Disappeared

Disappeared
23



"Tante Aima?"


Aima dengan kursi roda dibantu pembantu dirumahnya untuk mengantarnya kerumah Bilah. "Boleh tante masuk sayang?"


Bilah mengangguk senang dan membuka pintunya lebar. "Boleh boleh!" Bilah mengambil alih untuk mendorong kursi roda milik Aima, "tante, Bilah ambilin makanan ya."


Setelah Bilah kembali. Aima memandang Bilah dengan tersenyum. "Gak kangen sama tante? Gak mau peluk?" Bilah langsung menghamburkan pelukan ke Aima. "Bilah kangen sama tante."


"Kamu sih gak pernah main kerumah. " Bilah hanya tersenyum. "Main dong kerumah meskipun Bilah udah gak sama Dirga lagi ya."


Aima menundukan kepalanya. "Maafin Dirga ya Bilah. Tapi meskipun gitu, kamu harus tetep mau dong main kerumah jenguk tante."


Bilah mengangguk mengiyakan. "Pasti tante, tapi lain kali ya. Bilah gak bisa kalau sekarang."


"Em.. orangtua Bilah kemana?" tanya Aima yang membuat Bilah kaget dan tersenyum. "Bil--Bilah gak tinggal sama orang tua Bilah tante. Mereka udah berpisah."


Aima kaget langsung menyentuh pundak Bilah. "Orang dewasa pasti tau mana yang terbaik sayang. Kamu yang sabar ya. Maafin tante nanya gini."


"Gak masalah kok tan. Udah lama juga."


"Terus Bilah ikut siapa tinggal disini?"


"Bilah ikut papa. Tapi papa udah tinggal sama keluarga barunya dirumah lain. Jadi Bilah sendiri disini, tapi temen Bilah sering kok datang kesini," ucap Bilah. Aima yang mendengarnya sontak kaget. Bagaimana gadis seusia dia sudah mengalami hal menyedihkan seperti ini? Aima baru tahu, gadis seceria Bilah bisa memiliki masalah seperti ini. Dunia begitu kejam. Tetap saja dimata Bilah, seisi dunia adalah hal yang terbaik.


"Kamu boleh kok tinggal sama tante Bilah." tawaran Aima membuat Bilah tersenyum, Bilah menggeleng menolak ajakan Aima. "Enggak bisa tante. Disini banyak kenangan Bilah. Tante gausah khawatir."


Aima mengangguk mengerti. Aima berfikir, jika segalanya yang terlihat belum tentu terlihat. Contohnya saja Bilah. Awal kali Aima melihat Bilah ia begitu ceria, tapi siapa sangka dibalik semua itu kesedihan menumpuk ingin mendesak keluar. Ditambah lagi  anaknya, Dirga telah membuat Bilah sakit hati. Aima tau hal ini dari seseorang, dan sangat tidak penting itu siapa. "Bilah.. masalah Dirga, tante minta maaf sekali lagi ya. Tante bener gak tau dia bisa kayak gitu. Tante harap kamu gak benci sama tante ya."


Bilah menggeleng tersenyum dan memeluk Aima. "Mana mungkin Bilah  benci sama tante." Bilah tersenyum dalam dekapan Aima. Andai saja yang bisa ia peluk seperti ini adalah Arini, mama Bilah. Sudah pasti Bilah lebih bahagia. Bilah meneteskan air matanya, ia sungguh rindu dengan mama-nya. "Bilah kenapa nangis sayang?"


Bilah menggeleng dan menghapus air matanya sambil tertawa. "Enggak kok tan, Bilah cuman kangen mama aja."


Aima hanya bisa menghembuskan nafas dan menakup wajah Bilah. "Denger Bilah, tuhan gak pernah tidur. Mana yang terbaik buat kamu, apa yang kamu alamin semua akan berbuah. Jika tidak, kamu akan mendapatkan kebahagiaan ditempat lain sayang. Kamu harus kuat ya?" Bilah hanya mengangguk dan kembali memeluk Aima.


