
Bilah berjalan membawa tempat kue. Saat ia berjalan 4 langkah tiba-tiba matanya sedikit menghitam, kepalanya sangat pusing tak terkendali, dan tiba-tiba saja tubuhnya merasa tak seimbang.
Brukk
"Bilah!!"
Semua orang terkaget melihat Bilah terjatuh dan segera membopong Bilah di kamar Kelvin.
Mami segera menekan sela antara jempol dan telunjuk Bilah dan menepuk-nepuk pipi Bilah "Bilah sayang, bangun nak," ujar Mami khawatir dengan keadaan Bilah yang terlihat pucat sekarang.
Kelvin dan Mario duduk diatas kasur yang ditiduri Bilah dengan wajah yang terlihat sangat khawatir dan menggenggam tangan Bilah, setelah Mami melalukan sesuatu pada Bilah, tak lama mata Bilah bergerak dan perlahan membuka matanya dan memegang pelipisnya yang masih terasa pusing.
"Bilah, Bilah lo gapapa kan?" ujar Mario menepuk-nepuk tangan Bilah.
"Bil, lo sadar kan? Gimana rasanya? Apanya yang sakit? Bilang ke gue," tanya Kelvin.
Bilah menggeleng "Enggak, gue gapapa kok."
"Yaudah, sekarang Kelvin sama Mario jagain Bilah dulu ya, Mommy ada urusan sama Papa. Biar, Mami yang buatin Bilah bubur," ujar Mommy mengelus rambut Bilah.
Setela Mami dan Mommy keluar dari kamar Kelvin, sontak saja mereka berdua menanyakan seribu pertanyaan buat Bilah yang membuat Bilah makin bingung.
"Gimana rasanya?"
"Kenapa sih lo bisa pingsan?"
"Lo sakit ya, Bil?"
"Atau lo merasa disantet terus tiba-tiba pingsan?"
Bilah menutup kedua mulut Kelvin dan Mario dengan kedua tangannya "Tuh mulut bikin gue pusing tau gak sih, gue gapapa kok, lebay deh lo pada kumat, cuman pingsan belom mati aja."
"Bilah!" ujar Kelvin dan Mario bersama membuat Bilah meringis "Iya-iya keceplosan."
"Terus kenapa lo tiba-tiba pingsan?"
Bilah menghembus nafas kasar dengan sikap kedua sahabatnya ini "Tadi Bilah ngerasa di tendang sama setan terus jatuh. Udah, tamat!"
"Bil, gue serius," ujar Kelvin.
"Udah dibilangin Bilah gapapa, Bilah cuman pusing kok beneran. Gak enak badan aja sih hari ini," ujar Bilah.
Mereka memijat-mijat tangan Bilah "Makanya jaga kesehatan lo bego, badan kecil aja sok-sok an males makan, mau diet lo? Gue jamin deh gak bakal tinggi lo kalo gitu," ujar Kelvin menekan pipi Bilah membuat bibir Bilah mengerucut.
Bilah melepas tangan Kelvin "Bilah gak pernah diet! Bilah tiap hari makan makanan sehat, gue minum susu juga biar tinggi, Dirga gak suka cewek pendek," ujar Bilah lesu.
Kelvin dan Mario geram dengan Bilah yang terus-terusan mengejar Dirga "Lepasin aja cowok kayak gitu, gak banget!" ujar Kelvin.
Bilah memukul tangan Kelvin "Ih Kelvin! Dirga itu cowok baik-baik, dia sebenarnya baik kok. Emang Dirga aja yang gak suka sama Bilah, tapi dia baik kok."
"Terus aja lo belain dia Bilah sayang," ujar Mario membuat Bilah kesal.
"Lo nginep sini aja dulu nanti biar baju lo gue bawain," ucap Kelvin enteng membuat Bilah mendelik kaget "Gak!"
"Kenapa?"
Bilah mendengus sebal "Ya masa iya ambil semua pakaian Bilah?--" Kelvin mengangguk "termasuk---- daleman? Gila aja!" ujar Bilah tak terima.
"Kenapa sih? Cuman ngambil doang kok," ujar Kelvin dan disetujui oleh Mario "lagian lo juga sakit Bilah, nanti gak ada yang jagain lo, mending lo nginep disini," ucap Mario.
"Ya tapi bukan kalian juga yang ngambil barang-barang Bilah! Gimanapun juga kalian laki-laki dan Bilah perempuan. Jangan lupain itu!" ujar Bilah kesal.
Mereka terkekeh "Ih, gapapa kali Bil, dulu kita sering malah gak pake kaos waktu kecil."
"Kecil lagi kecil lagi! Bilah bilangin berkali-kali itu beda gaes!" ujar Bilah.
"Pokoknya Bilah gak mau pakaian Bilah kalian yang ngambilin! Bilah malu lah!" ujar Bilah yang semakin kesal dan melupakan pusing yang menyerangnya.
