
Happy Reading!
Hari ini Bilah sangat senang, ia membuat bolu untuk mama Dirga nanti. Bilah terlampau senang dengan hal ini. Menjadi pacar Dirga bukan hal yang biasa untuk Bilah. Rasanya ia tak sabar bertemu dengan mama-nya, Dirga orang yang baik menurutnya, apalagi mama-nya kan?
"Bil, kamu gak gugup? Kita udah di depan pintu," ujar Dirga.
Bilah terkekeh, "Iya Bilah tau, kenapa Bilah gugup? Pakaian Bilah udah sopan, Bilah gak sabar!"
"Oh iya Dirga! Bilah cantik kan pake jepit punya adik Dirga?" tanya Bilah membenahi lagi jepit kupu-kupu biru itu.
Dirga mengangguk dan mengusap rambutnya pelan, "Cantik kok, pacar Dirga emang selalu cantik, gak cuman wajah tapi hatinya juga. Hehe."
"Bilah nyadar. Emang mirip Ariana Grande kok," ujar Bilah dengan PD nya.
"Sa ae."
Ketika Dirga membuka knop pintu rumah-nya, ia menahan tangan Bilah. Dirga takut jika Bilah tak menerima mama-nya. Tunggu, kenapa Dirga harus takut, bahkan seharusnya ia tak peduli jika Bilah tak menerima mama-nya kan? "Bil, mama sekarang jadi pendiem.."
"Mama gak mudah beradaptasi. Jadi kamu siap kan?"
Bilah tersenyum dengan mengangguk, "Yang penting mama Dirga sayang sama Dirga kan?"
Bilah dan Dirga berjalan menuju halaman belakang rumah. Wanita paruh baya itu duduk dikursi roda dengan wajah yang sendu menatap burung terbang bersamaan. Bilah tak pernah menyangka jika mama-nya Dirga memakai kursi roda. Sementara yang Bilah tau papa Dirga terlampau sibuk mengurus bisnisnya di luar negeri.
"Ma.."
"Ini Bilah, pacar Dirga yang Dirga cerita-in kemarin pengen ketemu mama," ujar Dirga duduk menjajarkan tubuhnya dengan kursi roda itu.
Bilah menghampiri mama Dirga dan tersenyum lebar layaknya anak kecil, "Hai tante! Bilah namanya Bilah! Bilah pengen ketemu tante, Bilah pengen makan bareng sama tante sama kue buatan Bilah. Hehehe."
Mama Dirga hanya tersenyum dan mengangguk, entah apa yang membuatnya seperti ini. Sejak kejadian kematian adik Dirga mamanya jadi seperti ini.
"Tante suka liat burung ya? Bilah juga suka tan! Burung hebat gak kayak bebek. Sama-sama punya sayap tapi bebek gabisa terbang. Payah ah!"
"Itu beda Bilah," ujar Dirga terkekeh.
"Tante, Bilah punya burung rajawali dirumah!"
Mama Bilah hanya menyerngit bingung. Emang ada seorang remaja perempuan kayak Bilah menyimpan burung rajawali dirumah?
"Bilah punya yang digantung dan sayapnya bisa bergerak kalau kabelnya dimasuki listrik! Tante harus liat! Itu bagus tan!"
Mama Dirga hanya terkekeh melihat Bilah. Ia rajawali itu benar ada dirumah, ternyata memang benar. Tapi hanya mainan.
"Bilah juga punya macan. Kali ini bukan mainan! Itu asli!" Mama Dirga kaget dan hanya menatap Bilah dengan mengangkat alisnya.
Bilah terkekeh dan membenarkan ucapannya, "Maksudnya itu kura-kura pemberian Dirga. Namanya Macan. Hehe."
"Gimana kalo kita duduk duduk di gazebo?" tawar Dirga.
Bilah mengangguk setuju dan menatap mama Dirga, "Tante, tante harus coba kue buatan Bilah, gak seenak itu sih. Tapi Bilah buatnya khusus pake hati buat tante. Bilah dorongin kursi roda ya Tan?" mama Dirga mengangguk.
Bilah membuka rantang makanan satu persatu. Disana ada Bolu, pastel, dan cookies buatan Bilah. "Dirga sama tante harus cobain ini. Bilah buat khusus tanpa bahan pengawet dijamin halal gak bikin sakit perut."
