Disappeared

Disappeared
chapter 15



Apa ada yang menunggu?


Happy Reading!


Bilah tersipu dengan pipi memerah. Ia terlampau bahagia saat ini. Dia berharap, biarkan semua seperti ini. Hingga akhir.


"BILAH PULANG KE APART MU!" suara itu membuat jantung Bilah berpacu lebih cepat.


"Ma--Mama?" gumam Bilah terkaget, kenapa tiba-tiba mamanya tiba-tiba berada disini.


"Bil--Bilah cum...cuman mau---"


"Apa yang kamu lakukan disini?!"


Bilah tak tau harus menjawab apa seakan lidahnya keluh dengan keterkejutannya mama-nya datang secara tiba-tiba. "Dirga, Bilah pulang ya, nanti kita bicara, percaya sama Bilah ya! Bye!" Enggan mempersulit masalah, Bilah memutuskan langsung pulang bersama mama-nya.


Dirga memandang bingung, siapa wanita itu? Kenapa tiba-tiba berteriak   meneriaki Bilah? Apa hubungannya dengan Bilah. Seakan otaknya berputar menanyakan kebingungan apa yang dilihatnya. "Bisakah kau tak kasar kepada Bilah?" ujar Dirga menarik tangan Bilah.


"Sebaiknya kamu tidak ikut campur dengan urusan ini!"


Bilah menatap Dirga meyakinkan agar lelaki itu tak khawatir dengannya. Dirga menyerngit bingung, seakan mengerti kebingungan Dirga, Bilah hanya mengangguk sembari tersenyum menjadi jawaban 'semua akan baik-baik saja'.


Arini menarik Bilah kasar dan mengantarnya ke apartment Bilah sendiri. Sesampainya, Arini memandang Bilah  tajam sambil duduk di sofa ruang tamu, "Duduk Bilah!"


Bilah hanya menurut dan menunduk dengan hati yang gemetar, "I--iya ma."


"Kenapa kamu keluar malam ini? Siapa dia?! Kamu anak perempuan yang tak seharusnya pergi kelayapan Bilah!" Arini membentak Bilah dan Bilah hanya diam tak berani menjawab.


Sungguh, Bilah rindu amarah mamanya saat Bilah nakal, ia menyunggingkan sedikit senyumnya. Seakan amarah Arini adalah kerinduan masa kecilnya. "Kenapa kamu malah tersenyum Bilah jawab mama!"


"Kamu sudah besar! Harusnya kamu sudah bisa mengatur kehidupan mu sendiri! Kamu bukan anak kecil yang harus diperintah dulu!"


Ingin sekali rasanya bilah menjawab "Bukankah dari dulu sudah seperti itu ma?" Namun lidahnya sangat keluh, ia tak mau membuat mamanya semakin marah karenanya. Rasanya Bilah takut jika mama-nya tak mau menemuinya selamanya.


"Perbaiki semua nilai kamu! Kamu tak mau membuat mama malu kan? Apalagi membuat malu Rania bukan?" ucap Arini menggebuh sambil memijat pelipisnya pusing.


"Jawab mama, Bilah! Jangan kerjaanya hanya bermain dan bermain! Bukan berarti kamu sendirian disini maka kamu bisa bebas! Mama tekankan sekali lagi kamu sudah besar!"


"Contoh Rania Bilah! Dia bermain secukupnya dengan di imbangi prestasi. Kamu tanya sama Rania bagaimana caranya. Mama harap kamu mengerti Bilah!"


Bilah hanya mengangguk dengan berkata terbata-bata, "I--iya ma. Maafin Bilah."


"Bil--Bilah akan berusaha membuat mama bangga."


Bilah teringat sesuatu, ini adalah hal langkah mama nya menjenguknya di apartment meskipun dengan cara yang agak aneh. "Mama, Bilah bikin minum sama ambil kue dulu ya. Semua Bilah yang bikin."


