
Happy Reading!
...Mengakhiri ini bukan sebuah pilihan hidup. Hanya sebuah keharusan agar semua baik-baik saja dengan aku yang tak memikirkan bagaimana aku namun bagaimana kalian. Pilihan bodoh yang dibenci tuhan namun aku melakukannya. Ya, aku membenci diriku. ...
...-RanayaSabilah-...
Hari demi hari kian memburuk. Tubuhnya tak layak jika disebut sebagai tubuh manusia. Kekuatannya mungkin sepadan dengan kekuatan Dewa Zeus. Tapi tidak, itu bukan kekuatan. Bahkan ia pantas jika disebut sebagai lemah. Sebagai dewa Zeus dari pandangan orang lain, menjadi sangat lemah bahkan lebih rendah dari lemah jika dirasakan sendiri.
"Bilah bangun, ayo sayang makan," ujar wanita setengah baya yang sering disebut Mommy, ibunya Mario.
Wanita itu selalu datang kerumah Bilah. Setiap hari membawa serantang makanan agar Bilah tak lagi perlu memasak sendiri. Bahkan selama ini mulutnya tak kunjung berhenti melarang Bilah untuk sekolah terlebih dahulu. Tapi Bilah yang keras kepala menolak itu, meskipun kadang 3 hari masuk sekolah, 3 hari lagi tidak masuk sekolah karena tubuhnya yang drop.
Bilah membuka matanya pelan. Dia bangun perlahan dengan wajah pucat dan meringisnya. Mommy membantu Bilah meletakkan punggungnya di kepala kasur. "Sekarang apalagi yang sakit?" Bilah menggelengkan kepalanya. "Cuman pusing kok Mom."
Mommy menyuapkan sendoknya ke mulut Bilah. "Ayo dimakan, perut kamu daritadi belum keisi apa-apa sayang. Semua kamu muntahin. Kali ini Bilah harus tahan ya? Kasihan tubuhnya."
Bilah memakan itu, mulutnya mengunyah dengan pelan. Rasa mual itu kembali datang. Entah kenapa akhir-akhir ini ia seringkali mual. Bilah menahannya dan menelan makanan itu. "Mom, cuman 2 sendok ya? Bilah gak bisa," ucap Bilah dengan mata berkaca-kaca karena mual.
Mommy mengangguk. "Iya sayang, kamu yang kuat ya." Bilah hanya mengangguk sambil berusaha menelannya. Sungguh ia merasa tak enak jika mommy selalu mengurusnya setiap hari seperti ini. Seringkali Bilah menolak tapi Mommy-pun juga keras kepala.
"Mommy jangan datengin Bilah terus, kasihan Mommy pasti capek nyiapin ini semua." Mata Bilah menggambarkan raut sedih, kali ini menatap sayang ke mata Mommy sambil tenggorokannya serasa bergetar ingin menangis. Bilah sanagt bersyukur ada mommy yang selalu peduli kepadanya. "Seharusnya Bilah yang ngerawat Mommy, bukan kayak gini.."
Mommy menangkup pipi Bilah lalu menggenggam tangannya. "Hush.. Bilah jangan merasa kayak gitu ya sayang. Mommy sayang sama Bilah. Kamu gak boleh sungkan sama Mommy, kalau sakit bilang ya jangan pendam sendiri atau mommy akan marah."
"Mommy juga gak akan biarin kamu kayak gini Bil, kamu harus sembuh kalau pengen Mommy bahagia. Itu cara bikin mommy bahagia."
Bilah hanya diam dan menunduk tanpa membalas ucapan Mommy. Mommy memegang kembali kedua tangan Bilah. "Bilah mau ya berobat lagi?" lagi-lagi Mommy membujuk Bilah. Namun jawabannya tetap sama, Bilah menggelengkan kepala.
"Kan Bilah udah minum obat yang Mommy beli," ucap Bilah.
"Benarkah? Kamu meminumnya gak rutin Bilah. Kamu minum hanya jika sakit itu terlalu terasa sakitnya. Apa itu baik untuk kamu Bilah?" tanya Mommy. Bilah hanya diam menunduk.
"Bilah sayang, Mommy gak akan jatuh miskin buat biayain berobat kamu. Kamu jangan kayak gini, Mommy jadi sedih," ucap Mommy meneteskan air mata.
