
Matahari mulai menyinari kota Sydney pagi itu, seorang wanita cantik sedang bersiap-siap didalam kamarnya, wanita itu adalah Jenny.
Hari ini dia akan pergi kekantor Abraham untuk bekerja disana, dia sangat yakin jika Abraham akan memberikan posisi yang bagus apalagi aunty Monica telah membujuk Abraham untuk menerimanya bekerja disana.
Saat mendapat kabar bahwa Abraham mengijinkannya bekerja dikantornya, Jenny sangat senang bukan kepalang.
Dia bahkan menyiapkan pakaian terbaiknya, dia harus berpenampilan semenarik mungkin dan tentu saja harus terlihat bersih supaya Abraham menyukainya.
Setelah melihat penampilannya didepan cermin, Jenny tampak begitu puas, siapa yang dapat menolak pesonanya? Dia yakin Abraham juga tidak akan menolak pesona yang dia punya dan dia sangat yakin dia bisa mendapatkan hati Abraham.
Jenny segera meraih tasnya, dia harus segera pergi kalau tidak dia akan terlambat, dia harus memberikan kesan yang baik pada Abraham supaya Abraham menyukainya.
Setelah diluar sana dia mencari ibunya, tentu untuk meminta ijin pada ibunya.
"Mom, aku mau pergi dulu."
"Semoga berhasil sayang dan jangan lupa bekerjalah yang rajin."
"Tentu saja."
Setelah berkata demikian Jenny pergi kekantor Abraham dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Tapi sayang dia harus menunggu sampai Abraham datang bahkan Nick memintanya menunggu diruang tunggu sampai bosnya datang.
Walaupun kesal Jenny terpaksa menunggu Abraham diruang tunggu, dia berharap Abraham segera datang dan dia juga berharap Abraham akan memberinya posisi yang bagus seperti menjadi sekretaris, atau paling tidak menjadi wakil direktur.
Sementara itu Abraham baru tiba dikantornya, dia langsung disambut oleh Nick dibawah sana dan Nick juga mengatakan bahwa ada seorang wanita yang mencarinya dan mengatakan jika akan mulai bekerja disana hari ini.
Tidak perlu dia tanya dan dia lihat, dia tahu jika itu Jenny, kebetulan dia punya posisi yang bagus untuk seorang pemula seperti Jenny.
Abraham memerintahkan Nick untuk membawa Jenny kedalam ruangannya sedangkan dia sendiri masuk kedalam lift pribadinya untuk menuju ruangannya.
Jenny begitu senang,dia langsung mengikuti langkah Nick untuk menuju ruangan Abraham, dia sangat yakin selama dia bekerja disana dia pasti bisa mendapatkan Abraham dengan pesonanya.
Saat sudah tiba didepan pintu ruangan bosnya, Nick mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan dan didalam sana terdengar suatu bosnya memerintahkannya untuk masuk.
Jenny menerobos masuk dengan tidak sabar, dia langsung tersenyum saat melihat Abraham berada dimejanya sedangkan matanya tertuju pada layar komputer yang ada diatas meja.
"Hai." sapa Jenny basa basi.
Abraham mengalihkan pandangannya dan melihat Jenny dengan tatapan tajamnya, tapi setelah itu dia kembali menatap layar komputernya.
"Apa kau yakin kau akan bekerja disini?" Abraham bertanya dengan dingin.
"Tentu saja aku yakin." jawab Jenny dengan penuh percaya diri.
"Bagus! Karena kau putri teman ibuku jadi kau tidak perlu melakukan interview dan bisa langsung bekerja hari ini."
"Oh Abraham, terima kasih kau sangat baik."
"Kau harus Ingat nona Jenny, aku bosmu sekarang dan kau harus memanggilku dengan sopan."
Jenny tercengang, apa maksudnya? Apa Abraham tidak mengistimewakan dirinya?
"Baiklah Abraham, aku akan memangilmu dengan sopan."
"Brakk!!"
"Nona Jenny, sekalipun kau putri sahabat ibuku tapi disini kau adalah karyawanku jadi jangan memanggil namaku dengan sembarangan! Bukankah sudah aku katakan untuk memanggilku dengan sopan? Jadi pangil aku bos dan jangan menjadi besar kepala hanya karena kau mengenal ibuku!" ujar Abraham dengan sinis.