"Tapi Bil--"
Mami seketika datang dan mendelik pada Kelvin dan Mario "Bilah bener lah! Masa iya kalian yang ngambil sih, mau modus banget, jangan mesum ya kalian berdua!" ujar Mami yang tiba-tiba datang dan disetujui oleh Bilah.
"Siapa yang mesum sih Mam?" ujar Kelvin membela diri.
Mami menatap Kelvin dan Mario bergantian "Eh, kalian pikir Mami gak tau yang dilakuin laki-laki remaja seusia kalian itu apa? Mami tau kalian gak bakal aneh ke Bilah. Tapi Mommy Mario juga sering cerita ke Mami, dan Mami tau apa yang dilakuin Kelvin juga. Bahkan kalian pikir Mami sama Mommy Mario gak tau kalo kalian juga pernah nonton bareng? Meskipun gak sering sih," ujar Mami membuat Kelvin dan Mario terkaget.
"Ya intinya kalian pernah!"
Bilah semakin bingung apa yang dikatakan Mami "Nonton apa'an sih mi? Emang yang dilakuin laki-laki seusia gini apa'an mi?" ujar Bilah sambil memakan bubur yang diberikan Mami.
"Lo gak usah tau!" ujar Kelvin dan Mario bersama-sama.
"Ih kalian jahat banget! Giliran gini gue gak dikasih tau! Biasanya juga gue curhatnya ke kalian, ih Mami! Mereka jahat sama Bilah masa!"
"Bilah sayang, kali ini mami setuju sama mereka berdua. Bilah gak usah tau dulu ya, masalah baju kamu biar mami yang ngambilin," ujar Mami mengelus sayang rambut Bilah.
Bilah menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Yaudah mami berangkat dulu ya," ujar Mami berpamitan.
Setelah mami pergi, Bilah menatap mereka berdua yang berwajah pucat dan gugup "Kenapa kalian? Emang apasih yang dibilang mami? Bilah masih kepo, kasih tau Bilah, please."
"Kita bilang gak ya tetep gak, Bil."
"Anak laki-laki jaman sekarang nontonnya Anak Jalanan kali ya, kalian sering liat itu?" tanya Bilah.
Kelvin dan Mario menghembus nafas lelah dan mengambil piring Bilah daj menyuapinya, "Nih makan yang bener dulu, yang kata mami tadi anggep aja Anak Jalanan atau GGS atau semacemnya serah lo Bil!"
...****...
Bilah datang menghampiri Dirga yang terduduk di belakang taman sekolah di pagi hari. Bilah hafal sekali kebiasaan Dirga yang suka datang pagi sekali di sekolah untuk berolahraga dan istirahat dibangku taman sambil membaca novel Horror-nya disertai headset yang menggantung di telinganya.
Itulah Dirga, pecinta novel horror apalagi berbau tentang psycopath, dia sangat menyukainya, Bilah hafal semuannya.
Dirga hanya menatap botol yang diberikan Bilah dan kembali membaca novelnya "Gue bawa sendiri."
Bilah menarik lagi botol yang diulurkannya, Bilah menatap novel yang dipegang Dirga "Lagi baca apa? Horror lagi?"
"Kenapa suka banget sama novel horror? Itu menakutkan apalagi kalau tentang psycopath," ujar Bilah yang masih tak dihiraukan oleh Dirga.
"Dirga.."
Bilah masih menunggu Dirga 5 menit yang tak kunjung bicara "Kenapa diem aja, Dir? Capek ya?"
"Laper gak? Mau Bilah bawain roti kayak Rania kemarin?" ujar Bilah yang tak patang menyerah mengajak Dirga berbicara, bahkan tersenyum saja.
"Atau mau Gu--"
Dirga menutup novelnya keras "Bisa gak sih lo gausah gangguin gue setiap hari?" ucap Dirga dan berdiri meninggalkan Bilah yang lesuh di kursi taman.
"Tapi Dir---"
"Udahlah Bil! Kita tau semua, mendingan nih minuman buat kita. Ya gak sih Vin?" ujar Mario yang tiba-tiba datang bersama Kelvin dan langsung terduduk disebelah Bilah.
Kelvin terduduk di ganggang kursi sebelah Bilah dan mencubit hidungnya "Apasih kelebihan Dirga sampai buat lo kayak orang gila gini?"
"Gak tau," ujar Bilah singkat.
Bilah mengingat apa yang pernah ia tulis di diary-nya tentang Dirga lagi dan lagi.
"Tidak ada alasan ku mencintaimu, yang terjadi adalah karena aku memilihmu sehingga aku mencintai segala sisi darimu."
...****...
Bilah membawa coklat untuk Dirga dengan note yang berisi "semoga harimu semanis coklat ini."
Sudah hal biasa jika Bilah membawa sesuatu untuk Dirga dengan menaruhnya di tas Dirga saat basket. Bilah masih ragu jika membawakannya secara langsung, ia takut Dirga menolaknya dan memberikannya pada temannya yang lain.
