
Abraham berjalan kembali kedalam kamarnya dengan segelas air putih ditangannya, saat melihat ibunya dia hanya bisa menggeleng, apa ibunya benar-benar akan tidur disana?
Sepertinya ibunya tidak bercanda jadi biarkan saja, lagi pula hanya malam ini saja dan besok ibunya tidak mungkin tidur disana lagi.
Saat dia hendak masuk kedalam kamarnya, ibunya memanggil dengan suara pelan.
"Hei Abraham, kemari."
"Ck, ada apa lagi sih mom?"
Abraham memutar langkahnya untuk mendekati ibunya.
"Hei air itu untuk siapa?"
"Silvia, kenapa?"
"Tidak, kau dengarkan mommy baik-baik! Untuk mendapatkan hati wanita kau harus bersikap lembut dengannya, jika kau sudah bisa mengambil hatinya maka kau bisa mendapatkan dirinya."
"Mom, kenapa kau berbicara demikian?" Abraham jadi curiga, jangan-jangan ibunya sudah tahu sandiwara mereka.
"Kenapa? Apa mommy salah bicara?"
"Tidak bukan begitu."
"Kau dengarkan baik-baik,selama dua minggu kedepan aku ingin dekat dengan Silvia jadi jangan sampai kau membiarkannya pulang kalau tidak besok kau harus bertemu dengan Jenny dan kalian harus langsung membicarakan tanggal pernikahan!"
"Astaga mom,jangan mengancamku!bagaimana bisa aku menahannya dua minggu disini?" Abraham tampak frustasi.
"Pakai otakmu itu bodoh! Makanya aku bilang jerat dia malam ini maka dia tidak bisa pergi kemanapun!"
"Sudahlah, aku benar-benar bisa gila berbicara dengan mommy!"
Abraham berjalan kembali kadalam kamarnya sedangkan ibunya tersenyum melihat kepergian putranya sambil berkata dalam hati:
"Dua minggu, cukup dua minggu aku pasti menyatukan kalian berdua."
Abraham masuk kembali kadalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dia berjalan kearah Silvia yang tampak duduk diam saja diatas sofa.
"Airmu!"bAbraham meletakkan air yang dia bawa dihadapan Silvia dengan kasar.
"Terima kasih." Silvia mengambil gelas yang ada diatas meja dan meneguk isinya sedangkan Abraham melihat Silvia sampai Silvia selesai meminun air yang diberikannya dan meletakkan gelas itu kembali keatas meja.
"Baiklah, kita harus bicara sekarang."ujar Abraham.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" jawab Silvia dengan malas.
"Ada, ini mengenai sandiwara kita!"
"Apa yang harus dibicarakan?seharusnya sandiwara kita sudah berakhir tapi aku malah terjebak didalam kamarmu dan tidak bisa pergi kemanapun."
"Mulai malam ini, kau tidak saja terjebak didalam kamarku tapi kau juga akan terjebak didalam kehidupanku sampai dua minggu kedepan."
"Apa maksudmu?"
Silvia menatap Abraham dengan tajam begitu juga dengan Abraham, dia juga menatap Silvia sedangkan senyum sinisnya menghiasi wajahnya.
"Asal kau tahu, ibuku ingin kau berada disini sampai dua minggu kedepan."
"Apa? Aku tidak mau!" Silvia bangkit berdiri dan meraih tasnya, sudah cukup! Dia akan pergi sekarang juga karena dia tidak mau berada disana sampai dua minggu kedepan.
Apa Abraham dan ibunya sudah gila? Seharusnya dia tidak menyetujui permintaan Abraham untuk menjadi pacar pura-puranya tadi.
"Mau kemana?"
"Aku mau pulang! Aku tidak mau berada didekat pria sombong sepertimu dan aku tidak mau berlama-lama didalam kamarmu ini. Aku mau pergi sekarang dan tidak akan ada yang bisa menahanku sekalipun itu ibumu!"
Silvia melangkah kearah pintu tapi perkataan Abraham menghentikan langkahnya kembali.
"Saat kau pergi dari sini maka penyakit ibuku akan kambuh, dia akan mengalami gagal jantung dan lihatlah jika sampai hal itu terjadi, aku tidak akan segan-segan untuk mengahancurkanmu dan seluruh keluargamu!"
Silvia menyunggingkan bibirnya dan tersenyum dengan sinis, menghancurkan keluarganya? Ini terdengar seperti sebuah lelucon.
Abraham segera bangkit berdiri dan menghampiri Silvia, dia juga memegangi tangan Silvia dari belakang supaya wanita itu tidak pergi dari sana.
