Falling in Love with You

Falling in Love with You
Jangan menyentuh milikku!



Abraham semakin kesal saat melihat Silvia mengajak pria China itu masuk kedalam rumahnya, entah kenapa hatinya merasa panas seperti terbakar.


Jangan-jangan mereka berdua memiliki hubungan spesial dan entah kenapa dia tidak suka itu, dia tidak suka melihat keakraban mereka berdua bahkan dia tidak suka tangan Silvia dipegang oleh orang lain, apa Silvia lupa? Kedua tangannya sudah menjadi miliknya, milik Abraham Achilles.


"Hei kenapa mobilnya tidak dijalankan?" Monica mulai memancing.


"Maaf nyonya." Sang supir hendak menjalankan mobil itu tapi Abraham membentaknya dengan kencang.


"Jangan coba-coba!"


"Hei kenapa kau terlihat marah? Antar mommy ketempat Jenny, sekarang."


"Nanti!"


Tanpa menunggu lagi Abraham segera membuka pintu mobil itu dan keluar dengan cepat, Monica tampak begitu senang, sepertinya putranya sedang cemburu.


Monica menurunkan jendela mobil untuk menjadi penonton, dia ingin lihat apa yang ingin putranya lakukan diluar sana.


"Good boy, hajar dia! Mommy mendukungmu!" gumamnya pelan.


Abraham segera menarik tangan Silvia sampai Silvia begitu kaget dibuatnya begitu juga dengan Jimy, dia juga tak kalah kagetnya melihat pria yang membawa Silvia direstoran semalam.


"Tuan Abraham, kenapa kau belum pergi juga?" Silvia berusaha menarik tangannya dari genggaman Abraham tapi Abraham tidak melepaskannya dengan mudah.


"Aku memang sudah ingin pergi tapi aku tidak suka melihat milikku disentuh oleh orang lain!"


"Hei apa maksdumu? Apa yang kau maksud dengan milikmu?" Silvia merasa heran, apa maksudnya? Sejak kapan dia jadi milik Abraham?


"Kau jangan lupa nona Silvia, kedua tanganmu ini sudah jadi milikku dan aku tidak suka melihat seseorang menyentuh milikku!"


"Oh astaga, kau benar-benar!"


Abraham mengelap kedua tangan Silvia dibajunya, dia tidak perduli dengan OCDnya tapi yang pasti dia tidak suka tangan Silvia disentuh oleh seorang pria.


Jimy terlihat kesal, apa pria itu mengira dia adalah kuman yang menempel pada kedua tangan Silvia?


Silvia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat dan hanya bisa pasrah membiarkan Abraham membersihkan kedua tangannya, dia benar-benar tidak enak hati pada Jimy.


Padahal Jimy datang hanya ingin memberinya makanan dan memang Jimy sedang membawa sesuatu ditangannya.


Karena merasa tidak enak hati dia mengajak Jimy masuk kedalam untuk mengajaknya minum teh bersama tapi siapa sangka Abraham akan melakukan hal seperti ini?


Membersihkan kedua tangannya seolah-olah Jimy adalah kuman!dia jadi benar-benar merasa tidak enak hati pada Jimy.


"Sudah selesai belum?" tanya Silvia dengan kesal.


"Sudah, awas jika kau membiarkan seorang pria memegang tangan yang sudah jadi milikku ini!" ancam Abraham.


"Hei, sejak kapan tangannya jadi milikmu?" Jimy menatap kearah Abraham dengan tajam.


"Kau tidak tahu apa-apa jadi kau jangan banyak bertanya! Tapi kau harus ingat jangan menyentuh milikku!" jawab Abraham dengan dingin.


"Kau minta aku pukul hah!"bJimy mulai menantangi Abraham.


Abraham mengangkat satu alisnya dan tersenyum dengan sinis, berani menantangnya?


"Oh jadi kau menantangku?" Dia segera mengggulung lengan kemejanya keatas.


"Kau kira aku takut padamu!" Jimy juga sudah siap.


"Hei...hei jangan ribut dirumahku! Sana kalian adu tenaga diluar!" usir Silvia.


"Apa?" Abraham dan Jimy langsung melihat kearah Silvia secara bersamaan.


"Sudah sana kalian pergi!" usir Silvia lagi.


Silvia langsung memutar langkahnya dan masuk kedalam rumahnya tanpa memperdulikan dua pria yang sedang saling menatap dengan api permusuhan dimata mereka.


