
HAPPY READING!
...Rasanya tak sekali aku bertemu...
...Tak sekali aku tau ...
...Bahwa hati tak layak untuk bersatu...
...Bersatu dengan sesuatu yang tak mau...
...Maumu adalah keinginan...
...Keinginan bayang akan otak rancuku...
...-RanayahSabilah-...
Tiba-tiba saja mata Bilah terbuka perlahan dan menatap mamanya bingung. "Mama kenapa belom tidur? Bilah ganggu ya?" Bilah terkejut menatap tangan mama nya yang memegang rambut pasangan miliknya. Bilah membelakkan mata sejenak setelah itu ia kembali menormalkan ekspresinya.
"Ah, Bi--Bilah cuman mau coba gaya baru kok ma."
Arini hanya menatap lekat Bilah. "Saya tidak menanyakan alasan. Itu pilihan kamu," ujar Arini membuat Bilah lupa bahwa mama-nya ini memang kurang peduli terhadapnya. "Ah iya ma."
Ketika malam berganti esok, Bilah sudah siap untuk berangkat ke sekolah dan melihat aktivitas mama-nya yang membuat ia bahagia. "Ma, boleh Bilah bawah bekal dari mama?" tanya Bilah ragu.
"Minta sama bibi."
"Ah iya."
Bilah segera mencari bibi dan meminta bantuannya. Setelah itu ia menghamburkan pelukan ditubuh Arini. "Bilah berangkat mam, mama jaga diri ya. Inget pesan Bilah, bahagia selalu ya mam."
***
"Bilaahh!!! Kamu sekolah?! Huwaaaa Putri rinduuuu!!"
"Bilahhh juga kangennn disekolah sama Putri," jawab Bilah memeluk Putri erat.
"Emm Put, Bilah keluar dulu ya," ujar Bilah membuat Putri menyerngit bingung seraya menatap tangan Bilah. "Kemana? Terus itu bekal buat siapa? Lo masak sendiri?! Bilah!! Lo tau kan, lo harus jaga kesehatan dan sayang sama badan sendiri. Kalo lo kecapek---" ucapan Putri terhenti oleh Bilah. "Putri, stop it, Bilah gak akan capek kalau cuma masak segini."
"Terus itu buat siapa?!"
"Emm... Bilah mau kasih ini kalau gak sama Mario atau Kelvin."
"Bil--" Bilah yang tak ingin mendapat omelan dari Putri langsung kabur meninggalkan Putri. "Bye Putri! Bilah cepet balik kok!"
Bilah mengambil 2 note yang dilipat dan menyelipkan kedalam loker Mario dan Kelvin. Bilah akan melakukan hal itu sampai malam tahun baru tiba. "Mana ya mereka?" gumam Bilah.
Bilah melihat Kelvin yang berada di taman belajar sambil membuka laptopnya. Senyum Bilah terangkat melihatnya, ia begitu merindukan makhluk yang satu ini. Bilah terus mendekat dengan ragu. "Kelvin, emm... Bil-Bilahh..."
Kelvin sontak menoleh kesamping menatap Bilah penuh amarah. "Kenapa disini? Bukannya lo sakit? Bener kan dugaan gue, lo cuman pura-pura biar dapet hati Mami."
"Bilahh cuman mau kasih ini, dimakan ya Vin. Kelvin belum makan kan daritadi?" tanya Bilah memberikan kotak makan ke Kelvin.
Kelvin mendorong kotak makan itu dan menatap Bilah sengit. "Tuh lo liat, gua udah ada makanan dari Selena. Jangan coba buat dekati gue maupun ngambil hati gue."
"Bilah cuma--"
"Pergi Bil."
Bilah menghela nafas dan menunduk tapi tak hendak untuk berniat pergi. "Bilah cuman coba perbaiki hubungan sahabat kita Vin. Bilah gak mau kita bertiga udah gak bisa bareng lagi. Bilah tau, Bilah selalu nyusahin Kelvin sama Mario. Bilah egois. Bilah cuman gak mau semua berakhir seperti ini."
Kelvin tersenyum sinis sambil mengetik sesuatu di laptopnya. "Kita? Udah gak ada lagi kata kita. Yang ada gue sendiri, lo sendiri, Mario sendiri."
"Apa yang harus Bilah lakuin biar Kelvin gak kesel lagi sama Bilah?"
