
Setelah kepergian Silvia dari ruangannya, Abraham langsung menuju disebuah ruangan yang terhubung dengan ruang kerjanya dimana disitu ada sebuah tempat tidur, lemari pakaian dan kamar mandi.
Untunglah dia selalu menyiapkan baju ganti dikantornya, itu memang sengaja dia lakukan jika dia memerlukannya dan lihatlah, dia benar-benar membutuhkannya saat ini.
Dia memang suka mandi disana disaat dia sudah selesai rapat atau menemui rekan bisnisnya, dia perlu mandi setelah menjabat tangan orang lain karena dia merasa tidak nyaman.
Abraham masuk kedalam kamar mandi dan langsung menyalakan air untuk mencuci sisa telur yang berada diwajahnya.
Ini benar-benar menjijkkan! Tidak saja lengket tapi telur itu berbau amis!
Abraham mengepalkan tangannya marah, dia benar-benar kesal!
Dengan kekesalan dihati, Abraham meninju kaca kamar mandi sampai pecah hingga buku-buku jarinya sampai mengeluarkan darah karena goresan kaca yang pecah.
"Sialan! Apa wanita itu tidak tahu jika aku misofobia?" makinya kesal.
Abraham kembali mencium bau amis yang ada diwajahnya sambil mengumpat kesal, dia segera membuka seluruh pakaiannya, lebih baik dia mandi supaya bersih.
Wanita itu benar-benar tidak akan dia lepaskan dan lihat saja dia akan membongkar panti asuhan itu secepatnya dan dia tidak akan perduli mau pergi kemana anak-anak panti, sekalipun mereka menjadi anak gelandangan dia tidak akan perduli!
Abraham berdiri dibawah guyuran air shower dan mengusap rambutnya yang basah, mungkin dia harus mendatangi panti asuhan lagi.
Dan wanita tadi tidak akan bisa menghalangi niatnya untuk membongkar bangunan itu,jangankan wanita tadi, siapapun tidak akan bisa menghalangi niatnya. Tidak akan ada yang bisa!
Setelah selesai mandi, Abraham membuang bajunya kedalam tong sampah. Dia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaian.
Dia memakai bajunya dengan cepat karena dia mau pergi, dia ingin menemui Arsitek yang dia percayakan untuk membangun real estate nanti diatas tanah miliknya.
Abraham segera keluar dari sana dan mengajak asinten pribadinya untuk pergi, sebelum menemui artisek yang dia percaya dia ingin mengunjungi panti asuhan dan hendak berbicara dengan suster Maria tapi sebelum itu dia ingin pergi makan siang.
Sementara itu Silvia sudah dijemput oleh Dave, dia ingin mengunjungi panti asuhan itu kembali untuk menjenguk anak-anak yang ada disana.
Tapi sebelum itu dia makan siang terlebih dahulu untuk mengisi perutnya yang lapar.
Sikap Abraham terhadapnya benar-benar kasar tadi, sebenarnya dia sangat ingin memukuli Abraham sampai babak belur tapi dia berusaha menahan dirinya, jika dia tidak memikirkan anak-anak panti mungkin sudah dia pukul pria kasar itu.
Bahkan menghadapi seorang wanita saja harus bersikap kasar, wanita mana yang mau berhubungan dengan pria aneh dan kasar seperti Abraham Achilles?
Tapi itu bukan urusannya jadi dia tidak akan perduli, setelah dia membantu anak panti dia akan segera kembali ke Amerika dan tentu dia tidak akan kembali ke Australia dalam waktu dekat.
Selama dia sedang makan, Silvia jadi teringat dengan anak-anak dipanti asuhan, apa yang selama ini mereka makan?
Apakah mereka pernah makan enak? Mungkin pernah tapi dia merasa iba dengan nasib anak-anak yang kurang beruntung.
Mereka hidup dengan bantuan dari orang lain dan mereka berharap ada yang berbaik hati dan memberikan sedikit donasi untuk mereka supaya mereka bisa menikmati hidup mereka.