"Rasanya juga gak kalah kok dari buatan kue beli di toko bes--"
Mama Dirga tersenyum dan mencoba bolu buatan Bilah. Entah kenapa tiba-tiba mama Dirga menangis membuat Bilah dan Dirga kaget. "Tan--tante kenapa nangis? Bolu Bilah gak enak ya? Maaf tan--"
"Enggak, ini enak. Hanya saja ini mengingatkan saya dengan Risa adik Dirga, andai dia disini pasti dia akan menghabiskan ini pertama kali," ujar mama Dirga.
Bilah tersenyum dan mengambil pastel buatan-nya dan menyuapi mama Dirga, "Tante coba ini juga, ini enak, gurih---" Bilah menggaruk tengkuknya dan menyengir tanpa dosa, "Hehe, Tante maaf Bilah jadi kayak sales."
Aima a.k.a Mama Dirga tersenyum dan mengunyah pastel Bilah, "Enggak kok, ini emang enak. Tante suka," ujar Aima. Menurut Dirga ini kemajuan mama-nya tersenyum tulus tanpa dibuat-buat.
Bilah menatap Dirga dan menyerngit bingung, "Dirga gak mau coba?" Bilah mengambil bolunya dan menyuapi Dirga seperti menyuapin anak kecil, "Pesawat mau masukk!!! Ngenggg! Aaa--Aaa! Halppp! Gimana enak?"
Dirga membuka matanya lebar dan mengunyah bolu Bilah, "Ini enak Bilah! Emm, boleh tambah?" Bilah mengangguk antusias, "Boleh dong! Kalian harus habisin ini!"
Mereka makan cemilan dari Bilah dengan nikmat sesekali becanda, Aima terasa senang. Rasanya ia lupa kapan Aima makan bersama dengan becanda terakhir kali dengan keluarganya. Aima mengambil cookies-nya dan menyuapkan ke Bilah, "Kamu juga harus coba," ujarnya sembari memasukan makanan ke mulut Bilah. Bilah mengambil-nya cepat.
Dirga senang jika mama-nya sesenang ini, jika tau begini Dirga akan membawa Bilah daridulu. Aima menatap Bilah lekat sambil tersenyum, "Kamu cantik. Rambut kamu bagus kayak Risa. Jepit itu---"
Bilah memegang jepit itu tersenyum, "Ini pemberian Dirga. Bilah suka tan!"
"Itu punya Risa ma, Dirga kasih ke Bilah," ucap Dirga sambil memakan cemilannya dengan lahap.
Aima tersenyum dan menyentuh pipi Bilah sambil tersenyum, "Tante kangen sama Risa kalau lihat kamu. Kamu hangat."
Bilah memegang tangan dan memeluk Aima, "Tante bisa peluk Bilah kapanpun. Bilah gak keberatan. Bilah juga senang kayak gini, Bila juga kangen kehangatan." Aima yang tak mengerti maksud Bilah hanya mengiyakan dan semakin memeluk Bilah erat.
"Mama lebih suka kamu sama Bilah." Dirga mengangguk dan merangkul Bilah, "Dirga memang sama Bilah kan ma? Gimana? Kita cocok kan?"
Aima mengangguk gembira sambil mengambil HP nya dan memotret mereka berdua, "Bagus," gumam-nya.
"Bilah sering-sering kesini ya. Kita bikin kue bareng? Tante suka kalo Bilah disini," ujar Aima.
"Iya sayang, kenapa enggak? Kalo bisa nginep disini temenin tante," ujar Aima.
Dirga tersenyum bahagia, dia sangat merindukan mama-nya yang seperti ini. Dirga memang tak sehangat Bilah. "Kalo nginep disini kita harus siap sikat gigi anak kecil yang gratis miniatur kartun ma. Udah besar kayak gini Bilah masih pakai gituan."
Aima menganga tertawa tak percaya sementara Bilah kesal karena Dirga membocorkan rahasianya, "Kenapa Dirga kasih tau? Kan Bilah malu!"
"Emang iya, kamu suka pakai itu, jangan lupa ma Bilah juga males sama yang namanya Matematika," ucap Dirga menggoda.
"Benar Bilah?" tanya Aima tertawa sementara Bilah hanya mengangguk malu.
"Tenang aja Bilah, nanti tante sediain sekotak sikat gigi kecil lengkap sama miniaturnya!" ucap Aima antusias.
Bilah yang sangat senang terkaget, "BENERAN TAN? BANYAK MINIATUR-NYA? BERMACAM-MACAM?" reflek Bilah antusias tanpa sadar.
Dirga dan Aima tertawa melihat Bilah. Bilah menepuk bibirnya bodoh. "E--Eeee i--itu! Maksud Bilah--- Bilah cuman--" Bilah menggaruk kepalanya bingung, kenapa kegirangannya tadi tak bisa ditahan. Ia menyesal karena terlalu bersemangat.
