Falling in Love with You

Falling in Love with You
Berapa usiamu?



Selama didalam mobil, Silvia dan Abraham diam saja, mereka tidak tahu harus membicarakan apa.


Silvia hanya memainkan ponselnya sedangkan Abraham membawa mobilnya dan berfokus pada jalanan yang ada didepannya.


Sesekali dia melirik kearah Silvia yang duduk disampingnya, jujur dia sangat penasaran dengan siapa Silvia berbicara saat ini?


Terkadang Silvia terlihat tertawa dan terkadang Silvia juga tersenyum melihat layar ponselnya, apalagi saat Silvia sedang menulis sesuatu diatas layar ponselnya, senyumnya semakin mekar.


Dia sangat penasaran, apa Silvia sedang saling berkirim pesan pada pria yang bernama Edward?


Sungguh dia sangat ingin tahu siapa sih Edward? Rasanya dia sangat ingin bertanya tapi dia harus menahan rasa keingin tahuannya, jangan sampai Silvia mengira dia sedang cemburu.


Abraham mencoba berdehem pelan untuk mengalihkan perhatian Silvia, tapi ternyata Silvia hanya meliriknya sebentar tapi setelah itu dia kembali fokus pada ponselnya tanpa memperdulikan Abraham.


Abraham sangat kesal, apa pria yang bernama Edward itu lebih menarik dari pada dirinya?


Tanpa Silvia duga, Abraham menginjak rem mobil yang melaju dengan kencang secara mendadak! Hal itu membuat tubuhnya langsung terhuyung kedepan dan membuatnya sangat kaget, untung saja dia memakai sabuk pengaman, jika tidak mungkin dia sudah terlempar keluar sana melalui kaca depan mobil.


"Hei kau gila ya!" makinya kesal.


"Sory, ada tikus sedang menyebrang jalan!" jawab Abraham asal.


"Ck, sialan! Tikus saja tidak berani kau bunuh!"


Abraham tidak menjawab dan kembali menjalankan mobilnya sedangkan Silvia mulai mencari sesuatu dibawah kakinya.


"Ck,kemana ponselku?" gumamnya. Saat mobil itu berhenti mendadak ponselnya tanpa sengaja terlepas dari tangannya dan terjatuh kebawah sana.


Silvia masih berusaha mencari ponselnya tapi tidak ada, hal itu membuat Abraham tersenyum puas, rasakan!


"Hei bisa kau hentikan mobilnya? Aku ingin mencari ponselku!" pinta Silvia.


"Area ini tidak boleh berhenti sembarangan jadi nanti saja kita mencarinya saat kita sudah tiba."


Silvia menarik nafasnya dengan berat, memang benar tidak boleh menghentikan mobil sembarangan diarea itu. Padahal dia sedang berbicara dengan kakak iparnya tapi ya sudahlah, nanti saja akan dia lanjutkan pembicaraan mereka.


Abraham tampak begitu senang,itu terbukti dari senyumannya yang terus menghiasi wajahnya, akhirnya ponsel sialan itu tidak berada ditangan Silvia lagi.


Dia mulai menurunkan kecepatan mobilnya supaya mereka tidak cepat tiba dirumah Silvia, dia ingin berbicara dengan Silvia selama diperjalanan.


"Kenapa kau diam saja?" tanyanya.


"Memangnya aku harus berbicara apa?" Silvia memandangi jalanan dan menjawabnya dengan malas.


"Ya, bukankah banyak hal yang bisa kita bicarakan?"


"Tidak ada yang bisa aku bicarakan denganmu!"


"Hei apa kau masih membenciku?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa kau bersikap seperti seolah-olah aku ini musuhmu dan seolah-olah kau masih membenciku."


Silvia menghembuskan nafasnya dengan berat, benar, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu pada Abraham dan dia tidak perlu bersikap seolah-olah mereka masih musuhan.


"Silvia, maafkan sikapmu yang terlalu kasar padamu selama ini, maaf."


"Bukankah kau sudah meminta maaf padaku?" Silvia menatap Abraham sedangkan Abraham tersenyum saja.


"Aku rasa kau tidak memaafkan aku jadi aku ingin meminta maaf lagi, apa salah?"


"Sudahlah lupakan! Yang sudah berlalu tidak perlu diingat lagi. Lagi pula aku juga sedikit kelewatan melemparimu dengan sepatu dan telur jadi aku juga minta maaf."


"Oh ngomong-ngomong soal sepatu, kenapa kau tidak mengambil sepatumu dikantorku?"


"Apa kau masih menyimpan sepatu itu dan tidak membuangnya?"