"Kalau begitu katakan padaku, siapa kau sebenarnya?"
"Aku siapa tidaklah penting, yang jelas jangan menyentuhku sembarang!" Silvia menarik tangannya dari genggaman tangan Abraham.
"Oke baiklah, mari kita membuat kesepakatan."
"Membuat kesepakatan? Apa maksudmu tuan Abraham?"
"Ayolah, kita bicarakan sambil duduk, jangan berdiri seperti sebuah patung untuk hiasan kamar."
Abraham kembali memegangi tangan Silvia dan mengajaknya kembali duduk diatas sofa, Silvia mengikuti Abraham dalam diam dan kembali duduk disana.
Dia ingin tahu apa maksud kesepakatan yang ingin dibicarakan oleh Abraham.
"Kau tahu, aku juga tidak ingin semua jadi seperti ini." Abraham memulai pembicaraan diantara mereka.
"Aku kira jika aku membawa seorang pacar maka ibuku akan berhenti dan tidak memaksaku untuk menikah dengan Jenny tapi siapa yang dapat menyangka, ibuku malah menyukaimu dari pada Jenny."
"Bukan keinginanku membuat situasi diantara kita menjadi sulit seperti ini, kita berdua terjebak oleh permainan kita dan ibukulah yang telah memasang jebakan untuk kita berdua."
Silvia hanya bisa menarik nafasnya dengan berat, lalu apa yang harus mereka lakukan sekarang?
"Lalu bagaimana sekarang dan apa maksudmu dua minggu tadi?"
"Seperti yang aku bilang, ibuku sangat menyukaimu dan dia ingin kau berada disini selama dua minggu jadi aku harap kau tidak menolaknya. Aku tidak ingin membuat ibuku kecewa dan membuat penyakitnya kambuh,aku tidak mau kehilangannya begitu cepat karena aku hanya punya dia seorang saja jadi aku harap kau mau membantuku."
Lagi-lagi Silvia menarik nafasnya dengan berat, jujur saja dia sudah sangat merasa bersalah karena telah menipu ibu Abraham dan sekarang? Kesehatan wanita itu yang jadi taruhannya karena sandiwara yang mereka mainkan.
Dia bisa saja menolak permintaan Abraham tapi dia juga tidak mau karena sandiwara bodoh yang mereka mainkan malah merenggut nyawa seorang wanita yang baik hati.
"Apa yang ibumu inginkan selama dua minggu?"
"Dia bilang ingin dekat denganmu selama dua minggu jadi aku harap kau mau tinggal disini menemani ibuku."
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Jika keluargaku tahu aku tinggal dengan orang asing maka mereka akan marah dan kau pasti mati!"
"Jangan bercanda! Begini saja,kau menginginkan lahan panti itu bukan? Jika kau mau menjadi pacar pura-puraku selama dua minggu maka aku akan menjual panti asuhan itu untukmu tapi hanya lahan panti dan aku akan tetap membangun real estate disekitar lahan itu, bagaimana?"
Silvia diam saja belum menjawab Abraham, dia sudah tidak tertarik dengan lahan panti itu lagi karena dia sedang mencari tempat yang lebih bagus untuk anak-anak panti tapi yang dia pikirkan saat ini adalah, kesehatan ibu Abraham!
Jika mereka menjelaskan bahwa mereka hanya bersandiwara saja apa ibu Abraham akan shock? Apakah ibu Abraham akan langsung gagal jantung saat itu juga?
Jujur saja dia tidak mau hal itu terjadi, melihat seseorang mati hanya kerena sandiwara yang mereka mainkan.
"Bagaimana setelah dua minggu nanti?" tanyanya.
"Setelah dua minggu kita akan pura-pura bertengkar dan putus!"
Silvia tampak berpikir sedangkan Abraham menunggu jawaban darinya.
"Berikan waktu untukku berpikir, aku akan menjawab permintaanmu besok dan mengenai lahan pantimu, aku tidak tertarik lagi jadi kau bisa menyimpannya baik-baik."
Silvia langsung bangkit berdiri, dia juga kembali berkata:
"Pinjami aku baju, aku mau mandi!"
Setelah berkata demikian Silvia melangkah masuk kedalam kamar mandi sedangkan Abraham tampak heran, jadi Silvia tidak tertarik dengan lahan panti itu lagi?
Pantas saja Silvia sudah tidak datang mencarinya, ternyata wanita itu sudah menyerah meminta lahan itu padanya. Jika begitu apa Silvia tidak jadi membantu anak panti?
Entah mengapa dia jadi semakin penasaran pada Silvia.