Falling in Love with You

Falling in Love with You
Aku benar-benar sudah gila!



Silvia mengipaskan-ngipaskan tangannya didepan wajahnya karena cuaca panas yang super extreme di kota Sydney, padahal saat itu waktu baru menunjukkan pukul 9 pagi.


Dia dan Dave sedang berada disuatu tempat untuk melihat bangunan yang cocok untuk menampung anak-anak panti nanti.


Silvia berdiri disamping mobilnya dan melihat sebuah bangunan megah tapi sudah tidak dipakai lagi, bangunan itu Dave dapatkan dari seorang agen properti.


Tempat itu sangat luas, bahkan ada lahan kosong yang luas disamping bangunan, entah bekas apa bangunan itu tapi yang pasti tempat itu sangat bagus dan cocok untuk para anak panti.


Mungkin dengan sedikit perbaikan tempat itu akan tambah bagus lagi dan sepertinya dilahan kosong yang terdapat disamping bangunan bisa dibangun sebuah gereja untuk anak-anak nanti.


Silvia langsung suka saat melihatnya dan dia rasa dia akan membeli tempat itu berapapun harganya.


Saat seorang agen properti menghampirinya, dia langsung mengulurkan tangannya sedangkan agen properti yang adalah seorang wanita menyambut uluran tangannya.


"Selamat siang nona, apa nona yang ingin melihat tempat ini?"


"Iya benar, boleh aku melihat tempat ini terlebih dahulu?"btanya Silvia dengan sopan.


"Tentu saja, ayo ikut aku!"


Mereka masuk kedalam bangunan yang masih tampak bagus, bangunan itu benar-benar luas dan tampak memiliki banyak bilik kamar.


Ini sangat sempurna, cukup sedikit dirombak untuk membuat kamar lagi maka tempat itu akan menjadi rumah yang layak untuk anak-anak panti.


Selama melihat bangunan itu, agen properti mulai menjelaskan setiap sudut yang terdapat pada bangunan.


Silvia hanya mengikuti dan melihat ruangan yang terdapat dibangunan itu satu persatu dan tampak begitu puas, tempat itu benar-benar sempurna.


Setelah melihat tempat itu dia mulai membicarakan masalah harga, tidak butuh waktu lama mereka sudah menyepakati harga untuk bangunan itu.


Silvia tampak begitu puas begitu juga dengan agen properti yang menawarkan tempat itu padanya, dia senang karena mendapat klient yang tidak terlalu meributkan masalah harga.


"Baiklah nona, jika begitu aku akan menyiapkan surat-suratnya nanti dan nona tinggal menyediakan data diri nona." ujar agen properti itu.


"Baiklah, aku akan menyiapkan semua yang diperlukan."


Setelah menyepakati kapan mereka akan bertemu lagi Silvia keluar dari bangunan itu dan kembali kemobilnya, didalam sana sangat panas dan dia sudah tidak tahan, apalagi dengan cuaca yang begitu panas diluar.


"Oh astaga, kenapa begitu panas!" keluhnya.


"Bagaimana nona, apa kau menyukai tempatnya?" Dave bertanya padanya.


"Tentu Dave, tempat ini sangat bagus dan cocok untuk pantai asuhan. Cuma perlu sedikit dirombak dan aku pikir, bagaimana jika dilahan kosong itu dibangun sebuah gereja, bagai mana menurutmu?"


"Itu ide yang bagus nona, aku akan segera mencari orang untuk mengerjakannya."


"Tarima kasih Dave, tapi aku harus membayar tempat ini terlebih dahulu."


"Ha...ha..ha...ha..nona Silvia benar. Jadi mau kemana kita sekarang?"


Silvia tampak berpikir, dia ada janji dengan Abraham tapi nanti saja dia menemui pria itu, lebih baik dia pergi kepanti asuhan dan mengajak anak-anak untuk makan siang.


Dia juga ingin membicarakan tempat yang hendak dia beli pada suster Maria, dia juga ingin mengajak suster Maria melihat tempat itu saat dia akan membayar tempat yang dia rasa cocok untuk anak panti.


"Kita kepanti asuhan Dave tapi sebelum itu aku ingin pergi untuk membeli makanan untuk anak-anak makan siang nanti."


