
Setelah tiba dikantor Abraham Achilles, Silvia belum juga turun dari mobilnya. Berkat alamat yang diberikan oleh suster Maria membuatnya tidak sulit untuk menemukan tempat itu.
Apalagi Dave sudah lama tinggal di Australia, mencari sebuah alamat saja tidak akan jadi soal untuk Dave.
Sebab itu Silvia tinggal mengatakan dimana dia akan pergi maka Dave akan mengantarkannya dan dia cukup duduk dengan manis saja didalam mobil.
Sebelum turun dari mobilnya, Silvia membuka kaca mata hitamnya. Cuaca Australia benar-benar panas membuatnya sedikit tidak tahan.
Mungkin setelah ini dia akan pergi kepantai saja, karena dari kemarin dia ingin pergi kepantai tapi tertunda.
"Nona, setelah selesai kabari aku, aku akan segera menjemput nona." ujar Dave saat Silvia hendak membuka pintu mobil.
"Pasti Dave, aku rasa tidak akan lama."
"Baiklah nona, berhati-hatilah kepada Abraham Achilles."
"Thank you Dave, kau tidak perlu khawatir."
Setelah berkata demikian,Silvia keluar dari mobilnya. Dia tidak langsung masuk kedalam kantor Abraham Achilles tapi dia berdiri sejenak untuk melihat mobil yang dibawa oleh Dave menghilang dari pandangannya.
Silvia menarik nafasnya dengan panjang, dia sudah siap untuk bertemu dengan situan jahat dan dia berharap dia dapat bernegosiasi dengan situan jahat.
Dia masuk kedalam sana dan yang pertama kali dia tuju adalah resepsionis, setidaknya dia harus punya sopan santun saat datang ketempat orang lain.
"Permisi, bisa aku bertemu dengan Abraham Achilles hari ini?" Silvia bertanya pada seorang resepsionis cantik yang ada disana dan tersenyum dengan ramah.
"Apa anda sudah membuat janji nona?" resepsionis cantik itu melihat kearahnya dan tersenyum dengan ramah pula.
"Oh belum, maaf."
"Jika begitu buatlah janji terlebih dahulu dan kembalilah besok."
"Apa harus demikian?"
Silvia memutar otaknya, pokoknya kedatangannya hari ini tidak boleh sia-sia. Apapun yang terjadi dia harus bertemu dengan Abraham Achilles.
"Begitulah nona, jadi sebaiknya nona membuat janji terlebih dahulu barulah nona kembali lagi."
"Hmm...Apa perlu membuat janji dengan pacar sendiri?" tipunya.
Dia tidak menemukan alasan yang bagus selain berpura-pura menjadi pacar dari
Abraham Achilles.
"Apa? Jadi nona adalah pacar dari presdir?" resepsionis cantik itu melihat Silvia dari atas kebawah, bisa dipercaya jika wanita cantik itu pacar dari Abraham Achilles dari penampilannya.
"Ya, anda benar." Silvia membenarkan ucapan resepsionis cantik itu.
"Oh ya Tuhan, nona bisa segera naik keatas untuk menemui presdir." ujar resepsionis itu dengan penuh semangat.
Baru kali ini seorang wanita mencari Abraham Achilles dan mengatakan bahwa dia adalah kekasihnya, ini sesuatu yang langka karena semua karyawan Abraham Achilles tahu bahwa bos mereka terlalu gila dengan kebersihan sampai bos mereka jarang terlihat dengan wanita manapun.
"Hm..Diruang tunggu saja, aku akan menunggunya diruang tunggu saja." Mana dia tahu ruangan Abraham Achilles lantai berapa dan dimana, diakan baru disini.
Sebenarnya yang membuatnya heran adalah kenapa karyawan Abraham Achilles gampang percaya jika dia adalah pacarnya? Untuk seorang pengusaha seperti Abraham Achilles tidak mungkin bukan tidak memiliki pacar satu atau dua orang. Ini aneh, jangan-jangan Abraham Achilles seorang Gay, tapi untuk apa dia perduli.
Dia harus fokus pada misinya, membela hak anak-anak panti adalah tujuannya.
Seorang karyawan Abraham membawa Silvia keruang tunggu yang ada ditempat itu, selama menunggu dia memainkan ponselnya untuk mengisi waktu yang ada.
Sedangan saat itu Abraham Achilles berjalan hendak keluar dari kantornya bersama dengan asisten pribadinya, dia ingin pergi makan siang.
"Pak presdir, pacar anda menunggu diruang tunggu." ujar resepsionisnya.
Apa? Pacar? Abraham menghentikan langkahnya dan menatap resepsionisnya dengan tajam.
"Seorang wanita China ingin bertemu dengan anda dan mengatakan jika dia adalah pacar anda." karyawannya menunjuk kearah ruang tunggu.