****


"Dari taruhan kemarin, gue yang menang. Gue yang bisa dapetin Bilah. So, Putri sekarang sama gue," ujar Dirga dengan mata tajamnya pada laki-laki di depannya.


"Terus?"


"Artinya lo kalah! Lo jauhin putri sekarang Jer," ucap Dirga.


"Oke, karena kita bersaing secara sehat."


"Tapi denger Dir, kalau lo macem macem buat Putri sakit. Saat itu juga Putri gak berhak jadi milik lo!" ucap Jerry mengangkat telunjuknya ke wajah Dirga. Kalian masih ingat Jerry? Laki-laki tetangga Bilah yang selalu mengirimkan Bilah berbagai hadiah. Ternyata itu salah satu cara agar mendapatkan hati Bilah. Sayangnya, Dirga lah yang menang.


"Gak akan, gue susah susah jadi pacar Bilah dan sekarang gue gak akan nyia-nyiain Putri."


Mereka berada di belakang sekolah, tepat dimana tempat favorit Bilah jika ingin megadu pada sang katak ataupun siput. Yang benar saja, dari belakang ternyata Bilah mendengarnya. Jika boleh jujur, Bilah sangat sakit hati mendengar mereka mempermainkan Bilah begitu mudah. Terkejutnya Bilah, Jerry juga terlibat? Jerry begitu baik selama ini. Apa ini sebuah kejutan untuk Bilah?


"Sedetik aja lo buat Putri sedih. Di detik itu juga gue bakal rebut dia dari lo!" ujar Jerry.


Dirga tersenyum miring meremehkan ucapan Jerry. "Jangan harap dan jangan tunggu buat gue sakitin dia. Itu gak mungkin!"


Bilah menghampiri mereka perlahan dengan menatap tanah. Bilah tak berani menatap mata Dirga, bahkan tak sanggup. "kenapa harus Bilah? Apa itu cara satu satunya?" ujar Bilah sedikit tersenyum pada mereka. Lagi dan lagi tersenyum. Bilah jarang sekali marah, ia hanya takut untuk marah. Apa ia layak? Bilah merasa ia bukan orang yang sepenting itu.


"Kalian bisa dapetin sesuatu yang kalian inginkan tanpa ngelakuin hal ini, Bilah yakin. Kalau waktu itu kalian bilang ke Bilah, Bilah bakal bantuin. Tapi--- kenapa harus Bilah?" ujar Bilah dengan mata yang memerah. Sungguh, ia tak ingin lemah. Menangis bukan pilihan untuk saat ini.


"Dirga. Maafin Bilah ya kalau Bilah ada salah yang buat Dirga sakit hati. Bilah gak pernah maksud buat itu." Bilah mengucapkan itu karena ia pikir, Dirga membuatnya sakit hati karena Bilah punya kesalahan besar pada Dirga. "Kalau Dirga benci sama Bilah. Bilang ya, apa yang buat Dirga gak suka? Biar Bilah gak ngelakuin itu sama orang lain."


Bilah mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Jepit biru kupu-kupu. Masih ingatkah? Jepit yang pernah Dirga kasih untuk Bilah. "Ini Bilah balikin ya. Pasti ini berharga buat Dirga. Dirga jangan khawatir, jepit ini gak rusak kok. Bilah simpen ditempat yang aman, jadi gak buat adik Dirga kecewa. Maafin Bilah ya."


Dirga dengan mata kosongnya menatap jepit biru yang ia berikan. Ia jadi teringat adiknya. Apa ia akan kecewa pada kakaknya ini? Dirga tau mata Bilah memerah dengan berkaca-kaca. Namun tetap saja senyumnya tak pernah sirna dari bibirnya. Ia teringat adiknya yang menangis jika begini. Bagaimana jika adiknya merasakan hal ini? Mengalami keterpurukan dengan tak ada keluarga disekitarnya.