"Tidak usah, hari ini semakin larut, Rania sedang menunggu mama."


"Bahkan, sekian lama Bilah juga menunggu mama." Lagi-lagi bibirnya hanya terdiam. Ia hanya takut.


"Mama tunggu sebentar, gak lama kok! Bilah mohon ya ma! Tunggu sebentar!"


"Tidak Bilah!"


Bilah segera berlari ke dapur sebelum mamanya pergi meninggalkannya lagi. Ia ingin sekali berbincang selayaknya keluarga dengan mamanya dengan secangkir teh dan camilan tentunya.


Saat Bilah kembali, matanya hanya memandang sofa dengan sendu. Kosong. Mamanya telah pergi, tanpa menunggu Bilah semenitpun.


Bilah rindu segalanya.


...Rindu itu kadang menyakitkan tapi juga diperlukan. Jika tidak ada, maka takkan lagi hasrat saling menatap dengan berbincang layaknya hujan yang rindu pada tanahnya....


...-RanayahSabilah-...


...***...


Hari pun berganti. Siang ini adalah siang buruk bagi Bilah. Malam yang kemarin berharga dengan waktunya bersama Dirga seakan hanyut oleh sebuah foto di instagram milik Rania.


"Udahlah Bil, lo buat apa juga galauin hal beginian hah?!" ujar Mario, sahabat tengil Bilah.


Kelvin manggut-manggut tidak jelas. Tiba-tiba saja mengucapkan dengan logat yang mirip dengan Bilah, suara perempuan, cepat, alay. "Kan lo sendir yany bilang, 'Kelvin, Mario, semua didalam hidup itu ada hikmanya. Semua didalam hidup itu bukannya karena tidak sengaja, kalo memangnya takdirnya begitu yaudah kalian ambil positifnya. Jadikan orang yang menyakitimu malah terkagum dengan kesabaranmu, intinya siang begini enaknya makan pecel lele' lo pernah ngomong gitu kan Bil?!"


Bilah mendelik kesal dan melempar bantal dikepala Kelvin. "Apa'an sih dugong gajah! Ganyambung banget!"


"Kode itu Bil?"


"Apa?! Minta pecel lele kalian berdua?!" bentak Bilah.


"Jangan kesel dong Bil."


Bilah berdecak sebal dan memakan coklat dengan lahapnya, "siapa yang kesel? Bilah gak kesel, cuman bete aja."


Kelvin menghela nafas dan terjatuh duduk disebelah Bilah yang memainkan handphone, "yaudah Bil, lupain masalah lo, kita liburan sendiri aja kan bisa."


"Tinggal sebutin lo mau kemana? Ayodah, mau lebih jauh dari mereka liburannya? Ayo berangkat!" sahut Mario.


"Bukan masalah itu! Bilah juga pengen ikutan Rania sama mama ke Hawai, lihat aja foto di instagram Rania mereka bahagia banget," parau Bilah.


"Kenapa gak ngajak Bilah juga? Bilah pengen jalan sama mama tau. Bilah kangen mama. Mama gak kangen Bilah apa?! Bilah pengen jalan sama mama, tapi mama selalu nolak."


"Padahal kemarin mama kesini kok!"


"Rese kann yo? Rese kan Pin? Sekarang Bilah harus gimanaa gitulohh?!"


Kelvin dan Mario hanya diam memainkan handphone mereka. Apalagi kalau bukan game online. Game yang selalu membuat jengkel Bilah karena selalu dengan ajaibnya membuat Kelvin dan Mario tuli seketika. Hebat.


"Tuhkan dasar curut! Gak guna kan Bilah ngomong daritadi?" ucap Bilah ber-monolog diri.


"Ya tuhan! Demi neptunus yang kujadikan sambal lele, demi lele yang jadi topping pizza, demi kecoak goyang itik di mulut kalian! Bilah kutuk kalian jadi kera sakti biar bisa dijual jadi uang. Uangnya buat beli golok buat pecahin HP kalian!"