Melihat itu, Bilah memeluk Mommy erat. "Mommy jangan nangis. Bilah gak mau lagi ngelihat mommy nangis kayak gini karena apapun itu. Mom, ada yang lebih penting dari kesembuhan Bilah. Mario lebih butuh Mommy dari Bilah. Biaya sekolah Mario nantinya untuk lanjut kedokteran pasti mahal. Meskipun Mommy mampu, tetap saja pasti itu akan terasa sangat membebani Mom."
Tangan dingin Bilah menggenggam tangan mommy erat dan melanjutkan bicaranya. "Bilah percaya Mario diterima perguruan tinggi negeri nantinya. Mungkin biayanya lebih murah. Tapi kita gak tau takdir Mom. Kalau nantinya Mario gak diterima gimana? Gimana ia mau lanjut kedokteran swasta kalau biayanya semua habis buat Bilah?"
Mommy menggeleng sambil menatap Bilah. "Kamu gak usah pikirin itu sayang. Mario akan tetap menggapai cita-citanya. Biar Mommy yang ngurus semuanya. Bilah mau ya?" lagi-lagi jawabannya adalah menggeleng.
"Mommy pulang ya, ini udah mau larut malam. Pasti Mario nyariin Mommy."
15 menit berlalu. Mommy sudah sampai rumah dengan tentengan yang dibawanya.
"Habis kemana Mom?" tanya Mario yang bermain handphone diruang tamu.
"Keluar cari angin," jawab Mommy sekenanya.
Mario menatap Mommy nya penuh selidik. "Mommy kenapa sering keluar sama bawa rantang sih? Setiap hari lagi. Buat siapa?"
"Duh kenapa sih kamu banyak tanya?"
Mario mendecak sebal dan meletekkan handphonenya di kursi. "Sekarang waktu makan malam aku sama Mommy jadi gak ada. Mommy gaak ada waktu?! Mommy gak bawa makanan itu ke laki-laki lain selain Papa kan?" ucap Mario dengan nada sedikit tinggi.
Mommy menatap tajam kearah Mario dengan hati yang membara. "Jaga ucapan kamu Mario! Kenapa kamu bilang gitu? Kamu gak tau kalau Mommy lagi ke--" sadar dengan ucapannya, Mommy menghentikan ucapannya. Ia tak mau kelepasan mengatakan semuanya mengingat janjinya pada Bilah.
"Kemana Mom?" Mario tersenyum kecut dan menatap Mommy. "Ke apartment Bilah kan?"
"Aku tau, cuman pengen denger aja langsung. Kenapa Mom? Dia udah gak sanggup urusin hidupnya sendiri?"
"Besok dia masih nyuruh Mommy kesana? Jangan mau dong jadi pembantu Bilah. Emang Mommy dibayar?!"
Sudah geram dengan tingkah Mario yang begitu kekanakan, tak tunggu lama ia menghampiri Mario dan menamparnya. "Mommy gak pernah ajarin kamu buat gak saling membantu orang lain! Bilahh itu bukan orang lain buat kita Mario! Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu lupaa siapa Bilah dulu buat kamu?!" Setelah Mommy itu Mommy beranjak menuju kamarnya tanpa memperdulikan Mario.
"Dulu beda sama sekarang mom!"
Flashback On
Siang itu di jam istirahat. Bilah melihat Mario yang terduduk sendiri di bangku taman tengah sekolah yang sepi. Yang jarang dikunjungi siswa. Karena itu Taman Belajar. Kebanyak siswa yang berkunjung hanya bergosip ria. Bilah menatap Mario rindu. Ia ragu untuk menghampiri Mario. Tapi untuk apa dia ragu? Toh sudah dari dulu ia tak pernah menyerah selalu menghampirinya.
Perlahan Bilah duduk di kursi sebelah Mario. Bilah masih dengan wig barunya. Meskipun tak ada gunanya ditutupi karena semua orang sudah tau, tapi menurut Bilah setidaknya semua orang tak memandangnya kasihan. "Mario, Bilah mau ngomong."
Mario menoleh dan menatap Bilah aneh. "Gue yang mau ngomong sama lo."
"Pertama, gue tau Mommy sering ke apart lo. Kedua, apa yang udah lo omongin ke mommy?. Ketiga, jangan pernah jadiin Mommy babu lo!" ucapan Mario membuat hati Bilah tertohok. Kenapa Mario mengatakan hal itu padanya.