Jenny diam saja, menundukkan kepalanya dan menggenggam tangannya dengan erat. Kabar jika Abraham adalah pria Arogan ternyata bukan hisapan jempol belaka tapi dia tidak akan menyerah apalagi ini baru hari pertama.
"Sialan pria ini mempermalukan aku didepan karyawannya!" maki Jenny dalam hati.
Tapi dia juga punya banyak akal untuk mendapatkan Abraham dan pada saat dia sudah mendapatkan Abraham maka semuanya akan berubah.
"Maafkan aku, aku jadi lupa diri." jawab Jenny dengan terpaksa.
"Bagus, aku dengar dari ibuku jika kau ingin belajar disini?"
"Benar, kau tahu bukan aku baru kembali dari inggris? Jadi aku berharap aku bisa belajar disini dan memulai karirku dari bawah."
Jenny sengaja merendah tapi didalam hatinya dia sangat berharap Abraham memberikan posisi penting untuknya diperusahaan miliknya.
"Bagus jika kau ingin memulai dari bawah jadi sesuai keinginanmu maka mulai hari ini kau akan menjadi cleaning servis selama dua bulan disini."
"Apa?" Jenny terbelalak kaget. Cleaning service? Yang benar saja!
Dia lulusan Universitas terkenal nomor dua di Inggris tapi harus jadi Cleaning Service?
Ini sungguh memalukan! Bagaimana jika sampai teman-temannya tahu akan hal ini?
"Abraham kau jangan bercanda! Aku ingin belajar berbisnis disini bukan jadi cleaning service!" Jenny tampak kesal.
"Bukankah kau bilang ingin belajar dari bawah nona Jenny? Maka dari itu jadilah Cleaning service disini selama dua bulan! Jika kau rajin dalam bekerja maka aku akan mempertimbangkanmu menjadi karyawan tetap dan memberikan sebuah posisi untukmu!"
Jenny menggigit bibirnya, memang dia berkata demikian supaya Abraham memuji kerendahan hatinya dan memberikan posisi yang bagus disana, tapi kenapa harus jadi cleaning service? Mau ditaruh dimana mukanya nanti?
Haruskah dia merendahkan dirinya seperti ini untuk mengejar Abraham? Jenny tampak berpikir sejenak, memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Jadi cleaning service dua bulan? Mungkin ini bukan pilihan yang buruk. Hanya dua bulan saja dan setelah itu Abraham akan memberikan posisi yang bagus untuknya dan dia rasa dia akan melakukan.
Dia akan merendahkan dirinya sesaat yang penting dia ada disana dan selama dia disana, kesempatannya untuk mendapatkan Abraham semakin besar.
"Kenapa kau diam saja? Jika kau tidak mau kau bisa keluar sekarang!" teriak Abraham marah.
Dia sangat kesal karena Jenny tidak menjawab ucapannya.
"Oh tidak bukan begitu, aku mau. Aku memang berniat memulai dari bawah jadi akan aku lakukan." jawab Jenny sambil tersenyum dengan manis, tapi sesungguhnya dia sedang mengutuk dalam hati.
"Bagus jika begitu, Nick bawa dia dan ajari apa saja yang harus dia kerjaan!" Abraham kembali menatap layar komputernya sedangkan Nick mengajak Jenny keluar, yang pasti Jenny harus menjadi cleaning service disana selama dua bulan.
Abraham memang sengaja memberi posisi itu kepada Jenny supaya Jenny menyerah dan tidak mendekatinya lagi.
Setelah kepergian Jenny dari ruangannya, Abraham melihat jam dipergelangan tangannya, ini masih pagi dan dia sudah tidak sabar bertemu dengan Silvia nanti.
Dia jadi penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh Silvia saat ini?
Abraham mengusap wajahnya dan bangkit berdiri, dia juga memaki dalam hati:
"Sialan! Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku harus memikirkannya!"
Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat, entah apa yang terjadi dengannya tapi yang pasti dia sudah tidak sabar menantikan pertemuannya dengan Silvia lagi.