Bilah juga sering meletakkan Handuk kecil dan botol minuman keatas tas Dirga, meskipun hasilnya sia-sia karena Dirga tak tau jika Bilah yang memberikannya, tapi dengan begitu Dirga akan menggunakannya karena sesuatu hal.
Bilah menatap mereka dari kejauhan, Bilah selalu memotret kejadian disetiap moment saat Dirga melakukan sesuatu, anggap saja jika Bilah itu gila. Bahkan sampai latihan selesei Bilah tetap menunggu Dirga dan menatapnya dari kejauhan.
Dirga dengan keringatnya yang bercucuran menghampiri tasnya hendak mengambil minuman dan menatap bingung karena selalu begini, ada handuk dan botol air minum diatas tas-nya.
Rania berjalan mendekati Dirga dengan sebotol air putih dibelakangnya "Hai Dir," sapa Rania.
"Eh, Hai Ran! Lo yang ngasih ini?" tanya Dirga mengangkat botol dan handuk yang diberikan Bilah.
Rania menatap bingung dan mengangguk "Gue? Oh, i..iya, itu tadi aku yang bawa," ujar Rania dan menjatuhkan botol yang dipegangnya dibelakang punggungnya.
"Thanks Ran, jadi ngrepotin lo sering bawain ginian," ujar Dirga mengusap keringatnya dengan handuk biru tua itu.
Dirga membuka tasnya hendak mengambil handphone tetapi matanya terpincing ada sebuah coklat disana dengan note kecil yang menempel "Coklat? Dari lo juga?" tanya Dirga.
Rania tak membuang kesempatan itu dan hanya mengangguk saja "Iya."
"Semoga harimu semanis coklat ini? Manis banget kata-katanya. Makasih lagi ya Ran," ujar Dirga tersenyum pada Rania yamg juga tersenyum.
Sementara Bilah yang melihatnya hanya tersenyum, ia sering mendapat perlakuan seperti ini "Gapapa, Rania juga kembaran gue, jadi sama aja yang kasih."
Diseberang sana Mario memendam amarah melihat Bilah yang terlalu rela melihat orang disukainya berbahagia dengan kembarannya sendiri. Bilah memang terlalu lugu.
Bilah memutuskan untuk pulang lebih cepat karena ia memutuskan untuk pergi kerumah Mama-nya, meskipun hasilnya nanti sama aja.
Bilah menaiki angkot dan pergi kerumah mamanya yang cukup besar untuk ditinggali berdua bersama Rania "Apa gue gak bisa tinggal disini juga? Pasti nanti Rania marah lagi."
Bilah memasuki rumah tersebut dan disambut oleh pembantu rumah tangga disana "Sore non, mau cari nyonya ya? Ada diatas non, masuk aja."
Bilah tersenyum "Makasih Bi, Bilah keatas dulu ya."
Saat Bilah keatas melihat Mamanya yang serius memandang kertas-kertas dimejanya sambil sesekali memandang laptop yang dibuka.
"Ma...." gumam Bilah.
"Mama, mama sibuk ya?" tanya Bilah.
Seketika Arini a.k.a mama Bilah itu memandang Bilah terkejut dengan tiba-tiba dikursi hadapannya "Bilah? Ada apa kesini?" tanya Arini.
"Minggu besok mama ke apartment kamu kok janji, mama juga kangen sama kamu, tapi mama sibuk sayang," ujar Arini yang terus memandang laptopnya.
"Iya, Ma. Bilah bakal nungguin mama di apartment dihari minggu kok, selalu begitu," ujar Bilah sedih dan sedikit menyindir Arini.
"Tapi Bilah kesini mau kasih ini Ma, mama mau kan ngambil raport UAS semester 1 punya Bilah?" tanya Bilah menyerahkan undangan dengan ragu.
Arini menghembuskan nafas pelan "Maafkan mama sayang, tapi hari itu juga mama ngambilin raport Rania, gak bisa barengan. Pasti nanti Rania juga dipanggil karena kemenangan OSN dan OSP tahun sekarang, kasihan dong kalau gak mama dampingi," ujar Arini membuat Bilah tersenyum kecut.
"Andai aja Bilah bisa buat mama bangga," batin Bilah.
Bilah tersenyum "Yaudah gapapa kok ma," ujar Bilah.
"Kamu minta ambilin papa kamu aja ya sayang," ujar Arini dan diangguki oleh Bilah.
"Kamu sekarang pulang aja, sudah malem sayang," ujar Arini membuat Bilah berpikir jika ibunya itu tak lagi merindukannya malah menyuruhnya pulang tanpa diantar sampai selamat dan tidak pula dihadiahin dengan pelukan rindu.
"Bilah pamit ya ma," ujar Bilah dan segera keluar menuju apartment -nya.
Bilah mengetik tombol di handphonenya dan segera menghubungi papa-nya.
"Halo Pa, papa ada waktu gak? Bilah pengen ketemu papa."
Vote ans comment gaess!!! :*