Disappeared

Disappeared
34



HAPPY READING!


..."Rasanya hadirmu menjadi metafisik. Jika hadir saja hanya bayang, lalu untuk apa aku mendamba rasa yang sudah jelas tak sisa"...


...-RanayahSabilah-...


Bilah tak menghiraukan mommy dan terus berusaha menarik Mario dan terus berusaha mengucap kata maaf yang tidak sepantasnya keluar dari mulutnya. "maa...maa-- Bii-bii--lah maa- maa--" tiba tiba saja mulutnya tak sanggup lagi mengucap sesuatu. EKG disampingnya berbunyi dengan sangat cepatt dann matanya perlahann semakin memejam dan semakin memejam. Mommy begitu panik menekan bell untuk memanggil dokter dengan teriakannya. "Dokter! Dokter!"


Marioo yang terkejut mau tidak mau membalikan badannya melihat sahabat kecilnya berbaring dengan mata yang hampir terpejam. Mario membelakkan matanya dengan mata yang memerah. Tangannya menggenggam tangan Bilah yang masih berada di bajunya. Perlahan ia lepaskan dan menggenggamnya erat tanpa mengucap sepatah kata. Tangan kecil ini yang dulu menguatkan hidupnya. Pertahannya telah runtuh. Air mata itu menetes dipelupuk matanya. Tak ada kata yang terucap di bibirnya. Bibirnya tak sanggup untuk berkata, otaknya tak sanggup memilah hal apa yang harus dia lakukan.


Dokter datang dengan sangat cepat dan sigap. "Nyonya dan tuan bisa keluar dulu sekarang. Percayakan semua pada kami."


Mario dan Mommy terduduk di depan ruangan dengan kediaman dan lamunan masing-masing. Mario dengan tatapannya yang kosong terus memikirkan apa yang harus dilakukan? Mana yang harus dipilih? Mana yang benar?


Mommy terus mengusap matanya yang sembab dan memijat pelipisnya. "Kamu boleh pulang," ujar Mommy tanpa menatap sedikitpun Mario.


Mario hanya terdiam dan terus berada disebelah Mommy. "Tugas kamu sudah selesei. Mommy gak akan paksa kamu lagi, Mario."


Mommy mengusap air matanya kasar dan menghembuskan nafas seakan membuang ketakutan didalam dirinya. "Mommy salah, seharusnya mommy gak maksa kamu."


Mario menatap Mommynya ibah. "Mom.."


"Kamu boleh pulang. Kamu istirahat dirumah. Minta bibi masakin ya. Maaf mommy gak bisa masakin dulu,"  ucap Mommy.


"Mom..."


"Kamu pulang ya, ngertiin mommy kali ini. Mommy kayak gini bukan mommy gak sayang kamu tapi--" ucapan mommy dipotong cepat oleh Mario. "Mom, Bilah kenapa?"


Mommy bingung menjawab apa, apa harus ia mengatakan pada Mario? Tapi Bilah pernah memintanya untuk berjanji tidak mengatakan tentang penyakitnya. Tapi Mommy rasa anaknya cukup pintar seberapa parah sakit ya Bilah dengan melihat kondisinya. "Apa perlu kamu tau? Apa yang bakal kamu lakukan kalau kamu tau?"


"Mario bakal pertimbangkan hubungan Mario dengan Bilah."


"Pertimbangkan? Are you really?! Kamu udah liat Bilah gitu masih bilang dipertimbangkan? Kamu serius?" Mommy menggeleng-geleng kan kepala melihat Mario yang seperti itu. "Kamu boleh pulang. Silahkan."


****


"Bagaimana bisa Ya Tuhan!" ujar Mami yang terkejut mendengar kabar Bilah yang sakit. Mommy yang tak tega jika tidak memberitahu mami pun terpaksa memberi tahunya. Bagaimanapun juga Bilah juga dekat dengan mami. Mereka berdua bagai 2 ibu kandung Bilah yang tak membedakan kasih sayang antara Kelvin, Mario dengan Bilah.


"Itu sejak dulu. Bilah gak mau cerita, aku baru tau waktu mergokin dia kesakitan di apartment nya." Mami yang mendengar perkataan Mommy pun terkejut setengah mati. "Itu sebabnya Bilah sering pingsan dan mimisan? Kenapaa kita gak peka dalam hal ini?" ujar mami yang menyesali dan merasa dia ikut bersalah dengan semakin bertambah parahnya penyakit Bilah.


