Falling in Love with You

Falling in Love with You
Meminta maaf



Silvia meletakkan tasnya dan duduk disisi ranjang, dia juga tidak tahu harus melakukan apa karena dia belum pernah merawat orang sakit dan ini yang pertama kalinya.


Apa yang harus dia lakukan? Yang dia tahu jika sakit cukup beristirahat atau panggil dokter untuk memeriksa, tapi sekarang dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


"Hei kenapa kau diam saja?" Abraham menyibakkan selimut dan mendekati Silvia.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Silvia pula.


"Tidak baik karena kau menyiramku!"


"Hanya terkena sedikit air saja sudah seperti ini, kenapa waktu kau menolongku dilaut kau tidak langsung mati saja!"


"Wow, apa kau begitu membenciku?"


"Menurutmu?"


Abraham menghembuskan nafasnya dengan kasar, walaupun dia masih merasa kedinginan tapi dia tidak memperdulikannya dan duduk disisi ranjang.


Dia juga meraih tangan Silvia dan menggengamnya, Silvia menjadi sangat heran, kenapa harus memegangi tangannya?


Apa karena demam membuat otak Abraham menjadi eror atau jangan-jangan otaknya kemasukan air dingin?


"Jangan memegangi tanganku!" Silvia berusaha menarik tangannya tapi Abraham semakin menggenggamnya dengan erat.


"Sudahlah, aku minta maaf atas perlakuan kasarku terhadapmu selama ini,aku minta maaf. Mungkin kau sangat membenciku karena perlakuanku selama ini tapi aku harap kau mau memaafkan aku dan kita berdamai."


Silvia menatap Abraham dengan tatapan tidak percaya, kenapa Abraham meminta maaf? Apa Abraham sudah tobat atau ada parasite yang masuk kedalam otak Abraham saat dia mengguyur pria itu dengan air dingin tadi?


"Ada apa denganmu?" tanyanya tidak percaya.


"Ada apa apanya? Aku sedang meminta maaf, apa ada yang salah?"


"Tidak bukan begitu. Aku hanya merasa heran saja, apa karena kedinginan membuat otakmu bermasalah? Atau kau seperti ini supaya aku mau merawatmu? Jika memang seperti itu kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan bertanggung jawab dan merawatmu sampai sembuh!"


"Ck, sudahlah!" Abraham tampak kesa. Dia langsung naik kembali keatas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sedangkan Silvia diam saja.


Dia masih tidak tahu apa yang harus dia lakukan disana, dan dia juga masih bingung kenapa Abraham meminta maaf padanya.


Memang dia membenci Abraham karena sifat kasar dan sombongnya, tapi sepertinya dia harus memaafkan perbuatan Abraham karena pria itu telah meminta maaf padanya.


Lagi pula dia juga merasa tidak perlu menyimpan kebencian dalam hatinya terhadap Abraham Achilles, pada saatnya nanti mereka juga tidak akan bertemu lagi dan saat itu tidak akan lama lagi karena dia harus pulang ke Amerika.


"Apa kau sudah makan?" Silvia memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Belum!"


"Mau aku buatkan sesuatu?"


"Tidak perlu repot, kau duduk diam saja disini!"


"Kalau begitu buat apa aku datang, kau mengganggu tidur siangku saja!" Silvia jadi kesal.


"Jangan menyalahkan aku, jika kau ingin marah sebaiknya kau marah pada ibuku!"


"Ck!" Silvia berdecak kesal. Jangan-jangan mereka berdua dijebak oleh ibu Abraham atau jangan-jangan Abraham juga tidak sedang sakit, entah kenapa dia jadi curiga.


"Apa kalian berdua menipuku?" tanyanya penuh curiga.


"Tidak! Jangan banyak bertanya karena aku mau tidur!"


"Ya sudah, tidur sana! Aku akan membuatkan sesuatu untukmu, terserah nanti mau kau makan atau mau kau buang!"


"Hei!"


Abraham meraih tangan Silvia kembali, dia rasa Silvia membencinya karena telah membuang makanan yang dia bawa waktu itu.


"Apa lagi sih?" Silvia melotot pada Abraham.


"Bukankah aku sudah meminta maaf? Apa kau tidak mau memaafkan perbuatan kasarku padamu selama ini?"


"Sudahlah lupakan,aku bukan tipe pendendam!"


"Bagus jika begitu, bagaimana jika kita tidur bersama?" goda Abraham.


"Gila kau!"


"Jadi apa yang akan kita lakukan?"


"Tuan Abraham, sebaiknya kau tidur saja, aku akan membuatkan makanan untukmu!"


Silvia menarik tangannya dan bangkit berdiri, dia segera keluar dari kamar itu. Lebih baik dia membuat makanan dari pada harus berada didalam kamar berduaan dengan Abraham.


