
Happy Reading!!
Bilah membuka matanya dan mendapati dirinya yang sudah tergeletak di apartmentnya, Bilah terheran mengapa dirinya tiba-tiba berada didalam kamarnya?
Seseorang membuka pintu dan membawa sebuah nampan makanan dan segelas susu. "Nih dimakan, Putri tadi kesini yang bikinin, tapi tadi ia pamit pulang."
Bilah terbengong tak percaya, "Di-Dirga? Kok bisa?"
Dirga mengangkat alisnya, "Apanya?"
Bilah mengggaruk kepalanya, "Enggak, maksudnya, kenapa Bilah tiba-tiba disini? Dan kenapa Dirga disini?" tanya Bilah.
"Gue tadi yang temuin lo dan bawa lo pulang, nih makan." Bilah menyerahkan nampannya pada Bilah, tapi Bilah menggeleng.
Dirga menghembuskan nafas kasar. "Kenapa? Kode minta gue suapin?"
Bilah melongo pasalnya kenapa Dirga berpikiran seperti itu membuat Bilah malu sendiri. "Ha? E-enggak!"
"Sekali-kali gue yang bawain lo makanan, ayo dimakan. Atau gue aja yang makan? Lo gak pengen nyobain susu buatan gue?" ucap Dirga membuat Bilah ingin tertawa. Pikir Bilah lantas apa yang membuat Dirga merasa bangga hanya membuat segelas susu. Itu hanya segelas susu yang tak perlu lima menit untuk membuatnya.
"Gausah tahan ketawa, gue gak pernah buat susu kayak gini seumur hidup gue, mama yang selalu sediain semua buat gue. Jadi ini gak mudah buat gue, ayo cepet dimakan!" ujar Dirga dan menyuapkan makanan ke mulut Bilah.
Bilah mengunyahnya dengan lemas dan senang lantaran ini kejadian yang langkah Dirga memperlakukannya seperti ini, "Kenapa ngunyah makanan lama? Berasa kasih makan anak TK, kalo gini lo gak akan pernah gemuk."
Bilah menyerngitkan dahinya dan tersenyum sendiri dan menunduk sambil membawa gelas yang ditangannya yang sedari tadi hanya menempel dimulutnya, "Orang yang Bilah suka kayaknya gak suka cewek gemuk."
"Kata siapa? Gak bener banget."
Bilah mengetuk gelas beberapa kali dan menatap Dirga intens, "Emang tau?"
Dirga menyuapi Bilah dengan sendok lagi dan menunggu Bilah mengunyah lama, "Tau lah."
"Siapa?"
"Gue kan?" jawaban Dirga yang sudah Bilah duga lantaran Bilah memang terlalu kentara menunjukan perasaanya pada Dirga itu.
"Cepet telen deh Bil."
"Ya-Yaudah sini Bilah makan sendiri aja," ujar Bilah dan mengambil piring yang dipegang Dirga tapi Dirga menjauhkan piring itu dari tangan Bilah. "Gausah, nanggung Bil. Gue aja. Ternyata seru kayak gini kayak nyuapin nenek panti jompo."
"Ish!"
"Kenyang," gumam Bilah dan tiba-tiba saja 2 orang gila masuk kamar Bilah dan mengacaukan semuanya, "Ups!"
"Kita ganggu nih Vin!" ujar Mario membuat Bilah mendelik tajam kearah mereka.
"Biarin aja keganggu apa enggak bodo amat lah! Btw makasih ya Dir, lo udah nolongin Bilah," ujar Kelvin dan tidur selonjoran di samping Bilah disusul oleh Mario.
Bilah yang merasa sempit karena mereka selalu begini jika dikamar Bilah menguasai kasur dan membuat Bilah menjadi atom disana. "Bilah pengen tidur, kalian jangan tidur disini, kalian mau tidur apa jengukin Bilah?"
"Jengukin PS kok," ujar Kelvin membuat Dirga sadar jika dikamar Bilah ada PS di pojok ruangan.
"Yaudah bawa pulang aja! Gue risih tau! Kesannya apartment gue tempat game lo berdua!"
Dirga menatap mereka bingung, "Lo pada sering kayak gini? Nemenin Bilah di kamar Bilah?" tanya Dirga bingung.