"Ya, aku masih menyimpannya."


Silvia tampak heran, dia tidak menyangka Abraham masih menyimpan sepatu yang dia lemparkan waktu itu.


Untuk apa Abraham menyimpannya? Kenapa tidak dibuang saja?


Mereka diam saja, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing,saat dilampu merah Abraham menghentikan laju mobilnya.


Selama menunggu lampu kembali menjadi hijau Abraham melihati Silvia yang sedang membuang pandangnya kesamping untuk melihat pemandangan diluar sana.


"Silvia."


"Apa?" Silvia memalingkan wajahnya dan pada saat itu tatapannya beradu dengan tatapan Abraham.


Silvia memalingkan wajahnya kembali dan memandangi jalanan, apa dia sudah gila menatap Abraham seperti itu?


Tapi Abraham juga menatapnya jadi anggap saja mereka sedang saling adu pandang, tatapan siapa yang lebih tajam?


"Silvia." Abraham memanggilnya lagi.


"Ck, apa sih?"


"Berapa usiamu?"


"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu?"


"Tidak pernah!"


"Oh." Silvia hanya menjawab itu dan diam lagi, untuk apa Abraham mengetahui usianya? Dia sendiri tidak mau tahu mengenai Abraham.


"Hei kenapa hanya menjawab oh saja? Apa kau tidak mau menjawab pertanyaanku?"


"Bukan begitu, aku hanya takut kau mengalami shock saat mendengar usiaku." jawab Silvia.


"Memangnya berapa usiamu? Kenapa aku harus shock saat mendengarnya? Kau belum nenek-nenek bukan?"


"Asal aku tahu saja, aku lebih tua darimu."


"Setua apa? Coba katakan!" Abraham tampak tidak percaya.


"Coba kau tebak."


"Astaga, kenapa kau tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar? Kenapa kau selalu membuatku penasaran?" Abraham mulai kesal, dia hanya ingin tahu usia Silvia tapi kenapa jawaban Silvia seolah-olah sedang mempermainkannya?


Silvia tersenyum dengan licik, jadi Abraham penasaran dengannya?sepertinya ini sangat menarik.


"Oh tuan Abraham Achilles yang terhormat sedang penasaran denganku? Aku jadi merasa sangat tersanjung."


"Ck, tidak perlu berkata seperti itu dan jawab saja berapa usiamu?"


"Jika aku tidak mau menjawab lalu kau mau apa?"


"Oh my God, jika kau laki-laki sudah aku bunuh kau!"


"Kau bisa membunuhku walaupun aku seorang perempuan!"


"Lebih baik kau diam kalau tidak kau akan menyesalinya nanti!" ancam Abraham, dia benar-benar sangat kesal.


"Menyesal kenapa? Memangnya apa yang akan kau lakukan padaku?"


"Kau!! Aku akan membawaku kehotel sekarang juga!"


"Ha..ha..ha..ha..ha..!" Silvia tertawa mendengarnya, hal itu benar-benar membuat Abraham heran, apa ada yang lucu?


Kenapa Silvia tidak takut dengan ancamannya sama sekali? Jangan katakan jika wanita itu menganggapnya hanya bercanda saja!akan dia buktikan jika perlu!


"Kenapa kau tertawa?" tanyanya kesal.


"Lain kali saja kehotelnya okay? Kita sudah sampai." jawab Silvia sambil tersenyum dengan manis.


Abraham melihat rumah besar yang ada didepannya sambil berdecak kesal, tanpa sadar ternyata mereka sudah tiba dirumah Silvia.


"Hei jawab dulu pertanyaanku, kalau tidak aku tidak akan menghentikan mobilku ini!" ancamnya.


"Aku akan menjawabnya jadi kau tidak perlu mengancamku!"


"Jadi berapa usiamu?" Abraham kembali mengulangi pertanyaannya.


"Aku 24 tahun." jawab Silvia.


Abraham tampak tersenyum, masih muda.


Dia segera menghentikan mobilnya didepan rumah Silvia tapi sebelum Silvia keluar dari mobilnya, dia memegangi tangan Silvia dan berkata:


"Besok aku akan menjemputmu."


"Baiklah, aku tunggu."


Silvia turun dari mobil Abraham dan tidak lupa, dia juga mencari ponselnya yang terjatuh tadi. Setelah mendapatkan ponselnya, dia mengucapkan selamat malam pada Abraham dan menutup pintu mobil itu.


Setelah melihat Silvia masuk kedalan rumahnya, Abraham membawa mobilnya untuk pulang dengan senyum diwajahnya dan dia jadi tidak sabar untuk hari esok.