Bilah bersiap keluar rumah dengan santainya, "Mau kemanaa Bil?!!" teriak Mario.


"Jalann! Sama Putri! Putri baikk ngehibur gue gak kayak lo berdua!"


Mario dan Kelvin saling menatap seakan bertanya, 'kenapa temen lo?'


...***...


"Yaudah si Bil, lo sabar aja, apa emang yang bisa lo buat selain sabar?" ujar Putri.


"Lo juga gamau ngelawan kan? terus lo bisa apa emang?"


"Au ah Put!" gumam Bilah sembari mengaduk teh hangat tanpa gula itu.


Bilah mengangguk pasrah, "Lo gimana sama kak Cakra?"


"Biasa aja sih, gue move on lah! Gamungkin stuck ke orang yang brengsek kek dia!"


Tiba-tiba saja Putri menggebrak meja dan melototi Bilah,"lo jadian kan sama Dirga? Hayoo ngaku lo kulit udang!"


Bilah hanya menunjukan cengiran khasnya, "iya dong, impian Bilah jadi kenyataan tau Put! Bilah seneng banget tau! Bilah udah ketemu mama-nya Dirga."


"Serius lo Bil?! Gercep banget elah!"


Bilah tersenyum bangga, "iyadong, tiru nih Bilah! Gak kayak Putri sekarang jomblo!"


"Yeee mentang mentang lu pantat dugong! Inget aja lo dulu itu apaan? Ratu jomblo anjir!"


Bilah berdecak sebal, "Ih! Jangan diingetin dong, sekarang Bilah lagi bahagia tau karena jadi pacar Dirga."


Seketika Bilah ingat sesuatu, dan menepuk jidatnya, "Yah Put, Bilah lupa sekarang Bilah harus ketemu sama mama-nya Dirga."


"Terserah lo Bil! Jomblo mampus sampek sekarat kayak gue ini bisa apa?!"


...***...


Bilah mencomot satu makanan di meja makan dan memejamkan matanya menikmatinya, "Emmmm, ini bener bener bener enakk tante! Bilah suka. Tante pinter banget masaknya."


"Enggak Bilah, itu gak seberapa kok. Kamu sih gak bilang kalau mau kesini, tau gitu kan biar tante masakin sesuatu lebih spesial gituloh."


Bilah hanya menyengir menampakan giginya yang rapi, "Kan biar surprize tante! Soalnya kalau Bilah bilang pasti tante sibuk nyiapin sesuatu buat Bilah! Gak mau ah!"


"Tante gak merasa direpotin juga. Lain kali bilang dong, tante malah seneng kalo kamu kesini. Serius," ucap Aima menatap Bilah.


"Siapp tante!" ujar Bilah semangat.


Bilah tersedak dan mengambil minum, "Eh tante! Itu gak bener kok! Dirga bohong waktu itu, Bilah gak suka kayak gitu! Kayak anak kecil tau!"


"Halahh kamu itu! Iya juga gapapa Bilah."


"Gak ah, Bilah gak mau diejekin sama tante. Kayak sahabat Bilah yang selalu ngejekin Bilah," ucap Bilah.


"Kamu punya sahabat?" tanya Aima sambil sedikit memakan makanannya diatas kursi roda.


"Iya tan, kapan kapan Bilah kenalin ya. Namanya Kelvin sama Mario. Mereka sahabat kecil Bilah, yang selalu ada buat Bilah."


"Boleh boleh."


Tiba-tiba saja suara derapan langkah kaki menghampiri meja makan dengan rambut berantakan dan muka bantalnya. Siapa lagi kalo bukan Dirga. Semakin berantakan semakin tampan, pikir Bilah.


"Loh Bilah? Kamu kapan kesini? Mama kok gak bangunin Dirga?" tanya Dirga bingung.