"Bil, lo gak takut? Mereka semua cowok," ujar Dirga menatap Bilah yang pandangannya kosong entah memikirkan apa.
Mario duduk dari tidurnya dikasur Bilah, "Lo bilang gitu seakan lo bukan cowok. Emang kenapa kalo kita selalu kayak gini. Udah biasa kali." Bilah tak menggubris percakapan mereka dan hanyut dalam lamunannya dengan kepala diatas lutut.
"Tapi lo gak pernah ngelakuin macem-macem kan?" tanya Dirga.
"Emang kenapa kalo macem-macem?"
Kelvin tersenyum jahil, "Menurut lo? Apa yang kita bakal lakuin kalo ada cewek. Satu lagi."
Dirga mengangkat alis terkejut, "Maksud lo?"
"Lo pikir selama bertahun-tahun kita ngapain aja buang-buang kesempatan?! Gausah jadi laki muna dah lo Ga! Gue juga tau tabiat lo kali, kita satu team basket ingat itu," ujar Mario.
"Jadi kalian udah ngapain aja sama Bilah?"
Mario tersenyum jahat, "Menurut lo? Apa itu juga harus gue kasih tau?"
"Lo pasti peka lah inget kalo kita sering kesini bahkan nginep!"
Kelvin tersenyum sinis, "Hal kayak gitu gak patut dikasih tau kali. Rahasia kita lah!"
"Jadi kalian pernah?!"
Kelvin mengangguk, "Iya, kita pernah!"
"Pernah main monopoli, nonton bareng, makan bareng, curhat bareng, berantem bareng, tertawa bareng. Kita gak akan lewatin kesempatan itu," ujar Kelvin yang ingin tertawa karena menggoda Dirga.
Dirga memutar bola mata malas, "Kirain bego!"
Kelvin menyolek dagu Bilah, "Woi Bil!"
"Kenapa dah lo Bil?" tanya Mario melihat Bilah yang bingung dan melamun.
Bilah mengusap perutnya dan cemberut. "Kenyang udah makan."
"Ya terus?"
Bilah menatap aquarium di meja belajarnya. "Hiu udah makan belum ya? Pasti dia laper banget, Bilah kasihan dia makannya itu doang. Mau Bilah kasih ayam bakar tapi gak kalian bolehin"
Bilah menggelengkan kepala tanda kasihan. "Kelvin sama Mario emang jahat."
Mario dan Kelvin menghempaskan tubuhnya ke kasur kembali, "Serah lo Bil! Urus aja Hiu lo itu! Kasih makan pizza hut juga gue mana peduli!"
Dirga kembali terkejut, selalu banyak kejutan dan keanehan saat ia semakin mengenal Bilah, "Bilah punya Hiu?! Gimana bisa?!"
Bilah mengangguk. "Cuman Hiu yang Bilah ajak curhat, dia paling cantik didunia. Bilah suka pelihara dia."
"What?! Dimana lo taruh dia? Itu kan bahaya!" ujar Dirga lagi.
Kelvin berhasrat kembali menjahili Dirga. "Hiu nya buueesaaar! Hari ini Bilah sakit! Artinya Hiu belum makan, kayaknya bakal ada korban selanjutnya."
Mario menggaruk kepalanya, "Biasanya kalo telat makan semenit aja Hiu nya bakal ngamuk tuh! Dan jinaknya cuman sama Bilah,pernah suatu saat teman Bilah mati dimakan Hiu itu."
Kelvin berekspresi memikir keras, "kayaknya korban selanjutnya adalah----"
Dirga mendelik kaget, "dimana Hiu sekarang?"
Bilah memukul Kelvin dan Mario dengan bantal dengan keras. "Mereka bohong kok Dirga! Hiu itu baik banget, dia kecil imut-imut. Dia meskipuun gak dikasih makan kadang nurut kok. Mau Bilah kenalin sama Hiu?"
Dirga menggeleng keras, "Enggak, enggak! Seimut imutnya dia, itu kan menurut lo."
Bilah mengambil aquarium kecil dan diberikan pada Dirga dengan wajah polosnya. "ini Hiu."
Dirga menepuk jidat kasar. "Jadi ini Hiu nya? Hiu apaan kayak gini?" Kelvin dan Mario sontak tertawa.
