
HAPPY READING!
...Kadang masalah hadir karena aku yang terlalu memikirnya. Kadang aku berfikir ini semua karena aku yang memulainya. Aku sadar masalah yang aku anggap sebagai masalah 'kita' hanya aku yang menganggapnya sebagai masalah sementara kamu tak menganggapnya sebagai masalah. Yang kusadari saat ini, hanya aku yang memikirkan 'kita'...
...-Disappeared-...
Bilah terus melangkah melewati meja-meja dikelas dengan membawa buku tebal yang ia pinjam barusan dari perpustakaan. Jauh dari mereka membuat Bilah harus mencari kesibukan dan menghibur diri. Ini baru pertama kalinya Bilah bertengkar lebih dari 1 minggu dengan sahabatnya. Ingin segera baikan, tapi malah nasib buruk lah yang menimpanya.
"Cie Bilah cantik bener, pagi tadi lo dandan ya?" teriak Mandan temen sekelas Bilah. Sontak banyak murid yang melihat Bilah, "hayoloh Bil, akhirnya lo move on, dandan buat siapa Bil?" ujar Diana uang duduk didepan Bilah. Bilah hanya tersenyum mendengar perkataan temannya. "Bisa aja kalian."
Yang sebenarnya adalah bukan berdandan untuk seseorang, tapi berdandan untuk terlihat baik-baik saja. Pagi ini sungguh sial, setiap makan Bilah selalu saja memuntahkannya. Pusingnya pun sangat luar biasa membuat wajahnya sangat pucat seperti tak ada darah yang melintas. Dengan terpaksa daripada menarik perhatian banyak orang dengan wajah sakitnya lebih baik ia harus sedikit berdandan. Tidak menor sama sekali.
"Kalo gini, lo mirip deh sama anak model kelas onoh. Rania kan namanya?" Bilah tercengang mendengar Diana bergumam seperti itu. Bagaimana mungkin? "Hush, beda jauh lah Na."
"Woii Vin! Yo! Lo berdua kenapa dieman sama Bilah sih tumbenan. Lo pada kalo berantem mendingan adu jotos aja langsung beres!" ujar Dera yang didengar oleh teman sekelas, salah satu murid yang tak pernah disaring mulutnya. Jika ada orang yang begini tak ada bedanya dengan glomerulus yang rusak.
"Lo ngapain pengen tau? Gak guna banget," ujar Mario menatap dengan matanya yang sinis.
Murid yang awalnya tak tertarik menjadi ingin tau ikut berbicara didalamnya. "Bener juga kata Dera, kenapa sih kalian?" Bilah yang dibicarakan hanya diam mencoba fokus kedalam buku cerita yang dibacanya.
"Lo mah gitu! Sekarang ada temen baru si Bilah lo tinggal. Lo emang temen panutan gue, pinter banget buat cewek sakit. Tos dulu dong bro!" ujar Dera menepuk punggung Kevin. Kevin menghempas tangan Dera dan keluar dari kelas.
"Kenapa teman satu lo itu? Tersinggung? Itu tuh patut dibanggakan!" ujar Dera mengobrol pada Mario. Mario menarik kerah Dera, "lo ada masalah apa sama gue? Mulut lo emang gak pernah sekolah! Pantes sih, pengamen preman!" terlanjur geram dengan Dera, Mario tak segan mengeluarkan kalimat membuat amarah Dera meledak mendorong bahu Mario.
"Maksud lo apaan? Kenapa lo bawa-bawa gue ngamen?! Gue masih mending, daripada lo yang mau dibegoin sama cewek."
"Lo gak tau apa-apa gak usah sok tau sama kehidupan gue!" ujar Mario dengan bogeman yang membuat Dera terhuyung kebelakang.
Dera yang tak terimapun membalas pukulan Mario berkali-kali lipat. Mario yang tak mau kalah pun kembali membalas Dera. Begitu seterusnya hingga darah dan lebam yang tercetak sebagai bukti keegoisan.
Bilah yang tak tega melihat luka disekujur wajah Mario melerai mereka. "Berhenti!"
"Kalian jangan kayak anak kecil, ini sekolah bukan tempat buat baku hantam," ujar Bilah.
Dera yang tak mau kalah pun sedikit mendorong Bilah kesamping dan menendang Mario dengan kakinya. Mario yang terhuyung kebelakang pun akan membalas Dera dengan pukulan dendam ditangannnya.
Bilah yang tak mau ini menjadi masalah yang mungkin akan membuat Mario kesusahanpun melangkah didepan Mario menahan tangan Mario. Namun apa daya, kekuatannya tak sebesar Mario yang membuat Bilah harus terkena pukulan yang harusnya menjadi milik Dera itu.
Bilah terjatuh disamping dengan punggung menabrak meja. Wajah lebamnya dengan bibir yang sedikit mengeluarkan darahpun membuat satu kelas hening. Begitu juga dengan Mario.
"See? Lo bukan lagi temen mereka Bil! Gak disangka, temen yang dulunya selengket lem tikus, sekarang malah pukul sahabat sendiri. The power of Selena!" Satu kelaspun tak ada yang berani melerai mereka. Melihat Dera yang marah saja membuat mereka was-was. Apalagi ini, bertarung dengan seorang Mario.
Bilah mengambil tisu disakunya demi menutupi bibirnya. Ia tak mau menjadi pusat perhatian dan mereka semua akan menyalahkan Mario akan hal ini.
"Dera, udah ya? Lagian ini kan disekolah. Kalau kalian kena masalah bisa-bisa orangtua kalian dipanggil," ujar Bilah mencoba untuk berdiri. Badannya yang sedikit demam membuat ia harus menambah kekuatan untuk pukulan ini.
Bilah dengan segala kenekatannya menarik Mario untuk keluar dari kelas ini.