Abraham langsung memutar langkahnya dan berjalan keruang tunggu, dari luar dia dapat melihat seorang wanita sedang duduk didalam sana. Tapi wanita itu sedang duduk membelakanginya sehingga dia tidak dapat melihat rupa wanita itu.
Siapa yang berani mengaku-ngaku sebagai pacarnya? Dia ingin lihat!
Abraham masuk kedalam ruang tunggu dan segera menghampiri Silvia, dia berdiri didepan Silvia yang tampak sibuk memainkan ponselnya dan berdehem pelan.
"Hm..Nona, ada urusan apa kau datang kemari?"
Silvia mengangkat kepalanya dan pada saat itu matanya terbelalak kaget melihat Abraham begitu juga dengan Abraham, dia juga tak kalah kagetnya.
"Kau!!" ucap mereka secara bersamaan.
Abraham tak kalah herannya,gadis China yang telah berani menghinanya sewaktu dibandara mengaku sebagai pacarnya? Ada yang bisa menjelaskan?
"Hei kenapa kau ada disini?" Abraham melotot pada Silvia dengan tajam.
"Aku tidak ada urusan dengan model celana dalam sepertimu!" Silvia menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan membuang pandangannya.
"Oh ya, bukankah kau mencari Abraham Achilles dan mengaku pacarnya."
"Ya, tapi bukan dirimu!"
Sebuah senyuman langsung menyeringgai dari bibir Abraham, ternyata wanita itu tidak tahu siapa dirinya tapi berani-beraninya mengaku sebagai pacarnya!
Ini sungguh hebat, apa tujuan wanita itu mengaku sebagai pacarnya, apa ada maksud tersembunyi?
Mungkin dia harus mencari tahu apa tujuan wanita cantik yang sedang duduk didepannya ini.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Untuk apa kau tahu?" Silvia melotot pada Abraham.
"Oh asal kau tahu, Abraham Achilles atasanku jadi aku akan menyampaikan padanya nanti jika ada yang mencarinya jadi katakan padaku siapa namamu."
"Chén xiǎo xuān."
What? Chén apa?
Abraham bingung menyebut nama Silvia.
Silvia hanya tertawa geli, untuk seseorang yang tidak bisa berbahasa Mandarin memang agak sedikit canggung menyebut nama kecilnya.
"Hmm..baiklah, akan aku ingat namamu jadi pergi dari sini!" usirnya.
"Apa hakmu? Kau bukan Abraham Achilles jadi apa hakmu mengusirku!"
"Aku berhak!"
Abraham langsung menarik tangan Silvia sampai Silvia bangkit berdiri, dia juga lupa dengan penyakit OCD nya dimana dia tidak suka menyentuh orang asing sembarangan karena jijik.
"Hei lepaskan!" Silvia mencoba menarik tangannya tapi Abraham terus menariknya dengan sekuat tenaga.
Semua karyawan yang ada disana sangat heran melihat kedua orang itu begitu juga dengan asisten pribadi Abraham, ini kejadian langka, bosnya bisa menyentuh wanita asing tanpa merasa jijik.
Abraham menarik Silvia hingga keluar dari kantornya, setelah itu dia melepaskan Pegangan tangannya dan menatap Silvia dengan tajam.
"Hei beraninya kau!" Silvia memegangi pergelangan tangannya.
"Tentu aku berani karena tuan Abraham berkata dia tidak ingin bertemu denganmu!"
"Dari mana kau tahu? Biarkan aku bertemu dengannya!"
"Bertemulah dengannya dalam mimpimu nona Chén!" Abraham memutar langkahnya, dia sudah selesai dengan wanita itu tapi tidak dengan Silvia, dia sangat kesal dengan si model celana dalam.
Tapi Abraham duga, Silvia mengambil sepatu hak tinggi yang dipakainya dan pada saat itu?
"Bhuk!" sepatu Silvia mendarat tepat dibagian belakang kepala Abraham.
Abraham memegangi kepalanya dan memutar langkahnya, dia juga melihat sepatu yang tergeletak diatas lantai.
Setelah itu dia melotot pada Silvia yang tampak tersenyum puas tanpa sepatu dikaki kanannya.
"Beraninya kau!" geramnya marah sambil melangkah dengan cepat kearah Silvia.
Saat melihat Abraham mendekatinya lagi-lagi Silvia mengambil langkah seribu, lari lebih baik saat itu.
"Hei berhenti kau!" teriak Abraham.
"Bye model celana dalam." teriak Silvia sambil berlari menjauh.
"Model celana dalam!!!" Abraham tambah kesal.
Dia memunguti sepatu Silvia dan menggenggamnya dengan erat, awas saja! Siapa namanya tadi? Chén apa tadi?
"Kalian ingat, jika dia datang lagi bawa dia keruanganku!" teriaknya marah.
Sudah berani mengaku sebagai pacarnya juga sudah berani mengatainya model celana dalam, kini melemparnya dengan sepatu juga! Awas saja! Akan dia balas!