
Happy Reading!
...Merindukanmu begitu menyenangkan. Aku dibodohi kesenangan yang sebenarnya hanya luka belaka. Luka yang kembali membuat hati tak sejalan dengan harapan. Harapan yang indah hingga membuatku lupa akan hadirmu yang hanya sebuah angan. Dariku yang bodoh merindukan....
...-RanayahSabilah-...
Mom... Bilah takut sendiri disana," ujar Bilah.
"Mom... Apa kematian begitu sakit rasanya?"
"Sayang kamu jangan ngomong kayak gitu ya. Mommy jadi sedih kamu kayak gitu,"
Tanpa angin pintu kamar rumah sakit yang ditempati Bilah terbuka. Jerry datang membawakan sekantong kresek ditangannya. "Jerry? Kamu datang? Syukur deh," ucap mommy dan menatap gemilang mata Bilah. "Tuh Jerry datang, kamu gak boleh sedih oke? Yaudah mommy tinggal dulu ya. Jerry jagain Bilah ya nak."
Jerry mengangguk. "Tante gak perlu khawatir."
Setelah mommy pergi, Jerry mendekat dan duduk disebelah ranjang itu. "Udah enakan Bil? Nih gue bawain makanann."
"Makasih ya."
***
4 hari telah berlalu. Pagi ini Elica memainkan miniatur kecil yang dibelikan oleh mami di tempat tidur rumah sakit. Ia hanya jenuh dengan keadaan. Semua telah berubah. Ia ingin sekali mama Arini datang dan menyenangatinya. Rasanya kian hari tubuhnya telah letih, malas rasanya jika bertemu rumah sakit setiap hari. Bilah mengambil syal yang ia buat untuk Mario dan Kelvin di nakas samping tempat tidurnya. "Apa mereka mau menerima ini? Gimana kalau Bilah gak bisa ketemu mereka? Gimana kalau mereka nolak buat ketemu Bilah?" ucap Bilah bermonolog pada ruang kosong tak berpenghuni itu.
Bilah melihat mommy yang telah datang dengan senyum yang selalu terukir di bibirnya. "mommy kok cepet baliknya?" tanya Bilah pada mommy.
"Iyadong, mommy gak sabar ketemu kamu sayang."
"Ih mommy bisa aja," ujar Bilah terkekeh dan menarik tubuh momny untuk dipeluk. "Mommy, Bilahh beruntung punya mommy. Mommy baaaaikkkkkk banget."
Mommy tersenyum mendengar Bilah mengucap seperti itu. Di elusnya kepala Bilah sayang sambil tetap berada dipelukannya. "Mommy juga beruntung ada kamu. Kamu yang selalu buat mommy bewarna, bantu mommy masak, buat mommy ada temen perempuannya. Kamu berharga buat mommy sayang."
"Mom..."
"Iya?"
Bilah melepas pelukan mommy dan menatap senang mata mommy, "Bilah sekarang udah ngerasa sehat gak lesu kayak kemarin. Bilah udah kuat buat duduk sekarang," ujar Bilah semangat.
Mommy yang mendengarnya sangat senang rasanya jika melihat Bilah kembali ceria, meskipun ia tau kata 'sehat' itu hanya Bilah yang rasakan. Mommy masih melihat kepucatan dan kelelahan di wajah Bilah. "Oh ya?! Waaah mommy seneng dengernya!"
"Bilah boleh pulang ya mom? Bilah udah gapapa," ujar Bilah membuat mommy menatap ia tajam. "Gak boleh sayang, kamu harus mendapat perawatan intensif disini oke?"
"Mom.. tapi Bilah pengen masakin sesuatu buat Mario dan Kelvin."
"Sayang, mommy tau kamu bersemangat karena mau ketemu Kelvin dan Mario. Tapi jangan membahayakan kesehatan kamu sayang," ujar mommy.
Bilah menunduk sedih. "Bilah gak lemah kok mom. Bilah masih bisa jalan. Bilah gak cacat. Bilah pengen Mario sama Kelvin makan masakan Bilah lagi. Bilah mohon mom, terakhir kali aja.." ucap Bilah dengan wajah memohon di hadapan mommy.