"Orang Bilah nya mau ketemu mama, gamau ketemu kamu kok," ujar Aima membuat Dirga mendelik tajam ke Bilah.


"Eng-- Enggak gitu Dirga, bukannya Bilah gamau ketemu Dirga," ucap Bilah terbata-bata takut Dirga marah padanya. Tapi nyatanya memang begitu, niat utama Bilah adalah bertemu Aima, jika tak sengaja bertemu Dirga itu bonus namanya.


"Terus?"


"Kan waktu itu Bilah udah janji buat sering main sama tante Aima kan?"


"Terus? Sama aja gamau ketemu aku kan?" ucap Dirga menatap Bilah.


"Ih! Gatau ah Bilah pusing!"


Dirga duduk dikursi dan mencomot makanannya. "Dirga cuci muka dulu dong! Masa langsung makan sih, wajahnya kan bantal banget."


Dirga menyengir, "Hehehe lupa, tapi masi ganteng kan?"


"Ih apaan sih! Jelek tau!"


"Apaan jelek, gimanapun aku, tetep aja suka kan?"


Aima hanya menggeleng menatap anaknya, "udah jangan godain Bilah mulu, sana cuci muka."


Bilah melangkah ke dapur untuk mencuci bekas makanan masakan Aima. Setelah kembali, ia melihat Dirga yang tinggal 3 sendok saja untuk makan.


"Dirga! Dirga mau jalan jalan gak? Gimana kalau kita nonton? Atau ke timezone? Mungkin kita pergi lihat banyak hewan? Atau kita jalan jalan aja? Tante Aima ikut ya?!" ucap Bilah bersemangat.


Dirga mendelikan matanya, gadis ini yang benar saja. Haruskah diacara kencan harus mengajak mamanya? Kencan apa itu. Apa sungguh Bilah mengajaknya kencan? Bukan piknik keluarga kan? Bilah memang tak terduga.


"Sama mama juga?!" tanya Dirga bingung.


Bilah mengangguk bersemangat, "Iya kan tante? Yeayy!"


"Kamu ajak kencan mama aja sana," ujar Dirga menatap Bilah kesal. Bagaimana bisa Bilah berpikir untuk mengajak mamanya ikut dalam kencan mereka.


"Jangan cemburu sama mamanya sendiri dong sayang," ujar Aima menatap Dirga lembut.


"Tau ih Dirga mah!"


"Gak ada jalan-jalan Bilah pacar aku tersayang!"


Bilah yang awalnya semangat mendadak cemberut, "kenapa?"


"Hehhehe Bilah lupa nih ma."


"Lupa apa?" tanya Bilah bingung.


Dirga menyengir dan menatap Bilah horror, "Aku dapet kabar nih ma, di ulangan Matematika Bilah remidi."


"Yah gapapa toh, kamu juga sering remidi," sahut Aima.


Sementara Bilah semakin menegang dan menepuk jidatnya, "kok Dirga tau?" wajahnya seakan pucat seakan memang ia merahasiakan dari Dirga.


"Ya beda dong ma, masalahnya Bilah ini remidi karena ulangannya benar benar kosong karena malah tidur waktu ulangan," ucap Dirga.


Bilah hanya menyengir, "Kan Bilah gak bisa, kalo Bilah makin berusaha percuma aja gak bakal bisa Dirga. Daripada buang tenaga mending Bilah tidur kan?"


"Yaudahh kalo gitu gak ada acara jalan-jalan atau senang senang. Sekarang kamu disini aja, kamu belajar matematika sama aku Bilah! Jangan remehkan aku, gini gini matematika selalu sempurna!"


"Gamau Dirga! Bilah gak mau belajar! Ini hari libur kali! Kok Dirga malah buat Bilah gak libur sih?!"


"Gak ada penolakan Ranayah Sabilah."


...***...