"Kan udah aku Bilah kasih tau Hiu itu cantik warna pink gak jahat gak kayak Kelvin sama Mario."
Kelvin baru teringat, "Bil, siapa yang buat lo kayak gini? Lo udah gapapa kan? Asma lo gimana?"
Bilah menatap Kelvin penuh ejek, "Kalo Bilah udah kayak gini berarti baik-baik aja, Kelvin pinter gini aja gak tau."
Kelvin menatap Bilah horror. "Justru karena gue pinter itu gue tau muka lo pucet Bil."
"Masa sih? Tadi Bilah mimpi sih emang."
"Mimpi apa?" tanya Kelvin, Dirga dan Mario.
"Mimpi basah."
Mereka terkejut melihat jawaban Bilah yang menjawab dengan teramat polos. "Apaan sih lo Bil! Ngomong apaloh Bil!"
"Iya beneran! Tadi Bilah mimpi basah-basahan disiram air sama pak kebun sekolah pas malem hari. Terus dalam keadaan basah Bilah lari ke kebelakang sekolah dan Bilah ketemu pocong minta sembako terus Bilah kasih beras malah minta gula terus Bilah di ludahin pake air sirup sama tuh pocong. Makin basah dah, terus Bilah lari terus. Eh yang paling Bilah takutin, Bilah ketemu seseorang di tengah jalan. Bilah lari dan Bilah ketabrak truk. Terus Bilah mati tapi hidup lagi di alam yang beda."
Mereka terbengong dan tertawa hambar dengan muka datar. "HAHA! Mati ya Bil? Gak lucu ya Bil! HAHA!"
"Iya, terus ada malaikat pencabut nyawa, terus gue bangun."
"Mimpi basah pala lo Bil! Ambigu lo Bil!" Mario menarik rambut Bilah, sementara Dirga hanya geleng-geleng kepala melihat Bilah.
"Apa yang ambigu sih? Emang iya kok!"
"Iya in aja Bilah! Iya Bil iyah! Kita nonton yok! Gue punya film horror tragis man!"sombong Kelvin yang membuat Bilah kesal, "selalu nonton gituan."
"Daripada potong daging manusia mending potong daging ayam dijadiin sate," ujar Bilah mengambil es krim dan duduk didepan mereka yang berada diatas kasur.
Sekarang Bilah juga ikut menonton dengan tangan kiri memegang Hiu dan tangan kanan memegang es krim, ketiga cowok itu selonjoran diatas kasur Bilah sambil melihat televisi, sementara Bilah sendiri duduk dilantar depan tv didepan ketiga cowok itu.
Saat film dimulai, Bilah selalu mengalihkan pandangannya sambil mengajak ngobrol Hiu bahkan menawarkan es krim pada Hiu. Bilah menjilat eskrimnya sambil memejamkan matanya membuat mulutnya sudah tak berupa lagi.
Bilah memeluk Hiu dari luar aquarium. "Meskipun Hiu kecil. Bilah gak pernah kayak gitu kok potong-potong tubuh gak jelas. Apalagi sekarang Hiu lagi hamil kan? Kejam banget."
Mereka menggelengkan kepalanya apalagi Kelvin yang sudah ingin mencubit pipi teman kecilnya itu, "Hiu lo itu gak hamil Bilah!"
"Tapi dia gendutt Kelvin!"
Kelvin menatap Bilah sejenak sambil menonton filmnya, "Coba gue tanya. Siapa bapak Hiu?"
Bilah berpikir sejenak. "Bukannya waktu itu lo sama Mario bilang siap buat jadi bapak dari anak-anak Hiu?"
"Perlu gue bawa ke dokter deh kayaknya lo Bil!"
Mario menunjuk bibi Bilah, "Bibir lo coklat semua tuh Bil."
Bilah mengusap pipinya, "bukan disitu Bil."
"Dimana?"
"Dimulut lo tuh!"
Bilah segera melirik kearah mulutnya dan menjilatnya menggunakan lidahnya dan merasakan kembali rasa coklatnya mebuat mereka menghembuskan nafas pasrah, "Kalo lo gitu didepan gue lagi gue cium lo Bil!" ujar Mario membuat Bilah mendelik.
"Kenapa gue salah lagi sih! Nih tonton film lo gue mau ambil kue! Dasar yang minta nontom film ini kayaknya bibit bibit psychopath!"