"Mommy tau kamu kuat sayang, kamu ketemu sama Mario dan Kelvin masih satu minggu lagi. Masa iya mau pulang sekarang?" tanya mommy.
"Bilah juga mau ngehabisin waktu di apartment mom. Bilah capek disini. Seakan semua waktu akan sia-sia. Bilah cuman pengen ngelakuin apa yang Bilah suka satu minggu ini. Bilah mau bahagia dan menuntaskan semuanya mom. Bilah mohon mom, sekali ini aja."
"Tapi sayang, mommy takut kamu kenapa-napa."
"Bilah baik-baik aja mom. Bilah akan minum obat teratur. Bilah gak akan nakal."
Mommy menunduk lesuh dan otaknya dipenuhi dengan pertimbangan yang ada. "Mommy konsultasi dulu ya sama dokter. Kalau diizinin, kamu boleh pulang."
"Yeayyy!! Terimakasih mom!"
***
"Enggak mom, mommy pulang aja. Bilah bakal baik-baik aja disini. Bilah ngerasa sehat mom. Kasian Mario dirumah sendiri," ujar Bilah yang membujuk mommy nya agar pulang dari apartmentnya. Ya, Bilah diperbolehkan pulang selama seminggu ini dengan syarat harus rajin kontrol, meminum obatnya dan tidak boleh kelelahan.
"Kamu yakin?"
"Iya sayang, nanti mommy sampaikan. Kamu hati-hati disini. Mommy pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik," ujar Mommy dan memeluk Bilah setelah itu keluar dari apartment Bilah.
Setelah mengantar mommy pulang dan terlihat mommy sudah menjauh. Bilah mengganti pakaian dan mengambil sling bag dan wig untuk pergi kesuatu tempat.
"Bilah mau ketemu mama. Semoga mama ada."
Setelah perjalanan menaiki taksi selama 20 menit lamanya. Sampailah Bilah di rumah mamanya. Ia mengetuk pintu perlahan sambil memencet bell yang ada.
Ting tung..
Ting..tung...
Pintu perlahan terbuka menampilkan wanita paruh baya yang terlihat cantik yang menjadi salah satu kerinduan Bilah selama ini.
Tanpa aba-aba Bilah menghamburkan pelukannya ke pelukan mamanya tanpa sepatah kata. Arini yang dipeluk hanya diam karena terkejut, Bilah memeluknya sangat erat seakan tak mau terlepas dari pelukan itu.
Setelah beberapa detik Bilah melepaskannya dan memberanikan diri mencium pipi Arini kanan dan kiri. "Bilah kangen sama mama. Sudah lama kita gak ketemu."
"Kamu tumben kesini? Kenapa?" tanya Arini.
"Bilah cuman kangen sama mama. Boleh Bilah nginep disini sehari aja? Bilah mohon.." ujar Bilah memohon dan memegang tangan mama-nya erat.
"Tapi..."
Bilah semakin menggenggam tangan Arini takut akan penolakan yang ia dapat. "Bilah mohon ma, sekali ini aja. Bilah pengen tidur sama mama juga ya? Bilah mohon, kasih Bilah kesempatan."
"Terserah kamu." Tanpa aba-aba Arini segera masuk tanpa sambutan yang istimewa. Bilah tersenyum bahagia melihatnya.
Bilah mengikuti Arini sampai kamarnya dan duduk di ranjang Arini. Sedangkan Arini sibuk berkutat dengan laptopnya. "Rania dimana ma?"
"Nginep dirumah temennya." Bilah hanya manggut-manggut saja dan berusaha mencari topik untuk berbicara pada mamamya yang masih sibuk dengan urusannya.
"Mama sibuk ya?" tanya Bilah pelan. "Jangan berharap lebih, kamu cuman bilang nginep sehari kan?" Bilah mengangguk dan tertunduk. Bilah menunggu sampai tugasnya mamanya selesei baru ia akan tidur. Ia hanya ingin berbicara di pelukan mamanya.