"Bilah gak pernah anggap Mommy kayak gitu."
Lagi-lagi Bilah meneteskan air itu dari matanya. Ini adalah ucapan Mario yang paling panjang dan paling menyakitkan selama hidupnya. "Iya Mario bener! Hiks..hiks..Harusnya Bilah gak ada didunia ini. Bilah udah gak guna. Bilah udah gak seseru dulu! Mungkin kalian bosen sama Bilah! Bilah nyusain semua orang. Hiks..hiks.. Harusnya Bilah gak pernah dilahirin. Kenapa Bilah hidup sampai sekarang? Apa ini hukuman buat Bilah? Mungkin ini jawaban dari semuanya, harusnya Bilah gak ada di bumi ini. Hiks..hiks.."
"Tentang Mommy.. Mommy sayang sama Mario. Mommy gak pernah duain Mario, gimanapun Mario anak kandung Mommy. Bilah tau diri, Rio. Bilah gak akan ngerebut Mommy, mungkin Mommy cuman kasihan sama Bilah. Kalau emang Mario udah lupa, biar Bilah ingetin, kita udah kenal dari lama. Dari waktu kita sebelum TK. Hiks..hiks.. Dulu Mario yang deketin Mommy sama Bilah. Mario bilang Bilah harus anggep Mommy itu orangtua Bilah, begitu sebaliknya. Dan itu udah terjadi lama banget, kalau Mario tiba-tiba suruh langsung misahin kayak gini Bilah gak bisa. Tapi Bilah akan coba. Makasih atas semuanya. Dan Maaf atas semuanya. Bilah ke kelas dulu." Bilah langsung lari sebelum Mario melanjutkan emosinya. Bilah tak kuat lagi mendengar ucapan tajam dari Mario.
Flashback off
Jika kalian ingat sebagian murid yang melihat Bilah botak dengan rambut pasangan yang berada ditangan Mario, sekarang bukan sebagian murid lagi yang tau. Semua bibir melontarkan kata 'Bilah' entah itu sebagai bahan gosip, perbincangan, belas kasihan atau-- entahlah. Semua tak bisa ditebak. Semua orang mempertanyakan hal itu. Bahkan Rania sempat terkejut mendengar itu. Tapi sungguh ia tak peduli.
Bilah sangat hilang harapan sekarang. Meskipun Putri dan Dirga siap membantu dan menjadi temannya. Tetap saja Bilah tak mau membebani mereka. Bilah perlahan melangkah mencari ketenangan dengan berkeliling sekolah dengan melamun perkataan Mario yang lalu. Itulah mengapa Bilah menyuruh Mommy untuk tak sering menjenguk Bilah. Bilah gak mau Mario merasakan apa yang ia rasa dulu.
Perkataan Mario tempo hari membuat Bilah terus berfikir. Apa ia benar-benar harus menghilang? Bilah yang terbiasa dengan keberadaan Mario dan Kelvin sekarang ia menjadi tak tau arah karena sandarannya selama ini sudah tak lagi bersamanya. Ketika sandarannya hilang, apa ia harusnya jatuh tersungkur dan tenggelam pada tanah basah? Perkataan Mario agar Bilah tak seharusnya di bumi ini menjadi boomerang bagi Bilah untuk menyerah. Ya, Bilah juga manusia. Sangat pantas jika ia menyerah. Mario salah satu sandarannya menyuruhnya untuk pergi. Maka itulah keputusan Bilah secara bodoh. Mungkin saatnya otak egoisnya mengatakan ia harus menyerah?
Bilah mencari keberadaan Kelvin, ia hanya ingin tau bagaimana pandangan Kelvin tentang dirinya. Apa sama seperti yang Mario rasakan? Bilah menuju perpustakaan sekolah mencari keberadaan Kelvin.
"Kelvin..." Bilah memanggil Kelvin pelan dengan mata yang penuh harap pada Kelvin.
Kelvin beranjak dan hendak pergi menjauhi Bilah. Bilah menahan Kelvin dengan menarik dan menggenggam tangan Kelvin. "Bilah cuman mau tanya. Apa Kelvin udah gak mau Bilah ada disini? Kelvin udah kekeh gak mau lagi ketemu sama Bilah?"
"Apa itu masih perlu jawaban?"