"Pergi dari hidup gue."
Bilah menunduk dan terus melangkah mencari keberadaan Mario. Berbeda dengan Kelvin, Mario malah tertidur disandaran rumput-rumput taman belakang sekolah dibawah pohon untuk tempat berteduhnya dengan suasana yang sepi. Bilah memberanikan diri membangunkan Mario. "Mario.."
Mario membelakkan namanya reflek ketika namanya dipanggil. Ketika matanya terbuka keterkejutan terlihat oleh matanya menatap Bilah dengan penuh tanya. "Ia sudah masuk sekolah?"
Ego Mario yang terlalu besar memutuskan untuk memejamkan matanya kembali. Suasana sangat canggung mengingat Mario yang pernah melihat Bilah dalam keadaan yang lemah. Bahkan sekarangpun begitu, terlihat oleh tubuhnya yang semakin kurus, rambut pasangannya dan mata sayunya. "Mario udah makan?" tanya Bilah berhati-hati.
"Em... Bilah bawa makanan buat Mario. Ka--Kalau Mario mau-- mm.." ucapan Bilah penuh keraguan. Ia takut akan kembali terjadi bentakan-bentakan yang harus ia telan mentah-mentah. Sanggup tak sanggup Bilah harus menerimanya bukan? Bilah menarik nafas lalu membuangnya kembali. "Bilah mau, Mario terima ini ya. Bilah... Bilah pengen Mario makan masakan Bilah lagi.." ujar Bilah terbata-bata.
"Bilah mau bilang juga, jangan acuin Bilah... Sekarang gapapa, tapi nanti saat Bilah berharap Mario dan Kelvin baikan dan ada disamping Bilah. Kayak dulu. Em.. Bilah pergi dulu."
"Mario boleh kok buang kotak makan ini kalau Mario gak mau. Bilah..Bilahh taruh sini ya.."
"Sekali lagi, maafin Bilah." Bilah mundur dengan jantung yang berdegup kencang dan menjauh dari arah Mario.
"Harus gimana gue sekarang?" gumam Mario dalam hati.
Bilah tersenyum mengeluarkan kotak kecil lagi. Sebelum ia akan kembali ke hariannya yang berada di rumah sakit. Ia ingin sekali punya kesempatan memberikan hadiah langsung pada Rania. 1 Januari. Adalah kelahiran mereka berdua. Bilah yang kebetulan melihat Rania memanggilnya. "Rania, boleh Bilah ngobrol sebentar?"
"Apa?"
Rania yang mau tak mau menuruti Bilah dan menatapnya penuh benci. "Cepet, gue gak ada waktu."
Bilah menarik tangan Rania dan memberikan kotak kecil untuk Rania. "I..ini kado dari Bilah buat Rania," ujar Bilah dengan senyumnya. Rania yang melihatnya hanya menyerngit bingung.
"Bilah cuman pengen jadi yang pertama yang ngasih hadiah buat Rania. Makannya Bilah kasih sekarang. Dipakai ya Ran. Bilah beli itu pakai tabungan Bilah. Itu bukan barang murahan kok, Bilah jamin pasti Rania suka." Bilah menutup kembali tas-nya dan kembali menatap Rania yang kebingungan. "Dipakai ya Ran. Selamat ulang tahun, doa terbaik bahkan hal yang terbaik akan Bilah lakuin buat Rania." Setelah itu Bilah pergi kembali menuju kelasnya.
Perjalanan menuju kelasnyantak semulus harapannya karena harus bertemu Selena. Selena dan Kelvin. "Bilah!" panggil Selena dihadapan Bilah. Bilah yang merasa terpanggilpun menoleh kearah Selena. "Iya?"
"Mau ikut party nanti malam gak sama gue sama Kelvin." Bilah hanya menggeleng karena tak kuasa menjawab pertanyaan mereka. Ia harus segera meminum obatnya dan memakan sesuatu.
"Itu acara couple, Sel. Mana mungkin lo ajak dia. Dia udah gak ada temen, udah ayo kita pergi," ujar Kelvin menarik Selena membuat hati Bilah sebenarnya begitu teriris.
Bilah menuju kelas dan duduk menganbil roti di tasnya dan segera minum obatnya. "lo beneran gapapa? Udah dibilangin kan Bil, seharusnya lo gak usah masuk dulu," ucap Putri.