Abraham duduk diatas ranjang dan melihat kepergian Silvia, apa yang harus dia lakukan? Dia kan tidak mengantuk?


Semua ini gara-gara rencana ibunya dan sekarang ibunya malah pergi, seharusnya dia pergi kekantor saja tadi sehingga dia tidak terlibat dengan drama yang ibunya buat.


Dia segera bangkit dari atas ranjang, sebaiknya dia keluar saja tapi sebelum itu dia mengambil baju hangatnya dan memakainya.


Didalam dapur Silvia sibuk didepan kulkas untuk mencari bahan-bahan makanan, apa-apaan bahan yang ada didalam sana?


Kulkas begitu besar tapi isinya tidak ada, sayur hanya ada sedikit, telurpun hanya ada sedikit. Susupun sudah terlihat kadaluarsa bahkan dagingpun tidak ada!


Apakah seperti ini kehidupan seorang bujangan? Atau Abraham jarang makan dirumah?


Saat Abraham tiba disana, dia menarik sebuah kursi hingga Silvia memalingkan wajahnya karena kaget, tapi setelah itu dia kembali mengeluarkan isi yang ada didalam kulkas.


"Kenapa kau tidak tidur?"


"Aku tidak mengantuk!"


"Apa kau jarang makan dirumah?"


"Aku tidak suka makanan yang dimasak oleh pelayan!"


"Bukankah kau Mysophobia? Seharusnya kau belajar memasak supaya kau bisa makan makanan yang higenis."


"Aku tidak punya hoby memasak, itu pekerjaan perempuan!"


"Lalu apa yang kau makan setiap hari?" tanya Silvia heran, makan diluar juga belum tentu higenis.


"Ya aku selalu makan direstoran, terkadang ibuku juga memasak untukku."


"Oh." Silvia segera bangkit berdiri dan membawa bahan-bahan makanan yang dia ambil dari kulkas, ada sebagian yang dia buang ada juga yang dia simpan diatas meja untuk dia olah.


"Menurutku tidak baik selalu makan diluar, apalagi untuk seorang Mysophobia sepertimu?"


"Kenapa? Apa ada yang salah jika aku makan diluar?"


Silvia tersenyum dengan licik, sepertinya akan sangat menyenangkan mengerjai Abraham saat ini.


"Asal kau tahu, dulu aku sering makan direstoran ternama tapi sekarang tidak lagi karena tanpa sengaja aku melihat mereka membuat makanan yang akan mereka sajikan pada tamu dengan sembarangan! Tangan mereka tidak dicuci dan keringat mereka berjatuhan diatas makanan yang mereka buat. Sebelum menyajikan hidangan kepada para tamu seorang Chef akan mencicipi makanan itu dengan satu sendok yang akan terus dia gunakan untuk mencicipi dari satu hidangan kehidangan lainnya dan tak ayal, chef itu juga tidak ragu untuk memegangi makanan yang ada diatas piring dan menatanya dengan tangan kosong supaya terlihat menarik, setelah itu barulah makanan itu boleh dibawa keluar untuk dihidangkan kepada para tamu."


"Apa kau bilang?" Abraham tidak percaya mendengarnya. Entah kenapa dia jadi membayangkan hal itu dan jadi merasa mual.


"Aku tidak bohong, bahkan dapur mereka begitu kotor, banyak tikus dan tentu saja serangga seperti kecoa!"


Abraham tampak berpikir, apa benar?


"Apa kau tahu film Ratatouille?"


"Tidak!"


"Film itu mengisahkan seekor tikus yang pandai memasak dan asal kau tahu saja, tikus selalu ada didalam dapur."


Abraham melotot tidak percaya dan pada saat itu dia teringat kejadian dimana dia sedang makan dan mendapati sehelai rambut dimakanannya, hal itu tentu membuatnya sangat murka.


Apakah yang Silvia katakan adalah hal benar? Jangan-jangan rambut waktu itu adalah rambut seekor tikus.


Sialan! Dia jadi ingin muntah membayangkan hal itu!


Abraham memegangi perutnya yang terasa mual dan bangkit berdiri, dia harus segera kekamar mandi.


Silvia tertawa melihat kepergian Abraham, padahal cerita tadi hanya dia karang sembarangan saja dan ternyata pria itu percaya dengan kebohongan yang dia buat.


Abraham memaki didalam kamar mandi:


"Sialan! Aku tidak akan makan disembarang tempat lagi!" makinya sambil mengelap mulutnya.


Dia benar-benar mual membayangkan apa yang dikatakan oleh Silvia dan teringat dengan rambut yang ada dimakanannya waktu itu.