"Kalo yang minta Dirga?" tanya Kelvin menggoda Bilah.
Bilah tersenyum meringis menujukan deret giginya yang lucu. "Kalo Dirga ya gapapa, lagian kan cuman buat seneng-seneng. Iya kan Dirga? Dirga baik kok. Heheh."
"Giliran Dirga aja belain terus!"
"Eh Bil, tadi lo belum jawab,kenapa lo ada digudang?" tanya Mario.
Bilah tak mau menjawab dan lebih menghindari mereka, "Eh.. Gue mau ambil kue sama masakin kalian ya. Bye!"
...****...
Bilah diluar balkon sambil menatap langit yang begitu hitam, tapi tetap saja ada yang menerangi disana. Entah kenapa Bilah malah hanyut dalam perasaan sedihnya.
"Apa salah pengen deket sama keluarga sendiri?" guman Bilah.
Bilah merogoh sakunya dan mencari kontak papa-nya, Bilah menunggu beberapa saat hingga bunyi gemriuk telpon itu diangkat dari sana.
"Pa.."
"Iya, apa Bil?"
"Papa lagi ngapain?" tanya Bilah ceria dan meneteskan air mata sedih merindukan suara itu, ia hanya ingin melihat wajah papanya dan memeluknya puas tanpa batas dan menikmati setiap pelukan perlindungan itu.
"Papa lagi tiduran habis kerja. Kamu ngapain Bil?"
"Bilah lagi kangen sama papa, hehehe."
"Maaf papa gak bisa jenguk kamu Bil, papa selalu ada urusan, sakit nenekmu semakin parah."
Ingin sekali Bilah berada disana memijati pundak papanya yang menjadi beban tanggung jawab keluarganya dan membuat kopi untuk di nikmati, sayang sekali jika Bilah harus berjarak dengan kedua orangtua-nya "Papa capek? Bilah pengen pijetin papa. Papa kalo ada waktu kesini ya jengukin Bilah."
"Iya sayang, pasti. Kamu nangis ya?"
"Enggak Pa, Bilah cuman kangen aja kok."
"Oh ya Pa, papa jaga kesehatan ya disana. Papa jangan makan mimum sembarangan."
"Iya Bilah, kamu juga."
"Pa, mulai sekarang papa gak usah lagi kirimin Bilah uang ya Pa."
"Gak Bil! Itu tanggung jawab papa."
"Bilah cuman pengen mandiri pa, Bilah-- Eh,Bilah mau bikin usaha kok Pa. Papa gak usah khawatir, papa jaga diri ya. Malam Pa," ujar Bilah memoting telponnya daripada harus berdebat dulu dengan papanya itu.
Bilah merenggangkan pundaknya, ini harus dilakukan Bilah agar Thalia tidak macam-macam dengan papa-nya. Apapun yang terjadi Bilah tetap akan memprioritaskan keluarganya, itu prinsip Bilah.
...****...
Dibawah pohon yang teduh bergumpal daun dan kebetulan langit mendung. Seorang gadis tersenyum melihat katak yang sedang terdiam diatas kolam ikan itu. Dia Bilah bersama rumput hijau basah yang ia duduki. Bilah tak akan peduli jika roknya akan basah.
Apapun yang terjadi Bilah lebih suka tersenyum, apapun yang terjadi Bilah lebih senang melihat orang terdekatnya bahagia apalagi jika itu karena dirinya.
"Katak hijau, kepala ku pusing nih, aku juga sering demam, kamu mau gak ikut kerumah buat ngurusin aku? Aku capek, coba aja ada mama." Bilah tetap mengajak katak bicara dengan mudahnya. Menurut Bilah, berbicara masalah pada katak lebih nyaman daripada harus berbicara dengan manusia yang dikhawatirkan malah ikut terbebani dengan masalah Bilah, itu pikirnya.
Seorang menarik tangan Bilah kasar dan menggeretnya menuju tempat sekolah yang sepi. Dia mendorong Bilah di ujung tembok.
Dugh!
"Apa yang udah lo lakuin, huh?!"
Maaf karena cerita ini kurang menarik karena belum konflik. Tunggu aja ya. Bakal diusahain sebaik mungkin.
Bye!