"Gak papa kok Put, Bilah lega sekarang."
"Diterima sama Kelvin sama Mario?" tanya Putri ragu.
"Ditolak sama Kelvin. Kalau Mario, Bilah gak tau. Mario cuma diam gak bilang apa-apa. Bilah cuma taruh kotak makannya disana aja cukup."
***
"Kamu nginep sini aja ya malam ini. Kita jalan-jalan bareng nanti malam," ujar Mommy didepan televisi bersama Bilah.
Bilah ingin sekali menerima tawaran itu. Tapi Bilah masih memikirkan Mario. Bagaimana perasaan Mario jika Bilah berada disekitarnya? Apa semakin membencinya? Bilah tak mau itu terjadi. "Bilah pulang aja deh mom."
"Yah kamu mah gak asik Bil. Terus gimana keadaan kamu? Baik aja?"
"Pasti dong mom. Bilah kan kuat hehe."
"Ayo kita masak bareng Bil buat makan malam. Kamu makan malam disini aja ya. Jadi gak usah masak dirumah," ujar Mommy berjalan kedapur dengan Bilah yang mengekor dibelakangnya. "Beres deh mom."
Setelah bergulat didapur dengan percakapan yang panjang diiringi candaan mommy yang selalu menggoda Bilah, akhirnya mereka meletakkan piring-piring di meja makan. "Mommy panggil Mario dulu ya."
Setelah itu mereka makan dalam keheningan. Mario tak berniat membuka obrolan melihat Bilah di sampingnya. Begitupun Bilah, yang tak berani membuka obrolan bahkan dengan mommy pun karena takut mengganggu Mario. "Kok hening sih," ujar Mommy.
Mommy yang melihat Bilah mengambil sambal pun menarik tangan Bilah. "Bilahh gak usah nakal ya, jangan makan yang aneh aneh atau kembali ke rumah sakit," ujar mommy memperingati Bilah.
"E..enggak kok mi. Bilah cuman ngerapiin sambal ini doang biar rata permukaannya mom," alibi Bilah yang mencari alasan agar tidak bertemu dengan ruangan laknat itu lagi lebih cepat. Mario yang mendengarnya pun penuh pertanyaan diotaknya. Sebenarnya Bilah pulang untuk apa? Bukannya itu tanda udah sembuh?
"Mario, nanti antar Bilah ya pulang, kasihan udah malam," ujar mommy. Mario menatap sinis kearah mommy. "Ojek online banyak mom."
"Ah iya mom, Bilah mah gampang kalau pulang mommy gak perlu khawatir ya," ujar Bilah meyakinkan mommy. "Tetep aja mommy khawatir, mommy gak mau tau Mario yang antar kamu pulang."
"Kenapa harus aku? Yang kesini siapa? Aku gak pernah nyuruh dia kesini, kenapa harus aku yang susah-susah nganter pulang."
Mommy menatap Mario was-was, "Jaga ucapanmu, dulu juga kamu sama Bilah--" ucapan mommy langsung dicelah oleh Mario. "Udah berapa kali aku bilang. Dulu ya dulu mom. Beda sama sekarang. Gak ada rasa sepersen-pun yang sama kayak dulu."
Bilah yang tak mau memperkeruh suasana langsung berdiri. "Ah gapapa kok mom, Bilah mau pulang aja sekarang. Bilah aman kok, nanti kalau sampai Bilah hubungi mommy. Bye mom!" ujar Bilah langsubg keluar dari rumah mommy.
Mommy menatap tajam Mario. "Jangan buang waktu sia-sia atau melakukan sesuatu yang buat kamu membenci diri kamu sendiri kedepannya. Mommy gak mau kamu jadi orang yang gak peduli sama sekeliling kamu. Mommy lebih gak mau kalau kamu sudah gak ada kesempatan buat memperbaiki itu. Inget kata mommy baik-baik."
TBC
HARI INI SELOWW YAA GAK ADA NANGIS NANGIS AN. HEHEHE. MAAP BIASA AJA. BERUSAHA KERASS BUAT NULIS LAGI KARENA AKHIR INI SIBUK BANGET DAN SUSAH BUAT ME TIME.
SEBISA MUNGKIN DI NEXT PART AKU USAHAIN LEBIH ADA FEEL NYA DARIPADA INI. JUJUR, AKU GAK PUAS SAMA PART INI HUHU SEDIH