimu hingga kau jadi seorang gelandangan tapi aku masih punya hati nurani."


Silvia memunguti paper bag yang tergeletak diatas lantai dan mengangkatnya didepan Abraham.


"Makanan ini lebih pantas untuk a*jing liar dari pada untukmu karena kau memang tidak pantas memakannya!"


"Apa kau bilang?" Abraham semakin emosi dibuatnya.


Silvia memutar langkahnya dan melangkah pergi, dia sudah selesai dengan pria sombong dan arogan itu tapi tidak dengan Abraham, perkataan Silvia semakin membuatnya penasaran, siapa sebenernya Silvia?