Falling in Love with You

Falling in Love with You
Teman baru



Pagi hari waktu Australia.


Silvia sudah terbangun dari tidurnya jam enam pagi, dia memang sudah terbiasa bangun pagi karena setiap hari dia suka joging jika tidak ada halangan.


Selama di Australia dia juga akan melakukan hal seperti itu, tidak di Australia saja, dimanapun dia berada dia akan melakukan hal seperti itu.


Setelah memakai baju olahraganya Silvia keluar dari kamarnya, tidak lupa dia juga membawa ponselnya dan tidak lupa juga dia memasang headset ditelinganya untuk mendengarkan musik selama dia joging.


Dia hanya akan berlari disekitar rumah neneknya saja, lagi pula rumah peninggalan neneknya begitu besar dan disanalah ayahnya tinggal sejak kecil.


Dirumah itu terdapat banyak kenang-kenangan akan ayahnya sewaktu masih kecil, tidak hanya itu dirumah itu juga banyak kenang-kenangan akan kakek dan neneknya sebab itulah ayahnya enggan menjual rumah yang penuh kenang-kenangan itu.


Ayahnya lebih rela mengeluarkan uang untuk membayar para pelayan untuk merawat rumah itu dan tentu saja, ayah dan ibunya sering berkunjung ke Australia.


Silvia keluar dari rumah neneknya dan menghirup udara pagi yang segar, saat seperti itulah paling pas untuk menikmati udara sejuk sebelum kesibukan dikota Sydney terlihat dan sebelum ada kendaraan mencemari udara yang ada.


Dia sangat suka dengan keadaan seperti itu dan mulai berlari kecil menyelusuri jalan yang masih sepi, ada sih beberapa orang sedang berlari disana.


Selama berlari Silvia sedang memikirkan situan jahat yang akan dia temui nanti siang, dia sangat penasaran dengan tampang orang yang begitu tega terhadap anak-anak panti.


Tentu dia berharap situan jahat bisa diajak negosiasi, jika tidak maka dia akan membeli semua tanah yanh ada.


Silvia berhenti disebuah taman untuk merenggangkan otot-otot tangan dan kakinya, disana banyak juga yang sedang joging seperti dirinya.


Ditaman itu dapat berberapa kursi jadi dia duduk disana, mengambil ponselnya untuk mematikan musik yang sedang diputar diponselnya.


Saat itu seorang pria tampan melihat kearahnya dan mendekatinya, pria itu bahkan duduk disampingnya.


"Nǐ hǎo ma?"


(Apa kabar?)


Pria keturunan China yang duduk disampingnya Silvia tiba-tiba bertanya.


"Hěn hǎo."


(Sangat baik.)


Silvia menjawab sambil melihat pria China yang duduk disampingnya dan pria itu tampak tersenyum manis kearahnya. Siapa?


"Nǐ zhù zài zhè fùjìn ma?"


(Apa kau tinggal dekat sini?)


Pria itu bertanya lagi.


"Shì de, wǒ de fángzi lí zhèlǐ bù yuǎn."


(Ya, rumahku tidak jauh dari sini.).


Pria itu melihat Silvia dengan heran, dia belum pernah melihat Silvia sebelumnya. Apa wanita itu pendatang baru?


"Wǒ kěyǐ zhīdào nǐ de míngzì ma?"


(Bolehkah aku tahu namamu?)


"Hmm..nǐ néng shuō yīngyǔ ma?"


(Apa kau bisa bahasa Inggris?)


Tanya Silvia, pasalnya dia kurang lihai bahasa ibunya.


"Ó, dāngrán kěyǐ."


(Oh tentu saja bisa.) jawab pria itu.


"It's good karena aku tidak terlalu bisa berbahasa Mandarin." Silvia tampak bernafas dengan lega.


"Memangnya kau bukan berasal dari China?"


"Bukan, aku blasteran. Ibuku yang berasal dari China."


"Oh maaf, aku kira kau wisatawan. Tapi bahasa Mandarinmu bagus."


"Terima kasih."


"Jadi, boleh aku tahu namamu?" tanya pria itu lagi.


"Aku Silvia Smith, kau bisa memanggilku Silvia ."


"Aku Jimy Chen." pria itu memperkenalkan dirinya.


"Senang berkenalan denganmu Jimy."


"Aku juga senang berkenalan denganmu." jawab Jimy.