"Haruskah kita bilang ini ke Arini?" tanya mami. Mommy menggeleng sebagai jawaban. "Bilah gak bolehin penyakitnya dikasih tau sama yang lain. Tapi aku harus memberitahumu bukan?"


"Sejak kapan?"


"Sudah lama, aku ngga tau pastinya. Yang jelas itu sudah lama."


"Mario? Kelvin? Mereka ngerti?" tanya Mami. Mommy menggeleng. "3 hari yang lalu aku ajak Mario kesini, malah memperburuk kondisi Bilah. Tapi Mario gak ngerti Bilah kenapa. Bilah ngelarang buat aku kasih tau ke mereka." Mami menghembuskan nafas gusar dan mengusap wajahnya kasar dan begitu tak percaya dengan apa yang didengar.


Mami menengok keadaan Bilah diruangan khusus. Tidak ada lagi senyuman ceria yang terpancar saat ini, tidak ada lagi yang memeluk erat gemas mami saat Bilah bahagia. Mami mengelus kepala Bilah sayang dan meneteskan air matanya. Bilah yang merasa ada yang menyentuhnya pun membuka perlahan matanya. Begitu terkejutnya saat melihat mami didepannya. Bilah kira itu Mommy dengan kebiasaanya. "Sayang, kamu udah bangun nak?" ujar mami sembari mengusap air matanya sendiri.


Bilah mengangguk dan tersenyum menatap mami penuh rindu. Mami mengusap kembali kepala Bilah. "Boleh mami peluk Bilah?" tanya mami. Bilah tersenyum dan mengangguk. Segera saja mami memeluk Bilah dan menggenggam tangan Bilah sambil sedikit memijatnya. "Mami rindu pelukan Bilah. Bilahh cepet sembuh ya nak."


"Bilah, kamu tau gak? Mami bawa sesuatu buat kamu! Bentar ya." Mami mengambil kresek yang dibawanya dan mengeluarkannya tepat didepan Bilah. "Taraaaa!!!" Bilah yang melihatnya tersenyum bahagia dan terharu sembari meneteskan air mata lagi.


Mami membawa sekresek sikat gigi anak-anak beserta bonus miniatur favorit Bilah. "Mau mami bukain satu-satu sayang?" Bilah mengangguk.


"Nahh yang inii pokemonn. Tapi kayaknya kamu gak suka pokemon kan? Emmmm... Bentar, mami cari minuatur yang warna pink aja. Warna kesukaan kamu. Mami atur dimeja samping ranjang kamu ya." Bilah begitu bahagia banyak sekali yang peduli padanya. Kehadiran mami membuat Bilah khawatir sekaligus bahagia.


"Nah ini miniatur hello kitty sayang. Kamu mau pegang?" Bilah mengangguk. "I.. i.. iya mi."


Bilah menggenggam miniatur itu sambil tersenyum terus memandangnya. Kado terindah dari mami. Bilah akan simpan ini batin Bilah.


"Mmma.. makasih mi."


Mami mengelus kembali kepala Bilah yang tak berambut itu. "Mami punya hadiah buat kamu kalau kamu sembuh. Istirahat ya sekarang. Mami nunggu kamu diluar." Mami mengecup dahi Bilah. "Dada sayang."


"Maa..." Sebelum mami beranjak Bilah memanggil mami kembali membuat langkahnya kembali berbalik kearah Bilah. "Iya sayang?"


"Bi..lah.." mami yang tak tega melihat Bilah pun mengeluarkan tablet yang berada di tas-nya. "Kamu ketik ya disini. Kasiann kamu."


Bilah mengetikkan sesuatu disana. Malam tahun baru, Bilah mau kelvin & mario ajak Bilah jalann keluar. Bilah mau kasih sesuatu.


Mami yang membacanya tersenyum mengangguk pada Bilah. "Mami akan coba bilang ke mereka ya sayang. Kamu tenang aja. Sekarang istirahat ya. Selamat tidur, princess."


...****...


..."...


Mi jangan anggap kita sama kayak dulu! Kita udah beda Mi." ujar Kelvin sembari berjalan cepat menuju kamarnya. Permintaan mami terlalu bising daritadi. Ia melempar sepatu asal dan menatap mami. "Udah gak ada kata 'kita' mi. Semua udah sendiri-sendiri. Aku gamau buat nemuin Bilah!"


"Kamu yakin gak mau? Mami mohon sekali iniii aja. Kamu lihat keadaan Bilah, Kelvin. Kalau gak, setidaknya malam tahun baru kamuu haruss datang nemuin Bilah!" teriak mami menahan tangan Kelvin yang akan membuka pintu kamarnya.