"Baik nona."


Dave membawa mobilnya dan sesuai perintah, dia membawa Silvia kesebuah restoran yang ada dikota Sydney.


Silvia turun dari mobilnya dan masuk kedalam restoran, dia memesan banyak makanan untuk para anak panti disana.


Saat hendak membayar pesanan makanannya Silvia membuka dompetnya dan mengambil sebuah kartu, pada saat itu dia mulai sadar, mana kartu identitas dirinya?


Dia mulai mencari didalam dompetnya, tidak mungkin hilang bukan? Apalagi selama dia di Sydney, dia tidak pernah mengeluarkan kartu identitas dirinya sama sekali, apa mungkin terjatuh dikamarnya?


"Hallo."


"Hei, apa yang kau lakukan?"


"Abraham?"


"Ya, aku!"


"Dari mana kau dapatkan nomor ponselku?"


"Ya, kau tidak lupa bukan jika kau telah memberikan kartu namamu pada ibuku."


"Oh, lalu ada apa kau mencariku?"


"Hei apa kau lupa? Hari ini kita akan pergi membeli bahan makanan bersama."


Silvia memutar bola matanya malas, dia sedang memikirkan kartu identitasnya yang hilang, tanpa itu dia akan mengalami kesulitan dan dia harap kartu identitasnya ada dirumah.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" tanya Abraham disebrang sana.


"Hmm maaf, dimana kau sekarang? Apa kau dirumah?"


"Tidak, aku sedang dikantor."


"Baiklah, setelah ini aku akan pergi kekantormu."


"Aku tunggu dan jangan lama-lama karena ibuku sudah menunggu kita dirumah." dustanya.


"Baiklah, aku akan segera kesana untuk menemuimu jika aku sudah selesai."


"Aku tunggu."


"Oke, bye."


Saat Silvia mematikan ponselnya, Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia meletakkan ponselnya diatas meja dan bangkit berdiri.


Abraham berjalan kearah jendela dan memandangi kota Sydney dari atas sana, dia sedang memikirkan tentang dirinya sendiri, ada apa dengannya saat ini?


Dia sungguh tidak mengerti, entah kenapa dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Silvia bahkan sedari tadi Abraham diam saja, tidak menyentuh pekerjaannya sama sekali.


Dia benar-benar sedang malas untuk melakukan apapun dan hanya duduk diam menanti pertemuannya dengan Silvia sedangkan didalam otaknya, selalu saja memikirkan tentang Silvia.


Mungkin dia sedikit gila dan dia berpikir, ini semua pasti akibat rasa penasaran yang begitu tinggi terhadap Silvia sehingga membuatnya jadi seperti ini.


Saat dia tahu siapa sebenarnya Silvia dia yakin, dia tidak akan seperti itu lagi dan dia juga yakin,dia tidak akan memikirkan Silvia lagi dikepalanya.


Lebih baik dia mengerjakan pekerjaannya sampai Silvia datang, dia harap Silvia tidak lama supaya dirinya tidak selalu memikirkan wanita itu.


Tapi sayang, Silvia selalu muncul dikepalanya sampai membuatnya tidak berkonsetrasi dengan pekerjaannya.


Oke baiklah, sekarang dia benar-benar menganggap dirinya sudah gila!


"Sialan! Aku benar-benar sudah gila!" makinya kesal.


Tanpa menyentuh pekerjaanya Abraham bangkit berdiri dan masuk kedalam ruangan pribadinya, lebih baik dia menunggu didalam sana.


Dia kira dia bisa menenangkan dirinya disana tapi ternyata dia salah, tak henti-hentinya Abraham melihat jam tangannya dan melihat ponselnya.


Waktu terasa begitu lama dan dia merasa sungguh frustasi, satu jam bagaikan satu tahun baginya dan dia sudah menunggu selama dua jam dalam kegelisahan.


Abraham benar-benar tampak kusut dan frustasi, dia paling benci menunggu seperti ini.


Saat Nick menghubunginya dan mengatakan jika Silvia ada dibawah dan mencarinya, senyum langsung mengembang diwajah Abraham, akhirnya yang dia tunggu datang.