"Untuk U pangkat n, maka turunannya n itu kali aja sama turunan dari U nya. Nah kalau udah selesei kamu tinggal kali U nya lagi dengan pangkat n tapi dikurangi satu. U dari soal ini kan f(x). Coba kamu turunkan dulu, kamu ngerti kan cara menurunkannya?" ujar Dirga panjang lebar menjelaskan pada Bilah yang tak kunjung menegerti. Bilah memang sangat mebenci matematika.


Bilah yang dijelaskan panjang elbar oleh Dirga malah membuat suatu coretan gambaran di buku matematikan-nya. Dirga menggeleng menatap Bilah, "Bilah liat aku dong. Yang fokus, oke?"


Dirga kembali menjelaskan tapi Bilah malah menatap Dirga intens, "Maksudku liatin aku jelasin sambil dipahami. Jangan liatin aku terus kayak gitu. Grogi tau," ujar Dirga membuat Bilah tersenyum.


"Bilah capek Dirga! Udah ya istirahat dulu? Bilah gak kuat tau!"


Dirga menghela nafas, "Sekali lagi oke? Kamu aja gatau sama sekali kan yang aku jelasin tadi?"


Bilah hanya mengangguk dan menurut dengan Dirga. "Oke lanjut!"


"Lah kalo f(x) \= u dikali v. Cara penurunnanya yang pertama kamu turunkan dulu yang u. Terus kamu kalikan dengan yang v. Nah setelah itu hasil ditambah dengan u dikali turunan dari v nya. Kita langsung ke contoh soal."


Dirga menoleh menatap Bilah, "Tuh kan malah tidur dia-nya."


Dirga menggendong Bilah ke sofa dan menutupinya dengan selimut karena cuaca diluar sedang hujan. Dirga membenarkan rambut Bilah dan tersenyum, "terlepas dari taruhan itu, makasih ya Bil."


"Makasih udah buat mama berubah."


...***...


"Dari mana aja lu anak lampir?!" ucap Mario dengan sinisnya.


Bilah menatap kesal kedua sahabatnya, "Selalu kotor kan kalau ada kalian!"


Kelvin menatap Bilah, "Nanti kita bersihin Bil kayak biasanya."


Bilah menatap mereka jengkel, "Kayak biasa? Biasanya juga kotor anak kambing kalo ada kalian!"


"Darimana lu daritadi ditungguin juga," ungkap Kelvin sambil memakan kacang polo yang dibelinya di supermarket tadi.


"Habis belajar matematika."


Mereka berdua tersedak makanan yang dimakan. Setelah itu tertawa terbahak-bahak. "Bilah belajar? LOL!"


"Ihhh kok kalian gak percaya sih! Salah siapa kalian kacangin Bilah muku gara-gara game laknat itu!"


Kelvin berdeham, "Bil kita mau ngomong sesuatu."


"Lo masih minta uang papa lo?" tanya Mario.


Bilah menggeleng, "Enggak, tapi papa tetep kirim. Ya Bilah ga bisa nolak, jadi Bilah suruh kirim dikit aja. Pokoknya sampai gak ketauan lah sama keluarga. Mama juga masih tanggung jawab ke Bilah ngasih duit lebih. Cukup lah buat seluruhnya tanpa harus kerja."


"Kalo lo ada apa apa bilang kita jangan di pendam sendiri. Gue gak suka," ujar Mario.


"Siapp boss!"


Kelvin mengingat sesuatu, "Oh iya Bil! Ada yang mau ketemu sama lo."


"Iya Bil, besok kita ketemuan. Lo ikut ya?" ujar Mario.


"Boleh. Emang dia siapa?" tanya Bilah.


"Selena."


TBC


Hello readers! Gimana kabar kalian baik kan? Kuharao gitu ya. Semoga kalian menikmati ya. Maaf kalo belom dapet feelnya ataupun banyak typo. Hehe, karena hobby aku adalah pandai typo. Wkwkwk:v


Jangan lupa vote dan comment ya. Gak maksa kok, kalau kalian mau aja. Hehhe.