"Kenapa mami lakuin ini?! Udah kayak dia mau mati aja! Kalau dia mati-pun aku gak peduli. Udah Kelvin bilang, kita udah bukan lagi menjadi teman. Apalagi sahabat!" Mami mengekori Kelvin yang meleas kaos kakinya di tempat tidur kamarnya. "Diaa Bilah, Vin! Sadar kamu! Dia udah kayak keluarga kita! Kamu bisa selesein ini semua dengan baik-baik!"


"Cukup mi! Kelvin bilang ini semua beda! Udah gak ada rasa buat ngelindungi Bilah apalagi temenan sama Mario. Kenapa mami sepeduli itu sama Bilah, huh?! Dia sakit iyaa?! Dia dirumah sakit?! Dia pasti sembuh mi! Dia cuman akting biar mami mau ngebujuk aku buat datang nyenengin dia di malam tahun baru?!" ucap Kelvin penuh emosi.


Kelvin menata maminya bingung. "Kenapa mami jadi lebay sih?! Malam tahun baru aku mau seneng-seneng sama temenku. Bukan malah ngurusin dia yang sok penyakitan! Mami gak pelu khawatir dia mati! Kalau dia mati kenapa mi?! Kita tinggal dateng bawa bunga duka ke keluarganya!" Mami teriris rasanya mendengar putranya berkata seperti itu. Tak lama ia menampar keras popi Kelvin. "Jaga ucapanmu! Siapa kamu yang mengentengkan kematian seseorang. Omongan itu doa Vin. Bilah udah lama sama kita dan kamu mengentengkan kalau dia gak ada?! Kita semua berusaha keras buat Bilah sembuh, kamu malah pengen buat dia mati?! Iya?!"


*


**


"Bentar ya sayang, mom telfon rumahnya Kelvin aja," ujar mommy yang menuruti perintah Bilah untuk menelfon Kelvin. Bilah benar-benar merindukan suara Kelvin. Bilah tak akan bisa menuruti sahabatnya untuk hilang di hadapannya ketika nafasnya saja masih berhembus.


"Ah, akhirnya di angkat juga." Mendengarnya Bilah begitu senang dan gembira.


"Ah iya bi, tolong beri telfonnya ke Kelvin atau mami ya," ucap mommy ketika yang mengangkatnya adalah pembantu rumah tangga di rumah Kelvin.


Mommy menyerahkan telfonnya ke telinga Bilah yang terlihat semangat. "Ah ini sayang, kamu tunggu sebentar."


"Malam tahun baru aku mau seneng-seneng sama temenku. Bukan malah ngurusin dia yang sok penyakitan. Mami gak perlu khawatir dia mati! Kalau dia mati kenapa mi?! Kita tingga dateng bawa bunga duka buat keluarganya!"


Deg


Hancur rasanya hati Bilah mendengar Kelvin bicara seperti itu. Kelvin yang dulu begitu perhatian dengannya kini tak lagi menjadi Kelvin yang sama. Segera mungkin Bilah mematikan telfonnya. Dan menutup matanya sambil menangis. "Ke..kenapa Kelvin jahat.. hiks..hiks.." tangis Bilah tak peduli jika ada mommy disana.


Bilah terisak tak peduli dan menatap mommy sendu. "Mom..."


"Kamu kenapa sayang? Kelvin bilang apa ditelfon?"


Bukannya menjawab Bilah malah bertanya. "Gimana kalau Bilah mati tapi Mario sama Kelvin masih benci sama Bilah hiks..hiks.."


Mommy menghembuskan nafasberat dan mengelus kepala Bilah. "Sssstttt... Kamu gak boleh bilang gitu sayang."


"Gi...gi.. gimana kalau Bilah mati gak ada yang mau datang ke makam Bilah? hiks...hiks..." ujar Bilah histeris dan menangis sesenggukan dalam pelukan mommy yang juga menangis.


"Mom... Bilah takut sendiri disana," ujar Bilah.


"Mom... Apa kematian begitu sakit rasanya?"


TBC


HALOO SEMUAA. JANGAN LUPA VOTE N COMMENT. COMMENT YANG PANJANGG GAPAPA AKU MALAH SENENG WKKWKW.


KALAU BISA KOMENNYA JANGAN SURUH NEXT TERUS. WKWKWKK. EH GAPAPA SIH WKWK 😂