Mario melepas tangan Bilah. "Kenapa lo lakuin ini? Biar lo bisa balas dendam ke gue? Biar gue kena predikat banci udah mukul cewek?!"
Bilah menggeleng pelan. "Bilah cuman gak mau Mario kena masalah."
Mario yang melihat luka disudut bibir Bilah sebenarnya merasa bersalah. Tapi ia tak peduli, pandangannya tentang Bilah sekarang sudah terlanjur buruk. "Mario jangan masuk dulu ya sampai suasana dikelas tenang. Bilah mau ke uks dulu."
Bilah berlari dan menuju uks, belum sampai dipintu, ia berhadapan dengan Kelvin diujung jalan dengan dahi yang mengerut. "Kelvin. Kelvin tenangin Mario ya. Kasian dia." Setelah mengucap itu Bilah lanjut masuk kedalam uks.
...****...
"Kenapa lo babak belur?" tanya Kelvin pada Mario setelah jam pulang.
"Dera."
Kelvin tersenyum kecut. "Gue tadi ketemu Bilah. Dia suruh gue nemenin lo. Kasian katanya."
"Bibirnya juga berdarah. Karena tadi?" tanya Kelvin pada Mario.
Mario hanya mengangguk membersihkan lukanya.
"Siapa yang lakuin itu?" tanya Kelvin.
Kelvin hanya menganggukan kepalanya. "Cukup brengsek."
Tak lama Kania murid dikelas mereka mengampiri mereka berdua. "Nih hp sama tas-nya Bilah. Udah jam pulang, mending lo kasih ke dia."
Kelvin dan Mario berjalan menuju uks. Terdapat kapas bekas membersihkan luka disamping tempat tidur uks. Dan yang membuat mereka bingung dikapas itu juga banyak bekas lipstik, bedak dan sedikit darah. Bilah memakai lipstik? Mereka terheran.
Wajah Bilah membelakangi Mario dan Kelvin dengan selimut yang melekat ditubuhnya.
"Bil tas sama hp lo gue taruh sini," ujar Mario.
Tak ada sautan dari Bilah. kelvin mencoba membangunkan Bilah. Menepuk punggungnya perlahan. Tetap saja tak ada sautan dari dia.
Kelvin membalikkan badan Bilah, begitu terkejutnya Kelvin dan Mario melihat wajah pucat Bilah. Benar-benar pucat. Kepucatannya membuat mereka mengerti kenapa ia menggunakan lipstik sekarang. Bibirnya yang berwana putih dengan sedikit lebam dengan kantung mata yang hitam.
"Bilah sakit?" tanya Mario terkejut.
Kelvin hanya mengedikkan bahunya. "Entah. Bukannya lo yang nonjok dia?"
Mario menghela nafas kasar. "Shit!"
"Bil, bangun Bil.." Kelvin menepuk Bilah namun tak ada respon sama sekali dari Bilah.
"Bil.."
tetap tak ada respon.
"Bil, bangun," ujar Mario sambil mencubit lengan Bilah untuk mendapat responnya.
Mario dan Kelvin saling tatap. "Pingsan?" tanya Mario.
"Bawa ke rumah sakit!" ujar Kelvin langsung menggendong Bilah menuju mobilnya bersama Mario.
Diperjalanan mereka hanya diam dalam lamunan masing-masing. Sementara Bilah dibelakang, sendiri. Dengan posisi berbaring.
Bilah membuka matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata. Dimana dia? Bilah sempat bingung. Bilah memegang kepalanya sambil berusaha untuk duduk. Betapa kagetnya dia bersama kedua sahabatnya semobil lagi. Bibirnya terangkat keatas.
Mario melihat kebelakang. "Lo udah sadar?" Bilah mengangguk bahagia karena semobil dengan sahabatnya.
"Kalian mau bawa Bilah kemana?" tanya Bilah.
"Rumah sakit."
"Jangan! Bilah udah gapapa. Gimana kalau kita jalan-jalan bareng lagi?" tanya Bilah sedikit ragu.
"Gue bawa lo ke rumah sakit karena lo pingsan gak ada yang tau. Jangan ngarep lebih," ujar Kelvin.
"Bukannya lo sakit kan? Ngajak jalan bareng? Lo gak drama lagi kan?" kata Mario menghadap kebelakang.
Bilah meremas roknya. Sungguh, ia hanya memanfaatkan waktu. Tak ada drama, apalagi pura-pura pingsan yang akan merepotkan kedua sahabatnya. "Bilah nggak drama. Bilah sekarang sehat kok. Kita bisa jalan-jalan lagi."
Kelvin menghentikan mobilnya. "Lo mau jalan-jalan? Turun! Lo bisa jalan-jalan sepuas lo."
"Kenapa lo gak tau diri banget, pantes Putri jauhin lo!"
Bilah menunduk pada dan menitihkan air mata. "Bilang ya kalo kalian bener-bener suruh Bilah pergi. Bilah bakal pergi. Soalnya Bilah gak akan pergi sebelum disuruh pergi." Bilah membuka pintu mobil dan benar benar turun dari mobil.
Bilah berjalan kearah rumah sakit. Mario dan Kelvin sempat bingung. Tapi ia tak terlalu memikirkannya.
"Kondisi kamu benar-benar tidak memungkinkan. Bilah, segera bilang orangtua-mu ya. Lakukan kemoterapi." ujar sang dokter yang cukup dekat dengan Bilah. Sudah lama Bilah konsultasi mengenai leukimia yang dideritanya ke Dr. Harris.
"Saya bisa kan lakukan sendiri tanpa wali ataupun orangtua?"
TBC
HALO TEMAN TEMAN! Maap dikit dan kurang greget ya kali ini hehe.
Yuk follow ig ku @levina_afwa