
Saat ibu Abraham menghubunginya, Silvia sedang ingin tidur siang, dia sedang malas pergi kemana-mana jadi dia ingin diam saja dirumah dan tidur.
Dia sedang merebahkan dirinya diatas ranjang dan memeluk gulingnya tapi pada saat itu ponselnya berbunyi.
Dengan cepat pula Silvia meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu tanpa melihatnya.
"Hallo."
"Silvia ini aku, ibu Abraham."
"Ya mom, ada apa?"
"Bisakah kau datang kerumah Abraham sekarang?"
Silvia merasa frustasi, untuk apa lagi dia pergi kerumah Abraham? Dia sudah tidak mau terlibat dengan pria itu tapi dia tidak bisa menolak permintaan dari ibu Abraham.
Padahal dia sedang malas dan ingin tidur siang tapi lagi-lagi dia harus pergi kerumah Abraham.
"Ada apa mom? Apa mommy sakit?" tanyanya.
"Bukan aku sayang, tapi Abraham!"
Silvia mengernyitkan dahinya, Abraham sakit? Lalu apa hubungannya dengannya?
"Tadi pagi dia sehat saja kenapa bisa sakit?" tanya Silvia basa basi.
"Aduh sayang, kau tidak lupa bukan tadi kau mengguyurnya dengan air dingin? Sekarang dia sedang menggigil diatas ranjang." dusta Monica.
Abraham melototi ibunya saat mendengar hal itu, menggigil? Dia sedang sehat-sehat saja sekarang lalu apa maksud ibunya dia sedang menggigil?
"Apa benar mom?" Silvia tidak percaya sama sekali, hanya sedikit air dingin saja sudah membuat Abraham sakit? Kenapa tidak langsung mati saja!
"Benar sayang, aku tidak menipumu."
"Dasar pria lemah!" hina Silvia.
"Ya dia memang lemah, kau tahu bukan dia punya penyakit OCD? Dia akan sakit jika terlalu jijik dengan keadaan yang dia alami."
Silvia menghembuskan nafasnya dengan berat, dasar pria OCD sialan!sedangkan Abraham hanya bisa melototi ibunya dan tampak kesal, enak saja mengatai dia lemah! Tapi dia hanya bisa diam saja, mengikuti drama yang sedang dimainkan oleh ibunya.
"Tapi mom, apa kau tidak bisa menjaganya? Aku sedang malas bertemu dengannya."
"Silvia sayang, aku sangat ingin menjaganya tapi aku harus pergi karena ada hal penting, demam Abraham sampai 40 derajat dan dia terus menggigil. Aku khawatir meninggalkannya sendirian jadi bolehkah aku meminta tolong padamu untuk menjaganya?"
"Tapi mom, aku?"
"Oh please, aku benar-benar ada keperluan mendadak. Lagi pula jika kau tidak menyiramnya maka dia tidak akan seperti ini!"
"Oh Tuhan, kenapa aku harus mengenal ibu dan anak ini?" kata Silvia dalam hati.
"Baiklah, aku akan segera kesana." ujarnya pasrah.
"Aku tunggu sayang."
Dengan berat hati Silvia bangun dari atas ranjang dan segera mengganti bajunya, setelah selesai dia segera keluar dari kamarnya dan meminta Dave untuk mengantarnya pergi.
Monica tampak begitu senang dan menyimpan ponselnya sedangkan Abraham sedang melototi ibunya sedari tadi.
Demam sampai 40 derajat? Tubuh menggigil? Saat Silvia datang dan melihat keadaanya yang baik-baik saja Silvia pasti akan kesal dan marah.
Ibunya benar-benar sedang bermain api, jika sampai kebohongan ini terbongkar maka dia pastikan Silvia tidak akan mau bertemu dengan ibunya lagi
"Mom, kau sedikit keterluan."
"Apa?"
"Kau bilang panasku sampai 40 derajat dan tubuhku menggigil? Saat dia melihat keadaanku maka semua tipuanmu akan terbongkar."
"Mommy tahukan, dia akan membenci kita dan aku yakin dia tidak akan menemui kita lagi."
"Oh Abraham sayang, sebab itu pakai otakmu itu."
"Maksud mommy?"
"Ayo ikut denganku sayang."
Monica menarik tangan Abraham dan membawa putranya menuju kamar, setelah didalam sana dia juga membawa putranya kedalam kamar mandi. Abraham sangat heran, untuk apa ibunya membawanya kedalam kamar mandi?
"Mom, mau apa sih?"
"Diam saja dan berdiri dibawah shower!" perintah ibunya.