"A-apa itu artinya iya?"
Bilah menunduk. "Kenapa kalian semudah itu ngelupain ini semua?" Bilah mengangguk. "Ya, Bilah janji kalian gak akan pernah ketemu Bilah. Semoga kalian bahagia, jujur Bilah gak mau denger kalian gak bahagia. Mungkin ini jalannya. Dan ya--" Bilah menangis terseduh sambil tertawa. "Hahaha, dan begini akhirnya." Tawa Bilah luntur. Ia mundur perlahan dan lari menjauhi Kelvin yang terdiam seperti patung di perpustakaan.
Jam demi jam berlalu. Bilah terduduk dibelakang jendela sambil menatap langit yang mendung dengan rintik hujan. Bilah mengambil handphonennya dan menelfon Arini. Mamanya. "Halo Ma."
"Halo Bilah, kenapa? Apa ada hal yang penting?"
"Enggak Ma. Bilah cuman pengen telfon Mama. Ma--"
"Iya?"
"Bilah sakit" Bilah mengatakan hal itu sambil tersedu dan berkali menelan ludahnya menahan agar ia tak menangis. "Bil---Bilah hiks.."
"Yaudah kamu kerumah sakit ya. Atau mama kirim dokter kesana?"
"Enggak usah ma. Bilah udah ke dokter kok. Bilah maunya mama yang kesini."
"Mama sibuk Bilah. Udah ya Mama matiin--"
"Tunggu Ma! Malam ini Bilah cuman mau ngobrol sama Mama. Ma, mama inget nggak makanan yang Bilah suka?"
"Makanan?"
Bodohnya Bilah menanyakan hak itu. Tentu saja lupa. "Enggak jadi ma. Ma, kalau kapan kapan Mama ketemu sama Bilah lagi--" air mata Bilah mengalir deras.
"Bilah mau mama masakin Bilah gule ya ma?"
Suara sambungan telfon mati terdengar di telinga Bilah. Bilah tak kuat menahan tangisnya.
"Hiks...hiks.. hiks..."
2 jam sudah Bilah menangis. Ia mengambil 2 syal yang sudah jadi. Bilah kembali menghiasnya dengan ukiran nama kecil ujungnya. Nama Kelvin dan Mario masing-masing. Dengan nama Bilah diujung lain syalnya juga. Setelah itu Bilah mengambil kertas dan menulis sesuatu di setiap box yang berisi syal itu. Bilah menemui Macan dan memberi makan dengan banyak, dan memberi satu wadah lagi makanan penuh disana.
Bilah kembali ke kamar. Ia membuka knop pintu. Rasanya sangatt susah sekali. Tubuhnya begitu lemas tak berdaya. Kepalanya berdenyut dengan sangattt keras. Tubuhnya terasa sakit dan perih semua. Dengan tenaga yang tersisa Bilah membuka pintu dengan keras. Pintunya yang terbuka juga membuat Bilah tersungkur jatuh. Bilah sudah biasa seperti ini. Tapi Bilah tak terbiasa jika seperti ini tapi tak meminum obat yang diberikan Mommy.
Bilah meringkih kesakitan. Tubuhnya melilit sambil memegang kepalanya erat dan memukul-mukulnya. Bilah menggeret tubuhnya ke sudut kamar sambil menangis menahan sakit.
Bilah menenggelamkann kepalanya disudut kamar. Hal ini sangat berbahaya untuknya jika seperti ini bisa sangat beresiko hilangnya nyawanya.
Ya, tak apa. Memang itu tujuanku. Aku menyerah. Inikah saat yang tepat mengakhiri ini semua? Ya, mereka akan bahagia dengan ini. Tepati janjimu Bilah. Hilang di bumi ini. Batin Bilah.
Bilah berteriak saking sakitnya. Ia tak tau mengapa ia tak segera berakhir saja. Mengapa begitu lama rasa sakitnya ini? "Saaakiiiittt! Hiks..hiks..hiks.."
Teriakan itu kian mereda, kian mereda dengan tubuhnya yang melemas. Dengan dirinya yang terjongkok di pojok kamar, kepalanya jatuh tenggelan diantara kaki dan tangannya.
Ya, semua akan berakhir.
TBC
Halo kalian bagaimana kabar kalian? Bagaimana dengan part ini? Aku tak yakin.
Ig : levina_afwa
Yuk follow