Silvia melihat makanan yang dia pesan dan pada saat itu sebuah ide muncul dikepalanya, mungkin ini ide yang bagus, anak-anak panti pasti akan senang.
Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Dave yang sedang menunggunya diluar sana.
"Dave, aku ingin kau memesankan 150 kotak pizza dan kirimkan kepanti asuhan." perintahnya.
"Baik nona." jawab Dave.
Tentu Dave langsung melaksakan perintah dari putri majikannya, memesan Pizza dan mengirimkannya untuk anak-anak panti asuhan.
Setelah selesai makan, Silvia keluar dari restoran itu dan menghampiri Dave, dia juga memerintahkan Dave untuk membawanya kepanti asuhan.
Tapi sebelum itu lagi-lagi dia mampir kesebuah supermarket untuk membeli beberapa biscuit dan makanan, dia membeli begitu banyak sampai bagasi mobilnya tidak muat lagi.
Berbuat sedikit kebaikan tidak salah bukan?
Setelah tiba dipanti dia langsung disambut oleh Candy, gadis manis itu tampak begitu senang melihat kedatangannya.
Silvia terseyum dan mengusap kepala Candy dengan lembut.
"Kakak, apa kakak sudah bertemu dengan situan jahat?" Candy bertanya dan menatapnya dengan pandangan penuh harap.
"Hm..ya sudah, kakak sudah menemuinya."
"Apa situan jahat tidak jadi mengusir kami semua?"
"Candy tenang saja, situan jahat tidak akan berani mengusir siapapun dari sini."
Pada saat itu Pizza yang dia pesan untuk anak-anak yang ada disana telah datang, setelah Silvia mengatakan pada anak-anak bahwa Pizza itu untuk mereka semua anak-anak disana langsung tampak begitu senang.
Silvia juga meminta Dave menurunkan semua barang yang dia beli disupermarket tadi, tentu hal itu membuat semua anak-anak yang ada disana semakin senang.
Mereka menikmati pizza yang dia beli disamping panti asuhan, disana terdapat pohon yang rindang dan rerumputan, mereka semua duduk diatas rumput untuk menikmati Pizza itu bersama-sama.
Silvia sedang duduk bersama dengan suster Maria, dia sangat senang melihat anak-anak panti yang tampak begitu senang menyantap Pizza mereka.
Sedari tadi senyum terus menghiasi wajahnya begitu juga dengan suster Maria dan para suster yang ada disana.
"Nona Silvia,bberapa usiamu?" tanya suster Maria.
"Usiaku 24 tahu." jawabnya singkat.
"Wah nona masih sangat muda, apa nona berasal dari China?"
Silvia memandangi suster Maria sambil tersenyum.
"Bukan, ibuku yang berasal dari China tapi ayahku berasal dari sini."
"Wah, sudah aku duga karena dilihat bagaimanapun wajah nona Silvia terlihat blasteran."
"Benar, wajah ibuku begitu melekat padaku dan gen ayahku kalah." guraunya.
Suster Maria terkekeh, Silvia gadis yang sangat baik dan ramah.
"Apa nona Silvia menetap disini?"
"Tidak suster, aku dari Amerika. Ayahku lebih memilih tinggal disana dari pada di Sydney dan aku kemari hanya untuk jalan-jalan dan aku tinggal dirumah nenekku."
"Sepertinya nona Silvia adalah melaikat yang diutus oleh Tuhan untuk membantu kami dan tentunya untuk membantu anak-anak yang ada disini."
"Suster terlalu berlebihan, ini hanya kebetulan saja."
"Aku rasa tidak nona, aku sangat berterima kasih atas kebaikan nona Silvia dan aku berdoa nona Silvia selalu bahagia begitu juga dengan keluarga nona, aku juga berdoa semoga nona cepat menemukan pasangan hidup yang baik."
"Ha..ha..ha..Suster Maria kenapa tahu aku masih jomblo." ujarnya.
"Aku hanya menebak." jawab Suster maria.
Mereka tertawa bersama-sama dan kembali menikmati pizza yang ada, sedangkan saat itu Abraham sedang diperjalanan untuk menuju panti asuhan itu.