"Astaga mom, sejak kapan kau jadi licik seperti ini?" Abraham hanya bisa mengeleng, kenapa ibunya sampai seperti ini hanya untuk mendekatkan dirinya dengan Silvia?
"Mom, sudahlah! Hentikan drama ini!"
"Diam! Aku melakukan hal ini untukmu, jika menunggumu bertindak maka kau tidak mungkin mau mendekati Silvia kerena gengsi dan kesombonganmu!"
Monica membuka shower sedangkan Abraham kaget bukan kepalang saat air dingin menguyurinya, apa ibunya sudah gila?
"Mom, asal kau tahu saja, aku tidak mungkin sakit hanya diguyur air shower seperti ini!"
Abraham benar-benar kesal, jika bukan ibunya sudah dia pukul sedari tadi!
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu tunggu disini dan jangan pergi kemana-mana!"
"Mommy mau apa?" Abraham tampak curiga.
"Tunggu saja sayang, ingat kita sedang bermain drama saat ini."
Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat dan hanya bisa menggeleng saat ibunya keluar dari sana, tapi jujur saja tubuhnya sudah mulai kedinginan karena guyuran air shower yang dingin.
Tidak lama kemudian ibunya kembali dan membawa air dingin dari kulkas ditangannya, dia berniat mengguyur putranya dengan air dari kulkas supaya putranya benar-benar menggigil.
"Mom, sudah belum? Aku sudah kedinginan!"
"Oh ya, bagus kalau begitu, drama kita sukses dan berjalan dengan lancar tapi sebelum itu?"
Monica langsung mengguyur tubuh putranya dengan air dingin yang dibawanya.
"Astaga mom!" Abraham benar-benar kaget saat air dingin mengenai tubuhnya, sekarang dia benar-benar merasa menggigil.
Dia rasa ibunya benar-benar sudah gila!
"Mom k..kau gi... gila!"Abraham menggertakkan giginya karena kedinginan.
"Bagus, akhirnya kau benar-benar menggigil! Jadi segera keluar ganti pakaianmu dan naik keatas ranjang, mungkin Silvia sebentar lagi akan tiba!" perintah Ibunya.
"Mommy be....benar-benar tega!"
"Suatu saat nanti kau akan berterima kasih padaku sayang."
Monica tersenyum pada putranya dan segera keluar, dia harap Silvia segera tiba. Mumpung putranya masih menggigil karena dia ingin Silvia melihat keadaan putranya seperti itu supaya drama ini semakin terlihat nyata tanpa rekayasa.
Abraham mematikan air shower sambil menggigil, ini bukan drama lagi tapi dia benar-benar sakit sekarang.
Dia segera keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah, dia juga naik keatas ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang menggigil.
Terserah ibunya mau melakukan apa dia tidak mau perduli lagi, dia seperti korban akibat keinginan ibunya untuk mendekatkan dirinya dengan Silvia.
Walau dalam hatinya merasa sedikit senang tapi drama yang ibunya buat benar-benar menyebalkan.
Diluar sana, Silvia sudah tiba didepan rumahnya. Silvia meminta Dave untuk pergi dan tidak perlu menunggunya, setelah kepergian Dave, dia segera mengetuk pintu rumah Abraham.
Saat mendengar suara ketukan pintu diluar sana, Monica tampak senang. Dia langsung membuka pintu itu dengan terburu-buru, wajahnya langsung berseri saat melihat Silvia berdiri disana.
"Oh untunglah kau cepat datang."
"Mom, bagaimana keadaan Abrahan?" tanya Silvia basa basi. Sebenarnya dia tidak perduli pada keadaan pria itu tapi bagaimanapun, Abraham sakit karena ulahnya dan dia akan bertanggung jawab.
"Kurang baik sayang, dia terus menggigil dan memanggil namamu." dusta Monica.
Silvia mengernyitkan dahinya, memanggil namanya? Untuk apa?
"Apa sakitnya parah?"
Monica menarik tangan Silvia hingga mereka berada didepan pintu kamar Abraham, setelah itu dia membuka pintu kamar putranya dan mendorong tubuh Silvia hingga masuk kedalam sana.
"Kau lihatlah didalam, aku harus segera pergi karena aku ada janji."
"Tapi mom?"
"Tolong ya jaga dia!" dengan cepat Monica segera menutup pintu kamar itu, tugasnya kali ini berhasil dan dia akan segera pergi.
Silvia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia berjalan kearah ranjang dan benar saja, Abraham tampak sedang menggigil dibalik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
"Cih, pria lemah!" makinya.
Abraham mendengarnya dan berkata dalam hati:
"Semua ini gara-gara mommy menyiramku dengan air es!"