Silvia tersenyum dan memainkan ponselnya, dia tidak tahu mau bicara apa lagi begitu juga dengan Jimy, dia hanya melihat wajah cantik Silvia.


"Jimy, aku harus pulang." Silvia bangkit berdiri.


"Hmm sebelum itu boleh aku tahu nomor ponselmu? Aku ingin berteman denganmu." Jimy mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Silvia.


"Tentu saja, aku senang punya banyak teman." Silvia mengambil ponsel dari tangan Jimy, dia mulai mengetikkan nomor ponselnya disana setelah selesai dia mengembalikan ponsel Jimy kembali.


"Terima kasih, boleh aku tahu dimana rumahmu?" tanya Jimy lagi.


Silvia hanya tersenyum pada Jimy, cuma rumah tidak apa-apalah, lagi pula dia tidak lama berada disana.


"Rumah besar yang diujung jalan itu rumahku."


"Wah,vitu rumah mendiang nyonya Ellen Smith. Apa kau cucunya?" tanya Jimy penasaran.


"Kau mengenal nenekku?"


"Ya, sewaktu kecil aku suka main disana."


"Oke baiklah, kita berteman."


Jimy terkekeh dan bangkit berdiri, pantas saja saat dia mendengar nama belakang Silvia dia merasa tidak asing.


"Jadi boleh kapan-kapan aku main kesana?" Jimy bertanya lagi.


"Tentu saja, tapi aku harus pergi."


"Baiklah, sampai jumpa lagi nanti."


"Bye." Silvia melambaikan tangannya dan segera berlari kecil, dia sudah harus kembali.


Jimy melihat kepergian Silvia sambil tersenyum, dia juga berteriak sebelum Silvia menjauh.


"Xiǎoxīn!"


(Hati-hati.)


Silvia melambaikan tangannya tanpa melihat kebelakang lagi, dia terus berlari sampai tiba dirumah neneknya.


Didepan sana Dave sudah menunggu untuk menyambutnya, pria itu membungkuk saat melihat kedatangannya.


"Dave, nanti antarkan aku untuk menemui Abraham Achilles ya." pintanya.


"Ya nona muda, sarapan sudah siap silahkan dinikmati."


"Terima kasih."


Silvia segera berlari masuk kedalam, tentu dia tidak langsung sarapan. Dia berdiri dibelakang rumah neneknya untuk merenggangkan otot-otot tangannya.


Dibelakang rumah neneknya terdapat begitu banyak jenis bunga karena memang sewaktu neneknya masih hidup, neneknya suka menanam bunga dan Dave merawat bunga itu sampai sekarang.


Setelah dirasa cukup Silvia segera pergi mandi, dia mulai bersiap-siap untuk menemui situan jahat.


Tapi sebelum itu dia harus sarapan terlebih dahulu, selama sarapan Silvia bertanya pada Dave mengenai situan jahat.


"Dave, apa kau tahu siapa Abraham Achilles ini?"


"Ya nona, menurut rumor yang saya dengar Abraham Achilles seorang pengusaha yang terkenal kejam, dia akan menyingkirkan siapa saja yang berani membantahnya."


"Lalu? Apa dia sudah tua?"


"Tidak, Abraham Achilles masih muda, usianya kira-kira 30 tahun."


"Oh lebih tua enam tahun dariku dan seusia kakak." ujarnya.


"Apa nona yakin ingin bertemu dengan Abraham Achilles?" tanya Dave memastikan.


"Tentu saja Dave, aku tidak tega dengan anak-anak panti."


"Baiklah, tapi nona harus berhati-hati."


"Tentu, oh ya Dave, apa kau mengenal Jimy Chen?"


"Jimy? Dulu dia suka datang dan bermain dengan nyonya besar. Apa nona mengenalnya?"


"Ya baru saja."


Silvia bangkit berdiri setelah dia sudah selesai sarapan, sekaranglah waktunya menemui Abraham Achilles, situan jahat.


"Ayo Dave, kita pergi menemui Abraham Achilles."


"Baik nona."


Silvia pergi dari sana untuk menemui Abraham Achilles, dia tidak tahu pria yang dia katai model celana dalam saat dibandara yang akan dia temui.


Apakah mereka akan kaget saat bertemu? Atau Silvia akan ditendang Abraham Achilles keluar? Ya lihat saja nanti.