"Dirga bilang apa ma, Bilah emang lucu," ujar Dirga dan menoel pipi Bilah yang mengembung.
"Tante Aima, hal yang paling disukai apa?"
Aima tampak berpikir, "Tante rasa tante suka keadaan yang kayak gini."
Dirga memeluk mama-nya erat, "Dirga senang kalau mama juga senang."
"Bilah gak keberatan kan kalau tante anggap kamu anak tante?" ujar Aima menatap Bilah penuh harap.
Bilah terkejut dan mengangguk mengiyakan, "Tante yakin? Tante gak salah? Tante gak keberatan?" ujar Bilah semangat.
Aima menggeleng, "Kenapa kamu bilang gitu? Seharusnya tante yang bilang kayak gitu."
Bilah menggeleng, "Enggak, hanya saja Bilah suka kalau Bilah bisa merasakan bagaimana punya ibu."
Dirga dan Aima sedikit terkejut, "Ibu kamu kemana?"
Bilah hanya tersenyum dan Aima bisa mengerti itu. Mungkin belum saatnya, "Anggap saja tante ibu Bilah. Kalo Bilah sedih bisa curhat ke tante, bahkan Bilah bisa kok sering-sering kesini."
Aima memeluk Bilah dan mengelus kepala-nya layaknya ibu kepada anak perempuannya, "Makasih Tan."
Bilah merasa dirinya beruntung. Meskipun ayah dan ibu kandungnya memiliki jarak dengan Bilah tapi Bilah masih memiliki 2 sahabat konyolnya, Ibu dari kedua sahabatnya, mempunyai pacar sebaik Dirga, dan Tante Aima yang kelewat baik pada Bilah. Bilah hanya ingin mencoba bagaimana rasanya mengurus ibu dan menyenangkan seorang ibu.
...***...
Dirga merangkul Bilah di pasar malam, "Gimana? Senang ketemu mama?"
Bilah mengangguk puas dan menatap Dirga bahagia, "Makasih ya Dirga. Bilah punya banyak orang baik disisi Bilah."
"Kita mau kemana?"
"Bilah gak mau kemana-mana. Bilah cuman pengen jalan sama Dirga. Hehehe."
Dirga mengapit pipi Bilah dan menyentil hidung Bilah, "Segitu cinta-nya ya Bilah sama pacar-nya ini?"
Bilah melepas tangan Dirga, Bilah membalas Dirga dengan melakukan hal sama yang dilakukan Dirga, "Emang Pacar Bilah siapa? Dirga gak sayang sama pacarnya?" ujar Bilah.
Dirga menggeleng dan memeletkan lidahnya menggoda Bilah, "Enggak!"
Bilah terkaget dan menganga, "Dirga! Bilah nangis nih."
Dirga tertawa dan membawa Bilah kepelukannya sembari membenarkan rambut Bilah yang berantakan, "Jangan nangis dong! Kan cuman becanda. Sayang Dirga ke Bilah itu gak sebesar gunung, sebanyak lautan atau setinggi langit!"
Bilah cemberut, "Tuh kan. Terus kayak apa?"
Dirga mengajak Bilah duduk sambil menatap Bilah makan gulali sedari tadi. Dirga menyelipkan rambut Bilah yang berantakan kebelakang telinganya, "Cinta aku kayak cincin ini kok."
Dirga mengatakan itu sambil mengambil cincin dari sakunya dan diselipkannya ke tangan Bilah. Bilah terkaget, "Dirga, buat apa cincin ini."
"Bukan tunangan, kalau itu nyusul masa depan! Hehe. Sekarang pakai ini buat kenang-kenangan dari aku."
Bilah yang terlampau bahagia dan memeluk Dirga, "Bilah seneng, makasih ya."
Bilah kembali cemberut menatap Dirga, "Tapi Dirga gak sayang sama Bilah. Gak sebesar gunung dan sebagainya kan? Terus kayak apa?"
"Cincin ini. Gambaran sayang aku ke kamu Bilah. Gak ada ujungnya kan?"
Bilah tersipu dengan pipi memerah. Ia terlampau bahagia saat ini. Dia berharap, biarkan semua seperti ini. Hingga akhir. Sayangnua Bilah tak mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi.
"BILAH PULANG KE APART MU!" suara itu membuat jantung Bilah perpacu begitu cepat.
TBC
Jangan lupa vote and comment!