"Lo ngapain disini?" ucap Dirga.


Sambil melangkah menjauh dibalik pohon tempat favorit Bilah berada, Bilah berkata, "ini tempat umum."


"Tempat favorite Bilah juga kalau Dirga lupa."


Kini yang terlihat oleh Dirga dan Jerry hanya lengan Bilah, yang lainnya tertutup batang pohon besar yang menjulang.


Setelah terduduk dipohon, Bilah meneteskan air matanya. Bilah merasa begitu lemah untuk menangis.  Dulu ia mendambakan jika nantinya ia patah hati karena lelaki ia akan memeluk mamanya. Tapi sekarang nyatanya? Ia menangis sendiri dibalik pohon besar. Ia berkali-kali mengusap matanya yang tak mau berhenti mengeluarkan air mata. Bilah membenci dirinya yang seperti ini. "Apa Bilah sejahat itu sampai membuat mereka membenci Bilah?" batin Bilah.


Bilah mengintip dibalik pohon, Dirga dan Jerry sudah tidak ada. Ia memutuskan keluar dari balik pohon. Ia tersenyum dengan mata dan hidung merah pada seekor katak. "Katak, apa dengan hidup di dua tempat berbeda bisa membuatmu bebas? Melompat sesuka hati tanpa takut menginjak langkah yang salah?"


"Jika begitu, kemana manusia bisa pergi selain daratan yang mebuat dirinya menyiksa?"


"Kalau diminta. Bilah ingin punya alat penetap waktu. Bilah akan jadi kecil terus. Di masa itu Bilah bahagia, semuanya tertawa, hidup bersama."


"Bilah juga gak kenal apa itu cinta."


Bilah membuka handphone nya dan mem-foto si katak. "Bilah harus punya foto katak. Mau Bilah jadiin wallpaper."


Tes...


Layar HP Bilah tertetesi oleh cairan kental berwarna merah. Bilah mengusap hidungnya. Darah? Sudah biasa. Ia membungkus hidungnya dengan tisu.


"Bil!" Seseorang menarik tangan kiri Bilah dengan kasar. Tangan kanan Bilah masih setia dengan tisu dihidungnya.


"Rania?"


"Talia nyamperin gue, dia ngancem gue bodoh! Kalau sampai papa lebih perhatian ke lo daripada dia, papa akan kenapa-napa!" ujar Rania dengan muka merahnya.


"Tapi Ran.."


"Gue mohon sama lo jangan kacauin kedua orangtua gue! Jangan pernah lagi suruh papa dateng ke apartment lo!"


Bilah hanya terdiam. "Lo denger kan yang gue bilang?!" ujar Rania dengan sedikit menaikan nada suaranya.


Bilah masih terdiam. Rania menarik tangan Bilah disebelah kanan, "kalau orang ngomong itu hargai! Jangan pegang pegang tisu!"


Rania sontak kaget, tisu itu terjatuh dengan banyak bercak merah diatas bibir Bilah. Bilah mengangguk dan Rania kaget. Ada apa dengan Bilah? Tapi Rania tak menghiraukan itu. "Bil--Bilahh gak akan nyuruh papa datang lagi."


"Rania sama mama sering sering ya jenguk Bilah," Bilah memohon dengan wajah penuh harap didepan Rania. Wajah Bilah begitu pucat dan tangan dinginnya. Ia hanya merasa takut.


"Gue gak punya waktu!" Setelah mengucap itu Rania pergi. Bilah terduduk bersandar dipohon memijit kepalanya dengan mengambil tisu lagi untuk mengusap hidungnya.


...Bahkan jika burung bisa terbang bebas, ia berjuang membangun sangkar untuk anaknya. Aku hanya ingin merasakan menjadi anak burung saja. Terdiam, menunggu, melihat ibunya terbang damai untuk dirinya....


...-Ranayah Sabilah- ...