Setelah lama menunggu Bilah melihat mamanya bersih-bersih dan menuju tempat tidur merebahkan tubuhnya mempersiapkan diri untuk tidur.
"Ah Bilah lupa! Bilah punya sesuatu buat mama." Bilah dengan semangat mengambil kota biru yang ia bawa dan menyerahkan untuk mamanya."Ini buat mama. Bilah buat sendiri."
Arini membuka kotaknya dan mengerutkan dahinya melihat isinya. "Baju rajut?" Bilah mengangguk dan langsung memeluk mamanya rapat sambil tertidur. Ia menenggelamkan wajahnya di badan Arini.
"Maaf cuma bisa kasih ini. Dulu waktu kecil mama pernah bilang pengen beli baju rajut yang ada motif bunganya dan ada rajutan nama mama dibelakangnya. Tapi mama cari di toko lain gak ada. Dan mama males cari dan buat dipenjahit." Arini mengerutkan dahinya berusaha untuk mengingat. Bahkan ia sudah lupa akan hal itu.
"Akhirnya Bilah belajar rajut biar bisa ngabulin keinginan mama. Bilah pengen ngasih sesuatu buat mama. Bilah pengen mama seneng setiap saat. Bilah juga pengen mama bahagia selamanya." Bilah memeluk mamanya erat tanpa sadar air mata sudah membanjiri matanya dan membasahi baju Arini. "Bilah sayaaaaang banget sama mama."
Arini hanya diam tak berkutik. Ia tau Bilah menangis. Putrinya itu terlihat sangat sedih dan memendam sesuatu. "Bilah pengen mama bahagia selamanya. Bilah gak pengen mama sedih dan menderita. Bilah tau Bilah bukan anak yang baik buat mama."
Bilah berhenti sejenak sekedar mengatur nafasnya agar tidak terdengar oleh Arini bahwa ia menangis saat berbicara. Padahal Arini sudah mengetahuinya, bajunya terasa basah. "Maafin Bilah mam. Kalau selama ini Bilah gak bisa buat mama bahagia. Bilah gak bisa buat mama senang. Bilah cuman bisa ngecewain mama. Bilah menjadi anak yang gak bisa dibanggakan buat mama. Bilah selalu nyusahin dan jadi beban buat mama. Bilah gak bermaksud buat mama terbebani, Bilah pengen mama bahagia selamanya. Maafin Bilah ya mam."
"Ma.. seandainya besok Bilah nantinya gak sering-sering kesini mama gak perlu khawatir. Bilah selalu ada buat mama, selalunada di hati mama," ujar Bilah tersirat membuat Arini termenung hanyut akan pelukan putrinya yang sekian tahun tak pernah sedikitpun ia gandeng tangannya.
Bilah yang mengantukpun tersenyum dan memejamkan matanya. "Selamat tidur ma."
Arini hanya diam menerka kalimat Bilah. Setelah sekian menit ia berusaha untuk tidur tapi tidak bisa. Ia melepas pelukan Bilah pelan-pelan. Perlahan ia menatap lekat mata putrinya. Pipinya yang basa bekas air mata. Tanpa sadar Arini memegang pipi Bilah dan terasa hangat seperti orang demam. Arini membenakan kepala Bilah keatas tapi nyatanya sesuatu membuatnya terkejut. Rambut Bilah terlepas?
Arini membelakkan matanya dan menarik rambut itu dari kepala Bilah. Kenapa dia botak? Diperhatikan tubuh gadis itu makin lama makin kurus dan pucat. Ah, bakan Arini tak peduli dengan itu bukan?
Tiba-tiba saja mata Bilah terbuka perlahan dan menatap mamanya bingung. "Mama kenapa belom tidur? Bilah ganggu ya?" Bilah terkejut menatap tangan mama nya yang memegang rambut pasangan miliknya. Bilah membelakkan mata sejenak setelah itu ia kembali menormalkan ekspresinya.
"Ah, Bi--Bilah cuman mau coba gaya baru kok ma."
TBC
KOMEN ALASAN KALIAN SUKA CERITA INI KENAPA HEHEHE