"Awas jika aku melihat kau menyentuh milikku lagi!" ancam Abraham.


"Huh, selama dia belum menjadi istrimu aku berhak dan aku akan mendekati dia terus!" Jimy tidak mau kalah.


"Jangan cari gara-gara jika kau tidak mau aku hancurkan!"


"Aku tidak takut pada ancamanmu!"


Abraham dan Jimy sudah siap saling memukul tapi pada saat itu?


"Byur!!" seseorang mengguyur mereka dengan air dingin dan orang itu adalah Silvia.


Monica tertawa terbahak-bahak didalam mobil sedangkan Abraham kesal setengah mati begitu juga dengan Jimy, padahal dia datang kesana untuk memberikan makanan tapi kenapa harus bertemu dengan pria aneh yang mengklaim bahwa Silvia miliknya dengan sembarangan?


"Masih belum berhenti juga?" Silvia menatap kedua pria itu dengan tajam.


"Maaf Silvia, ini makanan untukmu nanti aku datang lagi." Jimy mendekati Silvia dan memberikan makanan yang dia bawa pada Silvia.


"Terima kasih Jimy tapi maaf, aku tidak suka ada keributan dirumahku."


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Maaf telah membuat keributan disini."


Silvia mengangguk dan menerima makanan yang diberikan oleh Jimy, setelah memberikan makanan itu Jimy segera melangkah pergi tapi sebelum itu dia menatap Abraham dengan tatapan penuh dengan api permusuhan.


"Kenapa kau tidak pergi juga?" tanya Silvia pada Abraham.


"Tidak perlu kau usir!"


Abraham tampak kesal karena Silvia berani mengguyurnya dengan air dingin dan rasanya dia mau pulang untuk mandi lagi.


"Sana pergi!" usir Silvia kesal.


Dia segera masuk kedalam rumahnya sedangkan Abraham kembali kemobilnya dan masuk kedalam sana.


"Bagaimana sayang diguyur air?" goda ibunya.


"Ck, mommy diam saja!"


"Ha...ha...ha...ha..!" Monica hanya tertawa.


Belum pernah dia melihat putranya seperti itu dan ini sangatlah lucu.


"Mom, aku mau pulang mandi dan ganti baju jadi nanti supirku akan mengantar mommy ketempat Jenny."


"Tentu saja sayang, jangan sampai kau masuk angin."


Abraham memerintahkan supirnya untuk segera menjalankan mobilnya dan selama diperjalanan dia benar-benar tidak tahan dengan bajunya yang basah.


"Mom."


"Apa?"


"Siapa Ellen Smith? Apa mommy mengenalnya?"


Monica langsung memandangi putranya, apa putranya tidak tahu siapa Ellen Smith? Tapi wajar sih jika putranya tidak tahu karena sewaktu berita kematian Ellen menyebar luas, Abraham masih didalam kandungannya.


"Kau ingin tahu?"


"Tentu saja, jadi jika mommy tahu maka katakan padaku siapa Silvia sebenarnya!"


"Ini pr untukmu sayang."


"Apa? Mom!" Abraham jadi kesal.


Monica hanya tertawa, tidak akan menyenangkan jika putranya dapat mengetahui siapa Silvia sebenarnya dengan mudah. Akan sangat menyenangkan jika putranya terus merasa penasaran dengan Silvia maka dengan itu putranya akan terus mencari tahu siapa Silvia sebenarnya.


Dari rasa penasaran yang begitu tinggi akan berubah menjadi cinta jadi dia tidak akan mengatakan pada Abraham, siapa Silvia sebenarnya.


"Mom, please. Beri tahu aku siapa Silvia sebenarnya?"


"Tidak sayang, mulutku terkunci rapat dan aku tidak akan memberi tahumu jadi kau harus mencari tahu sendiri siapa sebenarnya Silvia dan jika kau memang sangat penasaran dengannya maka datangilah dia setiap hari, aku yakin kau akan tahu jika kau terus mendatanginya."


"Aku tidak mau!" tolak Abraham.


Tapi walau begitu, jujur saja rasa penasaran kembali tumbuh subur dihatinya dan dia benci itu.


"Jika kau tidak mau mencari tahu dan mendekatinya maka mommy sangat yakin, pria tadi akan mendapatkan Silvia dengan mudah!"


Abraham diam saja sedang memikirkan hal tadi, hatinya kembali panas saat mengingat tangan Silvia dipegang pria China tadi. Jika dia melihat hal itu lagi maka pria China tadi tidak akan dia lepaskan.